
Minggu siang Maura bersiap untuk kembali ke Bandung. Millie dan Mikha membekali Maura dengan banyak makanan dan langsung dimasukkan kedalam mobil Maura karena Marvin yang akan mengantarkan Maura ke Bandung dengan menggunakan mobil Maura.
"Hati-hati di jalan.. nyetir nya jangan ngebut Vin " pesan Adam sebelum Marvin dan Maura berangkat.
"Iya Pih " jawab Marvin.
"Titip anak gadis Mas ya Vin tolong jaga sebaik-baiknya " Wisnu menepuk bahu Marvin.
"Awas kalau sampai lecet anak gadis kakak habis kamu " ancam Millie sambil mengacungkan tangannya kepalan tangannya.
"Kakak itu bukannya berterima kasih Maura aku anterin ke Bandung malah ngancam " keluh Marvin sambil masuk kedalam mobil.
Adam memeluk bahu Mikha berusaha menenangkan Mikha yang masih terlihat bingung.
"Kita akan cari jalan terbaik " bisik Adam ditelinga Mikha.
"Iya Bang " jawab Mikha lirih.
Perjalanan pulang ke Bandung kali ini Marvin mengijinkan Maura yang menyetir.
"Om tidur saja biar aku yang jadi sopir pribadi Om " ucap Maura dengan pandangan fokus kedepan.
"Om.tidak ngantuk " jawab Marvin.
Marvin tidak tega membiarkan Maura nyetir sendiri dan lolos dari pengawasan nya.
Namun setelah menempuh setengah perjalanan Marvin mengambil alih kemudi. Ia tidak ingin Maura kelelahan menyetir dari Jakarta sampai ke Bandung.
"Baru setengah jalan saja sudah minta ganti " Maura menggerutu.
"Jangan suka membantah " ucap Marvin tegas membuat Maura langsung mengkerut.
"Om itu kadang manis banget, tapi kadang galak " keluh Maura.
"Om itu galak kalau kakak ngeyel " jawab Marvin.
"Emang aku ngeyel gitu ?" tanya Maura sambil menusuk-nusuk paha Marvin.
"Ngeyel banget " jawab Marvin sambil menangkap tangan Maura yang sedang menusuk-nusuk pahanya.
"Nanti kalau tangan kakak kepleset terus ada yang bangun bagaimana " ucap Marvin.
"Maaf..aku tidak tau kalau reaksinya akan seperti itu " cicit Maura.
"Mau di tes ?" tantang Marvin sambil tersenyum smirk.
"Tidak..tidak mau " Maura buru-buru menarik tangannya membuat Marvin tertawa.
"Kakak itu polos banget " ucap Marvin sambil mengambil tangan Maura dan menggenggamnya diatas pahanya.
"Oom.." panggil Maura.
"Hmm.." jawab Marvin.
"Om dulu waktu pacaran sama kak Nisa juga suka ciuman ?" tanya Maura.
"Ya " jawab Marvin setelah beberapa lama terdiam.
"Suka pegang-pegang dada juga ?" tanya Maura lagi.
__ADS_1
"Tidak..baru sama kakak saja Om berani pegang " jawab Marvin jujur.
"Bohong " Maura menatap Marvin tidak percaya.
"Tanya saja sama orangnya " jawab Marvin santai.
"Sekarang giliran Om yang tanya.. apakah kakak waktu pacaran sama Zico suka ciuman ?" tanya Marvin.
"Belum pernah..kita pacarannya cuma jalan bareng terus pegangan tangan saja..sudah begitu saja " jawab Maura.
Sebetulnya Marvin sudah bisa menebak kalau Maura belum pernah melakukan ciuman bibir karena pada saat mereka melakukannya Maura terlihat gugup dan takut..Marvin merasa sangat beruntung karena ia telah mendapatkan ciuman pertama Maura.
"Anak baik " Marvin mencium tangan Maura.
'Iya dong..emangnya Om " cibir Maura. Marvin hanya terkekeh.
Setelah tiba di Bandung Marvin hanya beristirahat selama dua jam. Selama dua jam itu Marvin pergunakan untuk tidur agar pada saat kembali ke Jakarta ia tidak merasa mengantuk.
Setelah cukup istirahat Marvin pun pamit kembali ke Jakarta. Sebelum pergi ia menitipkan banyak pesan dan aturan yang wajib Maura patuhi.
"Om itu kenapa jadi cerewet sekali seperti Mommy saja " keluh Maura.
"Kan Mommy kamu kakaknya Om " jawab Marvin.
"Baiklah..aku akan ingat semua pesan dari Om " meski menggerutu namun akhirnya Maura pun bersedia menuruti semua aturan dan pesan dari Marvin.
"Hati-hati di jalan Om " pesan Maura pada saat Marvin mulai melajukan mobilnya meninggalkan rumah orangtua Wisnu.
Perjalanan dari Bandung ke Jakarta Marvin sama sekali tidak merasa mengantuk karena ia cukup tidur selama dua jam di Bandung.
Setibanya di Jakarta Millie dan Wisnu sudah tidak ada di rumah. Mereka langsung pulang begitu Marvin mengantarkan Maura pulang ke Bandung.
Keesokannya Marvin dan Adam pergi ke kantor seperti biasa. Di kantor pun Adam tidak ada sedikitpun membahas tentang Maura. Adam akan menanyai putranya itu nanti malam di rumah bersama Mikha.
