
Pagi-pagi sekali Marvin dan Wisnu sudah siap akan pergi memancing demi memenuhi keinginan Maura yang ingin makan ikan goreng hasil pancingan sendiri.
Millie sudah menyiapkan bekal makanan yang cukup untuk kedua pria tampan itu.
"Pake topi biar Daddy dan Om Marvin tidak kepanasan " Maura memakaikan topi kepada Marvin dan Wisnu.
Setibanya di kolam pemancingan mereka pun mulai mencari peruntungan dengan memancing ikan.
"Vin..kamu yakin kita akan dapat banyak ikannya ?" tanya Wisnu setelah beberapa lama mereka belum juga mendapatkan satu ekor pun ikan.
"Mudah-mudahan Mas " jawab Marvin.
"Akhirnya dapat juga.. Maura pasti senang " Marvin tampak girang ketika mendapatkan ikan yang cukup besar.
Namun Marvin terlihat geram ketika ikan hasil tangkapannya tiba-tiba lepas ketika akan ia masukan kedalam ember.
Kekecewaan Marvin semakin menjadi ketika tiba-tiba hujan turun sangat deras.
"Sepertinya mancingnya harus kita sudahi Vin..hujan begini yang ada kita malah sakit nantinya " ujar Wisnu.
"Tapi Mas..nanti Maura kecewa kalau kita pulang tidak membawa ikan " Marvin masih berniat bertahan meskipun hujan turun sangat deras bahkan disertai petir.
"Sudah..mancingnya kita lanjutkan nanti saja setelah hujannya berhenti " Wisnu menarik paksa adik ipar sekaligus menantunya menjauh dari kolam.
Marvin dan Wisnu menunggu hujan reda sambil menikmati kopi panas yang mereka pesan di warung dekat kolam pemancingan.
"Inilah perjuangan ketika istri mengidam..ini sih menurut Mas permintaan yang wajar..ada loh istri yang mengidam ingin melihat suaminya pakai kostum badut " ujar Wisnu sambil menyesap kopinya.
"Masa sih Mas ?" Marvin terkekeh.
"Kalau Maura menginginkan kamu pake kostum badut mau kamu turut tidak ?" tanya Wisnu.
"Walaupun terpaksa akan aku turut Mas " jawab Marvin yakin.
"Semoga saja Maura tidak meminta yang aneh-aneh sama kamu " Wisnu menepuk bahu Marvin.
Pada saat menunggu hujan reda, Maura beberapa kali menelpon Marvin dan menanyakan apakah Marvin mendapat ikan banyak.
Tidak ingin mengecewakan Maura Marvin pun terpaksa berbohong dengan mengaku jika ia dan Wisnu sudah mendapatkan ikan yang banyak.
Ketika hari semakin sore dan hujan masih belum juga reda Marvin dan Wisnu mulai terlihat gelisah.
Awalnya Marvin memaksakan diri hendak kembali memancing namun dilarang oleh Wisnu.
"Aku tidak tega melihat Maura kecewa Mas..apalagi tadi aku terlanjur berbohong bilang dapat ikan yang banyak..Maura pasti marah karena aku sudah bohong " Marvin tampak bingung.
"Karena hari sudah sore dan hujan belum juga berhenti, lebih baik kita pulang saja..di jalan kan ada tempat penjualan ikan segar..lebih baik kita beli disana saja..Maura juga tidak akan tau " saran Wisnu.
Marvin yang tidak mempunyai pilihan lain akhirnya menyetujui saran dari Wisnu.
__ADS_1
Marvin dan Wisnu akhirnya memutuskan untuk pulang, namun sebelum pulang mereka mampir di tempat penjualan ikan segar dan membeli beberapa kilo ikan segar disana.
"Maura pasti senang kita pulang bawa ikan yang banyak. Dia tidak usah tau jika ikan-ikan ini bukan dapat mancing tapi dapat beli " ujar Wisnu sambil memasukan plastik berisi ikan segar itu ke bagasi mobil Marvin.
"Iya Mas " jawab Marvin.
Sebetulnya Marvin tidak tega jika harus membohongi Maura, namun ia lebih tidak tega lagi melihat Maura kecewa jika ia tidak membawa ikan satu pun.
Sebelum magrib Wisnu dan Marvin pun sampai ke rumah. Maura tampak senang ketika Marvin menurunkan plastik berisi ikan dari dalam mobilnya.
"Asyiiik ikannya dapat banyak " Maura mencium pipi Wisnu dan Marvin bergantian.
Wisnu dan Marvin diam-diam saling lirik dengan wajah bersalahnya.
"Sekali-kali berbohong demi menyenangkan istri tidak apa-apa Vin " bisik Wisnu.
"Iya Mas " jawab Marvin lirih.
Setelah membersihkan diri Marvin pun mulai bersiap-siap ke dapur dan memakai afronnya karena Maura ingin makan ikan goreng masakan Om kesayangannya.
