
Mengandung konten dewasa harap bijak dalam membaca 🙏🙏🙏
Setelah pesta usai Marvin dan Maura kembali ke kamar hotel. Karena lelah mereka tidak memikirkan apapun selain istirahat.
Maura dan Marvin langsung tidur setelah melepas baju pengantin mereka dan menggantinya dengan piyama.
Disudut kamar sudah teronggok dua buah koper milik mereka karena besok pagi mereka akan langsung terbang untuk berbulan madu.
Tengah malam Maura yang terbangun karena ingin ke kamar mandi kaget ketika mendapati Marvin tengah tertidur disebelahnya dengan posisi sedang memeluknya.
"Om ngapain tidur sama aku..nanti kalau ketauan Mommy dan Daddy dimarahin loh " Maura menepuk-nepuk pipi Marvin.
"Tidak akan kak..kan kita sudah menikah " jawab Marvin tanpa membuka matanya.
"Oh iya kakak lupa " jawab Maura sambil beringsut turun dari ranjang kemudian beranjak menuju kamar mandi.
Setelah menuntaskan hajatnya Maura pun kembali naik keatas ranjang dan melanjutkan tidurnya.
Gadis itu tidak menolak ketika tangan Marvin meraih tubuhnya dan memeluknya erat.
"Hmm..kakak wangi dan hangat " Marvin bergumam dalam tidurnya.
"Ngigau " gumam Maura sambil menenggelamkan wajahnya di dada Marvin.
Keesokannya ketika Marvin membuka matanya pria tampan itu sudah mendapati semua barang mereka sudah rapi.
Maura memisahkan sebagian barang mereka kedalam tas dan akan dibawa pulang oleh pak Muh karena mereka akan pergi dengan hanya membawa barang yang sudah disiapkan dalam dua koper yang teronggok di sudut kamar hotel.
"Om mandi dulu sana..nanti kita terlambat ke bandara nya " Maura memberikan handuk kepada Marvin.
"Tidak mau menemani Om mandi ?" tanya Marvin mengerling nakal.
"Aku sudah mandi Om " jawab Maura sambil menyiapkan baju lengkap dengan pakaian dalamnya untuk Marvin pakai.
"Baiklah " jawab Marvin sambil berlalu ke kamar mandi.
Pagi ini rencananya mereka akan terbang ke Papua.
Marvin dan Maura akan berbulan madu di Raja Ampat selama satu Minggu.
Perjalanan bulan madu mereka kali ini adalah kado dari teman-teman Maura yang tergabung dalam Genk Bintang.
"Jangan lupa buat photo yang bagus dan kirim ke gw " pinta Adi sang bos travel pada saat menyerahkan kado paket bulan madu kepada Maura.
"Lo ngasih kado buat bulan madu atau buat gw kerja ?" Maura mendelik kearah Adi.
"Bulan madu sambil kerja..sambil dikerjai juga sama Om Marvin " jawab Velia sambil nyengir.
"Sialan Lo " sungut Maura.
*
Setelah menempuh perjalanan panjang akhirnya Marvin dan Maura pun tiba di sebuah resort mewah di Raja Ampat.
"Ahhh.. akhirnya liburan juga " Maura menjatuhkan tubuhnya diatas kasur empuk merukuran cukup besar yang berada ditengah kamar itu.
"Bukan liburan kak..tapi bulan madu " ralat Marvin sambil menarik koper mereka kedalam kamar.
"Sama saja " jawab Maura sambil turun dari ranjang kemudian membongkar kopernya dan memasukkan baju-baju mereka kedalam lemari yang ada disana.
"Ternyata Raja Ampat tidak kalah keren dari Maldives ya Om " ucap Maura sambil menyimpan kopernya yang sudah kosong di sudut ruangan.
"Iya " jawab Marvin sambil membaringkan tubuhnya diatas kasur empuk bersprai putih.
Marvin kemudian menarik tangan Maura hingga gadis cantik itu terjerembab diatas tubuhnya dan tangan kokoh pria tampan itu langsung mengunci tubuh Maura hingga begitu rapat tidak berjarak.
