
Maura memalingkan wajahnya kearah jendela sambil menutup mulutnya berusaha agar tidak tertawa.
"Huh..nyaris saja kak " gumam Marvin
Tidak lama kemudian si Gemoy pun terbangun. Kedua bocah itu mulai kembali terdengar berceloteh membahas mainan yang tadi mereka beli.
"Kalian tadi beli apa saja ?" tanya Marvin sambil melirik Mile dan Malik melalui central mirror.
"Banyak Om " jawab Malik.
"Aku ambil semua mainan yang aku suka " tambah Mile.
"Kakak lupa ya katanya mau kasih hadiah juga " Mile menagih janji Maura.
"Siapa suruh tadi langsung ngajak main.. jadi kakaknya lupa " jawab Maura.
"Om tidak mau kasih hadiah juga ?" Malik tidak melewatkan kesempatan untuk menodong Om nya.
"Nanti ya bareng kakak Maura beli hadiahnya " jawab Marvin.
"Iya Om " jawab Mile dan Malik bersamaan.
Tidak lama kemudian mobil Marvin pun sampai di rumah Adam yang megah.
Setelah Mile dan Malik turun, Maura dan Marvin sibuk menurunkan semua barang belanjaan dari dalam mobil.
"Ya ampuun banyak banget mainannya ?" Millie dan Wisnu bengong melihat banyaknya mainan yang Mile dan Malik beli.
"Kalian itu habis merampok Papih ya " ujar Millie.
"Kan Papih bilang boleh ambil mainan yang kita mau " Mile membela diri.
"Iya..dibeli sama toko nya juga Papih tidak keberatan..yang penting kalian senang " Adam membela Malik dan si Gemoy.
"Ini pesanan Mommy..dan ini pesanan Mamih " Maura memberikan dua paperbag dengan logo merk tas terkenal.
"Kamu juga ikutan merampok Papih Sayang ?" Wisnu menatap Millie penuh peringatan.
"Maaf Sayaaang..sekali ini saja ya !" ucap Millie sambil menangkupkan kedua tangannya di dada.
"Sudah tidak usah ribut " Adam menengahi sambil menggamit pinggang Mikha membawa duduk di sofa ruang keluarga.
"Papih aku beli mainan Barbie seri terbaru loh " Mile menggelendot di lengan Adam.
"Ajak Mamih saja mainnya biar seru " Adam mencolek pinggang Mikha.
"Iya nanti kita main sama Mamih sama dedek Meysha juga " jawab Mikha sambil menunjuk Meysha yang sedang menyedot susu botolnya dalam pangkuan Wisnu.
Putri bungsu Millie itu selalu menempel pada Daddy nya tidak seperti Mile dan Malik yang selalu nempel kepada Adam.
Marvin yang duduk berjauhan dari Maura sesekali mencuri pandang kepada Maura yang selalu menggelendot manja kepada Millie.
__ADS_1
"Kak besok kita nyalon yuk..sudah lama kita tidak nyalon berdua " ajak Millie.
"Iya Mom..kakak mau potong rambut boleh ya Mom ?" tanya Maura.
" Iya boleh " jawab Millie sambil mengelus-elus rambut Maura.
Tidak boleh
Marvin mengirimkan pesan ke ponsel Maura.
Setelah membaca pesan dari Marvin Maura melirik kearah Marvin yang juga tengah menatapnya.
Iya tidak akan potong rambut, cuma dirapikan saja
balas Maura.
Ya
jawab Marvin.
Pada saat berkumpul di ruang keluarga, Maura dengan Marvin tidak banyak terlibat pembicaraan. Mereka lebih banyak berkomunikasi melalui mata dan ponsel.
Sepasang kekasih itu berusaha menjaga jarak agar keluarga mereka tidak dapat mencium adanya hubungan diantara mereka.
*
Senin Pagi Adam, Marvin Millie dan Wisnu bersiap pergi ke kantor. Karena anak-anak sedang libur sekolah Adam dan Mikha melarang mereka pulang.
Siangnya Mikha menyuruh Maura mengantarkan kue ke kantor Adam. Hari itu memang Mikha sengaja membuat kue kesukaan Adam.
"Ini untuk Papih, ini untuk Mommy dan ini untuk Om Marvin " Mikha menunjuk tiga kotak yang sudah ia siapkan di meja.
Maura pergi ke kantor Adam dengan diantarkan sopir. Ia sengaja tidak membawa mobil karena ia akan pulang bersama Mommy nya nanti sore.
Setibanya di kantor Adam, Maura langsung menuju ruang kerja Millie.
"Kakak sama siapa kesini ?" tanya Millie yang sedang sibuk di depan komputer.
"Sama sopir Mom..disuruh nganterin ini sama Mamih " jawab Maura seraya memberikan satu kotak kepada Mommy nya.
