My Posesif Uncle

My Posesif Uncle
Undangan Pernikahan


__ADS_3

Senin pagi Marvin datang ke kantor sedikit terlambat karena ia harus mengantarkan dulu dua tuyul ke sekolah.


Kedua tuyul itu kompak tidak mau diantarkan oleh sopir dan bersikeras ingin diantarkan oleh Marvin karena menurut mereka mobil Om nya itu keren.


"Marvin kemana Pih tumben belum datang ?" tanya Millie ketika melihat ruangan kerja Marvin yang masih kosong.


"Marvin kan mengantarkan si Gemoy dan Malik ke sekolah..mereka kekeh ingin pergi ke sekolah diantarkan oleh Marvin " jawab Adam.


"Biarin lah sekali-kali ngerjain Om nya " ucap Millie sambil tertawa.


Tidak lama kemudian Marvin pun muncul.


"Anak-anak hari ini ngerjain aku..mereka kompak lupa membawa bekal makan mereka di mobil..aku yang sudah setengah jalan kesini terpaksa balik lagi untuk mengantarkan kotak bekal mereka ke sekolah " Marvin menggerutu.


"Baguslah sekali-kali mereka ngerjain kamu " Millie tertawa sambil ngeloyor pergi menuju ruangan kerjanya.


Marvin hanya melongo menatap kepergian Millie. Meskipun akhir-akhir ini kakaknya itu berubah menjadi garang namun samasekali tidak mengurangi rasa sayangnya kepada kakak satu-satunya yang ia miliki itu.


"Sabar Vin..selain keponakan kamu mereka juga calon adik ipar kamu dan kak Millie sekarang adalah calon mertua kamu jadi jangan macam-macam sama dia kalau tidak ingin dipecat dari calon menantu " Adam menepuk bahu putranya sambil tersenyum meledek.


"Iya Pih " jawab Marvin sambil beranjak menuju ruangan kerjanya.


Begitu sampai di ruangannya Marvin tertegun mendapati sebuah kartu undangan pernikahan yang tergeletak diatas meja kerjanya.


Marvin duduk di kursinya kemudian mengambil kartu undangan itu. Seketika mata Marvin langsung membola ketika melihat dua nama yang tertera di kartu undangan itu.


"Yudhis dan Nisa Minggu depan menikah..wah ngeduluin gw kalian " ucap Marvin setengah bergumam.


Marvin meletakan kartu undangan itu kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi Maura.


"Ada apa Om ?" terdengar suara serak khas bangun tidur.


"Kakaaak..jam segini baru bangun tidur ?" tanya Marvin sambil melirik jam di tangannya yang sudah menunjukkan angka sembilan.


"Iya Om..semalam kakak ngerjain tugas kuliah sampai malam..kakak ada sedikit kesulitan..mau minta bantuan Mommy dan Daddy tapi tidak jadi karena kakak mendengar suara aneh dari kamar mereka " jawab Maura.


"Jadi semalam kakak nguping ?" tanya Marvin tersenyum.


"Iya Om..tidak sengaja " jawab Maura.


"Nanti kalau kita sudah menikah kakak juga akan terbiasa mendengar suara aneh seperti itu " ujar Marvin menggoda . Maura diam tidak menjawab.


"Kaaak..Minggu depan Nisa dan Yudhis menikah. Kita pergi bersama ya !" ajak Marvin.


"Kak Nisa dan Kak Yudhis menikah ? ..yang sabar ya Om " ucap Maura lirih membuat wajah Marvin seketika berubah menjadi masam.


"Apaan sih ngomong begitu " Marvin langsung sewot.


"Kakak cuma becanda Om " ucap Maura.


"Becanda nya tidak lucu " jawab Marvin.


"Iya maaf Sayang " cicit Maura.


Kekesalan Marvin seketika sirna ketika Maura memanggilnya dengan sebutan Sayang.


"Biasakan ya panggil Om dengan sebutan Sayang " pinta Marvin.


"Tidak janji..tadi itu keseleo lidah Om " jawab Maura sambil terkikik.

__ADS_1


"Kakaak..awas saja kalau dekat sudah Om gigit kamu " ancam Marvin.


Marvin masih sempat mendengar Maura tertawa sebelum mereka mengakhiri panggilan telepon.


*


Maura terlihat sangat cantik dalam balutan gaun mewah berwarna kunyit. Malam ini ia akan menghadiri acara resepsi pernikahan Nisa dan Yudhis di sebuah hotel berbintang.


Mikha dan Adam juga Millie dan Wisnu tidak akan datang pada acara resepsi malam ini karena mereka sudah hadir pada acara akad nikah yang dilaksanakan sehari sebelumnya.


"Sudah rapi belum Mom ?" tanya Maura kepada Millie yang membantu menata rambut putri cantiknya.


"Perfect " jawab Millie.


Tidak lama kemudian Mile muncul di pintu kamar Maura dan memberitahu jika Marvin sudah datang menjemput Maura.


Maura pun keluar dari kamar dan bersiap untuk pergi ke acara resepsi pernikahan Nisa dengan Yudhis.


Marvin yang sedang menunggu sambil mengobrol dengan Wisnu melongo melihat Maura yang terlihat sangat cantik dalam balutan gaun mewahnya.


