My Posesif Uncle

My Posesif Uncle
Kontrak Sumur Hidup


__ADS_3

"Ya sudah kalau begitu kita pulang saja " ajak Marvin. Maura mengangguk.


Setelah masuk kedalam mobil, Marvin memasangkan seatbelt Maura. Jika tidak dipasangkan oleh Marvin sudah bisa dipastikan Maura tidak akan memakai seatbelt nya.


"Dibiasakan pakai seatbelt dong kak buat keamanan " nasehat Marvin.


"Ini sudah pake Om " jawab Maura sambil menunjuk seatbelt yang baru dipasangkan oleh Marvin.


"Iya pake karena Om yang pakaikan " omel Marvin.. Maura hanya nyengir.


"Mulai sekarang kakak itu harus nurut sama semua yang Om bilang karena kakak itu sudah resmi menjadi pacar Om " ucap Marvin posesif.


"Haaah..?" Maura melongo.


"Selama kakak di Bandung kakak tidak boleh keluyuran yang tidak tentu , harus belajar yang bener dan jangan coba-coba dekat dengan laki-laki lain " sambung Marvin.


"Banyak sekali aturannya..kalau begitu aku akan mengundurkan diri saja jadi pacar Om, kakak lebih baik jadi keponakan saja " Maura mengerucutkan bibirnya.


"Tidak bisa..kontraknya sudah untuk seumur hidup " jawab Marvin.


"Ck..Mana bisa begitu " Maura mencebikan bibirnya. Marvin menatap Maura tersenyum penuh kemenangan.


"Sudah terima saja nasib kakak jadi pacar Om..tidak usah banyak protes " Marvin menggenggam tangan Maura dengan tangan kirinya.


Maura melepaskan tangannya dari genggaman tangan Marvin ketika ada satu pesan masuk dari Mikha.


"Mamih nitip beli cake coklat dan chese cake di toko kue langganan Mamih " Maura membacakan pesan dari Mikha.


"Pasti Mile sama Malik yang minta " Ujar Marvin sambil mengarahkan mobilnya menuju toko kue langganan Mamihnya.Malik dan Mile memang sangat menyukai kedua cake itu.


Setibanya di toko kue yang dimaksud mereka turun untuk membeli pesanan coklat cake dan chese cake pesanan Mikha.


Selain membeli coklat cake dan chese cake, Maura juga memesan dua Mochacino untuknya dan Marvin.


Marvin yang sedang menerima telepon dari Felix memberikan dompetnya kepada Maura dan memberi kode agar mengambil sendiri uangnya untuk membayar.


Maura mengambil beberapa lembar uang berwarna merah dari dompet Marvin untuk membayar pesanannya itu di kasir.


Karena Marvin masih anteng mengobrol Maura pun memilih duduk menunggu Marvin menyelesaikan obrolannya.


"Sudah selesai ?" tanya Marvin sambil menyimpan ponselnya setelah obrolannya dengan Felix selesai.


"Sudah " jawab Maura sambil mengembalikan dompet milik Marvin.


Setelah mendapatkan pesanan Mikha mereka pun langsung pulang.


*


Keesokannya pagi-pagi sekali Maura bersiap-siap untuk pulang ke Bandung.


Maura sengaja pulang lebih pagi agar memiliki waktu luang untuk mempersiapkan keperluan sekolahnya.


Maura yang rencananya akan pulang naik travel lagi akhirnya pulang dengan diantarkan oleh Marvin karena Om nya itu memaksa.

__ADS_1


"Kenaikan kelas ini kakak lebih baik sekolahnya pindah lagi ke Jakarta kalau kakak di Bandung terus Om ngepel nya jauh " keluh Marvin.


"Tidak mau ah..tanggung Om satu tahun lagi " jawab Maura.


"Satu tahun itu lama kak " keluh Marvin lagi.


"Lebih lama mana waktu Om di Kanada ?" tanya Maura. Marvin pun langsung terdiam.


"Jadi kakak mau balas Om nih ceritanya ?" cicit Marvin.


"Anggap saja begitu " jawab Maura sambil tertawa.


"Dasar nakal " Marvin mengacak rambut Maura.


"Ck..rambut aku jadi berantakan Om" Maura merapikan rambutnya yang berantakan karena ulah Marvin.


"Kaaak..." panggil Marvin.


"Apa Oom.." jawab Maura.


"Bisa tidak kalau sedang di luar kakak itu jangan panggil Om " pinta Marvin.


"Haah..?" Maura melongo.


"Panggil apa kek yang mesra " pinta Marvin lagi.


"Tidak mau ah..aku sudah enak manggil Om " jawab Maura seraya memeluk perut Marvin.


"Kaak..Om Minggu ini akan pergi ke Palembang sama Daddy jadi kemungkinan weekend kita tidak akan ketemu " ucap Marvin sambil fokus mengemudi.


"Iya..aku juga tidak akan pulang ke Jakarta karena Adi, Velia sama Rizki mau ke Bandung " jawab Maura.