"Kebetulan Mommy sedang ingin ngemil " Millie pun langsung memakan kue yang Maura bawa.
"Aku anterin ini dulu ke Papih dan Om Marvin ya Mom " Maura pamit pergi ke ruangan Adam dan Marvin yang bersebelahan. Millie mengangguk.
Maura beranjak menuju ruangan Adam. Diruangan yang paling besar dan mewah itu Adam sedang berbicara dengan asisten nya ketika Maura datang.
"Sayang..tumben kesini ?" tanya Adam.
"Aku disuruh nganterin ini sama Mamih " Mikha memberikan karu kotak kue kepada Adam.
"Terimakasih kak " jawab Adam.
__ADS_1
"Kakak sedang libur ?" sapa Wira asisten pribadi Adam.
"Iya Om " jawab Maura.
Karena Adam terlihat sedang sibuk berbicara dengan asisten pribadinya Maura pun pamit untuk mengantarkan paket terakhirnya kepada Marvin.
Marvin yang sedang serius di depan laptopnya langsung tersenyum begitu Maura muncul di ruangan kerjanya.
"Sama siapa kesini Kak ?" tanya Marvin seraya melambaikan tangannya menyuruh Maura mendekat kearahnya.
"Aku disuruh nganterin ini sama Mamih " Maura meletakan kotak kue di atas meja Marvin.
"Oom iiih.." Maura menggerutu ketika Marvin menarik tangan Maura sehingga gadis remaja itu langsung terduduk diatas pangkuan Marvin.
"Temani Om disini ya !" pinta Marvin
"Iya tapi jangan begini aku takut nanti ada yang lihat " Maura berusaha turun dari pangkuan Marvin.
"Tidak akan..jam segini semua sedang sibuk-sibuknya " jawab Marvin menahan pinggang Maura agar tetap diatas pangkuannya.
Pada saat Maura masih berada diatas pangkuan Marvin, Millie tiba-tiba menelpon Marvin dan menyuruh Maura menunggu di ruangan Marvin karena ia dan Adam akan meeting dengan beberapa staf keuangan..ini tentu saja membuat Marvin senang bukan kepalang karena ia memiliki waktu untuk berduaan dengan kekasih hatinya.
"Kenapa senyum-senyum sendiri Om ?" tanya Maura menatap Marvin heran.
"Kata Mommy kakak disuruh nunggu disini karena Mommy dan Papih ada rapat dulu " jawab Marvin.
"Kalau rapat lama ga sih Om ?" tanya Maura.
"Tergantung..tapi Om harap rapatnya lama " jawab Marvin sambil tersenyum penuh arti.
Maura tidak dapat menghindar ketika tangan Marvin merangkum wajahnya kemudian menyatukan bibir mereka.
Maura yang sudah mulai terbiasa sudah mulai bisa membalas meski belum bisa dikatakan ahli. Suara decapan bibir mereka terdengar di ruangan kerja Marvin yang luas dan nyaman.
"Uuuhhh..Oom gelii " bisik Maura ketika bibir Marvin mulai merambat turun menyusuri leher putih mulusnya. Ini untuk yang kedua kalinya bibir Marvin merambah kesana.
"Kakak wangi banget " Marvin mencium dalam-dalam aroma tubuh Maura yang lembut.
Marvin yang sudah mulai terbakar gairah ingin sekali menggigit leher putih mulus itu dan meninggalkan jejak disana..namun Marvin berusaha mengendalikan dirinya karena jika itu terjadi pasti seluruh keluarganya akan heboh dan tamatlah riwayatnya.
Tidak ingin menodai leher putih mulus Maura, bibir Marvin kembali melu mat bibir Maura dengan rakus, namun kali ini tangan Marvin tidak tinggal diam. Tangan Marvin mulai berani meraba dada Maura yang hanya sebesar kepalan tangan dan belum tumbuh secara sempurna.
"Oom..gelii " Maura menggelinjang. Bulu ditubuhnya seketika meremang menghasilkan geleyar aneh yang selalu muncul ketika mendapat sentuhan dari Om nya yang mulai nakal.
Marvin yang tidak ingin kebablasan buru-buru menghentikan kegilaannya dan menurunkan Maura dari pangkuannya.
Marvin tidak ingin sampai gadis belia itu mengetahui jika celananya kini sudah mulai sesak karena ada yang terbangun dengan gagahnya dibawah sana.
Setelah turun dari pangkuan Marvin Maura pindah duduk di sofa sementara Marvin melanjutkan pekerjaannya.
Satu jam kemudian Millie yang sudah menyelesaikan rapatnya datang ke ruangan kerja Marvin untuk menjemput Maura dan mengajak putrinya itu pulang.
__ADS_1