
Maura tampak tersinggung karena Marvin menyindirnya. Setelah mandi dan memakai piyamanya Maura langsung naik keatas ranjangnya dan memilih langsung tidur.
Maura melewatkan makan malamnya karena wanita cantik itu langsung tidur dengan nyenyak meskipun hari masih siang.
"Maura mana Vin ?" tanya Millie ketika mereka mengobrol di ruang keluarga.
"Maura tidur kak..mungkin kelelahan setelah seharian main dengan Selina " jawab Marvin.
Marvin tidak mengatakan kepada Millie jika Maura sedang ngambek gara-gara ia menyindirnya karena pergi bersama Zico.
Jika tidak tidur sebetulnya Marvin berencana mengajak Maura jalan malam ini karena ini adalah malam terakhir mereka di Bandung.Namun rencana Marvin gagal karena Maura keburu ngambek kepada Marvin.
Marvin dan Maura besok pagi memang harus kembali ke Jakarta karena Maura ada jadwal pemotretan.
Wisnu, Millie dan ketiga tuyul itu masih akan menginap di Bandung sampai akhir pekan
Jam delapan malam Marvin kembali ke kamar, melihat Maura yang tidak ada gelagat akan bangun akhirnya Marvin mulai paking agar besok pagi mereka bisa langsung pulang ke Jakarta.
Setelah selesai membereskan barang-barangnya Marvin pun langsung naik keatas ranjang dan menyusul Maura yang sudah lebih dulu tertidur.
Malam ini Marvin melewatkan malam terakhir mereka di Bandung tanpa melakukan kegiatan panas diatas ranjang seperti biasanya. Sepertinya Marvin sedang mendapatkan hukumannya karena telah berani menyindir Maura.
Keesokannya pagi-pagi sekali mereka pun kembali ke Jakarta. Maura yang masih mengantuk memilih melanjutkan tidurnya di dalam mobil.
Marvin melirik Maura yang tertidur lelap di sampingnya. Biasanya Maura selalu menolak jika disuruh tidur dengan alasan tidak tega melihat Marvin tidak ada yang menemani mengobrol.
Maura baru terbangun ketika mereka sudah sampai di rumah Adam.
"Jam berapa kalian dari Bandung, pagi begini sudah sampai ?" tanya Mikha begitu Maura dan Marvin turun dari mobil.
"Abis subuh Mih " jawab Maura sambil buru-buru masuk ke kamarnya.
Begitu sampai Maura langsung bersiap untuk pergi ke lokasi pemotretan.
"Istirahat dulu kak..kalian kan baru sampai " ucap Mikha ketika Maura langsung pamit akan pergi lagi.
"Kakak takut kejebak macet Mih nanti telat " jawab Maura.
"Aku antar " Marvin mengambil kunci mobil dari tangan Maura.
"Tidak usah..aku bisa pergi sendiri " Maura hendak merebut kembali kunci mobil dari tangan Marvin namun tidak berhasil.
"Sama suami itu tidak boleh membantah " omel Marvin.
Akhirnya Maura pun tidak dapat menolak ketika Marvin bersikeras mengantarnya ke lokasi pemotretan.
Di lokasi pemotretan Maura kehilangan mood nya, Photografer beberapa kali menegur Maura dan akhirnya waktu pemotretan menjadi lebih lama dari biasanya.
__ADS_1
Marvin yang menunggui Maura di lokasi pemotretan menjadi iba melihat Maura yang beberapa kali mendapat teguran dari photografer.
Marvin merasa bersalah dan ia tidak menyangka jika ngambeknya Maura kepadanya akan berpengaruh pada pekerjaannya.
"Ka..mau beli ayam goreng dulu ?" tanya Marvin ketika mereka melewati gerai ayam goreng kesukaan Maura setelah selesai pemotretan.
"Tidak " jawab Maura singkat.
Meskipun Maura menolak namun Marvin tetap menepikan mobilnya disana dan membeli satu ember ayam goreng kesukaan Maura.
Marvin memberikan kantung ayam goreng itu ke pangkuan Maura karena gadis itu tidak ikut turun pada saat Marvin membelinya.
"Daripada cemberut terus lebih baik makan ayam goreng " Marvin menjawil dagu Maura namun ditepiskan oleh Maura.
"Galak banget sih kamu Sayang " keluh Marvin sambil mulai melajukan mobilnya melanjutkan perjalanan.
Sepanjang perjalanan pulang Maura sama sekali tidak mau menyentuh ayam goreng yang ada di pangkuannya meskipun Marvin terus berusaha membujuknya.
Tidak ingin Maura keterusan ngambek dan dilihat Mamih dan Papihnya Marvin menghentikan mobilnya di jalanan yang sedikit sepi.
