My Posesif Uncle

My Posesif Uncle
Ungkapan Isi Hati


__ADS_3

"Aku baru jalan berapa bulan saja sama Zico kesal..apalagi aku yang melihat Om jalan sama kak Nisa bertahun-tahun " balas Maura.


"Apa kakak bilang barusan ?. coba ulangi lagi " Marvin kaget sekaligus senang mendengar ucapan Maura barusan.


"Bilang apa ?..yang mana ?" Maura tampak bingung. Sepertinya gadis itu tidak menyadari mengoceh apa saja barusan kepada Marvin.


"Yang barusan kakak bilang "


"Lupa lagi " jawab Maura ketus.


"Tadi kakak bilang kesel lihat Om jalan sama kak Nisa " Marvin mengulangi ucapan Maura yang terakhir dengan sabar.


"Masa sih tadi aku bilang begitu " Maura menggaruk pelipisnya. Marvin geleng-geleng kepala sambil menahan senyumnya..Maura yang berusaha mungkir malah terlihat lucu dimata Marvin.


"Kakak..makan gih ayam gorengnya, Om sudah capek-capek beli malah tidak dimakan " Marvin menunjuk ember ayam goreng yang teronggok di kursi belakang.


Maura mengambil ayam goreng dari kursi belakang dan mulai memakannya..Marvin pun tersenyum senang melihatnya.


"Om mau ?" tanya Maura. Marvin mengangguk.


Maura mengambil potongan kecil dan mulai menyuapi Marvin.


"Om jangan gigit dong "Maura merajuk ketika Marvin dengan sengaja menggigit kecil jari Maura ketika gadis itu menyuapinya.


"Habisnya kakak bikin gemas " jawab Marvin tanpa merasa bersalah sama sekali.


Maura menikmati ayam gorengnya sambil terus menyuapi Marvin, tidak lama kemudian ayam goreng itu pun tandas tak tersisa.


"Minum dulu Om " Maura memberikan Tumbler kepada Marvin yang langsung ditenggak hingga menyisakan setengahnya.


Setengah perjalanan Marvin menepikan mobilnya di rest area untuk mengisi bahan bakar.


"Om aku ke toilet dulu ya..mau pipis " Maura hendak pergi sendiri namun dicegah oleh Marvin.


"Biar Om temani " Marvin turun dari mobil kemudian mengantar Maura ke toilet yang berada tidak terlalu jauh dari tempat pengisian bahan bakar.


Marvin setia menunggui Maura di depan toilet sambil menenteng tas milik gadis itu.


"Haaah..legaa " ucap Maura begitu keluar dari toilet.


"Terimakasih Om " Maura mengambil tas dari tangan Marvin dan mereka pun kembali ke mobil untuk melanjutkan perjalanan.


"Om.." panggil Maura.


"Hmm.."


"Apakah Om dan kak Nisa putus itu gara-gara aku ?" tanya Maura dengan wajah serius.


"Tidak.. Nisa yang ingin kita putus " jawab Marvin.

__ADS_1


"Iya tapi kenapa kak Nisa minta putus ?" tanya Maura.


"Nisa terlalu pintar..dia dapat melihat apa yang Om berusaha sembunyikan dengan sangat rapat " jawab Marvin.


"Aku tidak mengerti " Maura mengerutkan dahinya. " Emangnya Om menyembunyikan apa dari kak Nisa ?"


Marvin membuang napas kasar, sepertinya sudah waktunya Maura tau jika rasa sayangnya kepada Maura bukanlah rasa sayang seorang paman kepada keponakannya.


"Nisa tau jika diam-diam Om cinta sama kakak " jawab Marvin lirih.


"Om berusaha menyembunyikannya dengan rapat dari semua orang namun Nisa terlalu pintar sehingga ia dapat mengetahuinya " sambung Marvin.


"Om cinta sama aku ?" Maura melongo.


"Kakak itu terlalu bodoh sehingga tidak menyadarinya " jawab Marvin.


"Oom..enak saja bilang aku bodoh " Maura merajuk sambil mencubit paha Marvin.


"Kaak.. diam dong Om lagi nyetir " Marvin menangkap tangan Maura dan menggenggamnya diatas paha nya.


"Oom..kok aku jadi deg-degan ya " ucap Maura lirih.


Marvin tersenyum dikulum.. akhirnya Maura dapat merasakan sinyal cinta darinya.


Setelah mengutarakan isi hatinya Marvin terlihat lega. Meskipun Maura tidak menjawab apapun namun dari bahasa tubuhnya Marvin yakin jika dirinya tidak bertepuk sebelah tangan.


