
Malam itu Maura benar-benar tidur di kamar Adam dan Mikha. Selesai makan malam Maura langsung masuk ke kamar bersama Mikha sementara Adam dan Marvin masih mengobrol sambil menonton tv.
"Jangan dilarang..biarkan saja dia tidur dulu sama Mamih..kalau dilarang yang ada Maura akan semakin marah sama kamu..kamu seperti yang tidak tau sifat istri kamu saja " nasehat Adam.
"Iya Pih " jawab Marvin.
"Ngomong-ngomong bagaimana kamu bisa menebak kalau yang Papih pukulin itu Om Seno ?" tanya Adam.
"Atau jangan-jangan kamu sudah tau tentang cerita masa lalu kami ?" tanya Adam menyelidik.
"Iya Pih aku sudah tau kalau Mamih dan Om Seno dulunya pacaran sebelum menikah sama Papih " Marvin akhirnya jujur.
"Pasti Om kamu yang cerita " tebak Adam. Marvin mengangguk.
"Kurang ajar Om kamu itu " Adam menggerutu.
Ketika malam semakin larut Adam menyuruh Marvin memindahkan Maura yang sudah tertidur pulas ke kamarnya.
Marvin pun menurut ia pelan-pelan mengangkat tubuh Maura dan memindahkannya ke kamar mereka.
"Kenapa dipindahin Vin..biar saja Maura tidur dengan Mamih " Mikha sempat melarang ketika Marvin akan memindahkan Maura.
"Sst..jangan berisik nanti Mauranya bangun " Adam meletakan telunjuk di bibirnya.
"Kalau Maura tidur disini Abang tidak ada yang peluk dong " ucap Adam setelah Marvin membawa Maura ke kamarnya.
"Huh dasar " cibir Mikha sambil melanjutkan tidurnya.
*
Marvin menurunkan tubuh Maura diatas ranjang mereka. Dengan gemas Marvin mencium bibir Maura yang sedikit terbuka.
Maura yang tertidur sangat pulas tidak menyadari jika Marvin sedang mencuri kesempatan dengan liciknya.
Bahkan wanita itu tidak menyadari jika Marvin diam-diam menyusupkan tangannya dibalik piyama Maura.
"Kamu itu tidur atau pingsan sih Sayang.... sepertinya kalau diperkosa suami juga kamu tidak akan bangun " Marvin terkekeh sambil mere mas dua bukit kembar Maura dengan gemas.
Pantas saja dulu pada saat lamaran Marvin dan Wisnu sampai harus mendobrak pintu kamar karena Maura tidur seperti orang mati.
Meskipun Marvin yakin jika istri kecilnya itu tidak akan bangun walaupun Marvin melakukan lebih namun pria tampan itu hanya bermain-main dibagian atas saja sampai akhirnya ia pun tertidur.
Keesokannya Maura yang terbangun lebih dulu kaget ketika mendapati Marvin tengah tertidur sambil mengemut pu ting nya.
"Kok bisa sih aku tidur disini padahal semalam aku tidur sama Mamih " gumam Maura.
"Pasti Om yang pindahin..dasar curang " Maura memijit hidung Marvin hingga pria itu megap-megap dan melepaskan pu ting Maura dari mulutnya.
"Kakak sudah mau jadi janda ya " omel Marvin kesal.
"Siapa suruh pindahin aku kesini , kan aku sudah bilang tidak mau tidur sama Om..aku mau tidur sama Papih dan Mamih " Maura balas ngomel.
"Aku tidak pindahin kakak kesini.. kakak yang pindah sendiri kesini.. berjalan sambil tidur kesini nya " Marvin berbohong.
"Masa sih..perasaan aku tidak punya penyakit sleepwalking " Maura tidak percaya dengan ucapan Marvin.
__ADS_1
"Kamu tidak percaya sama suami sendiri " Marvin menggerutu sambil hendak melahap kembali bukit kembar Maura namun kepala Marvin dengan cepat Maura tahan dengan tangannya.
"Aku masih kesel..Om jangan pernah sentuh aku tanpa ijin " ancam Maura.
"Om..Om..terus..masa suami sendiri dipanggil Om " Marvin menggerutu.
"Emang kamu Om aku kan..Om Marvin " ucap Maura sambil menjulurkan lidahnya kearah Marvin.
"Dasar anak kecil " gumam Marvin pelan namun cukup terdengar oleh Maura.
"Siapa suruh suka sama anak kecil " sungut Maura.
"Kakak juga siapa suruh suka sama Om-Om " balas Marvin.
"Pasti Om pelet aku " tuduh Maura membuat Marvin langsung melotot.
"Iya..Om pelet kakak pake ini..buktinya ketagihan " jawab Marvin sambil mengambil tangan Maura dan menempelkannya kebawah tubuhnya yang mulai terbangun.
"Tidak..tidak mau pegang " Maura buru-buru menarik tangannya sambil melotot.
"Ya sudah..nanti kalau kakak mau tidak akan Om kasih " ancam Marvin.
"Siapa juga yang mau " balas Maura sambil kembali menjulurkan lidahnya dan kemudian pergi meninggalkan Marvin.
"Awas saja kak...Om pastikan besok-besok kakak yang akan minta jatah duluan " gumam Marvin sambil bangun dan beranjak ke kamar mandi bersiap untuk pergi ke kantor.
Meskipun diwarnai dengan perdebatan kecil namun Maura tetap menyiapkan baju dan semua keperluan Marvin seperti biasanya walaupun dengan wajah yang cemberut.
