
Weekend ini untuk yang kesekian kalinya Millie dan Wisnu menginap di rumah Adam tanpa Maura.
"Kenapa kalian tidak pernah mengajak Maura kesini..apa kalian sengaja melarang Maura ikut ?" tanya Adam menyindir tajam kepada Millie dan Wisnu.
"Tidak begitu Pih..kakak sudah ajak tapi Maura nya tidak mau ikut " jawab Millie dengan suara lirih.
"Kalian boleh tidak setuju dengan hubungan Maura dengan Marvin tapi jangan lantas kalian membatasi Maura bertemu dengan kita " lanjut Adam bernada menuduh.
"Setiap kita akan kesini Maura selalu kami ajak tapi Mauranya selalu menolak..dan kami tidak pernah melarang Maura bertemu dengan Papih dan Mamih " ujar Wisnu.
"Bukan bermaksud menuduh kalian melarang Maura kesini..Mamih dan Papih hanya sedang kangen saja sama Maura " Mikha berusaha meredam suasana yang tiba-tiba terasa sedikit panas.
Marvin yang sedang melakukan video call dengan Maura di kamarnya tidak sempat melihat ketegangan yang terjadi di ruang keluarga antara orang tuanya dan kakak juga kakak iparnya.
"Aku sama Malik juga selalu ajak kakak kalau mau menginap disini..tapi kakaknya selalu sibuk " ucapan Mile menguatkan ucapan Millie dan Wisnu.
"Lain kali kakak Mauranya paksa saja bilang Papih dan Mamih kangen " ucap Mikha sambil berkelakar.
"Iya..lain kali akan kita paksa ikut kakak Mauranya " jawab Mile.
Suasana kembali sedikit mencair dengan celotehan Mile dan Malik, ditambah Meysha yang mulai tidak mau diam dan ingin mengacak kue di atas meja. Meysha baru diam setelah Adam mendudukkan bocah mungil itu dipangkuan nya.
Malamnya Mile dan Malik seperti biasa merengek ingin tidur dengan Adam.
Karena Meysha sudah mulai mengantuk Millie pun meninggalkan Wisnu yang masih anteng nonton pertandingan sepak bola bersama Marvin.
Setelah pertandingan sepak bola selesai Wisnu tampak kecewa karena klub jagoannya kalah dari klub jagoan Marvin.
"Mas masih belum ngantuk nih..main PlayStation yuk Vin " ajak Wisnu.
"Disini atau di kamar aku Mas ?" tanya Marvin.
"Di kamar kamu saja " jawab Wisnu.
Sebelum mereka pergi ke kamar Marvin keduanya mengambil beberapa minuman kopi dan cemilan dari dalam kulkas untuk menemani mereka begadang.
__ADS_1
"Vin..Mas mau tanya sama kamu boleh ?" tanya Wisnu ketika Marvin sedang menyambungkan perangkat PlayStation ke televisi di kamarnya.
"Tanya apa Mas ?" Marvin balik bertanya.
"Kamu benar-benar cinta sama Maura ?" tanya Wisnu.
"Ya " jawab Marvin singkat namun sangat jelas.
"Walaupun Mas Wisnu dan kak Millie melarang pun tidak akan membuat aku berhenti mencintai Maura " jawab Marvin yakin.
"Kalau Mas dan kak Millie tetap tidak merestui kalian bagaimana ?" tanya Wisnu santai.
"Aku dan Maura akan kawin lari " jawab Marvin.
"Heeh..enak saja kamu mau bawa kawin lari anak orang " Wisnu menoyor kepala Marvin.
Obrolan mengenai hubungan Marvin dengan Maura tidak membuat Marvin tegang karena Marvin dan Wisnu membicarakannya sambil bermain PlayStation.
"Waktu Papih dan Mamih pertama kali mengetahui hubungan kamu dengan Maura apa reaksi mereka ?" tanya Wisnu sambil fokus pada layar televisi di depannya.
"Mereka marah seperti Mas Wisnu dan kak Millie..tapi lama-lama Papih dan Mamih mengerti, tapi aku harus tinggal di Kanada sampai Maura lulus SMA " jawab Marvin.
"Iya Mas " jawab Marvin.
"Berat juga ya perjuangan cinta kamu " gumam Wisnu.
Tentu saja berat..yang lebih berat lagi adalah ketika kalian tidak tidak merestui batin Marvin.
"Tapi niat kamu untuk kawin lari itu tidak sungguh-sungguh kan ?" tanya Wisnu.
"Serius Mas..aku dan Maura akan kawin lari kalau Mas Wisnu dan kak Millie tetap tidak merestui aku dan Maura " ancam Marvin.
"Waah bahaya kamu " gumam Wisnu dengan mata fokus pada layar televisi.
Millie yang sudah menidurkan Meysha mencari Wisnu di ruang keluarga. Karena tidak mendapati suaminya itu di ruang keluarga Millie pun menyusul ke kamar Marvin.
__ADS_1
"Ya ampuun kalian itu tidak akan tidur ?" omel Millie begitu mendapati Wisnu dan Marvin sedang anteng bermain PlayStation.
"Tidur duluan saja Yang..lagi nanggung " ucap Wisnu tanpa menoleh sedikitpun kearah Millie yang tampak cemberut berdiri di pintu kamar Marvin.
"Kalian itu kalau main tidak tau waktu, bagaimana kalau Marvin sudah menikah dengan Maura..bisa setiap malam kalian begadang " omel Millie sambil berlalu dari kamar Marvin.
Marvin termangu mendengar ucapan Millie barusan, meskipun diucapkan dengan nada kesal namun cukup membawa angin segar untuk Marvin.
"Biarkan saja kakak kamu ngomel-ngomel..dia juga sering ninggalin Mas kalau dia ingin tidur dengan Maura " ujar Wisnu sambil terkekeh.
Karena Wisnu tidak juga kembali ke kamarnya akhirnya Millie pun tertidur sambil memeluk Meysha.
Sementara Wisnu dan Marvin baru berhenti bermain ketika jam sudah menunjukkan angka tiga.
Wisnu yang yang sudah tidak kuat menahan kantuk akhirnya tertidur di kamar Marvin.
Keesokannya kedua pria tampan itu baru bangun setelah matahari mulai tinggi.
Wisnu dan Marvin yang baru terbangun mencari makanan ke dapur ketika merasakan perut mereka lapar.
"Tidak ada sarapan Yang ?" tanya Wisnu mencolek pinggang Millie yang sedang memasak di dapur bersama pelayan.
"Ini waktunya makan siang Mas " jawab Millie.
Karena terlanjur lapar Wisnu dan Marvin pun memutuskan makan roti selai coklat yang dibuat Marvin.
"Tega sekali mereka tidak menyisakan sarapan untuk kita " keluh Wisnu sambil mengunyah roti selai coklat yang Marvin buatkan untuknya.
"Siapa suruh bangunnya kesiangan " Millie yang sempat mendengar ucapan Wisnu langsung ngomel-ngomel.
Marvin hanya diam mendengar Millie memarahi suaminya.
"Kamu itu Vin..Mas diomelin sama kakak kamu bukannya dibelain malah diam saja " Wisnu malah mengomeli Marvin. Marvin hanya nyengir.
"Sepertinya Mas harus memikirkan ulang untuk merestui kamu sama Maura jika melihat kamu tidak peduli begini " gumam Wisnu dengan wajah masam.
__ADS_1
Marvin yang sedang mengunyah rotinya melongo mencoba mencerna ucapan kakak iparnya barusan.
Marvin berharap jika ini adalah tanda-tanda jika kakak dan kakak iparnya akan segera memberikan restunya.