"Putri Mas Wisnu cantik ya " Wisnu menyikut lengan Marvin membuat pria tampan itu tersipu.


"Iya Mas.. cantik banget " puji Marvin.


"Sudah sana pergi nanti terlambat " titah Wisnu.


"Kita pamit Mas..Kak.." Marvin pamit kepada Millie dan Wisnu sambil menuntun Maura menuju kedalam mobilnya.


"Iya hati-hati " jawab Millie dan Wisnu.


Setelah mereka berada di dalam mobil Marvin memasangkan seatbelt kepada Maura.


"Nanti makeup aku rusak " Maura menahan kepala Marvin.


"Aargh..kalau pulangnya boleh ya " pinta Marvin.


"Bagaimana nanti saja " jawab Maura sambil mengusap pipi Marvin.


Walaupun tidak berhasil mencium bibir Maura namun Marvin tidak terlalu kecewa karena ia masih bisa mencium pipi mulus Maura.


Marvin melajukan mobilnya menuju hotel tempat berlangsungnya acara resepsi pernikahan Nisa dengan Yudhis.


Resepsi pernikahan Nisa dan Yudhis terlihat sangat mewah dan dihadiri oleh undangan yang sebagian besar adalah para pengusaha terkenal relasi keluarga Yudhis.


Ketika Maura dan Marvin datang puluhan pasang mata langsung menatap kagum pada mereka yang terlihat sangat serasi.


"Kakak Maura..cantik sekali " puji Nisa ketika Maura dan Marvin mengucapkan selamat kepada sepasang pengantin baru itu.


"Kak Nisa juga cantik " Maura balas memuji Nisa yang memang terlihat sangat cantik dalam balutan gaun pengantin berwarna putih yang sangat mewah.


Ketika Marvin menyalami Yudhis, tiba-tiba pengantin pria itu berbisik kepada Marvin.


"Tolong jagain jangan sampai gadis judes ini ngempesin ban mobil gw "


bisik Yudhis.


"Siap " jawab Marvin sambil tertawa.


Setelah mengucapkan selamat kepada kedua mempelai Marvin pun menuntun Maura untuk menikmati hidangan yang tersedia disana.

__ADS_1


"Kak Nisa cantik ya Om..kak Yudhis juga ganteng " bisik Maura di telinga Marvin.


"Iya " jawab Marvin.


"Om tidak cemburu melihat mereka bersanding di pelaminan ?" tanya Maura.


"Tidak..ngapain mesti cemburu, bukannya sebentar lagi juga kita akan menikah " jawab Marvin.


Maura tersenyum kecut karena tidak berhasil memanas-manasi Om nya.


Tidak lama kemudian para tamu yang masih single termasuk Marvin dan Maura mulai berkumpul di depan pelaminan karena sebentar lagi Pengantin akan melemparkan bunganya.


"Satu..dua..tiga..lempaaar.." Nisa dan Yudhis melempar buket bunga ditangan mereka dengan posisi membelakangi.


Marvin tersenyum ketika buket bunga itu mendarat dengan mulus di tangannya dan suara tepuk tangan pun langsung terdengar riuh.


"Selamat Mas ganteng yang sudah berhasil mendapatkan buket bunganya..semoga segera menyusul ke pelaminan ya " ucap MC kepada Marvin. Marvin pun mengacungkan ibu jarinya.


"Kalau boleh tanya..apakah sudah ada calonnya Mas ganteng ?" tanya MC itu genit.


Marvin menarik pinggang Maura sambil kembali mengacungkan ibu jarinya.


"Hoho..ternyata kakak cantik ini calonnya " ucap MC sambil tersenyum.


Tidak sampai satu jam mereka berada di acara resepsi Nisa dan Yudhis. Setelah pamit keduanya pun pulang.


"Oom.. tadi kak Yudhis bisikin apa ?" tanya Maura ketika mereka sudah berada di dalam mobil dan Marvin sedang memasangkan seatbelt Maura.


"Dia bilang suruh jagain kakak supaya jangan kempesin ban mobilnya lagi...makanya jangan suka jahil " Marvin mencubit ujung hidung Maura.


"Oh itu " jawab Maura sambil tertawa.


Maura berhenti tertawa ketika Marvin tiba-tiba menyumpal mulutnya dengan bibirnya.


Meski awalnya kaget namun Maura akhirnya mulai menikmati dan membalasnya.


Maura melingkarkan kedua tangannya dileher Marvin membuat ciuman mereka semakin dalam dan panas.


Maura melenguh ketika bibir kenyal Marvin mulai merambat turun menyusuri lehernya.


"Mmmhhmm..Oom..geliii " bisik Maura.


Marvin berusaha untuk menahan diri agar tidak meninggalkan jejak di leher putih mulus itu.


Marvin terlihat sedikit panik ketika merasakan celananya mulai terasa sesak.


Tidak ingin sampai kebablasan Marvin pun menghentikannya.


Marvin dan Maura tampak terengah berusaha mengatur napasnya yang memburu karena sedang sama-sama terbakar gairah.


"Tunggu ya sampai kita menikah " Marvin mengusap puncak kepala Maura.


"Iya Om " jawab Maura.



Maura bersiap pergi ke resepsi pernikahan Yudhis dan Nisa


__ADS_1


Marvin mendapat lemparan buket bunga pengantin.


__ADS_2