
Malik dan Mile terlihat sangat senang pergi sekolah bersama Maura. Meysha pun sempat menangis ingin ikut ketika melihat ketiga kakaknya pergi.
Setelah mengantarkan Malik dan Mile ke sekolah Maura mengisi waktu dengan menemani adik bungsunya bermain.
"Nanti kalau sudah lulus SMA kakak balik lagi ke Jakarta ya..sudah cukup dua tahun kakak jauh dari Mamih " pinta Mikha.
"Bagaimana nanti saja Mih " jawab Maura bingung.
Kemarin-kemarin Marvin yang bilang seperti itu, sekarang Mamih Mikha.. mungkin Mommy dan Daddy nya juga menginginkan hal yang sama.
"Mamih tidak mau tau pokoknya kakak harus balik lagi ke Jakarta " Kekeh Mikha. Maura hanya tertawa.
Setelah puas bermain Maura menggendong Meysha yang terlihat beberapa kali menguap karena mengantuk.
"Jam segini memang waktunya Meysha tidur " ucap Mikha.
Hanya dengan mengusap-usap punggungnya tidak lama kemudian Meysha pun tertidur dalam gendongan Maura.
"Tidurin di kamar Mamih saja kak " Mikha menggiring Maura ke kamarnya.
Setelah menidurkan Meysha di kasur Mikha yang sangat besar,Maura tidak langsung keluar dari kamar yang luas itu.Maura ikut berbaring di kasur sambil mengobrol dengan Mikha. Lama kelamaan Maura pun ikut tertidur bersama Meysha di kasur empuk Mamihnya.
Maura yang tertidur pulas banyak mengabaikan panggilan masuk dari Zico. Bahkan ada banyak pesan dari Zico yang tidak sempat Maura baca.
Marvin yang pulang ke rumah untuk mengambil berkas yang tertinggal geleng-geleng kepala melihat Maura yang tengah tertidur di kamar Mamihnya.
"Vin..jangan diganggu " omel Mikha ketika Marvin iseng mencolek-colek ujung hidung Maura.
Maura yang merasa terganggu akhirnya membuka matanya.
"Mamiih..Om Marvin nya ganggu nih " Maura merajuk. Mikha pun langsung melotot kearah Marvin.
"Daripada tidur mending temenin Om yuk ke kantor Daddy mau nganterin berkas " ajak Marvin.
"Mau..tapi gendong " Maura merentangkan kedua tangannya kepada Marvin dengan manjanya.
"Ya ampun kakak sudah besar juga " Mikha geleng-geleng kepala ketika gadis itu mulai naik ke punggung Marvin sambil tertawa senang.
"Hmm..Om wangi banget " Maura mengendus leher Marvin dari belakang .
Hembusan napas Maura di kulit lehernya menghadirkan geleyar aneh di tubuh Marvin.Apalagi ketika Marvin merasakan benda hangat dan kenyal milik Maura rapat menempel di punggungnya.
"Iya dong emang kakak bau..pasti tadi waktu nganterin Mile dan Malik kakak tidak sempat mandi ya ?" tebak Marvin.
"Emang beneran aku bau ?" Maura mencium tubuhnya sendiri tidak percaya diri. " Perasaan tidak bau "
__ADS_1
"Om becanda kakak belum mandi juga wangi, tapi lebih wangi kalau sudah mandi...buruan mandi.." Marvin menurunkan Maura di kamar gadis itu.
"Om..aku sudah wangi belum ?" Maura mendekatkan tubuhnya kearah Marvin setelah hampir setengah jam berada di kamar mandi.
"Sudah wangi..wangi banget malah " jawab Marvin sambil mengendus leher Maura.
"Geli tau.." Maura menjauhkan kepala Marvin yang mengendus lehernya sambil terkikik.
"Mih kita pergi dulu ya " Marvin pamit kepada Mamihnya masih sambil tertawa dan menuntun Maura menuju mobilnya.
"Aku sudah lama tidak ke kantor Daddy " oceh Maura ketika mereka dalam perjalanan menuju kantor Wisnu.
"Makanya pindah lagi ke Jakarta " jawab Marvin.
Maura hanya melengos, semua orang menginginkan dirinya pindah lagi ke Jakarta sementara Maura sendiri sudah betah tinggal di Bandung.
"Kak..kemarin kakak kena tilang ya ?" tanya Marvin tiba-tiba.
"Iya..kok Om bisa tau sih ?" Maura memiringkan tubuhnya menghadap Marvin.
"Kak Nisa yang bilang sama Om " jawab Marvin.
