
Setelah puas saling berciuman mereka pun saling melepaskan diri. Marvin mengusap bibir Maura yang sedikit bengkak dengan ibu jarinya.
"Kita pulang sekarang ya " Marvin memutuskan mengantarkan Maura pulang. Pria tampan itu berusaha menahan dirinya dan tidak mau sampai kebablasan.
"Iya Om " jawab Maura.
Tidak lama kemudian mobil Marvin pun terlihat mulai memasuki halaman rumah Oma.
"Tumben kakak pulangnya pagi " Oma yang sedang menyirami tanaman anggreknya menyambut uluran tangan Marvin yang hendak mencium tangannya.
"Sengaja Oma biar pak supirnya bisa istirahat dulu sebelum balik lagi ke Jakarta " Maura melirik kearah Marvin. Yang dilirik hanya tersenyum.
"Kalian mending makan dulu gih " Oma menyuruh Marvin dan Maura makan.
"Iya Oma kebetulan kakak juga sedang lapar " Maura menarik tangan Marvin menuju meja makan.
Tadi di jalan mereka tidak sempat makan karena keduanya malah sibuk pacaran di mobil.
"Om jangan ngeliatin aku terus dong " Maura merasa jengah karena pada saat makan Marvin terus menatapnya.
"Masa tidak boleh menatap pacar sendiri " jawab Marvin dengan suara pelan.
"Tapi akunya jadi malu Om "
"Malu kenapa..Oh yang tadi itu " Marvin tersenyum menggoda.
"Sudah dong Om jangan dibahas lagi " pinta Maura dengan wajah merah merona.
"Baiklah Om tidak akan bahas lagi.. tapi kalau minta lagi boleh ya " jawab Marvin tersenyum penuh arti.
"Tidak " jawab Maura sambil mengerucutkan bibirnya.
"Tidak dikasih juga tidak masalah Om bisa ambil sendiri " ucap Marvin santai.
"Dasar pemaksa " cibir Maura sambil mencubit paha Marvin.
Setelah selesai makan dan beristirahat, sore harinya Marvin bersiap untuk kembali ke Jakarta.
Setelah pamitan kepada Opa dan Oma Maura, Marvin masih sempat-sempatnya menarik Maura masuk kedalam mobilnya.
Di dalam mobil Marvin melu mat bibir Maura dengan rakus. Beruntung kaca mobil Marvin cukup gelap sehingga tidak ada yang melihat Om dan keponakan itu sedang berciuman.
__ADS_1
Maura berusaha mengatur napasnya ketika tautan bibir mereka sudah berakhir.
"Mau ikut lagi ke Jakarta ?" goda Marvin karena Maura belum juga mau turun dari mobilnya.
"Tidak..Om hati-hati ya di jalan " pesan Maura sambil turun dari mobil Marvin.
"Iya " jawab Marvin sambil mulai menyalakan mesin mobilnya.
Maura melambaikan tangannya ketika mobil Marvin mulai bergerak menjauh meninggalkan Maura yang masih berdiri di depan pagar.
*
Jumat pagi Marvin mengabari Maura jika ia akan berangkat ke Palembang bersama Wisnu.
Di hari yang sama Adi,Velia,dan Rizki datang dari Jakarta. Kehadiran ketiga Genk Bintang itu membuat suasana rumah Oma yang biasanya adem ayem berubah menjadi hiruk pikuk.
Rumah Oma kembali sepi setelah keempat remaja itu berangkat ke villa milik keluarga Wisnu di Ciwidey.
Maura bersama ketiga sahabatnya rencananya akan menginap disana sampai hari Minggu.
Selama Maura dan teman-temannya menginap di Villa, hampir setiap jam Marvin menghubungi Maura.
"Iya Ra.. posesif banget..apa dia tidak takut pacarnya cemburu " timpal Adi.
"Om Marvin sama kak Nisa sudah putus " Maura memberitahu.
"Putus ?..mau dong gw jadi penggantinya kak Nisa " seloroh Velia.
"Tidak boleh..Om Marvin itu cuma punya gw " jawab Maura posesif.
"Posesif banget sih Lo..seperti pacarnya saja " Velia menoyor kening Maura.
"Memang " jawab Maura.
"APA..Lo pacaran sama Om Marvin ?" Adi, Velia dan Rizki langsung melotot kearah Maura.. Maura mengangguk dengan santainya.
"Gila Lo.." Adi menoyor kepala Maura.
"Ga boleh Ra..masa Om dan keponakan pacaran " nasehat Rizki.
"Awalnya gw juga mikirnya begitu..tapi gw sama Om Marvin kan tidak ada hubungan darah karena gw anak sambung Mommy Millie " jawab Maura.
__ADS_1
"Trus keluarga Lo tau kalau kalian pacaran ?" Velia tampak penasaran.
"Tidak..gw backstreet " jawab Maura.
"Waaah..nekad Lo " gumam Rizki.
"Tapi ini rahasia ya..gw cuma cerita sama kalian saja " pesan Maura.
"Lo yang backstreet kenapa gw yang deg-degan ya " gumam Velia.
"Gw juga sih sebetulnya takut juga.. tapi gw tidak bisa menolak pesona Om gw yang ganteng itu " ucap Maura
"Dasar mabuk Lo..mabuk Cinta " Adi melempar bantal kearah Maura.
"Ngomong-ngomong apa kalian ga kepengen punya pacar kyk gw ?" tanya Maura.
"Dia lagi pendekatan tuh sama anak baru di kelas kita " Rizki menunjuk kearah Adi.
"Doain ya semoga cinta gw diterima. Kalau sampai gw jadian gw ajak kalian liburan ke Raja Ampat " janji Adi.
"Aamiiin " ucap Maura, Rizki dan Velia sambil mengangkat tangan mereka.
"Yeeeey..we are going to Raja Ampat "
ucap Maura senang.
"Doain dulu biar jadian " Adi kembali melempar Maura dengan bantal.
"Iya gw doain " jawab Maura.
Persahabatan keempat remaja yang sudah terjalin sejak mereka duduk di bangku sekolah dasar itu membuat mereka tidak pernah saling menyimpan rahasia.
Hanya kepada Adi, Velia dan Rizki lah Maura berani bercerita jika ia dan Marvin sebetulnya pacaran karena Maura yakin jika ketiga sahabatnya itu bisa dipercaya.
Kebersamaan keempat remaja itu harus berakhir karena Minggu sore Adi, Velia dan Rizki harus kembali ke Jakarta. Maura terlihat sedih ketika melepas ketiga sahabatnya itu pulang ke Jakarta.
Meskipun di Bandung Maura memiliki banyak teman namun hanya kepada Adi, Velia dan Rizki lah Maura berani mencurahkan isi hatinya tanpa ada yang disembunyikan sedikitpun.
Setelah kepulangan ketiga sahabatnya itu Maura fokus dengan sekolahnya yang mulai memasuki ujian akhir semester.
Marvin dan Maura sepakat untuk mengurangi intensitas pertemuan mereka untuk menjaga agar semua orang tidak dapat mencium hubungan mereka karena Maura merasa belum siap untuk jujur kepada seluruh keluarganya.
__ADS_1