My Posesif Uncle

My Posesif Uncle
Cinta Diujung Tanduk


__ADS_3

Setelah seharian berkumpul di rumah Adam dan saling melepas rindu, pada sore harinya Maura bersiap untuk pulang ke Bandung.Dari semalam ia sudah memesan tiket travel untuk pulang sore ini.


Maura yang sudah siap untuk pergi tidak bisa menolak ketika Marvin menawarkan diri untuk mengantarkan Maura ke pool travel.


"Padahal Om tidak usah repot-repot, aku bisa diantarkan sama Daddy " ucap Maura ketika mobil Marvin sudah mulai melaju meninggalkan rumah megah Adam.


"Memangnya kenapa..diantar Om dan diantar Daddy kan sama saja..yang penting sampai " jawab Marvin santai.


"Ya jelas beda lah Om.. diantarkan Daddy lebih aman, kalau diantarkan Om resikonya lebih besar " jawab Maura.


"Resiko nya lebih besar bagaimana maksud kakak ?" Marvin menoleh kearah Maura.


"Ya tentu saja besar resikonya..kalau ketauan kak Nisa yang ada dia akan marah dan ujung-ujungnya menyalahkan aku " jawab Maura.


Mendengar jawaban dari Maura hati Marvin langsung mencelos..ternyata Maura memiliki trauma yang cukup dalam karena sering disalahkan dan dicemburui oleh Nisa.


"Kakak tidak usah khawatir..hari ini kak Nisa sedang pergi keluar kota " jawab Marvin dengan suara yang lirih.


Meskipun hubungan Nisa dan Marvin masih belum sepenuhnya pulih namun mereka masih tetap berkomunikasi, dan tadi pagi Nisa meminta ijin kepada Marvin untuk pergi ke luar kota bersama teman perempuannya.


"Loh..Om kita mau kemana ?" Maura protes ketika menyadari jika mobil Marvin melaju bukan kearah pool travel yang akan Maura tuju namun meluncur kearah tol Jakarta-Cikampek.


"Ke Bandung..katanya hari ini kakak akan pulang ke Bandung..apa masih mau menginap di Jakarta ?" jawab Marvin setengah menggoda.


"Aku pulangnya mau pake travel Om tidak mau diantar sama Om " Maura merajuk.


"Anggap saja sekarang kakak naik travel dan Om sopir travel nya " jawab Marvin sambil tersenyum tipis.


"Om nyebelin " ucap Maura kesal.


Meski kesal karena Marvin memaksa mengantarnya pulang ke Bandung namun akhirnya Maura tidak lagi protes karena mereka sudah terlanjur masuk tol dan tidak mungkin berbalik arah.


"Kalau kakak ngantuk tidur saja, nanti kalau sudah sampai Om bangunkan " ucap Marvin sambil fokus menyetir.


"Aku tidak ngantuk Om " jawab Maura sambil melirik kearah Marvin yang terlihat sangat tampan dengan kacamata hitam bertengger di hidung mancungnya.

__ADS_1


Meskipun hanya memakai celana pendek dan kaos putih polos namun tidak bisa dipungkiri jika Om nya itu sangatlah tampan.


Pantas saja jika Nisa seolah begitu takut kehilangan Marvin dan selalu cemburu jika Marvin dekat dengan wanita termasuk Maura.


Bahkan Velia saja mengakui jika Marvin selain galak tapi juga tampan.


"Sudah puas liatin Om nya ?" tanya Marvin sambil tersenyum tipis membuat Maura tersipu malu.


"Om kapan nikah sama kak Nisa ?" tanya Maura sambil berusaha meredakan rasa malunya karena telah ketauan sedang menatap Marvin.


"Belum tau..kak Nisa nya juga sedang sibuk dengan tugas akhir kuliahnya " jawab Marvin santai.


Marvin tidak mengatakan kepada Maura jika hubungannya dengan Nisa semakin memburuk semenjak pertengkaran mereka di villa.


Perjalanan mereka tersendat cukup lama karena ada mobil kontener yang terguling karena tidak kuat menanjak dan membawa beban terlalu berat.


Badan mobil yang hampir menutup separuh ruas jalan membuat kemacetan yang cukup panjang.


