
Setelah ada pembicaraan serius masalah kelanjutan hubungan Marvin dan Nisa, seminggu kemudian keluarga Adam datang ke rumah orangtua Nisa untuk acara lamaran.
Beberapa hari sebelumnya Maura sudah sibuk membantu Mikha dan Millie untuk mempersiapkan segalanya termasuk membeli cincin tunangan.
Acara tunangan Marvin dan Nisa hanya dihadiri oleh dua keluarga inti. Arin dan Seno tidak dapat hadir karena sedang diluar kota, begitu juga dengan Papa dan Mama Adam yang masih berada di Kanada.
Marvin dan Nisa saling menyematkan cincin sebagai tanda jika keduanya sudah saling terikat dan sedang mempersiapkan diri untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius yaitu pernikahan.
Maura termasuk orang yang paling bahagia karena ia adalah saksi kebersamaan Marvin dan Nisa dari mulai berteman hingga sekarang bertunangan.
Meskipun sangat bahagia namun entah mengapa Maura tiba-tiba dihinggapi rasa sedih.
Maura belum siap untuk kehilangan perhatian dan kasih sayang dari Om nya.
Setelah tunangan dan nanti menikah Marvin tentu akan fokus pada keluarganya dan tidak lagi akan memperhatikan Maura lagi.
Tidak terasa ada air bening yang menggenang disudut matanya yang buru-buru ia hapus dengan tisu. Maura tidak ingin sampai ada orang lain yang melihat kesedihannya itu.
Celotehan Milea, Malik dan Meysha membuat suasana di rumah Nisa menjadi begitu hangat, dan itu cukup membantu Maura untuk menyembunyikan kesedihannya. Namun tidak dari Marvin.
Marvin yang duduk disebelah Nisa dapat menangkap kesedihan diwajah cantik keponakannya meskipun gadis itu sembunyikan dengan sangat rapi.
Selesai acara pertemuan kedua keluarga itu rombongan keluarga Adam pun pulang.
Millie dan Wisnu ikut pulang ke rumah Adam karena trio bocil Milea, Malik dan Meysha ingin tidur dengan dengan Adam dan Mikha. Maura yang ingin pulang ke rumah akhirnya terpaksa ikut menginap.
Setibanya di rumah ketiga bocil itu langsung Adam dan Mikha giring ke kamar untuk ditidurkan, begitu juga Maura yang memilih langsung masuk ke kamar.
Setelah Milea, Malik dan Meysha tertidur Adam dan Mikha pun kembali ke ruang keluarga bergabung bersama Wisnu, Millie dan Marvin yang masih mengobrol.
Mereka membahas hasil kesepakatan dengan keluarga Nisa mengenai rencana pernikahan yang akan dilaksanakan setelah Nisa lulus kuliah.
"Dari sekarang siapin mau konsep pernikahan seperti apa yang kalian inginkan..biar tidak mepet waktunya " saran Millie.
"Iya nanti aku bicarakan sama Nisa " jawab Marvin tanpa melihat sedikitpun kepada Millie, ia malah fokus pada layar ponselnya.
"Kamu tuh diajak ngobrol serius malah anteng main hape " omel Millie.
"Iya maaf " jawab Marvin sambil menyimpan ponselnya diatas meja.
Disaat obrolan mengenai rencana pernikahan masih berlanjut tiba-tiba Maura muncul hendak mengambil minum ke dapur.
Setelah mengisi air dalam gelas yang akan ia bawa ke kamar, Mikha tiba-tiba memanggilnya dan mengajak bergabung.
__ADS_1
Maura dengan terpaksa ikut bergabung dan duduk didekat Mikha.
"Sekarang kita bahas rencana pernikahan Marvin..mungkin beberapa tahun lagi rencana pernikahan Maura yang akan kita bahas " seloroh Mikha sambil memeluk kepala Maura yang sedang bersandar di bahunya.
"Aku masih kecil Mamih " jawab Maura manja.
"Nanti kalau kakak punya pacar Papih harus orang yang pertama dikasih tau " pinta Adam
"Masa Papih..ya aku dong ibunya yang harus pertama tau " pungkas Millie.