"Mau langsung pulang atau jalan-jalan dulu ?" tanya Marvin ketika mereka keluar gerbang tol Pasteur.


"Baiklah " Marvin mengarahkan mobilnya menuju rumah orangtua Wisnu.


Setibanya di rumah orangtua Wisnu Marvin menyempatkan diri untuk tidur selama beberapa jam sebelum kembali ke Jakarta.


"Kak..Marvin bangunin nanti terlambat ke pol travel nya " Oma menyuruh Maura untuk membangunkan Marvin.


Maura pun beranjak menuju kamar tamu tempat Marvin tidur.


"Om bangun..nanti ketinggalan travel nya " Maura mengguncang-guncang tubuh Marvin.


"Hmm..kakak ngusir Om ya " gumam Marvin masih dengan mata terpejam.


"Bukan ngusir.. takutnya terlambat ke pol travel nya Om " jawab Maura.


Marvin pun bangun dengan enggan.Maura menatap Marvin yang hendak beranjak ke kamar mandi.


"Kenapa bengong..mau ikut ke kamar mandi ?" goda Marvin.


"Iih..ogah " Maura melempar Marvin dengan bantal dan buru-buru keluar dari kamar tamu.


Setelah selesai mandi dan berpakaian Marvin pun pamit kepada Oma dan Opa Maura untuk pulang ke Jakarta.

__ADS_1


Maura mengantarkan Marvin sampai ke pol travel dengan mobilnya.


"Argh..Om malas banget pulang ke Jakarta " keluh Marvin sambil menyandarkan kepalanya di sandaran jok mobil.


Maura menatap bingung kearah Marvin yang enggan keluar dari mobilnya.


"Om..mobilnya sudah datang " Maura memberitahu ketika mobil travel yang akan Marvin naik sudah datang.


"Om pulang dulu ya " Marvin meraih kepala Maura kemudian mencium keningnya lembut. Maura mengangguk.


Maura menunggu di dalam mobilnya sampai mobil travel yang membawa Om nya itu berangkat beberapa menit kemudian.


*


Sejak saling mengungkapkan isi hati hubungan Maura dengan Marvin semakin dekat saja. Hal ini berbanding terbalik dengan hubungannya dengan Zico.


Hubungan Maura dengan Zico menjadi renggang karena terkendala jarak dan waktu.


Zico yang sedang fokus mengelola perusahaan keluarga di Bali dan Singapura membuat pria teman Selina itu nyaris tidak pernah pulang ke Bandung untuk menemui Maura.


Karena tidak tega menggantung Maura akhirnya Zico mengambil keputusan sepihak yang sangat mengejutkan Maura.


Zico memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka. Zico ingin fokus pada pekerjaan nya dan Maura fokus pada sekolahnya.


Setelah nanti Maura lulus SMA Zico meminta Maura untuk menyusulnya kuliah di Singapura dan melanjutkan kembali hubungan mereka.


Dengan kata lain sebenarnya hubungan Zico dengan Maura tidak benar-benar putus.


Meskipun hanya putus sementara namun Marvin sangat senang karena ia mempunyai kesempatan untuk memiliki Maura seutuhnya tanpa merasa menjadi orang ketiga.


"Duuh yang baru putus cinta " Marvin meledek Maura ketika menjemput gadis itu di tempat travel.


Hari itu Maura baru tiba dari Bandung dengan menggunakan mobil travel.


"Om kok seneng banget lihat keponakannya habis diputusin " Maura mencebik sambil masuk ke dalam mobil Marvin.


"Ya senang dong..kan kalau sudah putus sama Zico bisa Om pacarin " jawab Marvin sambil menggenggam tangan Maura.


"Siapa juga yang mau pacaran sama Om " cibir Maura.


"Om tidak mau tau..pokoknya kakak harus mau jadi pacar Om " Marvin memaksa.


"Dasar pemaksa " cibir Maura lagi. Marvin hanya terkekeh.


Meski saling berdebat namun jemari mereka saling meremat dengan hangat.


Marvin membawa Maura pulang ke rumah Adam karena Millie dan Wisnu juga Mile,Malik dan Meysha sedang menginap disana.


Marvin dan Maura saling melepaskan tautan tangan mereka begitu mobil Marvin memasuki halaman rumah Adam yang megah.

__ADS_1


"Kakak pulang ..!" Mile, Malik dan Meysha menyambut kedatangan kakaknya.


Dukungannya dong pliiis


__ADS_2