My Posesif Uncle

My Posesif Uncle
Calon Papa


__ADS_3

Sepulang kuliah Maura mampir ke sebuah pusat perbelanjaan.Wanita cantik itu terlihat masuk ke sebuah toko khusus pakaian dalam.


Disana Maura membeli pakaian dalam untuknya dan untuk Marvin. Ini adalah untuk yang pertama kalinya Maura membeli pakaian dalam untuk Marvin setelah hampir satu bulan menikah.


Meskipun baru pertama kali namun wanita cantik itu tampak sudah sangat hapal ukuran ce lana dalam suaminya.


Selain membeli pakaian dalam Maura juga membeli beberapa lingerie super seksi untuknya.


Marvin pasti akan senang jika malam nanti ia memakai baju menerawang itu.


Selain berbelanja pakaian dalam, Maura juga membeli parfum untuk Marvin.


Maura yang dari kecil selalu membuntuti kemanapun Marvin pergi tentu sudah sangat hapal merk parfum yang biasa Marvin pakai.


Keluar dari toko parfum Maura masuk ke butik baju wanita dewasa. Setibanya disana Maura sedikit tertegun ketika mengingat dulu ia sering berbelanja dengan Nisa.


Dulu mereka sering membeli baju couple dan akan mereka pakai jika pergi bersama.


Maura tidak mengerti dengan takdir Tuhan ketika akhirnya hubungan Marvin dan Nisa malah putus dan kini ia lah yang menjadi istri Marvin.


Tangan Maura terulur mengambil sebuah mini dress berwarna biru muda disaat yang bersamaan ada seorang wanita yang juga akan mengambil dres itu.


Maura sangat terkejut ketika menyadari jika wanita itu adalah Nisa.


"Kak Nisa ?"


"Maura ?"


Kedua wanita itu langsung berpelukan senang karena tidak menyangka akan bertemu disana.


Karena mini dress berwarna biru itu hanya tinggal satu akhirnya Nisa menyuruh Maura saja yang mengambilnya.


"Kakak saja yang ambil..aku cari yang lain saja " Maura menolak.


"Kamu saja yang ambil..dimana-mana kakak yang mengalah sama adiknya, biar kakak cari yang lain " Nisa mencubit pipi Maura dengan gemas.


Meskipun sudah menikah namun Maura terlihat masih ABG seperti anak SMA.


"Baiklah kalau begitu..tapi baju kakak aku yang bayar " jawab Maura memaksa.

__ADS_1


Nisa tampak berpikir sejenak, namun sejurus kemudian ia pun tersenyum.


"Baiklah " jawab Nisa.


"Aku baru dapat honor pemotretan kak " bisik Maura sambil tersenyum.


"Oh ya..pantas mau beliin kakak baju " Nisa kembali mencubit pipi Maura.


Selesai berbelanja baju mereka melanjutkan dengan makan siang bersama di sebuah restoran yang ada disana.


Pada saat makan tiba-tiba Nisa meminta teh manis hangat kepada pelayan restoran karena merasa perutnya yang sedikit tidak nyaman.


"Kakak sakit ?" tanya Maura khawatir sambil menatap Nisa yang tampak berkeringat meskipun di ruangan itu cukup dingin.


"Entahlah..perut kakak tiba-tiba tidak enak dan sedikit mual " jawab Nisa.


Nisa pun buru-buru pamit pergi ke toilet ketika makanan yang baru saja ia telan seperti yang ingin keluar lagi .


Setibanya di toilet Nisa pun memuntahkan semua makanan yang baru saja masuk ke perut nya.


Maura yang merasa khawatir dengan kondisi Nisa menyusul ke toilet kemudian mengusap-usap punggung Nisa dengan minyak kayu putih yang selalu ada di dalam tasnya.


Di jalan Nisa menghubungi Yudhis. Yudhis yang khawatir akan kondisi Nisa memutuskan pulang dari kantornya dan menunggu Nisa di rumah.


Yudhis tiba di rumah sepuluh menit lebih cepat dari Maura dan Nisa. Setibanya di rumah Yudhis langsung membawa Nisa yang tampak pucat ke kamarnya untuk beristirahat.


Setelah mengantarkan Nisa Maura pun langsung pamit pulang. Yudhis mengantarkan Maura sampai halaman depan.


"Awas saja kamu kalau berani kempesin mobil kak Yudhis lagi " ujar Yudhis sambil mengikuti Maura sampai gadis itu masuk kedalam mobilnya.


"Tidak akan kak..kak Yudhis sepertinya masih dendam sama aku " jawab Maura cemberut.


"Tidak dendam bagaimana kamu itu kempesin ban mobil kakak tidak satu kali " ujar Yudhis.


"Iya..maaf..aku janji tidak akan nakal " lagi janji Maura sebelum melajukan mobilnya meninggalkan halaman rumah Yudhis.


"Sudah menikah pun kamu itu tetap saja terlihat seperti anak-anak " gumam Yudhis sambil masuk ke kamar untuk melihat kondisi Nisa.


"Masih mual ?" tanya Yudhis sambil duduk di sisi ranjang.

__ADS_1


"Sedikit " jawab Nisa.


"Sepertinya sebentar lagi aku akan jadi Papa " ujar Yudhis sambil mengusap perut Nisa.


"Sok tau " cibir Nisa.


"Feeling seorang calon Papa Sayang " jawab Yudhis yakin.


"Sok tau " cibir Nisa lagi.


"Seorang petani saja setelah menggarap lahan dan menanam bibit pasti tau kapan bibit itu akan tumbuh..sama seperti aku..aku tau kapan benih aku akan tumbuh di perut kamu " jawab Yudhis yakin.


"Sok tau..sok tau.." Nisa tertawa sambil memukuli kepala Yudhis dengan bantal.


"Aku akan buktikan sekarang..kamu tunggu sebentar ya !" ucap Yudhis hendak keluar dari kamar.


"Sayaaang mau kemana ?" tanya Nisa manja.


"Ke apotik..beli alat tes kehamilan " jawab Yudhis sebelum menghilang dibalik pintu kamarnya.


Tidak sampai setengah jam Yudhis pun sudah kembali dengan beberapa alat test kehamilan ditangannya.


"Ayo di coba Sayang " Yudhis memberikan cup untuk menampung urin.


"Iya..tapi tidak usah ikut ke kamar mandi " Nisa melarang ketika Yudhis mengikutinya ke kamar mandi.


"Tidak apa-apa..ngapain mesti malu " Yudhis kekeh mengikuti Nisa ke kamar mandi.


"Biar aku saja " Yudhis membuka beberapa buah tespek dan mencelupkannya kedalam cup berisi urin milik Nisa.


Hanya dalam hitungan menit beberapa tespek itupun memperlihatkan dua garis merah.


"Tuh kan bener..kamu itu hamil Sayaaang " Yudhis langsung memeluk Nisa.


"Aku akan jadi Papa " Yudhis mengangkat tubuh Nisa keluar dari kamar mandi kemudian menciumi perutnya penuh rasa haru.


"Aku akan jadi Papa..aku akan jadi Papa " ucapnya berulang-ulang sambil terus menciumi perut Nisa.


Nisa melongo tidak menyangka ketika melihat reaksi Yudhis mengetahui yang begitu heboh ketika tau dirinya hamil.

__ADS_1


"Iya kamu akan jadi Papa..Papa Yudhis " bisik Nisa sambil mengelus rambut Yudhis.


__ADS_2