
"Sekarang sudah tidak nyebelin lagi...aku sayang..sayang.. sayang banget sama Om " Maura memeluk lengan kiri Marvin dengan manja.
"Om juga sayang..sayang..sayang banget sama kakak " balas Marvin membuat Maura bukan hanya memeluk lengan kiri Marvin saja, namun tangan kirinya melingkar di perut Marvin.
"Kaak..tangannya jangan begini dong, Om nya lagi nyetir " ucap Marvin seolah-olah merasa terganggu, padahal kenyataannya justru hati nya yang merasa terganggu dengan tingkah manja keponakannya itu. Maura pun melepaskan pelukan tangannya di perut Marvin.
"Om kalau nemu tukang bakso berhenti dulu ya..aku mau jajan bakso " pinta Maura.
"Iya " jawab Marvin.
Beberapa ratus meter kemudian Marvin pun menepikan mobilnya ketika mendapati warung bakso di pinggir jalan.
Setelah menepikan mobilnya Marvin membantu Maura melepaskan seatbelt yang membelit tubuh keponakan cantiknya.
"Rambut Om berantakan " Maura merapikan rambut Marvin ketika kepala Marvin merunduk saat melepas seatbelt Maura.
Marvin berusaha menetralkan debar jantungnya yang tidak beraturan ketika kepala Marvin nyaris menyentuh benda bulat didada Maura yang hanya sebesar kepalan tangan karena belum tumbuh secara sempurna.
Setelah merapikan rambut Marvin mereka pun turun. Marvin menggenggam tangan Maura masuk ke warung bakso.
Mereka memesan dua porsi bakso dan dua gelas teh hangat. Selagi menunggu pesanan mereka datang Marvin berusaha melenturkan tubuhnya yang terasa sedikit pegal karena selama berjam-jam menyetir.
"Kalau Om lelah gantian saja aku yang nyetir " pinta Maura.
"Tidak " jawab Marvin tegas.
"Ck..Om itu tidak percaya ya kalau aku sudah pintar nyetir nya " Maura mencebik.
"Bukan tidak percaya Kak..Om takut nanti kakak lelah " jawab Marvin.
"Nanti kalau lelah kan bisa gantian lagi sama Om "
"Tidak usah..biar Om saja yang nyetir. Kakak tinggal duduk manis saja " jawab Marvin.
Marvin dan Maura berhenti berbicara ketika pesanan mereka sudah datang.
"Jangan banyak-banyak kak sambelnya " omel Marvin ketika Maura menambahkan beberapa sendok sambal kedalam mangkuk baksonya.
"Kalau tidak pedas tidak enak Om " jawab Maura sambil mulai menikmati baksonya dengan lahap.
__ADS_1
"Cobain deh punya aku enak loh Om " Maura menyuapkan satu sendok pentol bakso miliknya ke mulut Marvin.
Maura dan Marvin sama sekali tidak canggung makan dan minum dari piring dan gelas yang sama.
"Enak kak..tapi pedas " Marvin buru-buru menenggak teh hangatnya ketika merasakan mulutnya serasa terbakar saking pedasnya bakso milik Maura.
"Jangan sering makan terlalu pedas begini kak..tidak baik untuk pencernaan kakak " nasehat Marvin.
"Iya Om " jawab Maura.
Setelah menghabiskan baksonya dan beristirahat sejenak, Marvin dan Maura pun kembali melanjutkan perjalanan.
"Kakak kalau mengantuk tidur saja " Marvin mengelus puncak kepala Maura dengan tangan kirinya.
"Tidak ah..kasian nanti Om tidak ada yang nemenin ngobrol " jawab Maura.
Setelah menempuh perjalanan panjang akhirnya mereka pun sampai di villa milik Weni.
Kedatangan mereka disambut teman-teman sekelas Maura yang semuanya perempuan.
Weni sudah menyiapkan dua kamar untuk Marvin dan Maura yang letaknya bersebelahan.
Sebelum tidur Maura menyempatkan diri membalas pesan dari Zico yang lumayan banyak yang baru sempat ia baca.
Bagaimana perjalanan nya
Balas dong Ra
Kamu jadi pergi sama Om Marvin
Maura balas dong
Maura pun membalas satu persatu pesan dari Zico sambil berbaring diatas kasur.
Namun untuk menelpon Zico Maura tidak sempat karena ia keburu tidur karena lelah setelah berjam-jam menempuh perjalanan dari Bandung ke Pangandaran.
Selama Maura tidur Zico beberapa kali menelpon Maura namun tidak diangkat karena Maura sudah tertidur dengan lelap.
*
__ADS_1
Kehadiran Marvin di villa itu membuat kehebohan. Teman-teman Maura berlomba-lomba mencari perhatian dari Marvin. Bahkan Weni dengan terang-terangan berani meminta nomer telepon Marvin.
"Om ganteng minta nomer telponnya dong " pinta Weni centil.
"Minta saja sama Maura " jawab Marvin yang hanya tersenyum melihat tingkah remaja itu.
"Ngapaini minta nomer telepon Om gw..jangan bilang Lo naksir sama Om Marvin " Maura langsung melotot kearah Weni.
"Memangnya ga boleh ya kalau naksir Om Lo..kan Lo pernah bilang kalau Om Marvin itu baru putus sama pacarnya "
"Ga..ga boleh..gw tidak mau membagi Om gw sama Lo " jawab Maura posesif.
"Kalau begitu Lo nikah saja Om Lo itu biar tidak ada yang miliki dia " Weni menoyor kepala Maura.
Marvin yang awalnya merasa kurang nyaman karena hanya dia pria satu-satunya yang ada di villa itu menjadi lega ketika teman-teman pria sekelas Maura satu persatu mulai menyusul ke villa.
Acara ulangtahun Weni malam itu berjalan sangat meriah.Mereka berpesta barbeque sambil bernyanyi dan berjoget.
Maura langsung cemberut ketika Weni menarik tangan Marvin untuk berjoget bersamanya.Marvin yang tidak tega menolak ajakan Weni terlihat bingung ketika melihat Maura langsung cemberut.
Setelah menemani Weni berjoget, Marvin pun kembali duduk disebelah Maura yang masih cemberut.
"Ngapain kesini ? joget saja terus sana sampai pagi " omel Maura
"Kamu lucu kalau lagi cemberut " Marvin memiting kepala Maura dan menciumnya, namun karena kepala Maura terus bergerak menghindar akhirnya malah bibir mereka yang tidak sengaja saling bersentuhan.
Untuk sesaat keduanya terpaku sebelum akhirnya saling melepaskan diri.
"Ih kok malah cium bibir aku sih..itu kan ciuman pertama aku " Maura mencubit paha Marvin.
"Siapa suruh kepala kakaknya gerak-gerak jadi malah cium bibir " Marvin menekan kening Maura dengan telunjuknya.
Maura tidak menyadari jika ada senyum tipis tersungging di sudut bibir Marvin karena ia telah berhasil mendapatkan ciuman pertama dari Maura.
Acara pesta ulangtahun Weni berakhir menjelang tengah malam.Setelah pesta selesai Marvin kembali ke kamarnya sedangkan Maura memilih tidur bersama Weni.
Keesokannya mereka semua pulang ke Bandung. Ada lima mobil yang konvoi dari Pangandaran menuju ke Bandung membuat perjalanan mereka menjadi lebih seru.
Marvin tidak menyesal telah menjadi sopir Maura ke Pangandaran, karena Marvin mendapat sesuatu yang sangat mendalam dan sangat berharga di hatinya yaitu ciuman bibir pertama Maura.
__ADS_1