
Malam itu Millie dan Meysha tidur di kamar Maura, sedangkan Mile dan Malik tidur bersama Bapak dan Ibu.
Tinggallah Wisnu yang tampak gelisah seorang diri di kamarnya.
Sebelum tidur Maura banyak bercerita tentang sekolah dan teman-teman barunya kepada Millie.
Millie merasa lega karena Maura tampak bahagia berada di lingkungannya yang baru.
Maura termasuk anak yang supel dan mudah beradaptasi. Dan prestasinya pun sangat bagus meskipun berstatus anak baru.
"Apakah kakak disini sudah punya pacar ?" tanya Millie.
"Belum Mom " jawab Maura tersipu.
"Mommy kira kakak sudah jadian sama Zico ?" tanya Millie menyelidik.
"Tidak Mom..kami hanya temenan " jawab Maura.
"Tapi Mommy lihat dia sepertinya suka loh sama kakak " ucap Millie membuat Maura kembali tersipu.
"Memang kakak sudah boleh punya pacar Mom ?" tanya Maura.
"Boleh dong..tapi ada syaratnya " jawab Millie.
"Kakak tau..semua sudah ada dikepala kakak " potong Maura sambil tersenyum.
Maura sudah hapal diluar kepala semua nasehat Millie termasuk jika nanti Maura punya pacar. Dan Maura tidak akan mungkin membuat Mommy nya kecewa.
Millie tertawa sambil mengacak rambut Maura.
Mereka mengobrol sampai larut malam. Obrolan ibu dan anak yang sedang saling melepas rindu itu terganggu dengan suara ketukan di pintu kamar Maura.
Maura dan Millie menatap kearah pintu ketika Wisnu muncul di sana.
"Daddy mau tidur disini juga ?" tanya Maura. Wisnu menggeleng.
"Kak.. ngobrolnya udahan dulu ya..Daddy tidak bisa tidur kalau tidak ada Mommy " ucap Wisnu dengan wajah yang memelas.
"Iya Dad..biar aku tidur sama Meysha disini " jawab Maura sambil menahan senyumnya.
"Mas..kamu itu manja banget sih pake nyusul kesini segala " Omel Millie sambil turun dari ranjang Maura dan kembali ke kamarnya bersama Wisnu.
"Kamu tau sendiri Yang kalau disini itu dingin..aku tidak bisa tidur kalau kedinginan " jawab Wisnu.
"Alasan..tinggal matiin AC terus pake selimut tebal..susah banget sih " Omel Millie, ia merasa jika Wisnu telah mengganggu dirinya yang sedang saling melepas rindu dengan Maura.
__ADS_1
"Tapi Mas maunya tidur sama kamu jadi tidak usah membantah " jawab Wisnu sambil mengunci pintu kamar.
"Mau ngapain pake dikunci segala kamarnya ?" tanya Millie sambil melotot.
"Mau naik kuda..makanya pintunya di kunci takut kudanya kabur.. soalnya kalau malam kudanya suka tiba-tiba menjadi liar " jawab Wisnu dengan seringai liciknya.
"Dasar mesum "
*
Mendengar percakapan Mamih dan Papihnya yang mengatakan jika Maura sudah mulai berani menyetir sendiri membuat Marvin dilanda kecemasan.
Marvin khawatir terjadi apa-apa pada Maura karena selama di Jakarta ia belum pernah sekalipun melihat Maura belajar nyetir.
Marvin berniat menghubungi Maura namun ia urungkan. Sejak Marvin mengantarkan Maura pulang ke Bandung dan bertemu dengan Nisa dan Yudhis, Maura semakin menjauhinya.
Sebetulnya bisa saja Marvin pergi ke Bandung untuk menemui Maura, namun ia bingung mencari alasan yang tepat untuk menemui keponakan yang diam-diam sudah mencuri hatinya itu.
Marvin mengacak rambutnya dengan kasar karena kepalanya selalu dipenuhi Maura..dan Maura.. Marvin berharap menemukan alasan untuk pergi ke Bandung dan menemui Maura.
