
Setelah mengantarkan Maura dari resepsi pernikahan Nisa dan Yudhis Marvin langsung pamit pulang.
Maura yang sedang membersihkan wajahnya dari sisa-sisa makeup kaget ketika tiba-tiba Mile muncul di kamarnya.
"Ngapain kesini tumben.." Maura melirik kearah Mile yang naik keatas ranjangnya dan duduk bersila sambil menatapnya.
"Aku mau tidur sama kakak boleh ya ?" tanya Mile.
"Boleh " jawab Maura.
Setelah membersihkan wajahnya Maura pun naik keatas ranjang kemudian mengajak adiknya untuk berbaring disampingnya.
"Kakak..kata Papih sebentar lagi Kakak mau menikah ya sama Om Marvin ?" tanya Mile.
"Iya " jawab Maura sambil memiringkan tubuhnya menghadap kearah Mile yang sudah semakin tinggi.
"Memang boleh kak..Om Marvin kan Om kita ?" tanya Mile.
"Boleh..karena kakak sama Om Marvin itu tidak ada hubungan darah..kita kan keponakan sambung Om Marvin " jawab Maura.
"Oh begitu ya " Mile mulai mengerti.
"Nanti kalau kakak sudah menikah dengan Om Marvin aku harus panggil apa sama Om Marvin...Om atau kakak ?" tanya Mile bingung.
"Terserah kamu..mau panggil Om atau kakak juga boleh " jawab Maura sambil menjawil dagu Mile.
"Aku mau panggil Om saja soalnya sudah enak panggil Om....Om Marvin " jawab Mile sambil memeluk Maura dan mulai memejamkan matanya.
"Iya " jawab Maura sambil ikut memejamkan matanya sambil memeluk tubuh Mile yang sudah mulai tinggi.
Millie dan Wisnu yang selalu memeriksa kamar anak-anak sebelum tidur sempat heboh ketika tidak mendapati Mile di kamarnya.
"Ternyata Mile tidur disini " ucap Millie lega ketika menemukan Mile tidur di kamar kakaknya.
Setelah memastikan anak-anak sudah tidur barulah Millie dan Wisnu kembali ke kamar mereka.
*
Weekend ini Maura yang tidak ada jadwal pemotretan memilih bermalas-malasan di kamarnya.
Gadis cantik itu mengabaikan omelan Millie dan Wisnu yang menyuruhnya untuk mandi karena dari pagi Maura tidak terlihat mandi.
Marvin yang datang ke rumah Millie dengan motornya siang itu tentu saja kaget ketika kakaknya mengatakan jika Maura masih bermalas-malasan di kamarnya dan belum mandi dari pagi.
"Suruh mandi sana Vin..daritadi Mas suruh tidak diturut " ucap Wisnu.
Marvin pun beranjak menuju kamar Maura. Disana gadis itu masih bergelung dibawah selimutnya dan masih mengenakan piyamanya.
"Kaaak..jam segini masih tidur malas banget sih " Marvin mencolek-colek hidung Maura.
Merasa ada yang mengganggu tidurnya Maura pun terbangun.
__ADS_1
"Oom..tumben pagi-pagi sudah kesini ?" tanya Maura dengan suara serak khas bangun tidur.
"Pagi apanya kak..sekarang sudah jam sebelas siang " Marvin memperlihatkan jam tangannya ke depan mata Maura.
"Masa sih.. perasaan baru jam enam pagi " Maura tidak percaya.
"Jam enam pagi bagaimana..buruan mandi, sebentar lagi mau menikah masa malas bangun.. bagaimana nanti mau mengurus suami " omel Marvin sambil membuka gorden kamar Maura agar sinar matahari bisa masuk.
"Oom..silau tau " Maura menutup matanya ketika sinar matahari menyilaukan matanya.
"Buruan mandi..Om tunggu di luar !" titah Marvin sambil beranjak keluar dari kamar Maura.
"Oom..gendong ke kamar mandinya !" pinta Maura manja sambil merentangkan kedua tangannya.
"Tidak..kalau mau digendong nanti setelah kita menikah " jawab Marvin sambil ngeloyor keluar dari kamar Maura.
"Huuh..dasar menyebalkan. Kenapa sekarang jadi tidak mau..padahal dulu selalu mau kalau aku minta digendong " Maura menggerutu sambil turun dari ranjangnya kemudian beranjak ke kamar mandi.
Selagi Maura mandi Marvin mengobrol bersama Millie dan Wisnu di teras belakang.
