My Posesif Uncle

My Posesif Uncle
Hanya Basa-basi


__ADS_3

Disaat semua masih berkumpul sambil mengobrol, Abimanyu pamit ke kamarnya untuk beristirahat. Milea diam-diam menatap kepergian Abimanyu dengan tatapan penuh rasa bersalah.


Semakin lama obrolan kedua keluarga itu melebar menjadi membicarakan urusan bisnis. Melihat Milea yang tampak terbengong-bengong tidak mengerti dengan apa yang orang dewasa itu bicarakan Aluna pun mengajak Milea ke ruang keluarga.


Milea terbengong-bengong melihat ruang keluarga di rumah Bagas yang luas dan disana ada seorang anak kecil seusia TK dan tiga balita lucu bermata sipit sedang bermain.


Luna menuntun Milea duduk di sofa dimana disana juga ada seorang pria tampan bermata sipit sedang mengawasi keempat anak-anak itu bermain.


Meskipun tidak banyak berbicara seperti Luna namun pria tampan bermata sipit itu cukup ramah kepada Milea. Ia sempat menanyakan keadaan Milea sambil menatap Milea iba.


"Lukanya sudah mau kering kak " jawab Milea malu.


"Kamu jagoan..masih kecil saja sudah bisa naik motor " puji pria sipit yang bernama Kenzo itu.


Ketika hari semakin malam Adam pamit kepada keluarga Bagas. Sebelum pulang keempat anak kecil itu melambaikan tangannya kepada Milea.


"Kakak Mile..nanti main lagi kesini ya " pinta Alysha putri bungsu Bagas dan Felisha.


"Iya kapan-kapan kakak main kesini " jawab Milea sambil melambaikan tangannya kepada keempat bocah lucu itu.


"Memang Mile mau main ke rumah mereka lagi ?" tanya Millie ketika mereka dalam perjalanan pulang.


"Tidak Mom..aku cuma basa-basi saja " jawab Milea sambil terkikik.


"Ya Tuhaaan..Mile..tidak boleh begitu sayang " nasehat Millie sambil mengurut dadanya.


Adam dan Mikha hanya geleng-geleng kepala sambil menahan senyumnya melihat si Gemoy yang memberi harapan palsu kepada keempat bocah di rumah Bagas.


Jam sembilan malam mereka baru sampai ke rumah. Marvin dan Maura yang masih menonton tv langsung menanyai mereka mengenai pertemuan dengan keluarga Bagas.


"Mereka semua baik..bahkan mereka menolak ketika Daddy berniat mengganti motor Abimanyu dengan yang baru " Wisnu menjawab rasa penasaran Maura dan Marvin.


"Tapi Sayang Mommy penasaran sejak kapan kamu menabung di celengan ?" tanya Millie kepada Milea.


"Sudah lama..aku kan sering dikasih uang jajan sama Papih dan Mamih, nah uangnya aku masukin celengan " jawab Milea.


"Pinter kesayangannya Papih dan Mamih " puji Adam sambil memeluk si Gemoy membuat Milea tersenyum bangga.


"Karena celengan aku sudah penuh jadi uangnya mau aku pakai buat beli motor baru, kan motor Om Marvin rusak..nanti kalau kurang Papih tambahin ya " pinta Milea.


"TIDAK..!!" Semua yang ada disana serempak menjawab.


"Kamu itu sudah nabrak juga tidak kapok-kapok " omel Wisnu.


"Dad..kalau belajar sepeda juga kan harus jatuh dulu baru pinter..nah belajar motor juga ha.."

__ADS_1


"Jangan ngaco " bentak Wisnu membuat Milea tidak sempat melanjutkan ucapannya. Milea pun langsung mengkerut dilengan Adam.


"Tidak usah dimarahin..cukup kasih pengertian saja. Milea kan masih kecil nanti juga mengerti " Adam tidak rela cucu kesayangan dibentak oleh Daddy nya.


Meskipun Milea hanya cucu sambungnya namun Adam dan Mikha lebih dulu mengenal Milea dari sejak bocah itu bayi karena Millie sering membawa Milea ketika masih menjadi pengasuh di rumah Wisnu.


Ketika malam semakin larut mereka pun mulai masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Tinggal Marvin dan Maura yang masih bertahan disana karena Maura masih ingin nonton drama Korea kesukaannya.


Sebetulnya Marvin sudah mengajak Maura untuk kembali ke kamar mereka namun Maura menolak.


Maura menonton sambil berbaring di sofa dan menggunakan paha Marvin sebagai bantalnya.


"Kamu suka sekali sih nonton drama Korea " ujar Marvin sambil mengelus kepala Maura yang berada dipangkuannya.


"Suka banget..selain suka film nya aku juga suka fashion mereka " jawab Maura sambil mengambil tangan Marvin kemudian memeluk didadanya.