Tanpa dikomando keduanya pun saling mendekat dan hap..dalam.sekejap bibir mereka pun saling bertautan.
__ADS_1
Marvin melu mat dan menyesap bibir atas dan bawah Maura bergantian dengan lembut dan Maura pun membalasnya.
Tanpa melepaskan tautan bibir mereka Marvin menggulingkan tubuh Maura hingga mereka bertukar posisi dan gadis cantik itu kini berada dibawah Kungkungan tubuh kekarnya.
"Kamu milik Om sekarang " bisik Marvin disela ciuman panjang mereka.
Maura tidak menjawab namun gadis cantik yang baru berusia delapan belas tahun itu tampak pasrah dibawah Kungkungan tubuh kekar Marvin.
Marvin yang sudah tidak dapat menahan diri untuk menerkam Maura tiba-tiba berhenti ketika mendengar suara perut Maura berbunyi.
"Kakak lapar Sayang ?" tanya Marvin.
"Iya Om " jawab Maura malu dan merasa sedikit bersalah karena telah mengacaukan suasana.
"Sebaiknya memang kakak makan dulu sebelum Om makan " Marvin beringsut turun dari atas tubuh Maura.
Marvin dan Maura pun memesan makanan. Sambil menunggu pesanan makanan mereka datang Marvin dan Maura mandi dengan bergantian.
Setelah mereka selesai mandi makanan pesanan mereka pun datang.
Maura tampak makan dengan lahap begitu juga dengan Marvin karena hari ini mereka sudah melakukan perjalanan yang cukup panjang.
Setelah selesai makan Marvin dan Maura duduk di depan kamar sambil menikmati pemandangan laut yang terbentang indah di depan mereka.
Disana Marvin mengambil beberapa photo Maura yang terlihat sangat cantik meski dilihat dari sudut manapun.
Marvin memang sengaja membawa kamera untuk mengabadikan momen bulan madu mereka.
Selain mengambil photo Maura, mereka juga tidak lupa untuk mengabadikan momen romantis mereka.
Ada banyak photo yang mereka ambil ketika mereka sedang berciuman mesra dengan latar deburan ombak dibelakang mereka.
Setelah lelah berphoto Marvin mengajak Maura untuk kembali ke kamar mereka.
"Mau kembali ke kamar tapi gendong !" pinta Maura manja.
Maura yang hendak naik ke punggung Marvin langsung berhenti ketika Marvin menolaknya.
"Katanya mau gendong kakak " Maura langsung cemberut.
"Mulai sekarang gendongnya jangan di punggung..tapi didepan saja " jawab Marvin seraya mengangkat tubuh Maura.
"Digendong di depan dan di punggung sama saja Om..apa bedanya " sungut Maura sambil memeluk leher Marvin dan membelitkan kakinya di pinggang Marvin ketika tubuhnya sudah berada dalam gendongan Marvin.
"Tentu beda dong Sayang..kalau di depan kan Om bisa gendong sambil cium kakak " jawab Marvin seraya menyatukan bibir mereka.
Marvin menggendong Maura masuk ke kamar tanpa melepaskan tautan bibir mereka.
Setibanya di kamar Marvin langsung membawa Maura duduk disisi ranjang dengan posisi Maura berada diatas pangkuan Marvin dengan kaki masih membelit pinggangnya.
"Oom..?" Maura merasa tidak nyaman ketika merasa ada yang mengganjal yang sedang ia duduki.
"Hmm..ada apa kak ?" tanya Marvin.
"Ada yang ganjel hihihi " jawab Maura sambil terkikik.
"Itu tandanya ada yang pengen kenalan sama kakak " bisik Marvin.
"Siapa Om ?" tanya Maura.
"Ya Ini yang sedang kakak duduki " jawab Marvin sambil menuntun tangan Maura untuk menyentuh bagian bawah tubuhnya yang sudah menegang dan menyesakkan celananya.
"Iiih..Oom " Maura buru-buru menjauhkan tangannya dari benda kenyal yang sudah menegang itu.
"Kenapa tidak mau pegang " tanya Marvin.
"Geli Om..kakak tidak pernah pegang yang begituan " jawab Maura polos.
