My Posesif Uncle

My Posesif Uncle
Keceplosan


__ADS_3

Sabtu siang Maura yang sudah berada di rumahnya sedang rebahan di kamarnya kaget ketika Zico mengirimi pesan jika ia sedang ada di Jakarta di rumah Om nya.


Karena kebetulan sedang berada di Jakarta Zico mengajak Maura untuk janjian di suatu tempat dan Maura pun setuju.


Sore itu Maura pergi dengan mobilnya menuju ke sebuah Mall tempat ia dan Zico janjian.


Wajah Zico langsung terlihat sumringah ketika Maura muncul di hadapannya.


"Susah banget sih ketemu sama pacar sendiri..setiap weekend mau ngapel kamunya mudik terus " keluh Zico


"Ga usah nyalahin deh..orang kamunya juga lebih sering di Bali daripada di Bandung " balas Maura.


"Iya aku salah " aku Zico.


"Kita nonton ya Ra..sudah lama kita tidak nonton berdua " Zico mengajak Maura ke gedung bioskop di lantai paling atas. Maura mengangguk.


Sepanjang jalan menuju lantai paling atas tangan Zico tidak lepas menggenggam tangan Maura.


Maura sedikit tercenung. Entah mengapa rasanya berbeda sekali ketika tangannya berada dalam genggaman Zico dengan berada dalam genggaman Marvin.


Jika tangan Maura berada dalam genggaman Marvin jemari mereka selalu saling meremat penuh kehangatan.


Perbedaan itu baru Maura rasakan setelah hubungannya dengan Marvin yang sempat menjauh kembali membaik setelah Om nya itu putus dengan Nisa.


"Kamu sedang tidak enak badan ?" tanya Zico ketika melihat Maura lebih banyak diam.


"Tidak " jawab Maura berusaha fokus pada film yang mereka tonton.


"Kamu kapan pulang ke Bandung ?" tanya Zico.


"Minggu siang " jawab Maura.


"Kamu hati-hati ya bawa mobilnya. Aku tidak bisa nganter kamu pulang ke Bandung karena Minggu pagi aku sudah harus terbang ke Bali lagi " ujar Zico.


Semenjak lulus kuliah tahun ini Zico lebih sering berada di Bali karena orangtua Zico sedang mempersiapkan Zico untuk menjadi pemimpin perusahaan keluarga yang bergerak di bidang perhotelan yang ada di Bali dan Singapura.


"Kamu mau menetap disana ?" tanya Maura.


"Ada kemungkinan di Bali atau di Singapura..makanya nanti lulus SMA kamu nyusul aku ke Singapura dan kuliah di sana ya " pinta Zico.


"Entahlah..kalau Mommy dan Daddy mengijinkan " jawab Maura.


Selesai nonton Zico mengantarkan Maura pulang. Karena Maura membawa mobil sendiri jadinya Zico mengikuti mobil Maura sampai di rumah Millie.


Setelah memastikan Maura pulang dengan selamat Zico pun langsung pulang ke rumah Om nya karena ia harus segera paking untuk persiapan kepulangannya ke Bali besok pagi.


Maura yang baru turun dari mobil tertegun ketika mendapati Marvin ada di rumahnya.


Marvin terlihat sedang mengobrol serius dengan Wisnu dan terkesan mengabaikan Maura yang baru datang.

__ADS_1


"Sudah pulang kak..Ziko nya tidak mampir ?" tanya Millie yang baru selesai menidurkan Mile dan Malik.


"Tidak Mom katanya buru-buru mau paking besok mau ke Bali lagi " jawab Maura sambil menjatuhkan bokongnya di samping Marvin.


"Om kapan datang..mau nginep disini ya ?" Maura mengganggu Marvin yang sedang ngobrol dengan Wisnu dengan cara mencolek-colek pinggangnya.


Marvin menangkap jari telunjuk Maura agar berhenti mengganggunya.


"Kakak..jahil banget sih kamu. Sini duduknya pindah dekat Daddy " Wisnu menyuruh Maura agar tidak mengganggu Marvin dan duduk didekatnya.


Maura pun pindah duduknya ke samping Wisnu sambil menjulurkan lidahnya kearah Marvin.


Wisnu dan Marvin meneruskan obrolan tentang proyek Palembang tanpa diganggu oleh Maura karena gadis itu mulai terlihat sibuk dengan ponselnya. Meskipun sedang mengobrol dengan Wisnu namun Marvin sesekali mencuri pandang kearah Maura.


Disaat sedang asik mengobrol tiba-tiba Millie memanggil Wisnu.


"Mas..Meysha nangis tuh nyariin " panggil Millie dari kamar.


"Mas tinggal dulu ya.. Meysha kalau tidur harus dikeloni Daddy nya dulu " Wisnu pamit meninggalkan Marvin bersama Maura di ruang keluarga.


