My Posesif Uncle

My Posesif Uncle
Senyum Itu Ibadah


__ADS_3

Maura sedang menyusui si kembar ketika Marvin pulang dari kantor sore itu.


Maura yang sudah mulai bisa menyusui secara bersamaan hanya tersenyum tanpa bisa beranjak dari duduknya.


"Apakah hari ini mereka rewel ?" Marvin merunduk dan menyarangkan satu ciuman di bibir Maura.


"Tidak..cuma Dika yang tidak mau berhenti mimik dan dimainin " Maura menunjuk putranya yang sedang menghisap sumber kehidupannya dengan rakus.


"Maklum dia kan laki-laki Sayang.. dimana-mana laki-laki memang suka begitu " jawab Marvin.


"Iya..sama persis seperti kamu suka dimainin kalau sedang mimik " Maura terkikik.


"Iya " aku Marvin sambil nyengir.


Kedua pengasuh si kembar terlihat menahan senyum mendengar obrolan absurd sepasang suami istri itu.


Salah satu pengasuh mengambil Maharani yang lebih dulu selesai menyusu dan tertidur dengan pulas, sementara saudara kembarnya masih anteng menghisap sumber kehidupannya dengan rakus.


"Dek..sudah dong mimiknya..sisain buat Ayah ya !" Marvin mencolek-colek pipi Mahardika hingga bayi itu merengek karena merasa terganggu.


"Sayang..jangan ganggu dong jadinya rewel kan " Maura langsung melotot kearah Marvin.


"Maaf Sayang..habis gemas sekali " Marvin hanya nyengir mendapat pelototan dari Maura.


"Daripada ganggu lebih baik kamu mandi sana Vin !" Mikha mengusir putranya yang iseng mengganggu Mahardika.


"Ayah mandi dulu ya " Marvin mencium pipi bayinya kemudian pipi Maura sebelum beranjak ke kamarnya.


Mahardika melepaskan pu ting Maura setelah kenyang menyusu dan akhirnya tertidur.


Dengan hati-hati Maura menyerahkan bayinya kepada pengasuh untuk ditidurkan di ranjang bayi bersama saudara kembarnya yang sudah lebih dulu tertidur dengan lelap.


Sebelum kembali ke kamarnya Maura dipaksa untuk menghabiskan segelas susu oleh Mikha.


"Kakak juga harus sehat..punya dua bayi itu berat kak " nasehat Mikha sambil menunggui Maura menghabiskan susunya.


"Sekarang kakak tidur..Mamih malam ini akan tidur bersama si kembar " ujar Mikha yang langsung disambut aksi protes dari Adam.


"Kalau kamu tidur sama si kembar Abang tidur sama siapa ?" tanya Adam.


"Ya tidur sendiri saja Bang..Malik sama si Gemoy juga sudah tidur sendiri masa Abang tidak berani tidur sendiri " jawab Mikha.


"Bukan tidak berani Sayang..tapi Abang tidak terbiasa tidur sendiri " kilah Adam.


"Sudah punya banyak cucu juga manja banget " sungut Mikha.


"Kamu boleh tidur sama si kembar tapi kelonin Abang dulu " Adam mengajukan syarat sambil menarik turunkan alisnya.


"Baiklah " jawab Mikha mengalah.

__ADS_1


Sebelum tidur di kamar si kembar, Mikha terlebih dahulu menemani Adam di kamarnya.


Waktu hampir jam sembilan malam namun tidak ada tanda-tanda Adam akan tidur. Pria tampan itu tampak anteng menonton pertandingan sepakbola di tv di kamarnya.


Mikha yang mulai tidak sabar mengambil remot dan langsung mematikan tv.


"Sayang.. pertandingannya belum selesai " Adam langsung protes.


"Sudah malam..buruan tidur ! kalau tidak aku akan ke kamar si kembar sekarang " ancam Mikha.


"Baiklah " Adam tampak menurut naik keatas ranjangnya sambil menarik tangan Mikha bersamanya.


Setelah berada diatas ranjangnya Adam tidak langsung tidur namun ia malah merangkum wajah Mikha dan melahap bibirnya dengan rakus.


Mikha tidak mempunyai pilihan lain selain membalasnya dengan tidak kalah rakusnya.


Setelah satu jam kemudian Mikha baru bisa meninggalkan Adam setelah pria tampan itu tertidur dengan pulas.


Mikha menyelimuti tubuh polos Adam dengan selimut sebelum ia beranjak pergi ke kamar si kembar.


Malam itu Mikha tidur sambil mendekap kedua bayi mungil itu. Mikha merasa seperti sedang memeluk Millie dan Marvin sewaktu mereka masih bayi.


Marvin yang mengecek kamar si kembar tersenyum melihat Mamihnya yang tampak tertidur pulas sambil memeluk kedua buah hatinya.


Setelah memastikan kedua buah hatinya tertidur dengan pulas Marvin pun kembali ke kamarnya dan mendapati Maura yang juga sudah tertidur dengan pulas diatas ranjang mereka.


