My Posesif Uncle

My Posesif Uncle
Nyaris Saja


__ADS_3

Setelah selesai mandi dan berpakaian Marvin pun turun dari kamarnya di lantai dua kemudian bergabung dengan seluruh keluarganya yang sudah berkumpul di meja makan.


Begitu duduk tangan Marvin langsung menangkap tangan Maura di bawah meja.Kebetulan mereka memang duduk bersebelahan.


"Semalam tidur jam berapa Vin seperti yang habis begadang ?" tanya Wisnu.


"Sepertinya jam satu an Mas..habis main PlayStation " jawab Marvin.


"Nanti malam main sama Mas ya " ajak Wisnu.


"Siap Mas " jawab Marvin.


"Papih tidak suka main PlayStation ?" tanya Millie melirik kearah Adam.


"Tidak..daripada main PlayStation sampai dinihari lebih baik main sama Mamih..sampai pagi juga Papih kuat " jawab Adam.


"Abaang !" Mikha langsung melotot kearah Adam.


Millie dan Wisnu tertawa begitu juga dengan Marvin dan Maura, hanya Mile, Malik dan Meysha saja yang terbengong-bengong tidak mengerti dengan apa yang sedang orang dewasa itu bicarakan.


"Vin..kalau sudah sarapan anak-anak antar ke toko mainan, Papih janji mau kasih hadiah karena mereka sudah dapat rengking " titah Adam kepada Marvin.


"Baik Pih " jawab Marvin.


"Malik sama Mile dikasih hadiah..masa aku engga Pih..aku juga kan dapat nilai terbaik di kelas " Maura langsung merajuk.


"Sekalian saja.. pilih mainan yang kakak suka " jawab Adam santai.


"Papiih....emangnya kakak masih kecil " Maura langsung cemberut.


"Ya sudah kakak ikut saja sama Om Marvin..beli apapun yang kakak mau " jawab Adam.


"Asyiiik..belanja..belanja.." Maura tersenyum senang.


"Mommy titip tas ya..nanti Mommy kirim gambarnya ke kakak " bisik Millie.


"Sayaaang !" Wisnu langsung melotot kearah Millie.


"Ga jadi kak..tuan besar ngamuk " Millie menggerutu melirik kearah Wisnu.


"Kamu itu tas sudah banyak Sayang..lemari tas kamu itu sudah tidak muat " Wisnu mengingatkan.


"Iya tidak jadi Sayang " jawab Millie.


" Beneran ga jadi Mom ?" tanya Maura bingung.


"Tidak jadi " jawab Millie..namun matanya mengedip kearah Maura memberi kode dan Maura pun mengerti.


Setelah selesai sarapan Marvin membawa ketiga keponakannya ke sebuah Mall.


Begitu sampai Mile dan Malik langsung menarik tangan Marvin dan Maura ke toko mainan.


Marvin dan Maura menemani Mile dan Malik yang sedang sibuk mencari mainan kesukaannya.


Disaat mereka sedang berada di toko mainan, mereka tidak sengaja bertemu dengan Nisa dan Yudhis yang sedang mengantar dua keponakan Yudhis yaitu Dikha dan Disya membeli mainan.


Karena terlanjur berpapasan mereka pun mengobrol sebentar sambil mengawasi keponakan-keponakan mereka.


"Kakak sedang liburan sekolah ya ?" sapa Nisa kepada Maura.

__ADS_1


"Iya kak " jawab Maura sambil menunduk.


Maura sedikit merasa bersalah karena sudah melabrak Nisa dan Yudhis sewaktu di Bandung, juga sudah membuat keempat ban mobil Yudhis kempes.


Yudhis berusaha menahan tawanya melihat Maura seperti yang ketakutan..meskipun nakal tapi anak itu sangat lucu dan menggemaskan.


"Terimakasih ya sudah menolong Maura waktu kena tilang " Ucap Marvin kepada Yudhis.


"Iya " jawab Yudhis.


"Jangan suka jahil kempesin ban mobil kakak lagi ya " pesan Yudhis kepada Maura sebelum mereka berpisah.


"Iya kak " jawab Maura.


"Makanya jangan suka jahil " Marvin tertawa sambil memeluk pundak Maura setelah Yudhis dan Nisa pergi.


"Aku jahil juga kan belain Om " Maura membela diri.


"Oom..aku sudah dapat mainannya " Mile dan Malik mendorong troli yang sudah penuh dengan mainan.


"Sebanyak ini ?" Marvin dan Maura melongo menatap dua troli yang penuh dengan mainan.


"Iya..kan kata Papih boleh ambil yang kita suka " jawab Malik polos.


"Baiklah " Marvin dan Maura membawa kedua troli itu ke meja kasir untuk melakukan pembayaran.


Setelah keluar dari toko mainan mereka melanjutkan ke toko tas langganan Maura.


Begitu membuka ponselnya ternyata bukan hanya Millie yang mengirimkan gambar tas tapi Mikha juga.


Maura mencarikan tas pesanan Millie dan Mikha terlebih dahulu sebelum mencari untuk dirinya.