Jika sampai Papih dan Mamihnya melihat Maura ngambek pasti habis nanti ia kena omel, secara kedua orangtuanya sangat sayang kepada cucu sekaligus menantunya itu.
"Ngapain berhenti disini Om ?" tanya Maura.
Marvin mengernyit ketika Maura kembali memanggilnya Om..dan Marvin tidak menyukainya.
"Bicara apa ? kita pulang saja kakak lelah ingin istirahat "
"Kita tidak akan pulang sebelum masalah kita selesai " ujar Marvin.
"Aku tidak merasa punya masalah..Om saja kali yang merasa punya masalah sama aku " ucap Maura judes.
Marvin menarik napasnya yang terasa berat. Bukan saja berat menyimpan rasa cemburu kepada Zico tapi juga berat menghadapi ngambeknya Maura.
"Kemarin kenapa kakak tidak bilang kalau pergi jalannya tidak hanya dengan Selin tapi dengan Zico juga ?" tanya Marvin sambil menatap tajam wajah Maura yang terus cemberut.
"Kalau tau kakak akan pergi dengan Zico tidak akan aku ijinkan pergi " sambung Marvin.
"Aku juga tidak tau kalau akan pergi dengan kak Zico..aku taunya pas mereka jemput. Masa aku harus batalin pergi hanya karena ada kak Zico..kan ga enak sama mereka " bela Maura.
"Lalu kenapa kakak tidak bilang kalau ?" tanya Marvin.
"Kalau aku bilang Om mau nyuruh aku balik lagi gitu..atau mau Om susul ?" tanya Maura dengan mata menantang.
"Ya setidaknya kakak bilang " jawab Marvin.
"Om kan sedang kerja..aku tidak mau ganggu cuma masalah sepele seperti itu "
__ADS_1
"Tapi aku tidak suka kakak jalan sama Zico.." ucap Marvin lirih.
"Kenapa..Om cemburu ?" tanya Maura sambil mendelik sebal kearah Marvin.
"Iya " jawab Marvin jujur.
"Zico itu masih cinta sama kakak..kelihatan waktu kakak pemotretan di Bali untuk iklan hotelnya " ucap Marvin.
"Itu kan sudah lama Om sebelum kita menikah..lagian kak Zico nya juga sekarang pacaran sama kak Selin " ucap Maura.
"Zico pacaran sama Selin ?" Marvin langsung melotot.
"Iya " jawab Maura.
"Syukurlah..jadi dia tidak akan dekati kakak lagi " ucap Marvin lega.
"Huuh..dasar cemburuan " gumam Maura dengan wajah judesnya.
"Cemburu itu tanda cinta Sayang " Marvin menjawil dagu Maura sambil nyengir namun dengan cepat ditepiskan oleh Maura.
"Iya tapi cemburunya Om itu bikin kerjaan aku berantakan..tadi aku sampai beberapa kali ditegur Bang Ihsan karena tidak fokus " omel Maura.
"Maaf ya Sayang " pinta Marvin. Maura hanya mendengus sambil membuang muka.
"Ngambeknya jangan kelamaan dong Sayang " pinta Marvin sambil mulai melajukan mobilnya meneruskan perjalanan.
Setibanya di rumah wajah Maura masih terlihat cemberut. Adam dan Mikha curiga jika Marvin dan Maura sedang ada masalah, terlebih lagi ketika tiba-tiba Maura ingin tidur bersama Papih dan Mamihnya.
"Kalian tidak sedang berantem kan ?" tanya Adam menatap tajam kearah Marvin dan Maura.
"Aku sedang kesal sama anak Papih itu..cemburuan " Maura mengadu. Marvin hanya menggaruk belakang kepalanya.
"Kamu itu seperti anak kecil saja Vin " omel Adam.
"Cemburu itu tandanya cinta Pih " bela Marvin.
"Iya betul..tapi asal jangan cemburu buta saja seperti Papih kamu sampai berani mukulin orang hanya gara-gara cemburu buta " sindir Mikha.
"Haaah..Papih pernah mukulin orang karena cemburu ?..pasti Om Seno ya yang Papih pukulin ?" tebak Marvin.
"Darimana kamu tau ?" Adam langsung menatap tajam kearah Marvin begitu juga dengan Mikha.
"Cuma asal tebak saja " jawab Marvin.
"Kamu itu aneh..apa hubungannya coba Papih cemburu sampai mukulin orang sama Om Seno " ujar Maura.
Tentu ada hubungannya dong Sayang..nanti aku ceritain kalau kamu sudah tidak ngambek... batin Marvin.
__ADS_1