My Posesif Uncle

My Posesif Uncle
Mereka Yang Pintar Atau Kita Yang Bodoh


__ADS_3

Setelah kondisi tubuh Maura membaik Maura dan Marvin mulai memasuki masa pingitan.


Meskipun mereka masih beraktifitas normal seperti biasanya namun kedua orangtua mereka melarang keduanya bertemu sampai hari pernikahan mereka tiba.


Meskipun tidak bisa bertemu namun Marvin dan Maura masih bisa berkomunikasi melalui sambungan telepon.


Mereka masih bisa mengobrol tanpa saling memandang wajah karena Maura menolak melakukan sambungan video dan hanya memperbolehkan Marvin melakukan telepon biasa saja.


Beberapa hari sebelum hari pernikahan Marvin dan Maura mulai melakukan serangkaian acara di rumah masing-masing.


Di rumah Wisnu sudah berkumpul seluruh keluarga besar Wisnu termasuk kedua orangtua mendiang ibu Maura yang sengaja datang untuk menyaksikan pernikahan cucunya. Sementara keluarga dari pihak Millie sendiri fokus berada di rumah keluarga calon mempelai pria.


Setelah melalui serangkaian acara menjelang pernikahan akhirnya hari pernikahan yang ditunggu-tunggu oleh kedua keluarga terutama kedua calon pengantin pun tiba.


Pagi itu Maura terlihat sangat cantik dalam balutan kebaya pengantin berwarna putih.


Jam sembilan pagi kedua keluarga bertolak menuju ke sebuah hotel tempat akan dilangsungkannya acara akad nikah dan dilanjutkan dengan acara resepsi pernikahan pada malam harinya.


Marvin dan Maura memutuskan agar hari pernikahan dan resepsi dilaksanakan pada hari yang sama karena pada esok harinya mereka akan langsung pergi berbulan madu.


Sebelum acara akad nikah Marvin dibuat terkesima ketika melihat Maura yang tampak begitu cantik dalam balutan kebaya Sunda berwarna putih.


Mata Marvin tak lepas menatap Maura ketika gadis itu dituntun untuk duduk tepat disebelahnya karena acara akad nikah akan segera dimulai.


Satu Minggu tidak bertemu membuat Marvin benar-benar pangling melihat Maura.


Tepat jam sepuluh pagi Marvin pun sudah duduk di depan sebuah meja dan berhadapan dengan Wisnu bersiap untuk melakukan ijab kabul dengan dibimbing oleh penghulu.


Marvin tampak menyimak dengan seksama ketika penghulu mulai memberikan arahan kepada Wisnu dan Marvin.


Setelah cukup paham Marvin dan Wisnu pun bersiap untuk melakukan ijab kabul.


Saya terima nikah dan kawinnya Maura putri Wisnu Ardana binti Wisnu Ardana dengan maskawin seperangkat alat sholat dan seperangkat perhiasan emas dibayar tunai


Ucap Marvin dalam satu tarikan napas yang langsung disambut dengan kata sah dan dilanjutkan dengan penyematan cincin pernikahan mereka.


Setelah acara akad nikah selesai acara dilanjutkan dengan pemberian ceramah pernikahan dan sungkeman.


"Om kaki aku pegel " keluh Maura pada saat akan bangun dari duduknya setelah selesai akad nikah dan penandatanganan berkas pernikahan.


Ucapan Maura tersebut sontak membuat petugas KUA yang ada disana menoleh kearah sepasang pengantin baru itu dengan tatapan heran.


Tanpa menjelaskan apapun Marvin langsung mengulurkan tangannya untuk membantu Maura yang terlihat kesusahan bangun karena mengenakan kain dan kebaya yang membelit tubuh langsingnya.


Sebelum Dzuhur serangkaian acara inti pun selesai dilaksanakan dan kedua mempelai dibawa ke kamar hotel untuk beristirahat sebelum bersiap untuk acara resepsi pada malam harinya.


Ada waktu beberapa jam sebelum acara resepsi nanti malam Maura dan Marvin memilih beristirahat dengan tidur.


Maura yang sudah mengganti kebaya pengantinnya dengan piyama tampak tertidur pulas dalam pelukan Marvin.


Mereka baru bangun ketika sore harinya tim MUA datang untuk merias kedua pengantin baru itu karena acara resepsi akan berlangsung tidak lama lagi.


Malam resepsi itu Maura mengenakan gaun pengantin berwarna putih dengan model yang simpel namun terlihat sangat elegan. Sementara Marvin menggunakan tuxedo berwarna hitam.


Marvin yang sudah selesai lebih dulu tampak tidak lepas menatap Maura yang masih ditangani oleh tim Mua dengan penuh kekaguman.


Maura yang merasa jika Marvin sedang menatapnya menjulurkan lidahnya kearah Marvin membuat pria tampan itu tersenyum dalam duduknya.


Jika saja tidak ada orang lain disana mungkin saat itu juga Maura sudah habis ia terkam.


