
Minggu pagi Maura sudah siap mengenakan pakaian olahraga lengkap.Tidak lama kemudian mobil Adi pun datang menjemput. Ketiga sahabat Maura pun turun menghampiri Millie dan Wisnu yang sedang bersiap untuk olahraga pagi.
"Kalian mau joging atau nongkrong ?" tanya Wisnu kepada ketiga sahabat putrinya.
"Joging dong Om " jawab ketiganya kompak.
"Ya sudah.. hati-hati " ujar Wisnu.
Setelah berpamitan kepada Millie dan Wisnu mereka pun pergi.Tidak butuh waktu lama mereka pun sampai di area joging track yang lumayan ramai.
Keempat sekawan itu mengelilingi area joging track sampai dua putaran. Setelah merasa lelah Maura dan Velia beristirahat sambil membeli minuman.
Pada saat menikmati minuman dingin yang mereka beli tiba-tiba mata Maura menangkap dua sosok orang yang dikenalnya sedang joging sambil sesekali mengobrol.
"Kak Nisa..kak Yudhis " gumam Maura.
"Siapa mereka..Lo kenal ?" tanya Velia yang mengikuti arah pandang mata Maura.
"Kak Nisa itu pacarnya Om Marvin, kok bisa sih mereka jalan berdua " gumam Maura.
"Jangan-jangan pacarnya Om Marvin selingkuh " tebak Velia.
"Jangan asal menebak takutnya fitnah " Adi menoyor kepala Velia.
"Gw kan cuma bilang jangan-jangan..berarti belum tentu dong " Velia membela diri.
"Gimana kalau Om Marvin lihat ya..gw saja kesel liatnya " ujar Maura.
"Lo laporin saja sama Om Marvin " saran Rizki.
"Jangan..belum tentu mereka pacaran..yang ada nanti malah bikin Om Marvin dan pacarnya ribut " diantara mereka berempat Adi terlihat lebih bijaksana.
"Lanjut yuk " Adi mengajak Rizki melanjutkan joging sementara Maura dan Velia duduk di bangku sambil merencanakan sesuatu.
"Gw gak senang kak Yudhis deketin kak Nisa..gw harus kasih pelajaran " ucap Maura.
"Kasih pelajaran apa ?" dahi Felia mengkerut.
"Gw ada ide " Maura menarik tangan Velia menuju tempat parkir mobil.
"Ngapain sih kita kesini " Velia berjalan mengikuti langkah kaki Maura menyusuri area parkir.
"Gw mau kempesin mobilnya kak Yudhis " jawab Maura sambil celingukan mencari mobil Yudhis.
Maura hapal yang mana mobil Yudhis karena sempat bertemu di pesta ulangtahun teman Nisa.
"Gw kempesin sebelah kiri..Lo kempesin yang sebelah kanan " Maura dan Velia berjongkok didekat mobil Yudhis.
Tidak lebih dari sepuluh menit Maura dan Velia pun telah berhasil membuat keempat ban mobil Yudhis kempes.
Ketika akan pergi dari mobil Yudhis Maura terhenyak ketika Yudhis sudah berdiri di depannya.Rupanya pria itu sudah selesai joging.
"Maura sedang ngapain ?" tanya Yudhis.
"Eh..kak Yudhis anu..koin aku menggelinding kesini " jawab Maura gugup.
__ADS_1
"Koin ?" dahi Yudhis berkerut.
Yudhis merasa aneh. Ia tau dari Nisa jika Maura berasal dari keluarga berada,mana mungkin ia mencari koinnya yang terjatuh sampai ke kolong mobilnya.
"Koinnya sudah ketemu..aku pamit ya " Maura buru-buru menarik tangan Velia pergi dari hadapan Yudhis.
Setelah kedua gadis nakal itu pergi barulah Yudhis menyadari apa yang sudah kedua gadis nakal itu lakukan pada mobilnya.
"Ban mobilnya kenapa ?" Nisa yang akan pulang heran melihat Yudhis yang sedang berjongkok di depan ban mobilnya.
"Kempes semuanya " jawab Yudhis.
"Semuanya ?" Nisa melongo.
"Iya..ini kerjaan keponakan pacar kamu yang judes itu " jawab Yudhis kesal.
"Maura ? "
"ya.. barusan dia dan temannya sedang jongkok disini, dia bilang sedang cari koin " jawab Yudhis.
"Ya ampun Maura..aku telepon anaknya ya suruh kesini..biar dia tanggung jawab " ucap Nisa
"Tidak usah..aku suruh teman kesini " jawab Yudhis.
"Maaf ya..aku jadi tidak enak sama kamu..aku tidak menyangka Maura akan jahil begini " ucap Nisa.
"Mungkin dia pikir kamu selingkuh sama aku " meski kesal tapi Yudhis tertawa mengingat Maura yang sudah salah faham kepadanya.
Meskipun pada kenyataannya Yudhis tidak bisa membohongi dirinya sendiri jika ia sangat menyukai Nisa namun ia tidak pernah ada niatan untuk merebut Nisa dari Marvin. Mengenai ucapannya kepada Maura mengenai janur kuning itu hanya untuk menggoda Maura saja.
