
Seharian ini Maura yang sedang tidak ada jadwal kuliah mengisi waktu dengan menemani adik bungsunya bermain.
Gadis cantik itu menggelar kasur lantai dan bermain bersama Meysha dan boneka-boneka nya.
Maura yang sedang menemani Meysha bermain mengambil ponselnya ketika Millie menghubunginya.Millie menyuruh Maura mengantarkan berkas yang tertinggal di kamarnya ke kantor siang itu juga.
Maura menyuruh pengasuh menemani adik bungsunya bermain sementara ia bersiap untuk pergi ke kantor Mommy nya.
Kurang dari satu jam Maura sudah sampai di kantor perusahaan Adam yang megah. Beberapa staf yang kebetulan berpapasan menunduk hormat kepada cucu bos mereka yang sangat cantik itu.
Didepan lift tiba-tiba Maura berpapasan dengan Marvin yang hendak keluar untuk makan siang.
"Kakak..mau ngapain kesini ?" tanya Marvin sambil menangkap tangan Maura.
"Mau nganterin ini disuruh Mommy " jawab Maura sambil menunjuk amplop coklat di tangannya.
"Mau Om antar ?" tanya Marvin
"Jangan..nanti Mommy marah " Maura menolak.
"Om mau makan siang diluar..setelah mengantarkan amplop itu kakak langsung pulang ya..Om tunggu di bawah kita makan siang bersama " bisik Marvin.
"Iya Om " jawab Maura kemudian masuk ke dalam lift menuju lantai atas tempat ruangan Mommy nya berada.
Setelah tiba di ruangan kerja Millie, Maura langsung memberikan map coklat itu kepada Millie.
"Terimakasih kak " Millie memeriksa map dari tangan Maura khawatir putrinya itu salah ambil.
Senyum Millie langsung tersungging karena itu adalah map yang memang ia butuhkan.
"Kakak jangan dulu pulang ya..kita makan siang dulu " ajak Millie.
"Kakak kesini sama teman Mom..dia nunggu di bawah " Maura berdusta.
"Temannya ajak makan bareng saja sekalian " jawab Millie.
"Kita sudah janjian mau ke mall Mom sekarang..boleh ya Mom " rayu Maura.
"Ya sudah kalau begitu..kalau sudah selesai langsung pulang ya !" titah Millie.
"Iya Mom..kakak pulang dulu ya " Maura pamit sambil mencium kedua pipi Millie.
Millie tersenyum melihat putrinya menghilang dibalik pintu dengan riangnya.
Setibanya Maura di parkiran Marvin langsung menarik Maura masuk kedalam mobilnya.
"Oom..kaget tau kirain aku diculik " Maura memegang dadanya yang berdetak sangat kencang karena tidak menyangka Marvin akan menangkapnya dan memasukan kedalam mobilnya.
"Iya...mau Om culik kakak ke penghulu " jawab Marvin sambil mencuri satu ciuman saat gadis itu lengah.
"Memang berani menghadapi Mommy dan Daddy ?" tanya Maura Setelah tautan bibir mereka selesai.
"Berani..Om tidak sabar melihat kak Millie dan Mas Wisnu panik mencari anak gadisnya yang cantik ini tiba-tiba menghilang " jawab Marvin sambil mengelus rambut Maura.
__ADS_1
"Kasian Mommy dan Daddy Om.. mereka pasti sedih " ucap Maura lirih.
"Suruh siapa tidak merestui hubungan kita " jawab Marvin.
"Om mobil aku bagaimana ?" tanya Maura menunjuk pada mobil merah yang terparkir tepat di sebelah mobil Marvin.
"Nanti Om suruh sopir antarkan ke rumah " jawab Marvin santai, Maura pun mengangguk.
Sebelum pergi Marvin menitipkan kunci mobil Maura di pos security dan menyuruh sopir kantor untuk mengantarkan mobil Maura ke rumah sebelum Millie melihatnya.
"Kalau tidak nyuri-nyuri begini mana bisa jalan berduaan sama kakak " Marvin menggenggam tangan Maura dengan tangan kirinya dan mencium jemarinya dengan lembut.
"Setiap jalan sama Om aku itu selalu deg-degan tau..takut ketauan sama Mommy dan Daddy " ucap Maura sambil menyandarkan kepalanya di bahu kiri Marvin.
"Sebetulnya ketauan juga lebih bagus biar kita dinikahkan saja sekalian " jawab Marvin santai.
"Maunya Om " Maura mencubit paha Marvin.
"Memang kakak tidak mau menikah sama Om ?" tanya Marvin.
"Ya..mau " jawab Maura malu-malu.
"Kenapa malu bilang maunya ? " tanya Marvin.
"Aku belum ngebayangin nikah muda " jawab Maura jujur.
"Kata orang menikah itu enak..mau ngapain saja bebas tidak takut dosa " ucap Marvin.
