
Dua Minggu setelah kepulangan Maura dan Marvin dari bulan madu di Raja Ampat, Mikha dan Adam berangkat kesana untuk berlibur berdua.
Sebelum pergi mereka harus melewati drama Mile dan Malik yang mengamuk ingin ikut.
Mile berhenti mengamuk setelah Adam dan Mikha mengijinkan untuk belajar naik motor. Sedangkan Malik baru mengijinkan setelah dibelikan mainan yang cukup banyak.
Diusia Mile yang sudah menginjak sebelas tahun gadis kecil itu memang selalu merengek ingin belajar naik motor namun selalu dilarang terutama oleh Adam dan Mikha.
Menjelang keberangkatan Mamih dan Papihnya ke Raja Ampat adalah kesempatan Mile untuk memaksa mereka mengijinkannya belajar motor.
"Mile mau belajar motor sama siapa ?" tanya Marvin setelah Adam dan Mikha berangkat ke Raja Ampat.
"Sama Om Marvin dong masa sama Malik " jawab Mile sambil mengerucutkan bibirnya.
"Mending sama kakak saja belajar Motornya " bujuk Maura.
"Tidak ah..nanti kalau jatuh terus lecet-lecet gimana..masa model kulitnya tidak mulus " jawab Mile.
"Ya sudah sama Om saja belajar nya " ujar Marvin akhirnya karena adik iparnya itu tetap tidak mau belajar bersama kakaknya.
Sore itu Marvin mengajari Mile naik motor matik miliknya di halaman depan rumah Adam yang luas.
Tubuh Mile yang cukup tinggi memudahkan gadis kecil yang selalu Maura sebut tuyul itu menguasai kendaraan roda dua itu.
Tidak sampai dua jam Marvin ajarkan Mile pun sudah bisa melajukan sendiri motor matik itu dalam pengawasan Marvin.
Setelah mulai terlihat lancar Marvin pun membawa Mile keluar mengelilingi komplek perumahan elit tempat tinggal mereka.
"Om ternyata naik motor itu asik ya " ujar Milea sambil fokus ke jalanan di depannya.
"Iya tapi kamu tetap harus hati-hati..awas di depan ada anak kecil kurangin gas nya " Marvin yang duduk dibelakang Milea memberi aba-aba.
"Iya Om " jawab Milea sambil mengendurkan gasnya. Setelah cukup aman gadis kecil itu kembali menarik gas dengan perlahan.
"Bagus..harus begitu ya " puji Marvin.
"Iya Om " jawab Milea sambil tersenyum senang.
Setelah puas berkeliling komplek Marvin dan Mile pun pulang.
"Mile cepat sekali bisanya " puji Marvin kepada Wisnu yang menunggu mereka sambil menggendong Meysha.
"Mile memang sedikit lebih pemberani dibanding Maura " ujar Wisnu sambil memperhatikan putri keduanya itu yang sedang membuka helmet yang menempel dikepalanya.
"Daddy nanti kalau aku sudah lancar aku mau dibelikan motor baru " pinta Mile.
"Bilangnya sama Mommy saja sana " jawab Wisnu sambil menunjuk kearah Millie yang sedang mengobrol di teras dengan Maura.
"Mommy..nanti kalau sudah lancar aku ingin dibelikan motor baru " Mile merengek kepada Millie.
__ADS_1
"Minta dibeliin motor ? tidak .tidak " Millie langsung melotot.
"Ya sudah kalau Mommy tidak mau belikan nanti aku minta sama Papih saja kalau sudah pulang dari Raja Ampat " ucap Mile santai.
"Jangan beli motor yang seperti itu..beli yang di charge saja ya " bujuk Millie.
"Tidak mau..aku mau beli motor beneran " jawab Mile kekeh membuat Millie mengusap dadanya.
"Kamu itu masih kecil Sayang..baru mau masuk SMP..jadi belum waktunya berkendaraan sendiri " nasehat Millie.
"Nanti kalau sudah 17 tahun jangankan motor..mobil pun pasti Mommy belikan " bujuk Millie.
"Aku maunya motor Mom.. teman-teman aku sudah pada bisa naik motor " Mile terus merengek.
"Memang teman-teman kamu siapa saja yang sudah bisa naik motor ?" tanya Maura penasaran.
"Banyak kak..Wishal, Yohan, Jordy, Samuel..." Mile menyebut nama teman-temannya yang sudah bisa naik motor.
"Mom..pantas saja Mile ingin belajar motor..ternyata teman-temannya cowok semua " bisik Maura ditelinga Millie.
"Iya kak.. sepertinya kita harus lebih mengawasi Milea " jawab Millie pelan. Maura mengangguk.
Beberapa hari sejak Milea belajar motor bersama Marvin, Wisnu pergi ke Bandung untuk meninjau proyek yang sedang dikerjakan bersama Marvin.
Seharusnya Wisnu pergi ke Bandung bersama Marvin, namun Wisnu memutuskan untuk pergi sendiri dan menyuruh Marvin tetap di Jakarta menjaga keluarga nya selama Adam dan Mikha berlibur.
