My Posesif Uncle

My Posesif Uncle
Sayang Om Marvin


__ADS_3

Jumat pagi Maura terlihat kebingungan karena belum mendapatkan sopir yang akan mengantarkannya ke Pangandaran.


Jika saja Zico tidak sedang berada di Bali bersama keluarganya pasti ia dengan senang hati mau mengantar Maura dan Maura tidak perlu bingung mencari sopir.


Karena belum juga mendapatkan sopir yang akan mengantarkan nya ke Pangandaran akhirnya Maura pun terpaksa mengabari teman-temannya yang sebagian sudah berada di sana bahwa ia tidak bisa pergi.


"Kalau Lo ga ikut ga seru Ra " ujar Weni teman Maura yang asli orang Pangandaran.


"Sorry Wen..Daddy ga kasih ijin gw pergi " jawab Maura sedih.


Besok adalah ulangtahun Weni teman sebangkunya. Maura dan teman-temannya akan merayakannya di villa Weni yang berada di Pangandaran.


Weni dan beberapa temannya sudah berangkat sejak Jumat subuh untuk mempersiapkan pesta.


Maura menatap kado yang sudah ia siapkan untuk teman sebangkunya itu.


Karena Maura tidak bisa pergi rencananya kado itu akan ia berikan pada hari Senin di sekolah.


Maura yang bete karena tidak jadi pergi akhirnya memilih tidur di kamarnya.


Hampir satu jam Maura tertidur , Ia baru membuka matanya dengan enggan ketika merasa ada yang menepuk-nepuk pipinya dengan lembut.


"Om Marvin ?" mata Maura terbuka sempurna ketika melihat Marvin tengah duduk di sisi ranjangnya.


"Katanya mau ke Pangandaran kenapa malah tidur ?" tanya Marvin.


"Tidak jadi..tidak ada yang ngantar kesana..mau bawa mobil sendiri dilarang sama Daddy " jawab Maura dengan wajah sedih.


"Ayo siap-siap..Om yang akan antar kakak kesana " Marvin menarik tangan Maura agar bangun.


"Beneran Om mau nganter aku ?"


"Iya beneran..Om sudah beli satu ember ayam goreng buat bekal di jalan " jawab Marvin.


"Terimakasih Om..aku sayaaang sama Om " Maura menghambur memeluk Marvin dan menciumi seluruh wajahnya.


Marvin terpaku merasakan jantungnya seperti berhenti berdetak untuk sesaat. Dan desiran halus langsung menjalar disekujur tubuhnya manakala tubuh mungil Maura erat memeluk tubuhnya.


"Buruan mandi..kakak bau " seloroh Marvin berdusta.


Sesungguhnya Marvin takut tidak bisa mengendalikan diri ketika berada begitu rapat dengan gadis itu dan kelepasan menerkam gadis polos itu.


"Aku memang dari pagi belum mandi " Maura terkekeh sambil melepaskan pelukannya dari tubuh Marvin dan bergegas pergi ke kamar mandi.

__ADS_1


Setelah tubuh Maura menghilang di balik pintu kamar mandi Marvin membuang napas kasar sambil mengelus wajahnya yang tadi mendapat ciuman bertubi-tubi dari Maura.


Untuk mengendalikan perasaan nya yang tidak karuan Marvin pun memilih keluar dari kamar Maura dan meminta pelayan di rumah Oma untuk membuatkannya kopi agar tidak ngantuk di jalan.


Tidak sampai setengah jam Maura pun keluar dari kamar dan siap untuk pergi.


"Om ngopi dulu ya biar tidak ngantuk di jalan " ucap Marvin sambil menyesap kopinya.


"Aku juga mau dong Om biar tidak ngantuk dan bisa nemenin Om ngobrol di jalan " Maura duduk disebelah Marvin.


Marvin pun memberikan cangkir kopi miliknya kepada Maura. Maura tanpa sungkan langsung meneguk sedikit kopi dari cangkir Marvin.


"Kalian hati-hati di jalannya jangan ngebut Vin nyetirnya..santai saja yang penting selamat sampai tujuan " pesan Oma sambil menyodorkan satu piring berisi roti isi kepada Marvin dan Maura.


"Iya Oma " jawab Marvin sambil mengambil satu roti isi dan memakannya.


Dari Jakarta Marvin memang belum sempat makan apa-apa.


Setelah menghabiskan satu cangkir kopi berdua dan satu roti isi , mereka pun bersiap-siap untuk pergi.