Setelah semua beres barulah Nisa pulang. Sepanjang perjalanan pulang Nisa berusaha menghubungi Maura namun tidak diangkat.
Nisa semakin yakin jika Maura lah yang telah membuat semua ban mobil Yudhis kempes.
Sorenya ketika Marvin mengajak Nisa ke rumahnya, Maura yang kebetulan sedang ada di rumah Adam tidak mau keluar dari kamarnya.
"Maura..ada kak Nisa kenapa tidak keluar ?" Millie menegur Maura yang tidak biasanya mengurung diri di kamar pada saat ada Nisa.
"Lagi ngantuk Mom " jawab Maura berbohong.
Nisa yang tahu jika Maura sengaja menghindarinya mencari alasan numpang solat agar bisa masuk ke kamar Maura.
Maura yang sedang anteng nonton tv sambil rebahan kaget ketika Nisa tiba-tiba masuk ke kamarnya.
"Kak Nisa kenapa tidak ketuk pintu dulu " Maura langsung cemberut begitu melihat Nisa.
"Kalau kamu tau kakak yang ketuk pintu pasti kamu tidak akan buka pintunya " jawab Nisa sambil duduk di sebelah Maura.
"Kakak ngapain kesini ?" tanya Maura judes.
"Kakak mau luruskan masalah yang kemarin " jawab Nisa santai.
"Masalah apa ?"
"Kamu pasti salah paham sama kakak dan kak Yudhis..makanya kamu kempesin ban mobil kak Yudhis..iya kan ?" Nisa menatap tajam wajah Maura.
__ADS_1
"Kemarin itu kakak dan kak Yudhis tidak sengaja bertemu disana jadi kami joging bareng "
"Tapi aku tidak suka melihat kakak dekat-dekat dengan kak Yudhis " potong Maura ketus.
"Kami hanya berteman..seperti kamu sama Zico " ucap Nisa.
"Kamu ngadu sama Om Marvin ?" Nisa khawatir kesalah pahaman akan semakin melebar jika Marvin tau.
"Tidak " jawab Maura.
"Terimakasih ya kamu tidak ngadu sama Om Marvin " Nisa menyentuh tangan Maura.
"Tapi kalau sampai aku melihat lagi kakak jalan bareng kak Yudhis aku bakalan ngadu sama Om Marvin " ancam Maura dengan wajah judesnya.
"Kamu itu sayang banget ya sama Om Marvin " Nisa memeluk bahu Maura.
"Kalian sedang ngapain disini ?" tanya Marvin ketika muncul di pintu kamar Maura.
"Ngobrol masalah perempuan " jawab Nisa sambil mengedip kearah Maura.
"Daripada ngobrol disini lebih baik ngobrol di sana..semua nungguin " ajak Marvin.
Marvin mengajak Nisa dan Maura keluar dari kamar. Nisa menggandeng Maura yang terlihat enggan keluar dari kamarnya.
Di ruang keluarga semua sudah berkumpul termasuk tiga bocil Milea, Malik dan Meysha yang tidak mau turun dari pangkuan Wisnu.
Marvin dan Nisa kaget ketika Adam tiba-tiba menanyakan keseriusan hubungan mereka.
"Kalian pacaran sudah lama, menurut Papih sudah waktunya kalian melangkah ke jenjang yang lebih serius, agar kalian memiliki tujuan yang jelas "
"Saran Papih lebih baik kalian tunangan dulu sambil menunggu Nisa lulus kuliah "
Baik Marvin maupun Nisa tidak ada yang menjawab karena keduanya masih shock dengan ucapan Adam barusan.
"Papih tidak meminta kalian untuk menjawab sekarang..Papih beri kalian waktu untuk berpikir ..jika sudah siap kalian beritahu kami, biar kami nanti datang ke rumah Nisa "
"Iya Pih " jawab Marvin.
"Syukurin loh tidak bisa selingkuh lagi sama kak Yudhis " bisik Maura ditelinga Nisa.
"Apaan sih " Nisa mencubit tangan Maura.
Setelah obrolan yang sangat menegangkan itu selesai Nisa pun pamit pulang. Marvin mengantarkan Nisa pulang ke rumahnya.
"Bagaimana menurut kamu mengenai apa yang tadi Papih katakan ?" tanya Marvin.
"Kenapa tanya aku..kamu sendiri maunya gimana ?" Nisa balik bertanya kepada Marvin.
"Kalau aku sih gimana kamu. Kalau kamu siap kita melangkah ke jenjang yang lebih serius aku akan minta Papih datang ke rumah kamu, tapi kalau kamu belum siap aku tinggal bilang agar ditunda dulu " jawab Marvin santai.
Nisa termenung, ia tampak bingung tidak tau harus menjawab apa.
"Lebih baik kamu pikirkan dulu jangan sampai kita salah mengambil keputusan " Marvin menggenggam jari Nisa dengan tangan kirinya.
"Iya " jawab Nisa.
__ADS_1