Tepat jam tujuh malam Maura dan Marvin pun digiring menuju ballroom tempat resepsi pernikahan.

__ADS_1


Tangan Marvin dan Maura saling bertautan ketika berjalan melewati karpet merah menuju pelaminan.


Semua pasang mata menatap kagum kearah sepasang pengantin baru yang tampak sangat cantik dan tampan itu.


Diantara sekian banyak tamu undangan tampak Zico menatap dalam kearah Maura.


Ada penyesalan terpancar di wajahnya karena memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Maura meskipun hanya sementara.


Zico tidak menyangka jika Maura akan dengan cepat diambil orang disaat ia akan kembali merengkuhnya.


Kesedihan Zico sedikit menguar ketika tangan lembut Selina menggenggam tangannya seolah memberi kekuatan kepada pria tampan itu untuk segera melupakan Maura.


Selina yang berdiri disebelah Zico dapat menangkap kesedihan diwajah sahabatnya itu ketika melihat Marvin dan Maura bersanding di pelaminan.


"Selin..Lo mau ga jadi pacar gw ?" bisik Zico tiba-tiba.


"Ogah..gw ga mau jadi pelarian " jawab Selina.


"Lalu ini artinya apa ?" tanya Zico menunjuk pada tangan Selina yang menggenggamnya.


"Gw cuma kasian sama Lo takut Lo nekad bundir karena ditinggal nikah sama Maura " jawab Selina asal.


"Sialan Lo " Zico menggerutu namun ia balas menggenggam tangan Selina dengan erat dan tidak melepasnya.


Zico masih belum melepaskan tangan Selina ketika mereka maju ke pelaminan dan mengucapkan selamat kepada Marvin dan Maura.


Wajah Marvin menjadi sedikit masam ketika melihat kemunculan Zico disana.


Maura yang menangkap perubahan wajah Marvin langsung mencubit lengan Marvin.


Diantara para tamu undangan hadir juga Nisa dan Yudhis. Mereka terlihat sangat mesra ketika memberikan ucapan selamat kepada Marvin dan Maura.


Semakin malam acara semakin hangat, Pada saat acara lempar bunga Selina dibuat malu ketika Zico yang mendapat lemparan bunga langsung memberikannya kepada Selina sambil berlutut.


Semua para tamu undangan tidak ada yang tidak tertawa melihat ulah Selina dan Zico.


"Ya ampun Selina " Arin dan Seno geleng-geleng kepala melihat ulah putri mereka.


Suasana semakin meriah ketika Maura dan Marvin berduet menyumbangkan sebuah lagu untuk menghibur para tamu undangan.


Mereka menyanyikan sebuah lagu yang berjudul Eternal flame


Marvin...


Close your eyes, give me your hand, darling


Pejamkan matamu, ulurkan tanganmu, sayang


Do you feel my heart beating


Apakah kau rasakan debaran jantungku


Do you understand


Apa kau mengerti


Do you feel the same


Apakah kau rasakan hal yang sama


Am I only dreaming

__ADS_1


Apakah aku sedang bermimpi


Is this burning an eternal flame


Apakah bara ini nyala abadi


Maura...


I believe it's meant to be, darling


Aku percaya semua ini tlah ditakdirkan, sayang


I watch you when you are sleeping


Kupandangi dirimu saat kau terlelap


You belong with me


Kau milikku


Do you feel the same


Apakah kau rasakan hal yang sama


Am I only dreaming


Apakah aku sedang bermimpi


Or is this burning an eternal flame


Apakah bara ini nyala abadi


Marvin dan Maura....


Say my name, sun shines through the rain


Sebut namaku, mentari bersinar menembus hujan


A whole life so lonely


Seumur hidupku begitu sepi kurasa


And then you come and ease the pain


Lalu kau datang dan mengobati rasa sakit ini


I don't want to lose this feeling ...ooooohhhh....


Aku tak mau kehilangan rasa ini....oooohhhh.....


Para penonton bertepuk tangan dengan riuh ketika menyaksikan alunan lagu romantis yang dilantunkan oleh sepasang pengantin baru itu.


"Sayang..masih ingat tidak dulu mereka pernah bernyanyi berdua waktu makan malam keluarga ?" tanya Millie kepada Wisnu sambil menatap kagum pada Maura dan Marvin yang masih bernyanyi sambil berpelukan mesra.


"Iya..kalau tidak salah waktu Oma dan Opa ada di Jakarta " jawab Wisnu. " Memangnya kenapa ?"


"Aku curiga..jangan-jangan saat itu mereka diam-diam sudah pacaran.. karena waktu itu mereka nyanyi nya mesra banget " ujar Millie.


"Bisa jadi " jawab Wisnu.


"Pintar sekali mereka mengelabui kita " Millie menggerutu.

__ADS_1


"Sudahlah Sayang..orang mereka sekarang sudah menikah..kita nya saja dulu yang terlalu bodoh sehingga bisa mereka kelabui " Wisnu memeluk bahu Millie.


__ADS_2