Setelah hampir satu jam berkutat dengan penggorengan akhirnya Marvin pun selesai membuatkan ikan goreng untuk Maura dan seluruh keluarganya.
"Ikan goreng buatan kamu enak Vin " puji Adam sambil mengambil ikan goreng keduanya.
"Iya Vin..rasanya enak tidak kalah sama masakan restoran Sunda " puji Millie.
"Aku juga " Malik tidak mau ketinggalan.
"Ikan gorengnya enak..tapi rasanya beda sama yang kemarin " ujar Maura lirih.
"Masa sih kak..menurut Mamih sama kok dengan yang kemarin " kilah Mikha.
"Iya sama..tidak ada bedanya sama sekali " timpal Millie.
"Kakak tidak tau..tapi rasanya menurut kakak tidak sama dengan yang kemarin " jawab Maura kekeh.
Marvin dan Wisnu saling pandang. Ternyata Maura sangat peka dan dapat merasakan jika ikan itu bukan dari hasil pancingan mereka seperti harapan Maura namun dapat membeli.
Meskipun Maura mengaku jika ikan goreng kali ini berbeda dari yang kemarin namun wanita cantik itu tetap mau memakannya karena menghargai usaha dan kerja keras Marvin dan Daddy nya.
Meskipun Maura tidak lagi protes namun Marvin dilanda perasaan bersalah karena sudah membohongi istrinya.
Setelah selesai makan malam Maura dan Marvin masuk ke kamar mereka.
Maura yang memiliki tugas kuliah tampak anteng dengan laptop dan beberapa modul yang berserakan di atas meja.
"Sayang..mau dibantu ?" Marvin yang datang dengan segelas susu hamil ditangannya menawarkan diri untuk membantu Maura mengerjakan tugas kuliahnya.
Maura mengambil susu coklat dari tangan Marvin dan meminumnya hingga habis.
__ADS_1
"Tidak usah..kakak kasian kamu kan sudah lelah setelah seharian mancing..terus masaknya juga kan kamu Sayang " Maura menolak tawaran Marvin untuk membantu tugas kuliahnya.
Melihat Maura yang begitu pengertian kepadanya membuat Marvin semakin dihinggapi rasa bersalah karena telah membohongi Maura.
Marvin menatap Maura yang tampak serius mengerjakan tugas kuliahnya.
Marvin yang merasa sangat bersalah diam-diam menghampiri Maura kemudian duduk disamping Maura.
"Sayang..aku mau bilang sesuatu sama kamu..tapi kamu jangan marah ya " ucap Marvin dengan sangat hati-hati.
"Tentang apa Sayang ?" tanya Maura sambil membetulkan kacamata yang sedikit melorot di hidung mancungnya.
"Ehmm..tentang sebuah pengakuan " jawab Marvin pelan.
Maura memiringkan tubuhnya kemudian menatap Marvin dalam.
"Jangan bilang kamu akan mengaku kalau kamu sudah selingkuh dibelakang aku !" tuduh Maura.
"Bukan itu Sayang..aku tidak mungkin selingkuh dari kakak " Marvin menyentil kening Maura.
"Pengakuan apa..jangan bikin kakak penasaran Sayang " Maura semakin penasaran.
"Aku akan bilang..tapi janji kakak jangan marah " ucap Marvin.
"Bagaimana nanti saja " jawab Maura.
"Ayo dong Sayaaang bilang..kakak kan jadi penasaran " Maura menarik-narik tangan Marvin memaksa agar suaminya itu bicara.
"Aku..ehhmmm..tadi sebetulnya aku dan Mas Wisnu tidak mendapat ikan satu ekor pun karena hujan..jadi ikan yang tadi kita bawa itu sebetulnya bukan dapat mancing tapi dapat beli " aku Marvin.
"Jadi ikan-ikan itu dapat beli bukan dapat mancing ?" Maura langsung melotot.
"Iya Sayang..maaf ya kita tidak tega melihat kakak kecewa jadi kita terpaksa membohongi kakak "
"Pantas saja tadi rasanya berbeda dari ikan yang kemarin..lagian kamu itu kenapa pake bohong segala sih ? padahal kakak juga tidak akan marah kalau kamu jujur " omel Maura.
"Maaf Sayang " Marvin menyusupkan kepalanya di bahu Maura.
"Kakak jangan marah ya Sayang " pinta Marvin memelas.
"Tidak..kakak ngerti kok " jawab Maura sambil bangkit kemudian naik keatas ranjangnya.
"Tugas kuliahnya sudah selesai ? kenapa laptopnya tidak dimatikan ?" tanya Marvin.
"Belum selesai kakaknya keburu lelah..kamu saja Sayang yang kerjakan " jawab Maura dengan wajah yang cemberut.
"Baiklah " jawab Marvin mengerti.
Marvin pun mulai menjalani hukumannya karena sudah membohongi istri kecilnya.
__ADS_1