"Kak..kamu itu mau pasangin dasi atau mau cekik sih ?" keluh Marvin ketika Maura terlalu kencang menarik simpul dasi di leher Marvin.
"Tega sekali sih kamu Yang " keluh Marvin.
Setelah sarapan Maura mengantarkan Marvin sampai pria itu masuk kedalam mobil meski dengan wajah yang cemberut.
Setelah Adam dan Marvin berangkat ke kantor, Mikha mengajak Maura pergi ke salon.
Kedua wanita cantik itu memanjakan diri dengan melakukan perawatan tubuh.
Setelah selesai melakukan serangkaian perawatan tubuh selama berjam-jam, kedua wanita cantik itu melanjutkan dengan berbelanja.
Mikha mengajak Maura ke toko perhiasan langganannya. Beberapa hari yang lalu pemilik toko mengirimi photo koleksi terbarunya kepada Mikha.
"Kak..cincin ini cantik banget di jari kakak " Mikha memakaikan cincin koleksi terbaru disana di jari Maura.
"Iya Mih.." jawab Maura menatap kagum pada cincin yang melingkar di jari lentiknya.
"Mamih mau ambil dua..buat kakak dan Mommy kamu " ujar Mikha. Sementara Mikha sendiri memilih cincin dengan model yang berbeda.
Keluar dari toko perhiasan mereka masuk ke sebuah restoran. Namun mereka tidak makan di tempat. Mikha memilih take away dan mereka akan makan di kantor bersama Adam dan Marvin.
Mikha dan Maura tiba di kantor Adam sebelum memasuki jam makan siang.
"Kalian sengaja kesini atau mampir ?" tanya Adam sambil mencium bibir Mikha begitu Mikha dan Maura datang.
"Mampir Bang..kita habis dari salon terus beli makan dan langsung kesini " jawab Mikha.
__ADS_1
"Kalau ini apa ?" tanya Adam sambil memperhatikan sebuah cincin yang baru dilihatnya di jari lentik Mikha.
"Oh iya..aku beli cincin juga buat aku, Millie dan Maura " jawab Mikha sambil terkekeh. Adam hanya geleng-geleng kepala.
Pria tampan itu sangat heran kenapa istrinya itu suka sekali membeli perhiasan, padahal koleksi perhiasan di rumahnya sudah banyak.
"Kakak kalau mau anterin makan buat Marvin lebih baik sekarang takutnya Marvin keburu keluar untuk makan siang " titah Adam.
"Iya Pih " jawab Maura sambil membawa kotak makan untuk Marvin dan dirinya ke ruangan kerja Marvin yang berada tepat di sebelah ruangan kerja Adam.
Maura sengaja langsung masuk dan tidak mengetuk pintu dulu karena pintu ruang kerja Marvin kebetulan sedikit terbuka.
Marvin masih terlihat sibuk dengan laptopnya meskipun sudah masuk waktu jam makan siang.
Saking fokusnya Marvin tidak menyadari jika Maura masuk dan berdiri di depannya.
"Om mau kerja terus..ini kan sudah waktunya makan siang " ucap Maura yang langsung mengejutkan Marvin.
"Sayaaang..sama siapa kesini ?" Marvin melongo menatap pada istrinya yang sudah berdiri dihadapannya.
"Sama Mamih disuruh nganterin ini " Maura meletakan dua kotak makan di meja Marvin.
"Kamu pengertian sekali..tau saja kalau suami sedang males keluar " Marvin menghampiri Maura dan hendak mencium bibirnya namun Maura malah memalingkan wajahnya.
"Ternyata kakak masih marah ya " ucap Marvin sambil menatap Maura dalam.
"Marahnya jangan lama-lama dong kak " pinta Marvin memelas.
"Tidak usah cerewet..mending makan " Maura membuka kotak makan milik Marvin.
"Ga ah males " Marvin menolak.
"Om itu tidak menghargai..aku sama Mamih sudah capek-capek kesini malah tidak mau makan..buruan makan ..aaaa.." Maura memaksa menyuapi Marvin.
Marvin pun membuka mulutnya dan makan dengan terpaksa karena Maura memaksa menyuapinya.
"Kakak itu seperti ibu tiri yang menyuapi anak tirinya " keluh Marvin sambil menelan makanannya dengan susah payah.
"Biarin..yang penting makanan ini harus Om habiskan " jawab Maura.
"Iya..tapi kakak juga harus makan " tutah Marvin.
"Iya nanti kalau makanan ini sudah Om habiskan " jawab Maura sambil terus menyuapi Marvin makan sampai habis.
Setelah Marvin menghabiskan makanannya barulah Maura makan.Marvin menemani Maura sampai istrinya itu menghabiskan makannya.
Setelah selesai makan Maura pun pamit kembali ke ruangan kerja Adam. Marvin yang akan mengikuti dilarang oleh Maura.
Tidak ingin Maura semakin marah Marvin pun menurut tetap diruangan nya dan membiarkan Maura kembali ke ruangan kerja Papihnya.
Namun tidak lama kemudian Maura pun kembali ke ruangan kerja Marvin dengan wajah yang cemberut.
"Kenapa kak ?" tanya Marvin heran melihat wajah Maura yang masam.
"Ruangan kerja Papih dikunci dari dalam " jawab Maura dengan wajah masam.
__ADS_1
"Itu tandanya mereka sedang tidak ingin diganggu " ujar Marvin sambil berusaha menahan tawanya.