My Posesif Uncle

My Posesif Uncle
Kecelakaan


__ADS_3

Maura menyimpan tasnya di meja kemudian menghampiri Marvin dan langsung duduk mengangkang dipangkuannya menghadap kearah Marvin.


Marvin sedikit memundurkan kursi yang ia duduki memberi ruang agar Maura nyaman dalam pangkuannya.


Marvin samasekali tidak terganggu dengan kehadiran Maura dipangkuannya, ia kembali meneruskan pekerjaannya sambil sesekali mencium puncak kepala Maura.


Marvin membiarkan Maura mengelus rahangnya dan mempermainkan dagunya yang ditumbuhi sedikit bulu kasar karena belum cukuran.


"Sayang sudah berapa hari tidak cukuran ?" tanya Maura.


"Ada dua mingguan " jawab Marvin.


"Kenapa..kamu sibuk ya Sayang atau malas ?" tanya Maura.


"Sepertinya sibuk..sibuk begituan sama kamu " jawab Marvin sambil tersenyum.


"Dasar mesum..tapi aku suka ada kasar-kasarnya begini jadi keliatan macho " Maura mengecup dagu Marvin.


"Baiklah kalau kakak suka nanti akan dipanjangkan saja janggutnya " jawab Marvin.


"Jangan dipanjangin juga dong Sayang nanti seperti kakek-kakek "


"Baiklah bagaimana maunya kakak saja " jawab Marvin.


Setelah sekian lama membiarkan Maura lama-lama Marvin merasa terganggu ketika Maura iseng mengendus-endus leher dan mengecupnya, ditambah duduknya yang tidak bisa diam membuat tongkat saktinya yang sedang tertidur anteng menjadi terbangun dan mulai menyesakkan celananya.


"Kakaak..kamu nakal Sayang " Marvin menghentikan pekerjaannya kemudian menyandarkan kepalanya disandaran kursi.


"Nakal juga kan kamu Sayang yang ngajarin " jawab Maura sambil mengggit dagu Marvin.


Marvin langsung menyambar bibir Maura dan melahapnya dengan rakus.


Sepertinya Marvin salah telah membawa Maura ke kantor untuk menemaninya kerja..yang ada wanita cantik itu malah mengganggunya.


Pada saat berciuman tangan Marvin tidak tinggal diam membuka kancing baju Maura mencari dua benda bulat yang sekarang menjadi pavoritnya.


Setelah berhasil membuka kancing kemeja Maura Marvin pun langsung melahap dua benda padat dan kenyal itu dengan rakus secara bergantian.


"Sayyaaang. uuuh..gelii " Maura terkikik sambil menjambak rambut Marvin ketika merasakan mulut Marvin menghisap pu tingnya kuat-kuat.


Namun keasikan sepasang suami istri yang sedang terbakar gairah itu harus terhenti ketika telepon Marvin berbunyi.


Marvin sejenak memeriksa ponselnya, karena panggilan yang masuk itu dari nomer yang tidak dikenal Marvin pun memilih mengabaikannya dan meneruskan melahap dua benda bulat yang masih menggantung indah di depan matanya.

__ADS_1


Namun lagi-lagi keasikan mereka harus terganggu manakala kini telepon Maura yang terus berdering.


"Nomor tidak dikenal Yang.." bisik Maura kepada Marvin yang sedang sibuk melahap dan meremas dua benda pavoritnya.


Karena takut ada sesuatu yang penting Maura pun menerima panggilan itu.


"Halo..kakak ini aku hiks..hiks..aku sekarang di klinik dekat rumah..kakak cepetan kesini tapi jangan bilang -bilang Mommy huwaaahuwaaa.."


Maura langsung melotot ketika terdengar suara Milea yang menangis meraung-raung.


"Mile..kamu kenapa ?" tanya Maura panik.


"Maaf saya yang mengantar adik ini ke klinik ..adik ini tadi kecelakaan motor di jalan " ucap seorang pria yang rupanya sudah mengambil alih telepon.


"Sayang..kita harus ke klinik sekarang..Mile kecelakaan " Maura mendorong kepala Marvin yang masih melahap bukit kembarnya.


"Mile kecelakaan ?" Marvin langsung melotot kemudian membetulkan baju Maura yang terbuka dibagian dadanya.


"Kita harus kasih tau kak Millie " Marvin hendak beranjak ke ruangan kerja Millie.


"Sayang jangan..tadi Mile berpesan jangan kasih tau kak Millie eh Mommy " Maura menahan tangan Marvin.


"Baiklah kalau begitu kita ke klinik sekarang " Marvin dan Maura buru-buru pergi ke klinik yang berada tidak jauh dari rumah Adam.


Karena melajukan mobilnya dengan cukup kencang Marvin dan Maura pun hanya dalam hitungan menit sudah sampai ke klinik tempat Milea berada.