"Sebentar lagi kamu akan menikah dengan Maura, jadi Mas harap kamu bisa membimbing Maura agar menjadi lebih dewasa. Maura itu masih manja dan belum dewasa..kamu lihat sendiri kan bangun saja susah " nasehat Wisnu.
"Iya Mas " jawab Marvin.
"Kamu sudah tau semua sifat jelek Maura karena kalian sudah dekat sejak Maura masih kecil..kakak harap ini tidak akan jadi masalah buat kamu di kemudian hari " nasehat Millie.
"Iya kak " jawab Marvin.
"Mommy dan Daddy sedang ngomongin aku ya !" ucap Maura.
"Bukan ngomongin kakak..tapi sedang kasih nasehat " jawab Wisnu.
"Ooh " jawab Maura sambil duduk menggelendot di lengan Millie.
"Kakak kan sebentar lagi mau menikah..dibiasakan bangunnya jangan kesiangan dong.. bagaimana mau mengurus suami kalau bangun saja kesiangan begini " nasehat Millie.
"Kalau kakak bangun kesiangan siapa coba yang bikin sarapan pagi kalau kalian sudah pisah rumah ?" tanya Millie.
"Om Marvin " jawab Maura cepat.
"Hust ..masa suami kamu yang masak " Millie menyentil kening Maura.
"Bagaimana ini Vin..yakin kamu sudah siap menikahi putri Mas ?" tanya Wisnu tidak percaya diri.
"Yakin siap Mas " jawab Marvin yakin.
Setelah mengobrol cukup lama Marvin meminta ijin untuk mengajak Maura jalan.
"Kalian nanti pulangnya ke rumah Papih saja karena kita akan menginap disana " ucap Millie sebelum Maura dan Marvin pergi dengan motornya.
"Iya kak " jawab Marvin.
__ADS_1
"Tumben Om pake motor " ujar Maura sambil memeluk pinggang Marvin setelah motor yang mereka tunggangi mulai melaju meninggalkan rumah.
"Lagi pengen saja pake motor..dulu waktu kakak kecil juga kan suka Om ajak naik motor " jawab Marvin.
"Iya..dulu Om pakenya motor matic dan aku duduknya suka di depan " Maura mengingat masa kecilnya dengan Om kesayangannya.
"Dulu kan kakak selalu membuntuti kemanapun Om pergi..kalau tidak diajak suka ngambek " ujar Marvin sambil menangkap tangan Maura dan memasukannya kedalam saku jaketnya.
Siang itu Marvin membawa Maura ke sebuah restoran karena Maura yang baru bangun tidur tidak sempat makan pada saat mereka pergi.
Setelah memesan makanan mereka mengambil meja yang letaknya di sudut agar lebih leluasa mengobrol berdua.
Sambil makan Marvin memperlihatkan beberapa design undangan pernikahan kepada Maura.
"Kakak pilih suka yang mana ?" tanya Marvin.
Maura melihat beberapa design di ponsel Marvin dengan serius.
Setelah beberapa saat kemudian Maura memilih satu design yang menurutnya bagus.
"Kakak bingung Om karena semuanya bagus..tapi kakak suka yang ini " tunjuk Maura pada salah satu design undangan yang terlihat sangat mewah dan elegan.
"Oke kita pilih yang ini saja " Marvin pun setuju dengan pilihan Maura.
"Sekalian nanti tema nya disesuaikan dengan photo prewedding nya " sambung Marvin.
"Setelah makan kita ke toko perhiasan langganan Mamih untuk pesan cincin nikah " ajak Marvin.
"Ternyata mau nikah itu banyak yang harus diurus ya " keluh Maura sambil menelungkup kan kepalanya diatas meja.
"Sabar dong kak.. " Marvin mengusap-usap punggung Maura.
"Sudah nikah pokoknya kakak mau liburan buat menghilangkan stress " ucap Maura sambil mengangkat kepalanya.
"Bukan liburan..itu namanya honeymoon " jawab Marvin sambil terkekeh.
"Ya.. apapun itu namanya " jawab Maura.
"Kita makan dulu kak biar punya energi untuk mengurus pernikahan kita " ucap Marvin ketika pesanan mereka datang.
Maura yang memang sedang lapar langsung makan dengan sangat lahap.
Beberapa kali Marvin menyusut bibir Maura yang belepotan dengan jarinya.
Marvin tersenyum tipis jika mengingat peristiwa sepuluh tahun yang lalu saat pertama kali bertemu dengan Maura.
Marvin tidak menyangka jika gadis judes putri sambung kakaknya itu tidak lama lagi akan ia nikahi.
Mau jalan-jalan sama Om Marvin pakai motor
__ADS_1
Ajak makan calon istri dulu