
Memasuki liburan kenaikan kelas Nisa mengajak Maura untuk berlibur di villa nya di Lembang. Ini adalah salah satu cara Nisa untuk memperbaiki hubungannya dengan Maura.
Pada awalnya Maura menolak secara halus ajakan dari Nisa, namun karena Nisa mengatakan akan mengajak Selina dan Silva juga akhirnya Maura menerima ajakan Nisa.
Beberapa hari sebelum keberangkatan mereka ke Lembang, Nisa membeli beberapa baju couple untuk dipakai dengan Maura.
Nisa sangat berharap dengan mengajak berlibur bersama dan memakai baju seragaman hubungannya dengan Maura akan kembali seperti dulu.
Marvin yang sedang sibuk dengan pekerjaannya hanya bisa mengantarkan keempat gadis itu sampai ke Villa dan ia langsung pulang lagi ke Jakarta hari itu juga.
Meskipun memiliki banyak kamar namun Nisa meminta Maura untuk tidur bersamanya.
Selina dan Silva tidur di kamar yang berada tepat di sebelah kamar Maura dan Nisa.
Nisa sengaja meminta Maura tidur dengannya agar ia bisa memiliki kesempatan untuk kembali mendekati Maura dan memperbaiki hubungan mereka yang sedang renggang.
Malam pertama tidur dengan Maura Nisa banyak mengingatkan masa-masa kecil Maura yang selalu mengikuti kemanapun Marvin pergi.Dan itu cukup ampuh mencairkan kekakuan diantara mereka.
"Kamu itu sudah seperti bayangan Om Marvin saja, dimana ada Marvin disitu pasti ada kamu " ucap Nisa yang membuat Maura tersenyum malu.
"Dulu kan aku masih kecil kak..aku belum mengerti kalau aku itu sudah ganggu kencan kakak sama Om Marvin " jawab Maura.
"Dulu kakak itu merasa seperti sedang pacaran dengan duda beranak satu " Nisa tertawa mengingat bagaimana lengketnya Maura kepada Marvin dulu.
"Tapi kamu itu membuka jalan kakak sama Om Marvin jadian. Om Marvin itu disekolah banyak yang naksir tapi susah untuk didekati "
"Masa sih kak ?" tanya Maura dengan mata membola.
"Beneran..sejak sering ketemu kamu kakak jadi punya kesempatan dekat dengan Om Marvin dan akhirnya kita jadian " sambung Nisa.
"Bukan karena aku..tapi kalian memang sudah berjodoh " jawab Maura.
"Kamu masih ingat tidak waktu pertama kali kita bertemu ?" tanya Nisa. Maura mengangguk.
"Kita bertemu di toko sepatu..terus ke toko buku " jawab Maura.
"Iya betul..waktu itu beli sepatu saja Om Marvin ngajak kamu " ujar Nisa mengingat pertemuan pertama nya dengan Maura.
"Waktu itu aku yang maksa ingin ikut dengan Om Marvin " jawab Maura malu.
"Waktu itu aku bohong bilang mau beli alat tulis padahal aku ingin ikut dengan Om Marvin " sambung Maura.
"Ya ampuun kakak..nakal kamu " Nisa mencubit ujung hidung Maura dengan gemas.
"Tapi sampai sekarang kamu juga masih nakal " ujar Nisa sambil duduk bersila diatas kasur.
"Tidak..siapa bilang ?" Maura melotot.
"Buktinya kamu berani kempesin ban mobil kak Yudhis..apa bukan nakal itu namanya ?" tanya Nisa.
"Terus..kamu pernah ngancam Kak Yudhis ya agar jangan dekati kakak ?"
tanya Nisa lagi.
"Kak Yudhis ngadu ya sama kak Nisa?" Maura balik bertanya. Nisa mengangguk.
"Aku itu tidak mau melihat Om Marvin terluka kalau kak Yudhis mengambil kakak dari Om Marvin " jawab Maura.
__ADS_1
Nisa melongo menatap wajah cantik Maura dengan tatapan tidak percaya. Nisa baru sadar jika rasa sayang Maura kepada Om nya ternyata begitu besar.
Tanpa Maura dan Marvin sadari jika mereka sebetulnya saling melindungi satu sama lain dengan caranya masing-masing.
Marvin melindungi Maura dengan sikapnya yang over protektif sedangkan Maura melindungi Marvin dengan keberaniannya mengancam Yudhis agar menjauhi Nisa.
Meskipun kebekuan antara Nisa dan Maura mulai sedikit mencair, namun entah mengapa Nisa merasa jika hubungan Marvin dengan Maura sangatlah kokoh seperti batu karang di lautan.
Meskipun Marvin dan Maura terkesan saling menjaga jarak namun mereka saling menyayangi dan melindungi satu sama lain meskipun berusaha mereka sembunyikan dengan sangat rapi.
Sebelum tidur Nisa menyempatkan diri melakukan panggilan video kepada Marvin.
Sebelum melakukan panggilan video mereka terlebih dahulu memakai piyama kembaran.
Begitu tersambung seraut wajah tampan Marvin yang terlihat bingung muncul di layar ponsel Nisa.
"Kalian tidur satu kamar?" tanya Marvin
"Iya..kita habis ngobrol panjang lebar, kangen banget sudah lama tidak ngobrol sama Maura " jawab Nisa riang.
"Kamu kapan menyusul kesini ?" tanya Nisa menatap Marvin penuh kerinduan
"Mungkin lusa " jawab Marvin.
