
Menginjak usia kandungan ke tujuh bulan Maura mendapatkan tawaran sebuah iklan pruduk susu khusus untuk ibu hamil.
Awalnya Marvin sempat melarang dengan alasan khawatir Maura akan kelelahan, namun setelah Bang Ihsan meyakinkan Marvin jika Maura akan baik-baik saja selama proses syuting akhirnya Marvin pun mengijinkan.
Marvin menemani Maura selama proses syuting iklan pruduk susu itu.Beruntung proses syuting itu berjalan lancar dan hanya memakan waktu satu hari.
Sebagai bonusnya Bang Ihsan bersedia membuatkan foto maternity untuk Maura dan Marvin secara gratis.
Setelah selesai proses syuting iklan pruduk susu itu Marvin menyetop semua kegiatan Maura termasuk kuliahnya.
Maura mulai mengajukan cuti kuliah selama satu tahun agar ia fokus pada kehamilan dan kelahiran bayi mereka.
Maura dan Marvin sudah mulai membeli baju dan perlengkapannya untuk bayi-bayi mereka.
Karena Maura sedang mengandung anak kembar, Marvin dan Maura membeli semua kebutuhan untuk bayi mereka serba dobel.
Hanya ranjang bayi yang tidak dobel, Marvin membeli satu ranjang bayi yang berukuran besar agar muat untuk kedua bayi mereka.
"Apa yang masih kurang ?" tanya Marvin ketika mereka sedang membeli perlengkapan bayi.
"Sementara segini dulu, nanti kalau ada yang kurang tinggal beli lagi " jawab Maura.
"Nanti kita minta bantuan Mamih dan kak Millie saja " ujar Marvin. Maura mengangguk.
"Beli minyak telon nya agak banyakan ya Sayang " pinta Marvin.
"Buat apa banyak-banyak ?" dahi Maura mengernyit.
"Sudah..beli yang banyak saja buat persediaan " jawab Marvin.
"Baiklah " Maura menambahkan beberapa botol minyak telon kedalam keranjang belanjaannya.
Setelah selesai belanja keperluan bayi yang lumayan banyak Marvin mengajak Maura makan di food court yang berada tidak jauh dari sana.
Marvin dan Maura terlihat sedikit kebingungan mencari meja yang kosong karena banyaknya pengunjung yang makan disana.
Karena tidak mendapatkan meja yang kosong Marvin dan Maura pun memutuskan mencari tempat makan yang lain.
Namun Marvin dan Maura mengurungkan niatnya untuk mencari tempat makan lain ketika Nisa dan Yudhis yang kebetulan sedang makan disana mengajak bergabung di meja mereka.
"Gabung disini saja " ajak Nisa yang tampak berat dengan perut yang besar.
Karena tidak enak menolak tawaran Nisa dan Yudhis akhirnya Maura dan Marvin pun bergabung di meja Nisa dan Yudhis.
"Kakak sudah berapa bulan sekarang ?" tanya Maura sambil mengelus perut Nisa yang sudah sangat besar.
"Sudah sembilan bulan..tinggal menunggu hari " jawab Nisa.
"Iya.. seharusnya sudah tidak boleh kemana-mana tapi maksa pengen jalan-jalan " ujar Yudhis.
__ADS_1
"Tidak apa-apa..ikuti saja keinginan ibu hamil " ujar Marvin.
"Aku cuma takut brojol di jalan " jawab Yudhis khawatir.
"Debay nya laki-laki atau perempuan kak ?" tanya Maura sambil mulai menikmati makanannya.
"Dari hasil USG sih laki-laki..kebetulan suami aku sangat ingin anak laki-laki " jawab Nisa sambil melirik kearah Yudhis yang tampak sedang berbicara dengan Marvin.
"Kamu sendiri debay nya laki-laki atau perempuan " Nisa balik bertanya.
"Baru keliatan satu laki-laki kak..yang satu lagi masih ngumpet " jawab Maura sambil terkekeh.
"Kamu hamil anak kembar ?" Nisa langsung melotot menatap perut Maura.
"Iya kak..calon bayi kami kembar " jawab Marvin bangga.
"Hebat kalian langsung dapat dua Bayi " Yudhis tampak kagum pada pasangan muda di depannya itu.
Kedua pasang suami istri itu terlibat obrolan yang seru seputar kehamilan dan persiapan melahirkan istri-istri mereka. Namun beberapa saat kemudian kepanikan langsung terjadi diantara mereka ketika Nisa mengeluh perutnya tiba-tiba sakit dan ada cairan bening yang tiba-tiba mengalir disela- sela betisnya.
"Kakak.. sepertinya mau melahirkan " ujar Maura dengan wajah yang panik.
"Sebaiknya kita ke rumahsakit sekarang " Yudhis langsung mengangkat Nisa.
Maura dan Marvin yang merasa tidak tega melihat Yudhis kerepotan sendiri akhirnya mengikuti sambil membawakan tas dan belanjaan Nisa.