"Ya nanti aku kasih taunya barengan biar semuanya yang pertama tau " jawab Maura sambil terkikik.
"Pinter...biar adil ya kak " puji Mikha.
Marvin tampak tidak tertarik dengan obrolan itu, ia terlihat mengambil kembali ponselnya dan anteng bermain game.
Menjelang malam tiba-tiba Adam merasa perutnya lapar dan ia menyuruh Marvin membeli nasi goreng.
"Kakak juga mau Vin..yang pedas ya " pinta Millie.
"Jangan pedas-pedas Sayang " omel Wisnu.
"Sekali saja ya Sayang " pinta Millie.
"Mamih juga yang pedas Vin " pinta Mikha.
"Ibu sama anak sama saja " omel Adam.
"Ayok kak " Marvin menarik tangan Maura mengajak ikut dengannya.
"Males ah " Maura menolak
"Buruan ikut..biar Om ada teman ngobrol " Marvin memaksa.
Marvin memasukkan Maura kedalam mobil. Maura duduk sambil menggerutu.
"Kalau tidak ada teman ngobrol tinggal telepon kak Nisa saja ajak ngobrol..tidak usah maksa ngajak aku " Maura ngomel-ngomel.
Marvin menulikan telinganya, ia fokus dengan kemudinya.
Setelah sampai di tukang nasi goreng Marvin pun turun untuk memesan enam porsi nasi goreng.
Marvin dan Maura menunggu pesanan dari dalam mobil.
__ADS_1
"Sudah ngomel-ngomel nya ?" tanya Marvin ketika Maura tidak lagi bersuara.
"Sudah " jawab Maura dengan wajah judesnya.
"Kak..tadi waktu di rumah kak Nisa Om lihat Kakak menangis..kenapa ?" tanya Marvin dengan suara lirih.
"Siapa yang menangis..aku tidak menangis " Maura berusaha mungkir.
"Jangan bohong..mungkin semua orang bisa kakak bohongi tapi Om tidak " ujar Marvin.
"Apakah kakak tidak senang Om bertunangan dengan kak Nisa ?" tanya Marvin.
"Tidak Om..aku senang kakak dan kak Nisa tunangan dan akan segera menikah " jawab Maura jujur.
"Lalu kenapa tadi kelihatan sedih ?" tanya Marvin.
"Aku cuma merasa sedih saja..setelah nanti Om tunangan terus menikah Om akan fokus dengan keluarga Om..dan akan melupakan aku " jawab Maura dengan suara getir.
"Ya ampuun kakak..mana mungkin Om akan melupakan kamu " Marvin tampak kaget mendengar jawaban Maura.
"Kakak jangan punya pikiran seperti itu " Marvin merengkuh tubuh Maura dan memeluknya. Tangis Maura pun pecah di dada Marvin.
Setelah tangis Maura mulai reda Marvin memberikan tisu kepada Maura.
"Kakak jelek kalau sedang menangis " ejek Marvin.
"Om juga jelek tau " balas Maura sambil memberikan tisu bekas kepada Marvin.
"Kebiasaan deh kamu " omel Marvin sambil membuang tisu itu ke tempat sampah kecil yang ada di mobilnya.
"Menurut Om justru kakak yang akan dengan cepat melupakan Om, apalagi kalau sudah punya pacar Kakak pasti tidak lagi butuh Om dan kakak akan melupakan Om " ujar Marvin setelah tangis Maura benar-benar reda.
"Kalau begitu berarti kita akan saling melupakan ya Om ?" tanya Maura.
"Bukan saling melupakan kak..kita akan tetap saling menyayangi karena kita adalah keluarga " jawab Marvin.
"Keluarga mana boleh saling melupakan. Meski sudah memiliki keluarga masing-masing namun tetap saling menyayangi " sambung Marvin.
"Jadi jangan berpikir setelah ini Om tidak akan lagi Sayang sama kakak " ucap Marvin tegas.
"Iya Om " jawab Maura.
Obrolan keduanya terhenti ketika Abang penjual nasi goreng mengantarkan pesanan mereka. Setelah membayar semua pesanannya mereka pun pulang.
__ADS_1