"Hanya luka-luka biasa tergores aspal..yang agak parah sepertinya anak lelaki itu karena sendi bahunya sedikit bergeser " dokter menunjuk pada anak remaja yang terbaring disebelah ranjang Maura.


"Anak lelaki ?" Maura dan Marvin saling pandang kemudian beralih menatap seorang remaja tampan yang tampak meringis ketika luka ditangannya sedang ditangani oleh dokter.


"Bagaimana kejadiannya sampai bisa begini ?" Maura tidak dapat menahan diri untuk menanyai adiknya yang baru selesai mendapat penanganan dokter.


"A..aku bawa motor mau ke minimarket..kalau jalan kan cape..pas di jalan tiba-tiba ada kucing yang sedang berantem nyebrang.." Milea menceritakan kronologi kecelakaan yang menimpanya sambil terisak.


"Lalu..?"


"Aku panik dan menghindar kucing itu lalu nabrak motor kakak itu yang kebetulan lewat dari depan " lanjut Milea sambil terus terisak.


"Siapa yang mengijinkan kamu bawa motor sendiri ?..kemarin kan Om sudah bilang jangan berani-berani bawa motor tanpa Om " Marvin langsung memarahi keponakan sekaligus adik iparnya yang nakal itu.


"Maaf Om " cicit Milea.


"Kakak harus kasih tau Mommy dan Daddy " Maura mengambil ponsel dari dalam tasnya hendak menghubungi Mommy dan Daddy nya.

__ADS_1


"Jangan kasih tau Mommy dan Daddy..huwa..huwaaaa.." Milea kembali menangis meraung-raung membuat semua yang ada diruangan tindakan klinik itu menatap kearah mereka.


"Sssttt...jangan berisik " Maura menutup mulut adiknya dengan tangannya.


"Iya kakak tidak akan bilang Mommy.." bisik Maura.


Tanpa diberitahu pun Mommy dan Daddynya pasti akan tau batin Maura.


Setelah tangis Milea berhenti kini perhatian Maura dan Marvin tertuju pada anak remaja berseragam putih abu yang tampak meringis menahan sakit di lengannya.


Disaat Maura dan Marvin hendak menghampiri anak remaja itu tiba-tiba muncul sepasang suami istri yang bisa dipastikan jika mereka adalah orangtua anak remaja itu.


"Abi..bagaimana bisa terjadi begini.. kamu pasti tidak hati-hati bawa motornya " Wanita cantik itu langsung memburu putranya yang tampan.


"Dok.. bagaimana keadaan putra kami ?" tanya pria tampan ayah anak remaja itu.


"Ada cidera ringan di bahunya tapi tidak serius dan ada beberapa luka bekas gesekan aspal ditangannya " jawab dokter.


Marvin tampak sedikit sungkan ketika mengetahui jika anak remaja yang terlibat kecelakaan dengan Milea adalah putra Bagas Hadi Pranoto seorang pengusaha terkenal.


Marvin pernah bertemu satu kali ketika menemani Papihnya diacara para pengusaha di puncak beberapa waktu yang lalu.


Sebagai kakak dari Milea, Marvin pun menghampiri sepasang suami istri itu untuk meminta maaf.


"Milea masih kecil.. seharusnya belum boleh berkendaraan " ucap Bagas memperingatkan.


"Iya maaf Om..sebetulnya sudah saya larang namun tadi siang kami kecolongan dan lalai mengawasi Milea " jawab Marvin mengakui kesalahan ada padanya.


"Kalau begitu kalian harus lebih mengawasi Milea jangan sampai kejadian ini terulang lagi " pesan Bagas.


"Baik Om " jawab Marvin.


"Oh iya..untuk urusan motor Milea dan Abimanyu sudah ada di kantor polisi..kamu nanti kordinasi saja dengan putra saya " ucap Bagas sambil memberikan nomer telepon putranya yang kebetulan seorang Polisi.


"Baik Om " jawab Marvin.


Karena luka yang diderita Milea dan Abimanyu tidak serius, sore itu juga mereka diperbolehkan pulang.


Sepanjang perjalanan pulang Milea terus menangis. Gadis kecil yang sedikit nakal itu bukan menangis karena kesakitan namun ia menangis karena takut dimarahi oleh Mommy dan Daddy nya.


"Sudah jangan menangis terus..kalau nakal ya resikonya dimarahi " ucap Maura.


"Nanti kakak dan Om Marvin bantuin aku ya kalau aku dimarahi sama Mommy dan Daddy " pinta Milea memelas.

__ADS_1


"TIDAK MAU .." jawab Marvin dan Maura kompak.


"Kakaaaak..." Milea pun kembali menangis dengan kencang.


__ADS_2