Marvin tidak melewatkan kesempatan, ia pun iseng mengelus dua bukit kembar Maura yang begitu dekat dari jangkauan tangannya.


"Sayaaang ih diam dong tangannya " Maura mengunci tangan Marvin agar tidak mengelus dan meremas dua bukit kembarnya.


Namun tangan Marvin dengan lihai melepaskan diri kemudian langsung menyusup kedalam piyama Maura.


Maura yang fokus menonton akhirnya membiarkan tangan nakal Marvin bermain-main dibalik piyama nya.


"Makanya tangannya jangan nakal gerayangan begini..jadinya repot sendiri kan kalau sudah bangun begini " omel Maura ketika merasakan ada yang terbangun dibawah kepalanya.


"Iya makanya udahan dulu nontonnya, memang kamu mau kita begituan disini ?" bujuk Marvin


"Tidak mau dong Sayang kalau ada yang melihat bagaimana " jawab Maura.


Dengan terpaksa Maura menyelesaikan nonton drama Korea kesukaannya karena Marvin terus merengek mengajak ke kamar.


"Gendong ke kamarnya " Maura merentangkan kedua tangannya setelah Marvin mematikan televisi.


"Baik tuan putri " jawab Marvin sambil menggendong Maura seperti koala.


Sepanjang langkah menuju ke kamar bibir mereka saling bertautan dengan mesra.


"Sayang..kalau tau menikah itu seenak begini kenapa kita tidak menikah dari dulu saja ya " gumam Maura setelah Marvin menurunkannya diatas kasur empuk mereka.


"Anak kecil sudah tau yang enak-enak..siapa yang ngajarin hmm? " Marvin terkekeh sambil menggigit dagu lancip Maura.


"Kan kamu Sayang yang ngajarin..kamu yang pertama cium aku..pegang-pegang badan aku dan gituin aku waktu di Raja Ampat " jawab Maura.


"Gituin gimana..jelasin dong " tanya Marvin menggoda.

__ADS_1


"Suntik aku pake ini " jawab Maura polos sambil meremas benda pusaka Marvin yang sudah on fire.


"Kaaaak..kamu nakal Sayang " Marvin mengerang sambil langsung melahap bibir Maura dengan rakus.


Marvin membiarkan tangan Maura yang tidak mau beranjak dari bawah sana dan semakin nakal mere mas dan mengurutnya membuat Marvin menge rang sambil memejamkan matanya.


Marvin yang sudah sangat terbakar gairah buru-buru melucuti piyama Maura dan kemudian ia pun melucuti pakaiannya sendiri hingga keduanya benar-benar polos.


Marvin naik keatas tubuh Maura kemudian melu mat bibir Maura dengan rakus.


"Sayaaang jangan kasih kissmark disana..besok kakak ada pemotretan " Maura mengingatkan Marvin yang mulai mengendus lehernya.


"Kalau disini boleh ya " pinta Marvin menunjuk pada dua bukit kembar Maura yang padat berisi


"Iya boleh " jawab Maura.


"Om jangan gigit dong " Maura protes sambil menjauhkan kepala Marvin dari dadanya.


"Bilang apa barusan ?" Marvin langsung protes ketika Maura tidak sengaja memanggilnya Om.


"Lupa Sayaaang..maklum kakak kan sudah biasa panggil Om dari sejak kecil " jawab Maura.


Marvin mengangkat sedikit tubuhnya, tangan kanannya menuntun tongkat saktinya untuk melakukan penyatuan.


Maura melenguh ketika merasakan benda panjang dan besar itu melesak masuk kedalam bagian intimnya.


"Uuuh..Sayaaang mmhh..aaah.." suara desa han keluar dari bibir ranum Maura ketika Marvin mulai bergerak maju mundur diantara kedua paha Maura yang sudah terbuka lebar.


Mendengar suara desa han dari bibir Maura membuat Marvin semakin mempercepat gerakannya dengan kedua tangan yang terus meremas kedua bukit kembar Maura.


"Sayaaang..lebih cepat " pinta Maura tanpa merasa malu.


"Baiklah Sayang " jawab Marvin sambil mempercepat tempo gerakannya.


"Marr..viin..Sayaaang aaarg kakak mau..aahhh.." Maura meracau ketika akan mencapai puncak kenikmatan.


"Aarghh..sama-sama Sayaaang.. Mauraa..aarrgghh.." Racau Marvin.


Akhirnya Marvin pun ambruk diatas tubuh Maura setelah mendapatkan pelepasan bersama.


"Sayang..besok pemotretan jangan memakai baju yang terlalu seksi ya !" pinta Marvin setelah turun dari tubuh Maura.


"Iya Sayang " jawab Maura sambil menenggelamkan tubuhnya dalam pelukan Marvin.


Malam ini Marvin membiarkan Maura langsung tertidur. Ia tidak mau Maura tidak fresh karena kurang tidur pada saat pemotretan besok.

__ADS_1


__ADS_2