Karena mobil Yudhis di parkir agak jauh akhirnya Nisa pun dibawa ke rumah sakit dengan menggunakan mobil Marvin.
Karena Marvin menyetir dengan cukup ngebut mereka pun tiba di rumah sakit dengan cepat.
Nisa langsung ditangani oleh dokter sementara Yudhis mengurus administrasi. Maura menemani Nisa yang sedang dalam penanganan dokter.
Tidak butuh waktu lama Nisa pun dipindahkan ke ruang bersalin dengan ditemani oleh Yudhis.
Sebelum mereka masuk ke ruang bersalin Maura dan Marvin pamit pulang kepada Yudhis dan Nisa.
Dalam perjalanan pulang Maura tampak termenung mengingat bagaimana kesakitannya Nisa ketika merasakan kontraksi.
"Sayang kamu tidak apa-apa ?" Marvin terlihat khawatir.
"Tadi itu mengerikan ya Sayang..aku takut " jawab Maura lirih.
Marvin buru-buru menggenggam tangan Maura yang dingin dan berkeringat.
"Kak Nisa saja yang bayinya satu begitu kesakitan..apalagi aku yang bayinya dua " keluh Maura dengan wajah pucat pasi.
"Kalau kamu takut bagaimana kalau melahirkan nya Cesar saja ya Sayang " Marvin meremat jemari Maura. Ia sangat mengerti alasan ketakutan yang dialami istrinya.
"Iya " jawab Maura.
__ADS_1
Marvin mengeratkan tangannya menggenggam jemari Maura berharap dapat sedikit mengurangi ketakutan yang sedang dialami oleh Maura.
"Sayang..kadang aku berpikir lebih enak jadi laki-laki daripada perempuan " ujar Maura sambil mempermainkan jari-jari Marvin.
"Kenapa punya pikiran begitu ?" tanya Marvin.
"Laki-laki enak cuma nanam benih saja..wanita yang merasakan ngidamnya, hamilnya dan sakitnya melahirkan " jawab Maura.
"Ya memang sudah kodratnya wanita yang melahirkan..makanya ada pepatah jika surga itu ditelapak kaki ibu " ujar Marvin sambil mencium jemari Maura.
"Kakak sebenarnya ingin melahirkan normal..cuma merasa takut saja " Maura mulai terlihat bimbang.
"Aku sih terserah kamu saja sayang, mau melahirkan normal atau Cesar yang penting kamu dan kedua bayi kita sehat " jawab Marvin.
Setelah Maura dan Marvin sampai ke rumah dan sedang beristirahat tiba-tiba ada pesan masuk di ponsel Maura.Ternyata pesan itu dari Nisa yang mengabarkan jika bayi mereka sudah lahir dengan selamat dan berjenis kelamin laki-laki.
"Kak Nisa sudah melahirkan Sayang,bayinya laki-laki " Maura duduk dipangkuan Marvin sambil memperlihatkan pesan yang dikirimkan oleh Nisa.
"Syukurlah " jawab Marvin dengan tangan mengelus paha mulus Maura yang sedikit tersingkap.
"Aku senang akhirnya Nisa mendapatkan kebahagiaan nya bersama Yudhis " ujar Marvin.
"Sayang..aku tuh sebetulnya kalau ketemu sama kak Yudhis suka malu " aku Maura membuat dahi Marvin langsung berkerut.
"Malu kenapa ?" tanya Marvin.
"Aku sempat mengancam dia agar jangan mendekati kak Nisa " jawab Maura jujur.
"Dasar nakal " Marvin mencubit ujung hidung Maura dengan gemas.
"Tidak taunya mereka malah berjodoh..dan aku malah menikah sama kamu " sambung Maura terkekeh.
"Jodoh itu rahasia Tuhan " jawab Marvin sambil menyatukan bibir mereka.
Maura membuka sedikit bibirnya ketika bibir kenyal Marvin mengulum bibir atas dan bibir bawah Maura bergantian dengan lembut.
Maura yang duduk mengangkang diatas pangkuan Marvin mengalungkan kedua tangannya dileher Marvin membuat ciuman mereka semakin dalam.
Marvin menurunkan celananya setelah sebelumnya menarik cela na dalam Maura hingga lolos diantara kaki jenjangnya.
Marvin membimbing miliknya agar tepat melesak masuk kedalam lembah milik Maura yang sudah mulai basah.
Tanpa melepaskan tautan bibir mereka, Maura menggerakkan pinggulnya diatas pangkuan Marvin membuat pria tampan itu mengerang sambil memejamkan matanya.
"Maura Sayaang..arghh " Marvin menyandarkan kepalanya disandaran sofa dengan mata terpejam.
Setelah sekian lama akhirnya mereka pun mendapat pelepasan bersama. Maura memeluk tubuh Marvin dengan erat saat tubuh mereka terguncang karena rasa nikmat yang luar biasa.
"Kamu semakin pintar Sayang " puji Marvin sambil menciumi seluruh wajah Maura.
__ADS_1
"Kan kakak belajar sama kamu " jawab Maura.