Tidak ingin mengganggu Nisa dan Marvin mengobrol Maura pun memilih pergi ke kamar sebelah tempat Selina dan Silva berada.
*
Dua hari kemudian Marvin benar-benar menyusul ke villa. Nisa terlihat sangat senang ketika mobil Marvin masuk ke halaman villa nya yang luas.
Marvin sengaja membawa banyak makanan dari Jakarta untuk persediaan selama mereka di Villa.
"Kamu bawa makanan banyak sekali " Nisa menggamit tangan Marvin dan dibawa masuk kedalam.
"Takutnya kalian kelaparan disini " jawab Marvin.
"Ya ampun sayang..masa aku tega biarin tamu aku yang cantik-cantik itu kelaparan " jawab Nisa sambil tertawa.
Pada malam harinya mereka berlima membuat pesta barbeque di halaman villa.Rupanya Marvin sudah mempersiapkan nya dengan lengkap dari Jakarta.
Marvin yang bertugas di bagian pembakaran memisahkan beberapa sosis yang tidak terlalu matang untuk Maura.
"Kenapa ini dipisah Vin ?" tanya Nisa ketika menemukan beberapa sosis yang terpisah dari Bakaran.
"Untuk Maura..dia tidak suka sosis yang dibakar terlalu matang " jawab Marvin.
"Oh..buat Maura ya " jawab Nisa berusaha bersikap biasa. Meski hatinya sedikit tercubit namun ia berusaha berpikir positif dan menyembunyikan rasa cemburunya yang tiba-tiba muncul kembali.
Selama pesta barbeque Marvin beberapa kali mencuri pandang kepada Maura yang mulai terlihat kembali akrab lagi dengan Nisa.
Marvin tersenyum tipis ketika Maura sedikit menjulurkan lidah kearahnya ketika pandangan mereka bertemu.
Selesai acara pesta barbeque mereka semua kembali ke kamar masing-masing.Kecuali Marvin yang memilih menonton tv di ruang keluarga sendirian.
Malam yang dingin ditambah hujan turun cukup deras membuat Nisa, Maura, Selina dan Silva cepat tertidur di kamar mereka.
Maura terbangun ketika merasakan tenggorokannya haus. Perlahan Maura turun dari ranjang kemudian beranjak menuju dapur.
__ADS_1
Ketika akan ke dapur Maura melewati ruang keluarga dimana Marvin masih berada disana sedang menonton tv.
"Kakak mau kemana ?" tanya Marvin
"Mau ambil minum Om haus " jawab Maura.
"Kenapa Om..mau diambilkan minum juga ?" tanya Maura.
"Om mau kopi..tapi biar Om saja yang bikin " jawab Marvin. Ia tidak tega menyuruh Maura untuk membuatkan kopi untuknya.
"Tidak apa-apa Om aku saja yang buatkan " Maura berniat membuatkan kopi untuk Marvin.
Maura terpaksa harus membuat air panas terlebih dahulu karena dispenser air galonnya habis.
Setelah sepuluh menit berlalu Maura pun selesai membuatkan kopi untuk Marvin.
"Ini Om kopinya " Maura meletakan cangkir kopi di atas meja.
"Terimakasih kak " jawab Marvin.
Setelah meletakkan cangkir kopi di meja, Maura kembali ke dapur untuk mengambil air minum yang akan dibawa ke kamarnya agar jika haus ia tidak bolak-balik ke dapur.
Ketika berada di dapur Maura terpekik ketika lampu tiba-tiba padam.Maura yang panik berusaha mencari pegangan namun tubuhnya malah menabrak kursi dan Maura pun nyaris terjatuh.
Marvin yang berada tidak jauh dari dapur berusaha mencari keberadaan Maura karena ia sempat mendengar suara kepanikan Maura di dapur.
"Kakak..kamu dimana ?" Marvin berusaha mencari Maura.
"A.. aku disini Om " jawab Maura.
Setelah berusaha menggapai akhirnya Marvin pun berhasil menemukan Maura yang tengah berjongkok didekat meja makan.
"Bangun kak " Marvin menarik tangan Maura agar bangun.
"Aku takut Om " jawab Maura terisak.
"Sstt..jangan takut ada Om disini " Marvin berusaha menenangkan Maura dengan cara memeluknya.
"Om..aku takut " Maura terisak dalam pelukan Marvin.
Marvin menenangkan Maura dengan mengusap-usap punggungnya. Karena merasa tenang dan nyaman tangis Maura pun berhenti.
"Sudah lama sekali Om tidak pernah peluk kamu seperti ini " ucap Marvin sambil mencium puncak kepala Maura.
"Kakak sekarang sombong..sudah tidak butuh Om lagi dan sudah tidak sayang Om lagi " ujar Marvin dengan suara lirih.
"Siapa bilang " jawab Maura sambil memeluk pinggang Marvin dan menenggelamkan wajahnya di dada Marvin yang hangat.
Sudah lama Maura tidak pernah mencium aroma tubuh Om nya yang lembut dan menenangkan.Tidak bisa dipungkiri jika Maura pun sangat merindukannya.
Marvin dengan enggan melepaskan pelukan hangatnya ditubuh Maura ketika lampu kembali menyala.
Baru saja mereka saling melepaskan diri tiba-tiba keduanya terhenyak ketika mendapati Nisa tengah berdiri dipintu dapur dan menatap nanar kearah Maura dan Marvin yang terlihat panik dan buru-buru saling menjauh.
"Kak Nisa...?"
"Nisa...?"
__ADS_1