Setelah mendapatkan tas pesanan Mommy dan Mamihnya baru lah Maura mencari tas untuknya.


"Yakin ini tas untuk kakak ?" tanya Marvin menunjuk dua tas model dewasa di tangan Maura.


"Ini pesanan Mommy dan Mamih " jawab Maura.


"Ya Tuhaan.. bisa-bisanya mereka memanfaatkan kakak " Marvin geleng-geleng kepala.


"Biar saja pake uang Papih ini " jawab Maura sambil beranjak menuju meja kasir.


Selesai berbelanja tas Mile dan Malik menarik tangan Maura dan Marvin menuju tempat permainan.


Mereka berada disana hampir dua jam. Mile dan Malik mencoba hampir semua permainan yang ada disana, kedua bocah itu baru berhenti ketika merasakan perut mereka lapar.


'Ternyata lelah juga ya megang dua tuyul itu " keluh Marvin.


"Aku bilangin Mommy loh bilang kedua adik aku tuyul " Maura mendelik kearah Marvin.


"Duuh..kakaknya marah " Marvin menjawil dagu Maura.


"Ya pasti marah lah " jawab Maura.


"Om kan cuma becanda kak..nantinya tuyul-tuyul itu kan akan jadi adik Om juga..dan kakak jadi nyonya Marvin " ucap Marvin dengan suara pelan. Maura hanya tersipu.


Setelah lelah bermain mereka pun makan di food court yang ada disana. Karena lelah mereka berempat makan dengan sangat lahap.


Marvin beberapa kali mengusap bibir Malik yang belepotan oleh saus tomat.

__ADS_1


"Kakak mau hadiah apa dari Om ?" tanya Marvin pada saat mereka selesai makan dan bersiap untuk pulang.


"Terserah " jawab Maura.


"Jangan terserah dong nanti Om bingung mau beli apa "


"Aku juga sama bingung mau minta dibeliin apa " balas Maura.


"Ya sudah nanti Om pikirkan dulu " ucap Marvin akhirnya.


Malik dan Mile yang kelelahan setelah bermain akhirnya tertidur di kursi belakang.


"Akhirnya tidur juga mereka " Marvin terkekeh melihat kedua bocah itu terkapar di kursi belakang.


"Untung kakak ikut..ga kebayang kalau Om harus pegang mereka sendirian " keluh Marvin lagi.


Karena Mile dan Malik tidur barulah Marvin memiliki kesempatan untuk menggenggam tangan Maura.


"Sudah gatel daritadi ingin genggam tangan kakak " gumam Marvin.


Maura tersenyum membiarkan tangan kanannya berada diatas paha Marvin.


"Selama liburan kakak tidak usah pulang ,di rumah Mamih saja biar kita bisa ketemu setiap hari " pinta Marvin.


"Aku bagaimana Mommy saja. Tapi kemungkinan weekend ini kita ke Bandung.. adik-adik kangen sama Opa dan Oma " jawab Maura.


Ketika mobil Marvin berhenti di perempatan karena lampu merah menyala Marvin tiba-tiba mencondongkan tubuhnya kemudian mencium bibir Maura lembut.


"Morning kiss nya telat " bisik Marvin sebelum bibir kenyal itu melu mat bibir Maura dengan lembut. Maura memejamkan matanya menikmati bibir Marvin yang mengeksplor rongga mulutnya.


Marvin terpaksa buru-buru menghentikan tautan bibir mereka ketika lampu hijau menyala dan suara klakson mobil terdengar menyuruh Marvin segera melajukan mobilnya.


"Makanya jangan curi-curi kesempatan Om " Maura tersenyum sambil mengusap bibirnya yang basah.


Marvin terkekeh sambil kembali menggenggam tangan Maura dan diletakan di paha kirinya.


Karena belum puas Marvin pun tiba-tiba menepikan mobilnya di bahu jalan yang sepi.


"Ngapain berhenti disini Om ?" tanya Maura.


"Nerusin yang tadi " jawab Marvin sambil membuka seatbelt nya kemudian memiringkan tubuhnya menghadap kearah Maura.


"Mmptthh...Oom..mpth.." Maura tidak dapat melanjutkan ucapannya karena bibir kenyal Marvin kembali melu mat bibirnya dengan rakus.


Maura nyaris lemas ketika bibir Marvin mulai merambat menyusuri leher jenjangnya.


"Hmm..Oom..geliii.." bisik Maura setengah mende sah.


"Om sedang ngapain.. kenapa berhenti disini ?" suara serak khas bangun tidur milik Malik membuat Marvin dan Maura buru-buru saling melepaskan diri.


"Malik sudah bangun ?..Om sedang tiup mata kakak Maura kelilipan " jawab Marvin berdusta.


Marvin kembali memasang seatbelt nya dan melanjutkan perjalanan.


Maura memalingkan wajahnya kearah jendela sambil menutup mulutnya berusaha agar tidak tertawa.


"Huh..nyaris saja kak " gumam Marvin.


Dukungannya dong pliiiss biar mereka makin uwu

__ADS_1


__ADS_2