Malam harinya Marvin yang baru selesai menelpon Maura kaget ketika Adam dan Mikha tiba-tiba masuk ke kamarnya.
"Vin..Papih dan Mamih mau bicara sama kamu " ucap Adam seraya duduk di sisi ranjang.
"Apakah ada masalah serius Pih ?" Marvin duduk bersila diatas kasurnya.
Marvin tiba-tiba merasa jika ada sesuatu yang tidak beres karena tidak biasanya Papih dan Mamihnya datang ke kamarnya.
"Tidak ada..kami hanya ingin ngobrol sama kamu " jawab Adam .
"Papih dan Mamih mau tanya tentang Maura " Adam memulai pembicaraan.
"Maura..ada apa dengan anak itu ?" dahi Marvin berkerut. Ia baru saja selesai berbicara dengan Maura dan tidak ada masalah apa-apa dengan gadis itu.
"Dari sejak kecil Maura itu sangat manja sama kamu..namun akhir-akhir ini Papih dan Mamih menangkap ada sesuatu yang berbeda diantara kalian berdua " ucap Adam.
"Papih dan Mamih melihat kalau hubungan kamu sama Maura tidak seperti Om dengan keponakan.. bahkan menurut kami lebih terlihat seperti sepasang kekasih "
"Awalnya Papih dan Mamih menganggap kedekatan kalian itu adalah hal yang wajar karena Maura sejak kecil sudah dekat dengan kamu..namun kemarin malam kami tidak sengaja melihat kamu dan Maura ciuman..dan menurut Papih dan Mamih itu tidak pantas dilakukan oleh Om kepada keponakannya "
Marvin mengusap wajahnya kasar. Mau mungkir pun percuma karena Papih dan Mamihnya sudah melihat apa yang ia dan Maura lakukan kemarin malam.
"Papih tanya sama kamu tolong jawab yang jujur..apakah kamu dan Maura pacaran ?" tanya Adam menatap tajam wajah putra bungsunya.
Marvin diam..ia bingung harus menjawab apa kepada Papih dan Mamihnya.
__ADS_1
Marvin ingat ancaman Maura yang akan minta putus jika Marvin nekad memberitahu kan hubungan mereka kepada keluarganya.
"Vin..sebetulnya tanpa kamu jawab juga Papih sudah tau ada hubungan apa diantara kamu dan Maura. Papih tanya kamu hanya ingin mendengar kejujuran kamu saja " Adam mulai menaikan nada suaranya.
"Vin..tolong jawab pertanyaan Papih !" titah Mikha sambil mengusap bahu Marvin.
"Aku dan Maura memang pacaran " setelah sekian lama membisu akhirnya Marvin pun mengaku.
"Kamu sadar tidak kalau Maura itu putri kakak kamu..keponakan kamu " Adam mengingatkan putranya.
"Iya Pih..tapi aku cinta sama Maura " jawab Marvin lirih.
"Tapi kenapa Maura ?" tanya Adam.
"Aku juga tidak tau " jawab Marvin.
"Apakah ini juga penyebab hubungan kamu dan Nisa putus ?" tanya Mikha.
"Tidak Mih..aku jadian sama Maura setelah putus dengan Nisa " jawab Marvin.
"Papih tidak bisa bayangkan..kakak kamu pasti marah jika tau kamu dan Maura pacaran " Adam memijit pelipisnya. Marvin menunduk.
"Tolong jangan kasih tau kak Millie dan Mas Wisnu Pih karena Maura akan marah kalau sampai semua keluarga tau " Marvin memohon.
"Mana bisa hal sepenting ini kalian sembunyikan " omel Adam.
"Aku dan Maura rencananya akan jujur dan meminta restu kalian setelah Maura lulus SMA "
"Kamu pikir Mamih dan Papih akan tenang melihat kalian yang sudah seintim itu " Adam memukul kepala Marvin dengan bantal.
Mikha mengelus punggung Adam mencoba meredakan kemarahannya.
"Papih tidak mau kamu sampai merusak keponakan kamu sendiri " omel Adam.
"Aku tidak seperti itu Pih..aku masih bisa kontrol " bela Marvin.
"Iya sekarang masih bisa kontrol, besok-besok tidak tau " Adam kembali memukul Marvin dengan bantal.
"Karena Maura masih sekolah, sebaiknya Papih harus pisahkan kalian dulu sampai Maura lulus SMA " ujar Adam.
"Dipisahkan ?" tanya Mikha.
"Ya..sebaiknya Marvin bantu Opa kamu di Kanada dan baru boleh pulang setelah Maura lulus SMA " jawab Adam.
"Aku tidak mau Pih " Marvin langsung menolak.
"Kamu tidak berhak menolak..kalau ingin Papih restui kamu harus nurut sama apa yang Papih perintahkan. Dan kakak kamu biar nanti Papih yang urus " putus Adam.
"Dan ingat.. Maura tidak perlu tau.. biarkan anak itu fokus pada sekolahnya " ucap Adam.
"Baiklah " Marvin tidak mempunyai pilihan lain selain menerima apa yang sudah Papihnya putuskan.
"Abang..masa aku harus jauh lagi sama Marvin " keluh Mikha.
"Kalau sayang sama Marvin dan Maura ikuti saja perintah Abang " ucap Adam tegas.
"Baiklah " jawab Mikha.
Dukungannya dong pliiss. like komen dan vote juga rating 🌟 nya jangan lupa biar Author semangat nulisnya.
__ADS_1
Happy reading 😘😘😘 8