"Ya..Om tidak keberatan kalau kakak main sama mereka "


Marvin tidak keberatan Maura main bersama Adi, Velia dan Rizki karena Marvin pun sudah cukup mengenal baik ketiga remaja sahabat Maura itu.


"Om di Palembang sama Daddy berapa hari ?" tanya Maura.


"Paling empat hari, kita perginya Jumat pagi " jawab Marvin.


Akhir-akhir ini Adam memang sering menugaskan Marvin untuk menangani proyek di luar kota.


Adam ingin agar Marvin benar-benar faham dan siap untuk menggantikannya memimpin Perusahaan suatu hari nanti.


"Mau langsung pulang ke rumah Oma atau mau jalan-jalan dulu ?" tanya Marvin ketika mobilnya keluar dari gerbang tol Pasteur.


Karena mereka berangkat dari Jakarta pagi-pagi sekali, jam setengah sembilan mereka sudah sampai di Bandung.


"Jalan-jalan dulu " jawab Maura bersemangat.


"Baiklah..kita sekalian cari makan " Dari Jakarta mereka memang tidak sempat sarapan. Mereka hanya sempat memakan sepotong cake coklat yang mereka beli semalam.


Marvin membawa Maura ke daerah Lembang. Mereka akan nongkrong sambil mencari makan disana.

__ADS_1


Di Lembang Marvin menepikan mobilnya di pinggir jalan, mereka nongkrong sambil menatap hamparan kebun teh yang masih diselimuti kabut.


Udara yang masih dingin membuat Marvin merengkuh tubuh Maura kedalam dekapannya.


Maura yang memang merasa kedinginan akhirnya terlihat nyaman dalam dekapan hangat Om kesayangannya itu.


"Aku pernah kesini sama teman-teman sekolah aku konvoi pake motor..begitu sampai langsung kehujanan dan besoknya semua tidak masuk sekolah karena demam " cerita Maura sambil tertawa.


"Syukurin..makanya jangan nakal " Marvin menyentil kening Maura.


"Bukan nakal..asik tau Om konvoi pake motor kesini " jawab Maura.


"Nanti lagi tidak boleh..Om tidak ijinkan " larang Marvin.


"Huh..dasar posesif " cibir Maura.


Meskipun Maura menyebut Marvin posesif namun pria tampan itu sama sekali tidak marah malah Marvin semakin mengeratkan pelukannya hingga tubuh mungil itu tenggelam dibalik tubuh kekarnya.


"Udaranya masih dingin lebih baik kita nongkrongnya di mobil saja " Marvin membawa Maura masuk kedalam mobil.


"Sepertinya mau turun hujan Om..biasanya jam segini tidak sedingin ini " Maura menggosokkan kedua tangannya agar hangat kemudian ia tempelkan di pipinya.


"Kakak kedinginan..sini Om peluk " Marvin kembali merengkuh tubuh Maura dan memeluknya hangat.


Setelah sekian lama berada dalam hangatnya pelukan Marvin, entah siapa yang mulai tiba-tiba saja wajah mereka saling mendekat dan bibir keduanya saling bertautan.


Maura memejamkan matanya ketika bibir kenyal Marvin melu matnya dengan lembut.


Maura mencengkram lengan Marvin ketika merasakan tubuhnya terasa melayang. Ini adalah pengalaman pertamanya melakukan ciuman bibir yang sesungguhnya.


Sejenak Marvin melepaskan tautan bibirnya untuk melihat reaksi Maura.. Marvin tersenyum lembut ketika dilihatnya wajah cantik Maura kini berubah menjadi merah merona karena malu dan membuat Marvin semakin gemas.


Marvin mengangkat dagu Maura dan kembali melu matnya dengan lembut. Meski masih belum berpengalaman namun Maura berusaha membalas semampunya.


Ciuman mereka menjadi semakin dalam karena kedua tangan Maura kini memeluk erat leher Marvin.


Keduanya baru saling melepaskan diri ketika ponsel Marvin berbunyi.Mikha menanyakan apakah mereka sudah sampai atau belum.


Mikha merasa khawatir karena satu jam yang lalu terjadi kecelakaan di jalan tol. Marvin pun mengabari Mikha jika mereka sudah sampai di Bandung.


Marvin tidak memberitahu Mamihnya jika ia sekarang sedang berada di Lembang dan sedang pacaran dengan cucu kesayangannya.


"Dari siap Om ?" tanya Maura


"Mamih nanya kita sudah sampai atau belum " jawab Marvin sambil menyimpan ponselnya kemudian kembali merengkuh tubuh Maura dan kembali melu mat bibirnya dengan lembut.


Setelah puas saling berciuman mereka pun saling melepaskan diri. Marvin mengusap bibir Maura yang sedikit bengkak dengan ibu jarinya.


"Kita pulang sekarang ya " Marvin memutuskan mengantarkan Maura pulang. Pria tampan itu berusaha menahan dirinya dan tidak mau sampai kebablasan.


"Iya Om " jawab Maura.


Jika suka tolong dukung ya agar Author semakin semangat nulisnya Happy reading 😘😘

__ADS_1


__ADS_2