My Posesif Uncle

My Posesif Uncle
Oo..Kamu Ketahuan


__ADS_3

Setelah mendapatkan kado sebuah mobil baru dari Adam, sore harinya Maura mencoba mobil barunya dengan ditemani oleh Marvin.


Alih-alih mencoba mobil baru akhirnya mereka memutuskan sekalian pergi menikmati malam Minggu berdua.


Marvin dan Maura memutuskan untuk pergi nonton. Kali ini Maura menerima ajakan Marvin untuk nonton film horor.


Tangan Maura memeluk pinggang Marvin ketika mereka memasuki gedung bioskop.


Namun tiba-tiba Marvin dan Maura terlihat gugup ketika mendapati dua pasang mata tengah menatap mereka dengan penuh curiga.


"Kak Nisa..?!" Maura terlihat gugup ketika bertemu dengan Nisa dan Yudhistira.


Maura berusaha menepiskan tangan Marvin yang sedang menggenggam tangannya.


Dalam sekali pandang saja Nisa dan Yudhis bisa menebak jika Marvin dan Maura itu memiliki hubungan yang spesial.


"Kenapa takut..kak Nisa tidak akan marah kok " Nisa tertawa menggoda melihat wajah Maura yang pucat seperti maling yang baru saja tertangkap.


"Sudah ah jangan menggoda..kasian Mauranya " Yudhis membawa Nisa menjauh dari Marvin dan Maura.


Setelah Nisa dan Yudhis pergi, Maura memukuli tangan Marvin.


"Om ini kenapa sih..ada kak Nisa bukannya lepasin dulu tangan akunya " omel Maura.


"Memangnya kenapa ? masa tidak boleh genggam tangan pacar sendiri " ujar Marvin.


"Kalau dilihat kak Nisa kan tidak enak.


nanti sangkanya aku adalah orang ketiga penyebab putusnya hubungan kalian " jawab Maura.


"Tidak usah mikir yang aneh-aneh " Marvin menyentil kening Maura kemudian menuntun gadis remaja itu memasuki gedung bioskop.


Maura yang masih kesal karena Marvin yang tampak tidak peduli akan perasaannya menjadi lebih banyak diam.


"Kenapa cemberut ?" Marvin mencolek dagu Maura.


"Tidak apa-apa " jawab Maura singkat.


"Masih merasa tidak enak karena bertemu Nisa ya " tebak Marvin.


Maura diam..dan diamnya itu Marvin anggap jika Maura memang masih merasa tidak enak karena bertemu dengan Nisa.


"Sayang..Kita itu pacaran setelah Om dan Nisa putus..malah Nisa yang lebih dulu pacaran sama Yudhis dibanding kita..jadi kenapa harus merasa tidak enak ?" tanya Marvin.

__ADS_1


Mendengar penjelasan dari Marvin Maura pun menjadi lebih tenang dan tidak terlalu merasa bersalah.


'Kakak tidak mau dicap sebagai pelakor Om " ujar Maura.


"Kalau kakak pelakor tidak akan mungkin kakak langsung ingin pindah sekolah ke Bandung " jawab Marvin.


"Iya " jawab Maura malu karena Marvin tau alasan utama Maura pindah sekolah ke Bandung.


Maura yang mulai tenang tidak lagi berwajah cemberut. Gadis remaja itu mulai fokus pada film yang ditontonnya sambil sesekali menyembunyikan wajahnya di dada Marvin karena takut. Marvin pun memanfaatkan Maura yang takut dengan memeluk dan menciumi gadis remaja itu.


Setelah selesai nonton mereka mendatangi sebuah cafe milik teman Marvin.Disana banyak banyak pasangan muda seperti mereka yang menghabiskan malam Minggu karena tempatnya yang sangat bagus dan romantis.


"Kak..setelah Om pikir-pikir sebaiknya kita jujur saja mengenai hubungan kita kepada Papih dan Mamih juga Mommy dan Daddy..Om tidak mau kita sembunyi-sembunyi terus seperti ini " ucap Marvin ketika mereka sedang duduk sambil menikmati makanan dan minuman dengan ditemani alunan lagu romantis.


"Kakak belum berani Om..Om dan kak Nisa belum lama putusnya..kakak tidak mau mereka beranggapan jika kakak adalah penyebab Om dan kak Nisa putus..selain itu kakak takut jika mereka tidak merestui kita " jawab Maura.


"Kan belum tentu orangtua kita tidak kasih restu " ujar Marvin.


"Pokoknya kakak belum siap..kalau Om memaksa lebih baik kita putus saja " ancam Maura.