Pagi hari pada saat sarapan sebelum pergi ke kantor, Marvin berpesan kepada Mile untuk jangan coba-coba belajar motor tanpa dirinya.
"Iya Om aku tidak akan belajar motor tanpa Om " jawab Milea sambil mengunyah sarapannya.
"Sebetulnya Mommy juga tidak terlalu setuju kamu sekecil ini sudah belajar motor " ujar Millie membuat Milea langsung cemberut.
Setelah selesai sarapan Mile dan Malik pergi sekolah dengan diantarkan oleh pak Muh, tidak lama kemudian Millie pun pergi dengan mobilnya meninggalkan Meysha yang masih tertidur dijaga baby sitter nya.
Tidak lama setelah Millie pergi Marvin pun pergi untuk mengantarkan Maura ke kampus.
Hari ini Maura sedang malas membawa mobil sendiri dan memilih pergi dengan diantarkan oleh Marvin.
"Nanti dijemput jam berapa ?" tanya Marvin sambil menggenggam tangan Maura.
"Jam dua belas " jawab Maura sambil mempermainkan jemari Marvin.
"Baiklah nanti dijemput sekalian kita makan siang " jawab Marvin.
Marvin menghentikan mobilnya diparkiran kampus Maura. Sebelum Maura turun Marvin memberikan ciuman panjang di bibir ranum Maura. Tidak hanya dibibir namun ciuman itu perlahan merambat turun ke leher.
"Sayaaang sudah dong kapan aku turunnya " Maura mengingatkan Marvin yang terus menyosor bibir dan lehernya.
"Aarrggh..kamu ganggu saja Sayang " keluh Marvin.
__ADS_1
"Aku mau kuliah Sayang " Maura mengelus rahang tegas Marvin penuh kasih Sayang.
"Ya sudah..kamu belajar yang bener ya " ucap Marvin akhirnya sambil melepaskan seatbelt yang membelit tubuh Maura.
"Hati-hati ya Sayang " pesan Maura sambil melambaikan tangannya setelah ia turun dari mobil Marvin.
Hari itu semua beraktivitas normal seperti biasanya. Setelah mengantarkan Maura Marvin melanjutkan perjalanan menuju kantornya. Hari ini ia akan memimpin rapat penting menggantikan Papihnya yang sedang berlibur.
Rapat selesai ketika waktu menunjukkan jam setengah dua belas. Begitu rapat selesai Marvin pun bergegas pergi dengan mobilnya untuk menjemput Maura di kampus.
Marvin sampai di kampus Maura limabelas menit lewat dari jam dua belas. Disana Maura sudah menunggu dengan wajah masamnya.
"Maaf Sayang baru selesai rapat " Marvin buru-buru meminta maaf sambil memasangkan seatbelt Maura.
"Aku sebetulnya sudah selesai jam setengah dua belas..jadi lumayan lama nunggu di parkiran " jawab Maura cemberut.
"Maaf ya Sayang " Marvin mencium kening Maura membuat wajah masam Maura langsung memudar.
"Sayang..aku mau ayam goreng satu ember " pinta Maura.
"Iya " jawab Marvin sambil melajukan mobilnya meninggalkan kampus Maura menuju ke sebuah restoran yang berada tidak jauh dari sana untuk makan siang.
Pada saat makan siang Marvin dan Maura menyempatkan diri mengecek keberadaan Mile dan Malik.
Sepasang pengantin baru itu terlihat lega ketika Pak Muh mengatakan jika ia sedang menjemput Milea dan Malik di sekolah.
Selesai makan siang Marvin tidak langsung mengantarkan Maura pulang ke rumah namun membawanya ke kantor karena Marvin masih ada pekerjaan.
Di jalan Marvin menyempatkan membeli ayam goreng kesukaan Maura agar istrinya itu anteng di kantor menemaninya bekerja. Selain itu mereka juga membeli satu kotak cake coklat untuk Mommy nya.
Begitu sampai di lantai tempat ruangan Adam, Millie dan Marvin berada Maura langsung mengantarkan cake coklat itu untuk Mommy nya sementara Marvin langsung pergi ke ruangan kerjanya.
"Kakak tidak ke kampus ?" tanya Millie.
"Sudah Mom..ini baru dijemput sama Om Marvin " jawab Maura.
"Mom..kakak ke ruangan Om Marvin dulu ya " Maura pamit setelah memberikan cake coklat itu untuk Mommy nya.
"Iya Sayang " jawab Millie.
Keluar dari ruangan kerja Millie Maura langsung beranjak menuju ruangan kerja Marvin.
Sesampainya disana Maura mendapati Marvin sedang duduk didepan meja kerjanya dan fokus pada laptopnya.
Maura menyimpan tasnya di meja kemudian menghampiri Marvin dan langsung duduk mengangkang dipangkuannya menghadap kearah Marvin.
Marvin sedikit memundurkan kursi yang ia duduki memberi ruang agar Maura nyaman dalam pangkuannya.
Marvin samasekali tidak terganggu dengan kehadiran Maura dipangkuannya, ia kembali meneruskan pekerjaannya sambil sesekali mencium puncak kepala Maura.
__ADS_1