
Marvin mengantarkan semua teman-teman Maura ke rumah masing-masing.
Setelah Velia yang terakhir turun Maura dan Marvin pun melanjutkan perjalanan pulang.
"Pulang ke rumah Papih ya " ucap Marvin sambil melirik sekilas kearah Maura.
"Ke rumah aku saja Om..soalnya besok aku sekolah pagi " jawab Maura.
"Nanti subuh Om antar pulang "
"Ke rumah saja Om " pinta Maura kekeh.
Marvin pun mengantarkan Maura ke rumah Wisnu.
"Bagaimana bisa kalian barengan ?" Wisnu menatap Maura dan Marvin yang baru turun dari mobil.
"Aku habis dari rumah teman di Bandung mampir..makanya pulangnya bareng " jawab Marvin.
"Iya Dad..lumayan irit ongkos " jawab Maura sambil tersenyum kearah Marvin.
"Enak saja..kamu harus bayar tau " ujar Marvin.
"Tidak mau " jawab Maura sambil berlalu ke kamarnya.
"Kakak..bilang terimakasih dong sama Om kamu " omel Wisnu.
Mendapat Omelan dari Daddy nya Maura pun kembali lagi.
"Terimakasih Om ku yang ganteng dan baik hati juga tidak sombong tapi pelit " ucap Maura sambil mencubit kedua pipi Marvin.
"Kak..sakit tau " Marvin meringis sambil memegang pipinya.Maura tertawa sambil berlari ke kamarnya.
"Enak saja bilang pelit..masih untung Om jemput kamu ke Bandung " gumam Marvin.
"Dasar anak itu " Wisnu hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan anak gadisnya yang menurutnya masih seperti anak kecil.
Namun dalam hati Wisnu merasa ada yang janggal karena barusan Marvin tidak sengaja mengatakan jika ia menjemput Maura ke Bandung, padahal sebelumnya Marvin mengatakan jika ia mampir setelah pulang dari rumah teman.
Meskipun merasa ada sesuatu yang janggal dengan ucapan Marvin namun Wisnu tidak mempermasalahkan nya karena putrinya sudah pulang dengan selamat.
Setelah mengantarkan Maura Marvin pun pamit pulang. Marvin menolak ketika Millie dan Wisnu menyuruh menginap.
Keesokannya pada saat Marvin dan Nisa makan siang bersama, Nisa menanyakan mengenai kepergian Marvin ke Bandung yang tiba-tiba.
"Aku janjian sama teman " jawab Marvin singkat.
Nisa terlihat tidak puas dengan jawaban Marvin. Ia merasa heran karena sebelumnya Marvin tidak mengatakan ada janji dengan temannya di Bandung.
__ADS_1
"Terus bagaimana kamu bisa sama Maura ?" tanya Nisa lagi.
"Aku mampir ke rumah orangtua mas Wisnu, kebetulan Maura dan teman-temannya sedang menginap disana " jawab Marvin.
"Kamu juga menginap disana ?"
"Ya.." jawab Marvin.
"Ooh " gumam Nisa.
Mendengar Marvin menginap di rumah orangtua Wisnu disaat Maura juga sedang menginap disana tak urung membuat Nisa sedikit cemburu.
Nisa tidak tau kenapa perasaan itu tiba-tiba muncul padahal Nisa tau sendiri bagaimana dekatnya hubungan Om dan keponakannya itu dari Maura kecil.
"Nanti kalau aku ke Bandung lagi aku pasti akan ajak kamu " Marvin menyentuh jari Nisa.
"Janji ya " pinta Nisa. Marvin mengangguk.Seketika kekesalan Nisa pun menguap.
Setelah makan siang selesai Marvin mengantarkan Nisa kembali ke kampus sebelum ia kembali ke kantornya.
Ketika dalam perjalanan mengantar kan Nisa ke kampus, mereka berpapasan dengan segerombolan anak remaja berseragam putih abu.
"Nekad sekali mereka pada tidak pake helm..dasar anak-anak nakal, tidak peduli pada keselamatan sendiri " sungut Marvin.
"Namanya juga remaja Vin..dulu kita juga seperti itu " ucap Nisa sambil tertawa mengingat masa-masa SMA mereka.
Marvin hanya mendengus sambil melajukan mobilnya perlahan karena beberapa motor remaja itu menyalip dan menghalangi jalannya.