"Enak saja minta putus.. ingat..kita itu sudah terikat kontrak selama seumur hidup " Marvin menyentil kening Maura.


"Aku tidak peduli..kalau Om maksa aku mau kita putus " jawab Maura kekeh.


"Sampai aku lulus SMA " jawab Maura.


"Baik..Om pegang omongan kakak " ucap Marvin..Maura mengangguk.


Meski terpaksa akhirnya Marvin mau mengikuti keinginan Maura. Marvin mengerti jika Maura membutuhkan waktu untuk menyiapkan mental menghadapi keluarga nya yang juga keluarga Marvin.


Karena malam semakin larut Marvin dan Maura pun memutuskan untuk pulang. Mereka tidak ingin orangtua mereka curiga jika pulang terlalu larut.


Pada saat pulang Marvin membiarkan Maura yang mengendarai mobilnya.


"Kakak sudah enak nyetirnya " puji Marvin.


"Makanya kalau aku pulang ke Jakarta bawa mobil itu jangan dilarang " ucap Maura.


"Kalau Om tidak jemput lebih baik pake travel saja..disini kan sekarang kakak punya mobil sendiri " jawab Marvin.


"Tapi kan Om.."


"Tidak usah membantah..kakak harus nurut sama Om " ucap Marvin tegas.

__ADS_1


"Iya deh Om cerewet " jawab Maura.


Setibanya di rumah suasana sudah sepi. Lampu kamar Millie dan Wisnu sudah padam menandakan jika mereka sudah tidur.


Pada saat Maura keluar dari mobil pria tampan itu masih sempat-sempatnya merengkuh pinggang Maura dan mencuri satu ciuman di bibir mungil Maura.


"Ooom ih..nanti ada yang lihat " Maura berusaha mendorong tubuh Marvin yang memepet nya ke pintu mobil.


"Satu kali saja " jawab Marvin sambil mengecup bibir Maura sekilas.


Meskipun singkat namun sialnya mereka tidak menyadari jika Adam dan Mikha memperhatikan mereka sejak mobil Maura memasuki halaman rumahnya yang luas.


"Ya Tuhaan...Abang..sepertinya kecurigaan kita selama ini benar " Mikha melotot menatap kearah Marvin dan Maura yang baru saja saling melepaskan diri sambil menutup mulutnya.


Adam yang juga ikut melihat dari balik gorden hanya bisa terdiam dan tidak bisa berkata apa-apa.


Adam tidak tau harus bersikap seperti apa. Ia sama sekali tidak menyangka jika Marvin dan Maura ternyata menjalin hubungan yang tidak sewajarnya layaknya Om dan Keponakan.


Awalnya Adam dan Mikha tidak melihat ada yang aneh diantara mereka.


Maura dari kecil yang memang sudah manja kepada Marvin tidak membuat Adam dan Mikha melihat ada yang aneh diantara mereka.


Adam dan Mikha baru merasa ada sesuatu yang aneh ketika Maura mengatakan jika ia diberi kado ulang tahun berupa cincin berlian oleh Marvin.


Setahu Mikha sewaktu pacaran dengan Nisa pun Marvin tidak pernah membelikan cincin semahal itu, bahkan sewaktu akan tunangan pun Mikha dan Millie lah yang mencarikan cincin untuk pertunangan mereka.


"Apa yang harus kita lakukan Bang ?" tanya Mikha bingung.


"Tidak usah ribut..dan sebaiknya jangan dulu beritahu kakak Millie takutnya menjadi heboh dan bikin Maura tertekan " saran Adam.


Adam sudah cukup mengenal bagaimana karakter cucu sambungnya itu.Dan ia tidak mau membuat Maura menjadi sungkan kepadanya.


"Lalu kita harus bagaimana..masa kita biarkan mereka seperti itu.. aku takut mereka akan semakin jauh dan Khilap " Mikha terlihat bingung.


Mikha tidak mau Marvin mengikuti jejak Adam, apalagi wanita nya adalah Maura cucu sambungnya sendiri yang selama ini mereka sayangi dan perlakukan seperti putri.


"Kita tanya Marvin saja..tapi jangan sekarang. Tunggu Maura kembali ke Bandung dulu " jawab Adam.


"Semoga Marvin tidak seperti kamu dulu " ucap Mikha.


"Sayaaang..sudah dong jangan bahas masa lalu. Sekarang kan Abang sudah insaf..Abang yakin Marvin tidak akan berbuat diluar kontrol " ucap Adam.


"Semoga saja " jawab Mikha.

__ADS_1


__ADS_2