
Maura yang sudah lelah mengikuti Selina dan Silva berphoto beranjak menghampiri meja tempat dimana Marvin duduk untuk mengambil minum.
"Sudah puas photo-photonya ?" tanya Marvin menatap lembut wajah cantik Maura.
"Sudah " jawab Maura singkat.
"Sama Om belum " ujar Marvin menggoda.
"Ih Ogah photo bareng Om..yang ada bisa habis aku diamuk sama kak Nisa " jawab Maura sambil melengos judes membuat Marvin tersenyum gemas.
"Kakak benci banget ya sama kak Nisa ?" tanya Marvin menatap wajah Maura serius.
"Aku bukannya benci sama kak Nisa.. cuma kesal saja karena selalu dicemburui..padahal mana mungkin aku merebut Om dari kak Nisa..orang kita kan Om dan keponakan " jawab Maura.
"Kalau sama Om tidak kesal kan ?" tanya Marvin.
"Sama Om sih tidak..tidak sedikit maksudnya alias kesalnya banyak " jawab Maura judes membuat Marvin langsung tertawa terbahak-bahak sambil meraih kepala Maura dan tanpa sadar mengecup puncak kepalanya dengan gemas.
"Iih..lepasin Om " Maura langsung melotot kesal.
"Kakak jangan judes- judes dong sama Om..nanti lama-lama bisa jatuh cinta loh " goda Marvin.
"Tidak akan..Om Marvin bukan type aku " jawab Maura.
Mendengar jawaban Maura hati Marvin tiba-tiba mencelos.
"Emang type kakak seperti apa ?" tanya Marvin.
"Yang pasti cowok yang tidak punya pacar " jawab Maura.
Senyum Marvin kembali tersungging tipis di sudut bibirnya. Sekarang ia sudah tidak punya pacar jadi ia punya kesempatan untuk mendekati Maura.
"Kalau Om tidak punya pacar kakak mau tidak sama Om ?" tanya Marvin.
"Tidak " jawab Maura tegas.
"Kenapa ?"
"Karena Om sudah punya pacar " jawab Maura.
Marvin menggaruk kepalanya yang tidak gatal..ternyata butuh kesabaran untuk bicara dengan gadis cantik itu.
Selina dan Silva yang sudah puas berphoto muncul dan bergabung di meja tempat Maura dan Marvin berada.
"Dek..tolong photoin kakak sama Maura berdua dong untuk kenang-kenangan " pinta Marvin kepada Selina. Marvin memulai aksi modus nya.
"Ga mau..ga mau..Om itu nekad banget sih cari masalah terus " Omel Maura.
__ADS_1
"Sekali saja kak..nanti kalau Om sudah menikah kan tidak mungkin bisa berphoto berdua lagi sama kakak " Marvin membuat alasan.
"Ogah ah..aku tidak mau ambil resiko " Maura kekeh menolak.
"Tidak apa-apa Ra..sekali ini saja.. anggap saja untuk kenang-kenangan sebelum Om Marvin menikah dengan kak Nisa " Selina membantu membujuk Maura.
Karena terus dibujuk akhirnya Maura pun mau berphoto berdua dengan Marvin.
"Awas saja kalau sampai jadi masalah lagi..aku tidak akan mau bicara lagi sama Om " ancam Maura.
"Tidak akan..percaya deh sama Om " Marvin meyakinkan Maura.
Selina membawa Marvin dan Maura menuju spot yang mereka anggap paling bagus.
"Agak deketan dikit dong..seperti yang sedang musuhan saja " oceh Silva yang bertugas sebagai pengarah gaya.
Marvin pun merapatkan dirinya kearah Maura kemudian tangannya memeluk bahu Maura seperti yang biasa ia lakukan ketika Maura kecil, dan Maura melingkarkan tangannya di pinggang Marvin.
Seketika Marvin terkesiap ketika merasakan jantungnya yang seperti sedang meloncat-loncat ketika akhirnya ia bisa kembali memeluk keponakan kecilnya itu.
Meskipun awalnya Maura dan Marvin terlihat canggung namun lama-lama keduanya mulai terlihat akrab.
Setelah mendapatkan banyak photo yang bagus dan perut mereka pun sudah kenyang Marvin pun membawa ketiga cewek cantik itu pulang.
Marvin terlebih dahulu mengantarkan Selina dan Silva pulang sambil membawa barang-barang nya yang berada di rumah Arin.