__ADS_1
"Baguslah...cukup punya Om saja yang kakak pegang " bisik Marvin sambil menggigit kecil telinga Maura.
Hembusan nafas Marvin ditelinga nya membuat bulu di sekujur tubuh Maura meremang.
"Kakak sudah siap ?" tanya Marvin dengan suara parau.
"Siap apa Om ?" tanya Maura.
"Om suntik " jawab Marvin sambil tersenyum menggoda.
"Sun..suntik..?! " Maura langsung terlihat ketakutan.
"Iya.. bukan pake jarum tapi pake ini " Marvin menunjuk kearah bagian bawah tubuhnya.
Maura yang mulai mengerti arah ucapan Marvin tampak terlihat ngeri membayangkannya jika benda yang belum pernah ia lihat wujudnya itu menusuk tubuhnya.
"Tidak usah dibayangkan..cukup rasakan saja " bisik Marvin seolah dapat membaca ketakutan istri kecilnya itu.
Marvin mengangkat tubuh Maura kemudian membaringkannya diatas kasur yang berukuran cukup besar itu dan mengurungnya dibawah tubuh kekarnya.
"Oom..apakah kita akan melakukannya sekarang ?" tanya Maura lirih.
"Melakukan apa ?" tanya Marvin sambil tersenyum menggoda.
"Hu..hubungan suami istri " jawab Maura malu.
"Ya..Om ingin mengambil hak Om sebagai suami sekarang " jawab Marvin dengan suara parau.
"Boleh ?" tanya Marvin..Maura mengangguk.
Setelah mendengar jawaban Maura mereka kembali saling menautkan bibir.
Maura melenguh ketika bibir Marvin mulai merambat turun menyusuri leher putih mulusnya dan menghisapnya seperti vampir sehingga meninggalkan banyak jejak disana.
Puas menghiasi leher putih mulus Maura kini bibir Marvin terus meluncur ke bawah menuju dua bukit kembarnya yang masih tertutup pakaian lengkap.
Tidak ingin ada penghalang Marvin pun melepaskan semua kain yang melekat ditubuh Maura sehingga tubuh putih mulus Maura terpampang jelas dimatanya.
Maura menutup dada dan lembahnya yang dihiasi bulu halus dengan kedua tangannya.
"Kenapa ditutup ?" Marvin menepiskan kedua tangan Maura agar ia bisa melihat aset berharga milik Maura yang kini sudah sah menjadi miliknya.
"Kakak malu Om " jawab Maura.
"Masa sama suami sendiri malu " ujar Marvin sambil melepaskan semua bajunya berikut ce lana dalamnya hingga mereka sama-sama polos.
Maura menatap ngeri pada benda panjang dan besar yang menggantung diantara ************ Marvin yang sudah berdiri dengan gagahnya.
Marvin yang sudah tidak dapat mengendalikan hasratnya langsung naik keatas tubuh Maura dan mengurung gadis itu dibawah tubuh kekarnya.
Bibir Marvin langsung melahap dua bukit kembar Maura dan mengemut puncaknya dengan rakus.
Tangannya Marvin tidak tinggal diam mempermainkan dan mere mas bukit satunya lagi sehingga membuat Maura menggelinjang kegelian seperti cacing kepanasan.
"Oom..ah..geliii " Maura meremas rambut Marvin yang berada diatas dadanya.
Tanpa Maura sadari ia sedang menirukan suara Uh..ah..mommy dan Daddy nya yang sering ia dengar.
"Oom..sebentar ya break dulu aku ingin pipis " Maura menarik kepala Marvin agar berhenti mengemut dan menghisap puncak dadanya.
"Kakak..jangan bohong " Marvin yang sedang terbakar gairah enggan melepaskan Maura.
Karena Marvin tidak mau melepaskannya Maura pun mendorong dada Marvin dengan paksa kemudian berlari ke kamar mandi.
Marvin tertawa melihat Maura berlari ngibrit ke kamar mandi dalam keadaan telanjang bulat.
Marvin membaringkan tubuhnya telentang sambil menunggu Maura keluar dari kamar mandi.
__ADS_1