"Iya " jawab Marvin.
Siang itu Marvin membawa Maura ke sebuah restoran yang tidak jauh dari kantornya.
Ia tidak mau membuang waktu yang sangat singkat ini dengan mencari restoran yang jauh. Yang penting ia bisa memanfaatkan waktu sebaik-baiknya agar bisa berduaan dengan Maura.
Setelah memesan makanan dan minuman Marvin menuntun Maura mencari meja yang sedikit tersembunyi yang letaknya dekat dengan taman.
Selama menunggu pesanan datang jemari mereka tidak pernah lepas saling meremat.
Bahkan beberapa kali Marvin menciumi jari lentik Maura yang tersemat cincin berlian cantik pemberian darinya.
Mereka baru saling melepaskan tautan jemari mereka ketika makanan dan minuman pesanan mereka datang.Marvin dan Maura pun makan sambil saling melepaskan rindu.
Setelah selesai makan Marvin yang akan mengantarkan Maura pulang mengurungkan niatnya ketika Millie mengirimkan pesan kepada Maura.
Balik lagi dan ambil mobil di kantor
Mommy tidak suka kakak belajar berbohong
"Kita ketauan Om " ucap Maura sambil memperlihatkan pesan dari Mommy nya kepada Marvin.
"Ya sudah kita balik lagi ke kantor saja " ucap Marvin.
"Kakak tidak mau Om..takut dimarahin sama Mommy " Maura menolak.
__ADS_1
"Kalau kakak tidak balik lagi ke kantor nanti Mommy akan semakin marah " bujuk Marvin.
"Pokoknya kakak tidak mau balik lagi ke kantor..Om saja yang balik ke kantor dan temui Mommy " Maura kekeh tidak mau kembali lagi ke kantor.
"Langsung pulang juga tetap saja nanti dimarahi Mommy di rumah " ujar Marvin.
"Aku mau pulang ke rumah Mamih saja " jawab Maura.
Maura memilih pulang ke rumah Mikha karena takut dimarahi oleh Millie.
Karena Maura bersikeras ingin pulang ke rumah Mikha akhirnya Marvin pun mengantarkan Maura pulang ke rumahnya.
Setelah mengantarkan Maura ke rumahnya Marvin pun kembali ke kantor dan bersiap untuk mendapatkan kemarahan dari kakaknya.
"Mana Maura ?" tanya Millie ketika Marvin muncul di ruangannya.
"Sudah aku antarkan pulang kak " jawab Marvin.
"Vin..kakak tidak suka ya kamu nyolong-nyolong bertemu Maura di belakang kakak..sampai Maura berani bohong sama kakak " Millie menatap tajam pada wajah adiknya yang duduk sambil menunduk.
"Kalau kakak tidak melarang juga kita tidak akan sembunyi-sembunyi seperti ini kak " bela Marvin.
"Kamu itu kalau dimarahin diam jangan nyela !" Millie yang sedang kesal memiting kepala Marvin.
"I..iya..ampuun kak " Marvin pun memilih diam dan pasrah mendapat Omelan dari kakaknya.
"Kakak sama Mas Wisnu melarang itu karena kita sedang menilai kesungguhan kamu..namun kalau melihat begini jangan salahin kakak kalau kita jadi benar-benar tidak merestui kalian " ancam Millie.
Millie benar-benar kesal karena Maura sudah berani berbohong kepadanya dengan mengatakan akan pergi ke Mall dengan temannya padahal pergi dengan Marvin.
"Aku mengaku salah dan marahin aku saja jangan marahin Maura " pinta Marvin lirih.
"Kalian berdua yang salah " gumam Millie kesal. Marvin menunduk.
"Sekarang kamu yang harus tanggung jawab..antarkan mobil Maura ke rumah..jangan menyuruh sopir !" titah Millie.
"Baik kak...antarkan ke rumah kakak atau ke rumah Mamih ?..soalnya Maura tadi minta diantarkan pulang ke rumah Mamih "
"Maura pulang ke rumah Mamih ?" Millie melotot.
"Iya Kak " jawab Marvin.
"Dasar anak itu..tau saja kalau mau dimarahi " umpat Millie.
Jika Maura ada di rumah Mamihnya mana berani Millie memarahi Maura yang ada justru Millie lah yang akan dimarahi oleh Adam dan Mikha.
"Kamu antarkan mobil Maura ke rumah kakak saja, biar Maura nanti kakak yang jemput pulang dari kantor " jawab Millie.
"Baik kak " jawab Marvin.
"Sudah sana keluar..jangan sampai kakak semakin kesal sama kamu " Millie mengusir Marvin.
Tanpa membantah sedikitpun Marvin pun keluar dari ruangan kerja Millie. Millie geleng-geleng kepala melihat adiknya yang begitu pasrah dan sama sekali tidak membantah meski ia marahi.
__ADS_1