Perlahan Marvin merapikan anak rambut yang menutupi sebagian wajah cantik Maura kemudian mengecup keningnya dengan lembut.


"Sayang tidur sudah malam " Maura membuka matanya sejenak lalu menenggelamkan tubuhnya di dalam pelukan Marvin kemudian kembali tertidur dengan pulas.


Marvin tersenyum ketika mengingat Nisa pernah berkata jika Maura itu sudah seperti bayangannya yang selalu mengikuti kemanapun Marvin pergi. Kini Marvin baru sadar jika ternyata Nisa lebih peka dibanding dengan dirinya.


Senyum Marvin seketika sirna dan berubah meringis ketika tangan mulus Maura tiba-tiba memukul wajahnya seolah tau jika nama Nisa tidak sengaja sempat mampir di kepala suaminya.


"Galak banget sih kamu Sayang " keluh Marvin sambil mendekap kepala Maura dan mencium puncak kepalanya.


*


Pagi ini setelah mengantarkan Malik pak Muh melanjutkan dengan mengantarkan Milea.


"Neng..nanti pulangnya pak Muh jemput jangan ?" tanya Pak Muh.


"Pak Muh sedang ada keperluan ? kalau memang sedang ada keperluan tidak usah jemput juga tidak apa-apa..bereskan saja dulu urusan pak Muh " jawab Milea pengertian.


"Bukan begitu Neng..maksud pak Muh kan setiap hari neng Mile dijemput den Abi " ujar pak Muh.


"Sebetulnya aku tidak minta dijemput sama kak Abi..tapi dia selalu ada di depan gerbang sekolah setiap hari..aku juga bingung pak Muh..aku tidak berani menolak..


tidak sopan " jawab Milea.

__ADS_1


"Iya Neng..tidak baik menolak niat baik orang lain " ujar pak Muh.


"Jadi bagaimana Neng..nanti pulang sekolah pak Muh jemput tidak ?" tanya pak Muh.


"Ya sudah pak Muh tidak usah jemput aku..tapi aku akan bel pak Muh kalau kak Abi tidak jemput " putus Milea ketika mobil yang dikendarai pak Muh tiba di depan sekolah Milea.


"Siap Neng " jawab pak Muh.


Milea mengacungkan jempolnya kemudian berlari masuk ke gedung sekolah tempatnya menimba ilmu dengan riang.


Pak Muh tersenyum melihat putri majikannya yang masih polos itu. Sebetulnya pak Muh bukannya malas menjemput Milea saat pulang sekolah,namun ia selalu merasa tidak enak kepada Abimanyu yang juga selalu menjemput Milea.


Pada saat waktu Milea pulang sekolah tiba pak Muh tidak pergi menjemput Milea.Walaupun begitu ia tetap siap siaga jika tiba-tiba Milea meminta dijemput.


Milea berhamburan bersama puluhan siswa yang lain keluar gerbang sekolah setelah menyelesaikan pelajaran hari ini yang cukup memeras otaknya.


Milea yang sedikit tomboy sempat terlibat aksi dorong dengan teman sekelasnya sambil tertawa-tawa.


Meski bertubuh kecil namun Milea berhasil mendorong teman laki-lakinya dan berhasil keluar gerbang lebih dulu.


Begitu sampai di gerbang sekolah nya Milea langsung disambut tatapan tajam Abimanyu yang sedang duduk diatas motornya.


"Kamu jangan seperti itu.. dorong-dorongan sama anak cowok..kalau jatuh bagaimana ?" omel Abimanyu dengan tatapan menghunus.


"Kita cuma becanda..lagian dikelas juga kita becandanya begitu " bela Milea.


"Tapi itu bahaya " omel Abimanyu.


"CK..kakak itu cerewet sekali..sudah ah aku tidak mau pulang sama kakak " kesal Milea sambil ngeloyor pergi.


Baru dua langkah Milea langsung berhenti karena ada yang menarik tas punggungnya dari belakang. Siapa lagi kalau bukan si gunung es Abimanyu.


"Cepetan naik !" Abimanyu memberikan helm kepada Milea.


"Aku mau naik asal kak Abi senyum dulu " pinta Milea.


"Tidak ada yang lucu " jawab Abimanyu datar.


"Ya sudah aku tidak mau naik " ancam Milea sambil kembali ngeloyor pergi namun lagi-lagi langkahnya terhenti karena Abimanyu kembali menarik tas punggungnya dari belakang.


"Naik !" perintah Abimanyu.


"Iya..iya..dasar pemaksa " sungut Milea sambil naik keatas motor Abimanyu.


Sebelum melajukan motornya Abimanyu terlebih dahulu memakaikan helm dikepala Milea.


"Yakin tidak mau senyum sedikit saja ?..senyum itu ibadah loh " tanya Milea menggoda.


Abimanyu tidak bergeming ia langsung menyalakan mesin motornya dan melaju meninggalkan gerbang sekolah Milea.

__ADS_1


"Huh..dasar pelit senyum " sungut Milea dari balik punggung Abimanyu.


__ADS_2