
Setelah acara makan malam yang disertai lamaran selesai mereka melanjutkan dengan mengobrol di ruang keluarga rumah Wisnu yang luas.
Wisnu sempat menghubungi orangtuanya dan mengabari jika acara lamarannya sudah selesai dengan lancar.
Kedua orangtua Wisnu memang sudah diberitahu jika keluarga Adam akan datang untuk melamar Maura namun Ibu dan Bapak tidak bisa datang ke Jakarta karena sedang berada di Jepara untuk urusan usaha mebelnya.
Meski hubungan Marvin dan Maura sudah mendapat restu dari seluruh keluarga namun mereka masih belum berani berdekatan ketika sedang berkumpul bersama keluarganya.
Marvin dan Maura masih terlihat canggung satu sama lain setelah status mereka berubah dari Om dan keponakan menjadi calon suami dan calon istri.
Maura duduk menggelendot kepada Millie sedangkan Marvin duduk di dekat Seno.
"Mamih..Papiih..menginap disini saja, aku mau tidur dengan kalian " pinta si Gemoy.
Hanya Mile satu-satunya tuyul yang masih melek karena Malik dan Meysha sudah tidur di kamar anak.
"Iya..kita semua menginap disini " jawab Adam.
Jika pada umumnya setelah acara lamaran selesai keluarga pria akan pulang, hanya keluarga Adam saja yang langsung menginap di rumah calon besannya.
"Sepertinya kita harus betulkan pintu kamar Maura dulu Mas..aku takut nanti malam ada penyusup masuk ke kamar Maura " ujar Millie sambil melirik Kearah Marvin.
"Kakak curigaan banget sih sama aku " ucap Marvin dengan wajah masam.
"Ya sudah kalau begitu aku tidur sama Mommy dan Daddy saja " pinta Maura.
"Tidak..kamu sudah besar ranjang kita sudah tidak muat untuk bertiga " Wisnu langsung menolak.
"Bukan tidak muat Kak..tapi Daddy sama Mommy tidak bisa ngapa-ngapain kalau ada kamu " seloroh Arin sambil tertawa meledek.
"Maura tidur sama Arin saja biar aku tidur sama Marvin..Aku akan jagain Marvin biar tidak menyusup ke kamar anak gadis orang " ujar Seno.
"Iya Mommy setuju..kakak tidur sana Aunty Arin saja " Millie setuju.
__ADS_1
Wisnu pun tersenyum lega karena tidak ada yang akan mengganggu aktifitas malamnya bersama Millie.
Adam dan Mikha masuk ke kamar mereka ketika melihat si Gemoy sudah mulai terkantuk-kantuk disampingnya.
Tidak lama kemudian Maura dan Arin pun masuk ke kamar Maura. Mereka akan membicarakan masalah gaun pengantin yang diinginkan Maura untuk acara resepsi pernikahan bulan depan.
"Om..aku tidur duluan ya..ngantuk " Wisnu pamit kepada Seno untuk kembali ke kamarnya.
"Iya..Om masih akan ngobrol dengan Marvin " jawab Seno.
Setelah semua masuk ke kamarnya masing-masing Marvin pun mendekat kearah Seno.
"Ayo Om cerita.. bagaimana bisa dulu Om pacaran sama Mamih " Marvin sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya.
"Sebelum Om cerita kamu harus janji dulu tidak akan cerita pada siapapun " Seno mengajukan syarat.
"Iya Om " jawab Marvin.
"Dulu waktu sekolah Om itu pacaran sama Mamih kamu. Mamih kamu dan Aunty Arin bersahabat dari sejak kecil karena rumah mereka bersebelahan selain itu Oma juga mengelola butik milik mendiang orangtua Mamih kamu " Seno mulai bercerita.
"Tanpa kita tau sebetulnya Papih kamu itu diam-diam mencintai Mamih kamu dari sejak kecil..sama seperti kamu yang diam-diam mencintai Maura " lanjut Seno sambil tertawa.
Marvin ikut tertawa, ternyata ada sedikit kesamaan kisah cintanya dengan Papihnya.
"Bagaimana Om dan Mamih sampai putus ?" tanya Marvin penasaran.
"Om dijodohkan..waktu itu Om ngajak Mamih kamu kawin lari tapi Mamih kamu tidak mau.. akhirnya Om kabur dan kita putus..tidak lama kemudian Mamih kamu menikah dengan Papih kamu dan Om pulang ke rumah karena orangtua Om berhasil menemukan Om " lanjut Seno.
"Ternyata Om sempat kabur dari perjodohan ?" Marvin menatap Om nya sambil tertawa.
"Iya..setelah Mamih dan Papih kamu menikah barulah Om mendekati Aunty Arin..awalnya kami backstreet karena Aunty Arin malu pacaran sama mantan pacar sahabatnya sendiri " Seno terkekeh.
"Tapi karena sudah jodoh akhirnya kami pun menikah " Seno mengakhiri ceritanya.
__ADS_1
Seno tidak menceritakan kepada Marvin bagaimana nakalnya Adam waktu itu, dan bagaimana pahit getirnya rumahtangga kedua orangtuanya diawal pernikahan mereka.
"Perasaan Om sekarang kalau ketemu Mamih bagaimana ?" tanya Marvin penasaran.
"Biasa saja ..kami sudah bahagia dengan keluarga masing-masing seperti yang kamu lihat sekarang " jawab Seno.
"Iya Om " jawab Marvin.
"Om juga bangga sama kamu karena sudah berhasil menaklukan keluarga kamu terutama kakak dan kakak ipar kamu " Seno menepuk bahu Marvin.
"Om tidak tau saja bagaimana galaknya kak Millie sama aku begitu tau aku pacaran sama Maura " adu Marvin.
"Cinta itu butuh perjuangan boss " jawab Seno sambil tertawa.
Karena malam semakin larut Seno dan Marvin pun memutuskan untuk tidur di kamar yang biasa Marvin tempati jika sedang menginap di rumah kakaknya.
Tengah malam Marvin keluar dari kamarnya untuk mengambil minum di dapur, disaat yang bersamaan Maura pun hendak mengambil minum juga di dapur.
Melihat Maura muncul dengan piyama nya Marvin pun langsung menangkap pinggang Maura dan mendekapnya erat.
"Oom..ih nanti ketauan Mommy dan Daddy " Maura berusaha melepaskan diri dari dekapan Marvin.
"Sttt..makanya jangan berisik " Marvin menempelkan telunjuknya di bibir Maura. Maura pun mengangguk dengan patuhnya.
"Daritadi kakak cuek banget..Om kangen tau " bisik Marvin sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Maura dan melu mat bibir Maura dengan lembut.
Maura yang juga sangat merindukan Om nya itu memeluk pinggang Marvin erat. Maura membiarkan Marvin melahap bibirnya dengan rakus.
Suara decapan bibir mereka terdengar di dapur yang sepi karena semua penghuni rumah sudah tidur.
Setelah puas Melu mat bibir Maura mereka pun saling melepaskan diri. Marvin mengusap bibir Maura yang basah dan sedikit bengkak dengan ibu jarinya sambil tersenyum.
"Sekarang kakak tidur yang nyenyak " Marvin mencium kening Maura ketika gadis itu akan kembali ke kamarnya dengan gelas berisi air putih di tangannya.
__ADS_1
"Iya Om " jawab Maura sambil berlalu dari dapur dan kembali ke kamarnya untuk melanjutkan tidurnya.