"Bisa lama ini macetnya " keluh Marvin karena mobilnya sudah tidak bisa bergerak sama sekali.


Maura menarik tuas dikiri kursi untuk menurunkan sandaran kursi. Meski dengan posisi setengah berbaring namun Maura tidak juga bisa memejamkan matanya.


"Cepetan tidur !" Marvin mengelus-elus kepala Maura dengan tangan kirinya. Mendapat sentuhan yang begitu nyaman di kepalanya akhirnya Maura pun tertidur.


Marvin tersenyum lembut begitu melihat Maura dengan cepat tertidur setelah ia mengelus kepalanya.


'Jangan bilang kakak juga merasakan seperti apa yang Om rasakan selama ini ' batin Marvin menatap lembut seraut wajah cantik yang sedang tertidur pulas di sampingnya.


Mobil Marvin kembali melaju setelah kontener yang menutupi hampir sebagian ruas jalan dapat dievakuasi.


Maura baru terbangun setelah mobil Marvin keluar pintu tol Pasteur. setengah jam kemudian mobil Marvin pun sampai di halaman rumah megah orangtua Wisnu.


"Sepertinya ada tamu " ucap Marvin sambil menggenggam tangan Maura masuk.


Begitu masuk Maura buru-buru melepaskan genggaman tangan Marvin ketika mengetahui siapa yang sedang bertamu di rumah Opa dan Omanya.

__ADS_1


"Nisa..?" Marvin melongo ketika mendapati Nisa tengah menatapnya dengan tatapan terluka.


Di sebelah Nisa ada seorang pria duduk dengan wajah yang terlihat bingung..pria itu adalah Yudhis.


Yudhis yang akan mengunjungi Mama Andini dan Papa Yudha sengaja mengajak Nisa karena gadis itu masih ingin bertemu dengan Maura untuk meminta maaf.


Sejak peristiwa di Villa itu Nisa memang belum berhasil menemui Maura untuk meminta maaf kepada gadis itu.


Trauma dengan situasi yang seperti itu Maura langsung pergi ke kamarnya dan tidak keluar lagi.


Niat Nisa untuk meminta maaf kepada Maura malah membuat Nisa kembali terluka melihat Marvin ternyata pergi ke Bandung tanpa sepengetahuannya.


Yudhis berusaha menjadi penengah agar Nisa dan Marvin tidak bertengkar di rumah Opa dan Oma Maura.


Setelah mengatakan maksud kedatangannya ke Bandung yang tidak lain untuk meminta maaf kepada Maura Nisa dan Yudhis pun langsung pamit pulang.


Setelah Nisa dan Yudhis pulang, tidak lama kemudian Marvin pun pamit pulang ke Jakarta.


Sebelum pulang Marvin tidak sempat bertemu lagi dengan Maura karena gadis itu langsung mengurung diri di kamarnya.


Sepanjang perjalanan pulang Yudhis hanya terdiam sambil sesekali melirik Nisa yang tengah terisak.


Setelah melihat bagaimana cara Marvin menggenggam tangan Maura ketika mereka turun dari mobil Yudhis yakin jika kecemburuan Nisa kepada calon keponakannya itu sangat beralasan.


Yudhis melihat ada kilatan cinta yang terpancar dari mata Marvin ketika menatap gadis judes dan polos itu.


Jika selama ini Nisa selalu mengatakan jika Maura sudah seperti bayangan Marvin itu adalah ucapan yang sangat tepat sekali..Bayangan akan selalu mengikuti tuannya dan tidak akan pernah bisa saling menjauh.


"Sudah jangan menangis lagi..kalau kamu terus menangis aku akan menurunkan kamu di jalan tol " ancam Yudhis sambil menggenggam tangan Nisa dengan tangan kirinya.


Nisa tertawa diantara Isak tangisnya dan tidak berniat sama sekali untuk melepaskan genggaman tangan Yudhis yang hangat karena itu yang sedang ia butuhkan saat ini.


"Kalau masih butuh bahu untuk bersandar..aku tidak keberatan kamu bersandar di bahuku meskipun aku sedang nyetir " ujar Yudhis tulus.


Nisa pun menyandarkan kepalanya di bahu kiri Yudhis sambil sesekali menyusut matanya yang basah dengan tisu.

__ADS_1


__ADS_2