
Dua hari kemudian Maura dan Marvin berangkat ke Bandung untuk melakukan photo prewedding di beberapa tempat di Bandung.
Marvin dan Maura pergi ke Bandung dengan membawa sopir agar mereka tidak terlalu lelah dan bisa beristirahat di jalan karena mereka tidak akan menginap di Bandung.
Pada saat proses pengambilan photo Marvin terlihat sedikit gugup dan tidak percaya diri, berbanding terbalik dengan Maura yang sudah terbiasa bergaya di depan kamera.
"Santai saja Om..tidak usah tegang " bisik Maura ketika melihat kegugupan di wajah Marvin.
"Kakak kan sudah terbiasa bergaya di depan kamera kalau Om tidak " jawab Marvin.
Maura terus menyemangati Marvin, dan lama-lama Marvin pun mulai terlihat santai. Pria tampan itu tampak tidak canggung mengikuti arahan photografer.
Photografer tampak puas setelah mendapatkan banyak photo-photo mesra Maura dan Marvin yang terlihat sangat natural.
Setelah seharian akhirnya sesi pemotretan pun selesai. Malam itu juga Marvin dan Maura dan seluruh tim yang terlibat sesi pemotretan itu pun kembali ke Jakarta.
Ketika dalam perjalanan pulang ke Jakarta Maura yang kelelahan menyandarkan kepalanya di bahu Marvin dan satu tangannya melingkar di perut Marvin.
"Cape ?" tanya Marvin sambil mengelus puncak kepala Maura.
"Iya " jawab Maura semakin menyusupkan wajahnya di dada Marvin dan tidak lama kemudian gadis itu pun tertidur.
Mereka memang memutuskan langsung pulang ke Jakarta karena besok Maura ada ujian di kampusnya.
Setibanya di Jakarta Marvin langsung mengantarkan Maura ke rumah Millie. Setelah mengantarkan Maura Marvin pun langsung pulang ke rumahnya.
Keesokannya karena kelelahan setelah kemarin bolak-balik Jakarta-Bandung-Jakarta Maura pun mengalami demam.
Namun meskipun sedang mengalami demam Maura memaksakan diri pergi ke kampus dengan diantarkan oleh Millie karena sedang ada ujian.
Karena harus mengantarkan Maura ke kampus terlebih dahulu Millie pun pergi ke kantor lebih siang dari biasanya.
"Tumben baru datang kak ?" tanya Marvin begitu melihat Millie yang baru datang ketika waktu hampir jam sembilan.Millie adalah orang yang sangat disiplin dalam urusan pekerjaan.
"Kakak habis nganterin Maura dulu ke kampus " jawab Millie sambil meletakkan tas kerjanya di meja.
"Maura tidak bawa mobil sendiri ?" tanya Marvin heran.
"Tidak..tadi pagi badannya agak demam makanya kakak larang bawa mobil sendiri " jawab Millie.
"Kalau sakit kenapa memaksakan diri pergi ke kampus ?" tanya Marvin.
__ADS_1
"Hari ini dia ada ujian " jawab Millie.
"Nanti jam satu siang kamu yang jemput Maura ya..kakak ada rapat " titah Millie.
"Iya kak " jawab Marvin.
"Kalau masih demam tolong bawa ke dokter kakak sedang ada kerjaan yang tidak bisa ditinggal..Mas Wisnu juga sedang sibuk hari ini " titah Millie.
"Iya kak..nanti Maura aku bawa ke dokter sepulang dari kampus " jawab Marvin.
Siangnya tepat jam satu mobil Marvin sudah terparkir di halaman kampus Maura.
Tidak lama kemudian Maura pun muncul dan langsung masuk kedalam mobil Marvin.
"Kakak masih demam ?" tanya Marvin sambil menempelkan punggung tangannya di kening Maura..ternyata masih demam.
"Kita ke dokter sekarang ya..badan kakak masih panas " ajak Marvin.
"Tidak mau Oom..lebih baik beli obat saja di apotik " Maura menolak diajak ke dokter.