"Iya Aunty..aku pulangnya bareng sama kak Millie dan Mas Wisnu " jawab Marvin.
"Oh ya sudah .. hati-hati nyetir nya jangan ngebut..salam buat keluarga Wisnu " pesan Arin sebelum Marvin dan Maura pulang.
"Iya Aunty " jawab Marvin.
Setelah berpamitan Marvin pun melajukan mobilnya menuju rumah orangtua Wisnu untuk mengantar Maura pulang.
Maura sempat protes karena Marvin malah membawa Maura berputar-putar kota Bandung dan tidak langsung mengantarkan Maura pulang.
"Om itu tau jalan tidak sih ?" omel Maura.
"Tidak terlalu..kan Om bukan orang Bandung " jawab Marvin berdusta.
Marvin memang sengaja membawa Maura berputar-putar agar ia memiliki waktu lebih lama bersama si pencuri hatinya.
Sepanjang perjalanan pulang Maura terus menekuk wajahnya karena kesal kepada Marvin yang malah membawanya berputar-putar.
"Jangan marah dong kak..kalau melihat kakak cemberut begitu bikin Om sedih tau " ucap Marvin sambil melirik sekilas kearah Maura.
"Makanya cepetan pulang " pinta Maura.
__ADS_1
"Iya kita pulang " Marvin akhirnya mengarahkan mobilnya menuju jalan yang sebenarnya.
"Sebentar lagi kita sampai rumah, kakaknya jangan cemberut terus dong..nanti Om dimarahin sama Mommy dan Daddy kakak " pinta Marvin sambil
"Iya " Maura mengangguk.
Sebelum turun dari mobil Marvin tiba-tiba menangkap tangan Maura.
"Ada apa lagi sih Om ?" tanya Maura kesal.
"Kalau Om bel itu diangkat..dan kalau Om kirim pesan dibalas " pinta Marvin dengan wajah memohon.
"Memangnya harus ya ?" tanya Maura sinis.
"Harus banget..Om mohon !" Marvin mengatupkan kedua tangannya di depan dada..memohon.
"Tidak janji " jawab Maura sambil turun dari mobil Marvin.
Setelah tiba di rumah orangtua Wisnu, Marvin beristirahat selama beberapa jam sebelum sorenya bersiap untuk kembali ke Jakarta bersama Millie dan Wisnu juga Mile, Malik dan Meysha.
"Aku mau ikut mobil Om Marvin saja " Mile dan Malik merengek ingin ikut mobil Marvin .
"Ayo naik " titah Marvin.
"Beneran tidak apa-apa Mile dan Malik ikut kamu Vin ?" tanya Millie.
"Tidak apa-apa kak aku malah senang ada teman ngobrol " jawab Marvin.
Millie memasukan banyak makanan dan minuman ke mobil Marvin untuk ngemil agar Malik dan Mile tidak menyusahkan Om nya dalam perjalanan.
Maura melambaikan tangannya ketika mobil Marvin dan Wisnu mulai bergerak menjauh dari rumah kedua orangtua Wisnu.
Setelah mobil itu menghilang dari pandangannya gadis cantik berusia belasan itu pun masuk kedalam rumah dengan wajah yang sedih.
Sebetulnya tidak enak harus berpisah dengan orang-orang tersayang nya meskipun di Bandung Oma dan Opa nya melimpahinya dengan kasih sayang dan memperlakukan Maura layaknya seperti seorang putri.
"Jangan sedih..anggap saja kakak sedang belajar mandiri menuju pendewasaan diri " Oma berusaha menghibur Maura.
Wanita berwajah lembut itu dapat menangkap kesedihan yang terpancar di wajah cantik cucunya.
"Iya Oma " jawab Maura dengan mata berembun.
"Jika Oma boleh bertanya..apakah kakak sedang ada masalah dengan Om Marvin dan pacarnya ?"
Pertanyaan Oma cukup membuat Maura terhenyak. Sebetulnya Oma sudah menangkap ada sesuatu yang aneh ketika melihat reaksi Maura yang langsung masuk ke kamar padahal ada Nisa dan Yudhis yang sudah menunggunya cukup lama pada saat Maura pulang dari Jakarta dengan diantarkan oleh Marvin.
"Ti..tidak Oma..kakak tidak ada masalah dengan mereka " jawab Maura.
__ADS_1
Maura memang tidak merasa punya masalah dengan Nisa..justru Nisa lah yang selalu menganggap Maura adalah masalah dalam hubungannya dengan Marvin.