Maura sudah bisa menebak pasti Yudhis cerita kepada Nisa, dan Nisa
mengadu kepada Marvin.
"Tidak usah Om..aku datang sendiri masa pulang diantar..jalangkung saja datang tidak dijemput pulang tidak diantar " jawab Maura sambil terkikik. Marvin pun tertawa sambil menjembel pipi Maura dengan tangan kirinya.
"Tidak usah membantah..mau Om bilang ke Mommy dan Daddy kalau kemarin kakak kena tilang ?" ancam Marvin.
"Jangan bilang sama Mommy dan Daddy...iya deh aku pulangnya diantar Om " Maura terpaksa mau diantar Marvin pulang ke Bandung.
"Ngomong-ngomong Om ngapain sih sering keluar kota sama Daddy ?" tanya Maura penasaran.
"Perusahaan Daddy kan sedang mengerjakan projek perusahaan Papih " jawab Marvin.
"Ooh pantas " jawab Maura.
Wisnu yang sedang sibuk dengan pekerjaan di ruangannya kaget ketika melihat Marvin datang bersama Maura.
"Kok bisa barengan ?" tanya Wisnu menatap Maura dan Marvin bergantian.
"Aku kebetulan pulang dulu Mas jadi sekalian saja aku ajak " jawab Marvin sambil memberikan map berwarna coklat yang tadi ia ambil dari rumah.
"Kalau ikut sama Om kamu jangan suka nakal..jangan suka merepotkan " pesan Wisnu kepada Maura.
__ADS_1
"Tidak Dad..tanya saja sama Om Marvin..iya kan Om ?" Maura melirik kearah Marvin.
"Tidak nakal Mas cuma manja..masa mau mandi saja minta di gendong dulu " adu Marvin.
"Ya ampuun kakak..kamu itu sudah besar..kasian Om Marvinnya..kamu kan sekarang bukan anak kecil lagi " omel Wisnu.
"Tapi Om Marvin nya masih kuat kok gendong aku " bela Maura.
Iya masih kuat..tapi hati aku yang tidak kuat batin Marvin.
Wisnu memeriksa berkas dari Marvin. Sementara Maura duduk menggelendot di lengan Marvin sambil iseng mengganggu Om nya yang sedang bermain game di ponselnya.
"Sepertinya Minggu depan kita harus ke Palembang lagi Vin " ucap Wisnu setelah selesai memeriksa berkas di tangannya.
"Siap Mas " jawab Marvin sambil menyimpan ponselnya karena Maura terus mengganggunya.
"Aku boleh ikut tidak Dad ?" tanya Maura.
"Tidak..Daddy sama Marvin ke Palembang buat kerja bukan buat main..kalau kakak ikut yang ada kakak gangguin Om Marvin terus " Wisnu menolak dengan tegas. Maura pun langsung cemberut.
Mendekati waktu makan siang Marvin pamit membawa Maura untuk makan siang. Wisnu tidak bisa ikut makan siang bersama Marvin dan Maura karena ia akan makan siang dengan para stafnya di kantor.
"Kita mau makan siang dimana ?" tanya Marvin begitu mobilnya mulai melaju meninggalkan kantor Wisnu.
"Terserah Om saja " jawab Maura.
Marvin membawa Maura ke sebuah restoran yang menyediakan menu masakan khas Sunda.
"Aku serasa lagi di Bandung " oceh Maura saat Marvin menuntunnya menuju meja yang berada di dekat kolam ikan koi.
"Om tidak suka makan lalapan ?" tanya Maura ketika dilihatnya Marvin tidak menyentuh lalapan di piringnya.
"Suka..tapi hanya beberapa jenis saja yang Om suka " jawab Marvin.
"Aku juga dulu ya gitu Om..tapi setelah tinggal sama Oma jadi suka "
"Kakak seperti kambing suka makan daun-daunan " Marvin terkekeh.
"Enak saja..sini cobain enak loh Om " Maura mencolek sambal dengan lalapan kemudian menyuapi Marvin dari tangannya.
"Iya enak " jawab Marvin.
Enak karena disuapi oleh kamu batin Marvin.
"Tadi kan Om sudah gendong kakak, sekarang kakak harus suapin Om makan biar adil " pinta Marvin.
__ADS_1
"Ya ampun Om..manja banget sih " cibir Maura namun tak urung ia pun menyuapi Om kesayangannya itu hingga habis.
Selesai makan Marvin mengantarkan Maura pulang ke rumah karena ia harus kembali ke kantornya.