"Kita harus ke dokter sekarang..ini pesan Mommy kakak " Marvin melajukan mobilnya menuju ke tempat praktek dokter keluarga.
"Kakak tidak mau ke dokter Om..kakak takut disuntik " Maura merengek tidak mau dibawa ke dokter.
Setelah dibujuk dengan berbagai cara akhirnya Maura mau juga dibawa ke dokter.
Maura mencengkram erat tangan Marvin ketika mereka memasuki ruangan praktek dokter keluarga Adam.
"Maura cuma kelelahan dan masuk angin..ditambah sedikit stress. Ini biasa terjadi pada pasangan yang akan menikah seperti kalian " ujar dokter keluarga Adam setelah melakukan pemeriksaan kepada Maura.
"Iya Om..mendekati waktu pernikahan banyak sekali yang harus diurus " keluh Marvin.
"Makanya stamina harus dijaga, makan teratur dan jangan stress "
"Iya Om " jawab Marvin.
"Kakak tidak usah disuntik kan Dok ?" tanya Maura dengan wajah takut.
Dari kecil Maura memang paling takut dengan jarum suntik. Ia lebih memilih minum obat daripada membiarkan jarum suntik yang tajam menembus kulit mulusnya.
"Tidak usah..nanti saja disuntiknya sama Marvin kalau sudah menikah " jawab dokter sambil tersenyum membuat wajah Maura seketika merona.
__ADS_1
Setelah selesai melakukan pemeriksaan dan diberikan obat Maura dan Marvin pun keluar dari ruangan praktek dan langsung pulang.
"Biar cepat sembuh mau disuntik sama Om sekarang ?" tanya Marvin menggoda.
"Tidak mau " jawab Maura dengan suara lemah.
"Makanya cepat sembuh..kalau sampai hari pernikahan kita kakak masih sakit begini mana tega Om suntik kakak " Marvin terus menggoda Maura.
"Oomm..!" Meski sakit namun Maura masih sanggup untuk menyarangkan satu cubitan di lengan Marvin.
Marvin mengantarkan Maura ke rumah Mikha karena Millie dan Wisnu masih berada di kantor dan sedang sibuk.
Setelah mengantarkan Maura Marvin pun langsung kembali ke kantornya sementara Maura langsung berada dalam pengawasan Mikha.
Setelah Marvin kembali ke kantor Mikha membuatkan bubur untuk Maura dan memaksa gadis itu untuk menghabiskan nya.
"Mamih tidak mau tau pokoknya bubur ini harus habis " titah Mikha sambil menyuapi Maura bubur ditangannya.
"Iya Mih.." jawab Maura patuh.
Setelah menghabiskan buburnya Mikha pun memaksa Maura menelan obatnya kemudian tidak lama kemudian Maura pun tertidur.
Maura terbangun ketika matahari sudah terbenam dan hari mulai gelap.
Ketika matanya terbuka orang yang pertama ia lihat adalah Marvin. Pria tampan itu tampak sedang mengusap kepala Maura yang mulai basah berkeringat.
"Oom.." suara serak Maura terdengar lemah.
"Kakak sudah bangun ?" Marvin mendekatkan wajahnya dan mencium rambut Maura yang lembab.
"Kakaknya bau.. keringetan " Maura tidak percaya diri.
"Tidak apa-apa namanya juga sedang sakit..tapi sekarang kakak sudah tidak demam lagi " jawab Marvin.
"Masih demam Vin ?" Maura dan Marvin menoleh ketika Adam masuk ke kamar Maura.
"Tidak Pih..demamnya sudah turun " jawab Marvin.
"Yaaaah.. mau manten malah sakit " Adam menjawil ujung hidung Maura.
"Kata dokter cuma kelelahan Pih " jawab Maura lemah.
__ADS_1
"Papih mengerti..mau menikah itu meskipun sudah memakai jasa WO tapi tetap banyak yang harus kita urus sendiri..makanya kalian harus bisa menjaga stamina agar tidak sakit " nasehat Adam.
"Iya Pih " jawab Maura dan Marvin.