Sepeninggalan Daddy nya Maura beringsut mendekat kearah Marvin dan mulai iseng menggoda Om nya yang sedang bete karena Maura pergi dengan Zico.


"Om ganteng kenapa cemberut terus ?" Maura mencolek-colek dagu Marvin.


"Kak bisa diam tidak tangannya " Marvin menangkap jari Maura.


"Galak amat sih Om..baiklah kakak akan diam " jawab Maura beringsut menjauh dari Marvin dengan wajah ditekuk.


"Om pulang dulu ya..bilangin sama Mommy dan Daddy " Marvin menyambar kunci mobilnya yang tergeletak diatas meja lalu ngeloyor pergi meninggalkan Maura.


"Iya " jawab Maura sambil melongo menatap kepergian Om nya.


*


Keesokannya Millie memasukan banyak makanan kedalam mobil Maura karena hari ini putri cantiknya itu akan pulang ke Bandung.


Marvin yang akan mengantarkan Maura ke Bandung sudah datang sejak sepuluh menit yang lalu.


Setelah mengantarkan Maura rencananya malamnya Marvin akan pulang ke Jakarta dengan menggunakan travel.


Setelah semua siap Marvin dan Maura pun pamit kepada Millie dan Wisnu.


"Ingat pesan Mommy..disana jangan merepotkan Opa dan Oma " pesan Millie.


"Iya Mom " jawab Maura sambil naik kedalam mobilnya, begitu juga dengan Marvin yang langsung duduk di kursi kemudi.


"Jalannya santai saja Vin..jangan ngebut " pesan Wisnu.


"Siap Mas " jawab Marvin mulai melajukan mobilnya meninggalkan rumah Wisnu yang megah.

__ADS_1


Sejak mobil melaju meninggalkan rumah Wisnu keduanya saling membisu tidak ada yang bersuara.


Namun setelah beberapa menit kemudian Maura meminta Marvin menghentikan mobilnya.


"Ada apa sih kak..ada yang ketinggalan ?" Marvin terlihat kesal karena Maura menyuruh berhenti tiba-tiba.


"Om tidak usah antarkan aku ke Bandung..aku bisa pulang sendiri " jawab Maura dengan wajah cemberut.


"Sekarang aku akan antarkan Om pulang dulu " Maura hendak mengambil alih kemudi.


"Om akan antar kamu pulang ke Bandung..tidak usah protes !" bentak Marvin.


Maura langsung mengkerut di kursinya dan Marvin pun kembali melajukan mobilnya menuju luar Jakarta.


Di jalan Marvin menyempatkan membeli ayam goreng kesukaan Maura namun sampai setengah perjalanan Maura sedikitpun tidak menyentuhnya.


"Kenapa tidak dimakan ?" Marvin melirik kearah Maura.


"Tidak selera..sepertinya tidak enak " jawab Maura.


"Itu kan ayam goreng kesukaan kamu " ujar Marvin.


"Sekarang sudah tidak suka lagi bosan " jawab Maura sambil menyimpan ayam goreng itu di jok belakang.


Marvin membuang napas kasar. Mode judes Maura mulai keluar.


"Kalau kakak judes begini nanti sopirnya kabur " Marvin mencolek tangan Maura.


"Tadi kan aku sudah bilang kalau aku tidak usah diantar..tapi Om yang maksa " hardik Maura judes.


"Lagian aku lebih nyaman pulang sendiri daripada pulang diantar tapi wajahnya cemberut begitu..Om itu maksa tapi tidak iklas..jadi tidak akan dapat pahala " Oceh Maura.


Marvin yang sudah menyimpan kekesalan sejak dari malam menjadi ingin tertawa mendengar ocehan Maura.


"Lagian apa coba salah aku sama Om tiba-tiba Om wajahnya masam begitu..kalau mangga masam enak dibikin rujak..masa Om mau di rujak juga " Maura terus mengoceh.


"Sudah selesai ngocehnya ?" tanya Marvin sambil tersenyum. Maura melirik kearah Marvin sebal.


"Kakak mau tau kenapa Om kesal sama kakak ?" tanya Marvin.


"Mana aku tau..emangnya aku cenayang " jawab Maura ketus.


"Om itu kesal lihat kakak jalan sama Zico " jawab Marvin lirih.


"Aku baru jalan berapa bulan saja sama Zico kesal..apalagi aku yang melihat Om jalan sama kak Nisa bertahun-tahun " balas Maura.


"Apa kakak bilang barusan ?. coba ulangi lagi " Marvin kaget sekaligus senang mendengar ucapan Maura barusan.


"Bilang apa ?..yang mana ?" Maura tampak bingung. Sepertinya gadis itu tidak menyadari mengoceh apa saja barusan kepada Marvin.

__ADS_1


"Yang barusan kakak bilang "


"Lupa lagi " jawab Maura ketus.


__ADS_2