Waktu hampir jam sepuluh malam Marvin akhirnya nekad pergi ke Bandung.
Marvin melajukan mobilnya menuju rumah Arin.Malam ini Marvin akan menginap disana dan besok ia akan menyuruh Selina dan Silva mengajak Maura jalan.
"Bagaimana..apakah Maura mau diajak jalan ?" tanya Marvin pagi itu.
"Belum jawab..tapi apa Kak Marvin yakin tidak akan jadi masalah takutnya kak Nisa salah paham lagi kalau tau kita jalan sama Maura " ujar Selina.
"Tidak akan " jawab Marvin santai.
"Masalah apa ?"
Marvin dan Selina kaget ketika Arin tiba-tiba muncul di belakang mereka.
"Tidak apa-apa Mam " jawab Selina sambil pura-pura memainkan ponselnya.
"Nah Maura balas...iya bisa katanya " ucap Selina setelah membaca pesan dari Maura.
"Yess " ucap Marvin tersenyum senang.
Selina dan Arin melongo melihat reaksi Marvin yang menurut mereka terlalu berlebihan.
Setelah mendapat balasan dari Maura mereka pun bersiap untuk menjemput Maura.
"Kak Marvin kenapa kak Nisa tidak diajak ?" tanya Silva ketika mereka sedang dalam perjalanan menjemput Maura.
__ADS_1
"Dia sedang sibuk ngurus skripsi " jawab Marvin singkat.
"Baguslah..jadi kita bisa bebas main, kalau ada dia jadi takut abisnya cemburuan..masa sama Maura saja cemburu " sungut Silva.
"Tenang..acara main kita kali ini aman " ucap Marvin santai.
Setibanya di rumah orangtua Wisnu Maura langsung cemberut ketika melihat Selina dan Silva datang menjemputnya bersama Marvin.
Marvin terkesima melihat penampilan Maura yang terlihat sangat cantik dan menggemaskan meski hanya mengenakan kaos putih dan celana jeans bolong.
"Kenapa tidak bilang kalau kita jalannya sama Om Marvin..tau gitu aku ga bakalan ikut " ujar Maura dengan suara pelan.
"Tenang..kak Nisa ga bakalan tau karena dia sedang sibuk bikin skripsi di Jakarta..jadi aman " jawab Selina.
"Tau mau ke Bandung padahal pergi bareng saja sama kita " ucap Wisnu begitu melihat Marvin bersama Selina dan Silva.
"Mas tidak bilang sih kalau mau pergi ke Bandung " jawab Marvin pura-pura tidak tau.
"Nanti lagi kalau kita ke sini Mas ajak kamu biar ada yang gantian nyetir " ucap Wisnu sambil tertawa.
"Siap Mas " jawab Marvin bersemangat.
Akhirnya Marvin punya kesempatan untuk sering bertemu dengan Maura asal dia mau jadi sopir cadangan kakak iparnya.
Setelah berpamitan Marvin pun membawa ketiga gadis itu kedalam mobilnya.
Maura menolak ketika Marvin menyuruhnya duduk di depan. Akhirnya Selina lah yang duduk di depan, Maura duduk di belakang bersama Silva.
Selina dan Silva yang sudah hapal tempat nongkrong di daerah Bandung mengajak Marvin dan Maura nongkrong di sebuah cafe di Punclut yang bernuansa alam dengan menu andalan kopi.
Selain tempat yang nyaman disana juga tersedia banyak spot photo yang sangat bagus.
Maura,Selina dan Silva sibuk berpoto ria dengan gaya yang lucu dan menggemaskan khas remaja.
Disaat ketiga remaja itu sibuk berphoto, lain hal nya dengan Marvin. Pria tampan itu malah terlihat sibuk menetralkan debar jantungnya yang tidak beraturan setiap kali melihat Maura.
Marvin semakin yakin jika ada yang tidak beres dengan dirinya. Meski berusaha mungkir namun kenyataannya Marvin sudah jatuh hati pada keponakannya sendiri.
Keponakan kesayangan Om Marvin
Om Marvin yang sedang galau ingin ketemu Maura
__ADS_1