Di dalam mobil Marvin sudah tersedia satu ember ayam goreng dan aneka minuman dan makanan ringan untuk bekal mereka di jalan.


Marvin sudah menyiapkan segala sesuatunya dengan baik, karena selain makanan dan minuman di dalam mobil Marvin juga tersedia bantal dan selimut yang nyaman untuk jaga-jaga jika Maura tidur di jalan.


Maura langsung sibuk memakan ayam gorengnya sehingga untuk memasang seatbelt pun harus Marvin yang memasangkannya.


"Tidak ada Om " jawab Maura dengan mulut penuh ayam goreng.


Setelah siap Marvin pun mulai melajukan mobilnya meninggalkan halaman rumah orangtua Wisnu yang megah.


"Ada acara apa ke Pangandaran kak ?" tanya Marvin.


"Teman sebangku aku besok ulangtahun..mau dirayakan di vilanya disana..jadi kita merayakan ulangtahun Weni sambil liburan " jawab Maura.


"Jadi Om cowoknya sendiri disana ?" tanya Marvin.


"Iya..tapi kalau teman-teman aku yang cowok pada nyusul nanti Om ada temannya " jawab Maura.


"Moga-moga saja mereka pada nyusul " gumam Marvin.


Perjalanan sedikit tersendat ketika mereka terjebak di beberapa titik langganan macet.


"Kalau ngantuk kakak tidur saja " Marvin membetulkan letak kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya.

__ADS_1


glek


Maura menelan air liurnya ketika ia baru menyadari betapa tampannya Om kesayangannya itu.


Meskipun Marvin hanya memakai celana jeans pendek dan kaos polos ditambah kemeja flanel namun tidak mengurangi kadar ketampanannya.


"Kenapa liatin Om terus ?" Marvin menjentikkan tangan kirinya di depan hidung Maura.


"Om itu ganteng banget.. sumpah.. Kalau Om Marvin bukan Om aku pasti aku akan jatuh cinta sama Om " jawab Maura sambil tertawa.


"Jatuh cinta saja..Om tidak keberatan " jawab Marvin dengan wajah yang serius.


"Ya tidak mungkin lah..Om ini ada-ada saja " Maura terkekeh memukul lengan Marvin.


"Apa karena kakak sudah punya pacar ?" tanya Marvin.


"Salah satunya ya..tapi alasan yang paling utama adalah tidak mungkin Om dan keponakan pacaran " jawab Maura.


"Siapa bilang tidak mungkin..segala kemungkinan bisa saja terjadi kalau Tuhan berkehendak..apalagi kakak statusnya cuma anak sambung Mommy, jadi kita tidak ada hubungan darah " Marvin menjelaskan.


"Oh gitu ya Om " Maura tampak baru mengerti.


"Sepertinya lucu ya kalau sampai ada kejadian seperti itu " Maura terkikik membayangkan seorang paman pacaran dengan keponakan nya.


Marvin mengusap belakang kepalanya. Ternyata umpannya belum sampai tepat sasaran.. sepertinya ia masih harus bersabar sampai Maura benar-benar mengerti dan dapat membaca sinyal cinta darinya.


"Ngomong-ngomong kenapa kakak tidak pergi sama Zico saja ?" tanya Marvin setelah sekian lama hening.


"Zico sedang di Bali sama keluarganya jadi tidak bisa ngantar " jawab Maura santai.


"Om tau darimana sih kalau aku mau pergi ke Pangandaran ?" tanya Maura tiba-tiba.


'Dari Daddy..waktu kakak minta ijin Om kan sedang bersama Daddy di Palembang " jawab Marvin.


"Kok kakak tidak tau ya kalau Om pergi ke Palembang sama Daddy ?" tanya Maura.


"Gimana mau tau..orang kakak kan lagi ngambek sama Om..kakak itu kalau lagi ngambek.dibel saja susah " keluh Marvin.


"Habisnya Om nyebelin sih " bibir Maura langsung mengerucut mengingat Marvin malah terkesan memarahinya karena sudah menjahili Nisa.


"Om sudah rela nganter kakak ke Pangandaran masih dibilang nyebelin ?" Protes Marvin.


"Sekarang sudah tidak nyebelin lagi...aku sayang..sayang.. sayang banget sama Om " Maura memeluk lengan kiri Marvin dengan manja.

__ADS_1


__ADS_2