Marvin mengikuti arah pandang Nisa dan seketika matanya langsung melotot ketika dilihatnya Maura ada dalam rombongan pelajar itu. Dan yang membuat Marvin geram adalah Maura dibonceng dengan kaki mengangkang sehingga paha mulusnya sedikit terlihat meski Maura menutupi dengan tasnya.
Marvin menekan klakson menyuruh agar motor yang membawa Maura menepi.
Teman Maura yang membonceng Maura pun menepikan motornya, begitu juga dengan Marvin yang langsung menepikan mobilnya di belakangnya.
"Masuk ke mobil !" titah Marvin sambil melotot.
"Tapi Om..aku..."
Belum selesai Maura menjawab Marvin langsung memotong " Om bilang masuk ke mobil !"
Maura pun akhirnya masuk ke dalam mobil Marvin. Nisa hanya diam membisu melihat Marvin yang begitu marah melihat Maura dibonceng temannya.
Maura yang duduk di kursi belakang langsung mengkerut siap menerima Omelan dari Marvin.
"Mau kemana kamu ?" tanya Marvin galak.
"Mau makan ke rumah teman aku.. mau nengok dia abis kecelakaan " jawab Maura lirih.
__ADS_1
"Mau nengok teman yang habis kecelakaan tapi pake motor..tidak pake helm pula..apa kamu tidak takut bernasib seperti teman kamu yang akan kamu tengok ? Om yakin pasti teman-teman kamu itu belum punya SIM " omel Marvin.
"Kenapa tidak pergi sama Adi saja.. biasanya kamu suka pergi sama dia "
"Adi juga nebeng motor teman karena rumah teman aku masuk gang kecil " jawab Maura.
"Vin..sudah jangan dimarahin Mauranya kasian " ucap Nisa dengan suara pelan.
Nisa mulai tidak tega melihat Maura yang mulai terisak di kursi belakang. Sebetulnya alasan Maura dan teman-temannya pergi naik motor juga sangat masuk akal.
Dan alasan Marvin memarahi Maura juga sangat wajar. Namun cara Marvin memarahi Maura menurut Nisa terlalu berlebihan.
Seharusnya Marvin memberi pengertian terlebih dahulu kepada Maura dan tidak langsung memarahinya.
Ketika mobil Marvin telah sampai di kampus Nisa, sebelum turun Nisa sempat berusaha menenangkan Maura yang terus menangis karena sepanjang jalan mendapat Omelan dari Marvin.
"Pindah ke depan " titah Marvin setelah Nisa turun.
"Tidak mau " jawab Maura.
"Kamu pikir Om sopir kamu ?"
"Aku tidak meminta Om ngantar aku, aku bisa pulang sendiri " jawab Maura diantara tangisnya.
Karena Maura bersikeras menolak duduk di depan akhirnya Marvin pun mengalah, ia melajukan mobilnya menuju rumah Wisnu.
Sepanjang perjalanan Maura terus terisak sambil membuang pandangannya melalui kaca.
Marvin sesekali melirik kearah Maura melalui central mirror, gadis itu tampak membuang muka tidak mau melihat kearahnya.
"Kak..Om itu memarahi kakak karena Om peduli..Om tidak mau sampai terjadi apa-apa sama kakak " ucap Marvin lirih.
"Om tidak mau sampai kejadian yang menimpa teman kakak sampai menimpa kakak "
Marvin tidak lagi menyebut Maura dengan kamu lagi seperti pada saat ia memarahi Maura tadi.
Maura tidak bergeming, ia tetap mengarahkan pandangannya ke jendela kaca.
Meskipun Marvin sudah menjelaskan alasan kenapa ia sampai memarahi Maura namun tidak berhasil membuat kekesalan Maura kepada Om nya itu hilang.
Maura sudah terlanjur malu kepada teman-teman nya karena Marvin sudah menciduknya di jalan.
Melihat Maura yang tidak bergeming akhirnya Marvin pun tidak berbicara lagi.
Melihat Maura yang menangis seperti itu tak urung membuat hatinya tidak tega. Dan Marvin sedikit menyesal karena tidak dapat mengendalikan emosinya.
Setibanya di rumah Wisnu, Maura langsung turun dari mobil sambil membanting pintu mobil Marvin dengan kencang.
__ADS_1
Marvin hanya diam sambil menatap Maura yang masuk kedalam rumah tanpa menoleh lagi kearahnya.. Maura sepertinya benar-benar marah.
Setelah Maura menghilang dibalik pintu, Marvin pun melajukan mobilnya menuju kantornya.