
Setelah luka ditubuh Milea mulai sembuh tuyul nakal itu mulai masuk sekolah lagi.
Wisnu menyuruh pak Muh dan orang rumah memperketat pengawasan terhadap Milea.
Motor matic Marvin yang sudah selesai diperbaiki pun diberikan kepada pak Muh agar Milea tidak bisa memakainya lagi.
Sedangkan motor Abimanyu yang juga sudah selesai diperbaiki langsung diantarkan ke rumah Bagas.
*
Sabtu pagi Nisa membangunkan Yudhis yang masih terlelap dengan posisi tengkurap.
Rencananya pagi ini mereka akan pergi joging, namun karena Yudhis tidak kunjung bangun juga Nisa pun terpaksa membangunkannya.
"Sayang..bangun..katanya mau joging " Nisa mencolek-colek hidung Yudhis.
"Mmhh..masih ngantuk Yang " jawab Yudhis dengan mata terpejam.
"Ya sudah kalau kamu masih ngantuk aku pergi joging sendiri saja ya " Nisa hendak beranjak meninggalkan Yudhis namun langkahnya terhenti ketika Yudhis mencengkeram tangannya dan menariknya hingga Nisa terjerembab menimpa tubuh Yudhis.
"Lebih baik olahraga nya disini saja, sama-sama berkeringat " bisik Yudhis ditelinga Nisa.
"Tidak mau ah aku mau pergi joging saja " Nisa yang sudah memakai pakaian olahraga nya beringsut dari tubuh Yudhis kemudian beranjak hendak keluar dari kamar.
Baru sampai pintu kamar Yudhis buru-buru mengejarnya kemudian menangkap tubuh Nisa dan mengangkatnya seperti membawa karung beras kemudian dijatuhkan diatas kasur empuk nya.
Setelah tubuh Nisa mendarat diatas kasur empuknya Yudhis meloncat kemudian mendaratkan tubuhnya diatas tubuh Nisa.
"Sayaaang..sakit tau kamu itu berat " keluh Nisa.
"Kenapa ngeluh..kan tiap malam juga aku selalu diatas begini dan kamu selalu tidak protes malah terlihat sangat menikmati " bisik Yudhis dengan suara menggoda.
"Tapi barusan kamu smaxdown aku, kalau tulang aku patah bagaimana " keluh Nisa.
"Suruh siapa mau kabur pergi joging sendiri " jawab Yudhis.
"Abisnya kamu diajak tidak mau " Nisa mengerucutkan bibirnya.
"Aku ngantuk banget Sayang.. semalam aku begadang sama Papi Adit dan kak Raka nonton bola " keluh Yudhis.
"Siapa suruh begadang " Nisa menjewer telinga Yudhis.
"Kamu tau sendiri Sayang..mana berani aku menolak ajakan Papi Adit dan kak Raka " jawab Yudhis sambil menyusupkan tangannya dibalik kaos Nisa.
"Mau ngapain ini " Nisa memukul tangan Yudhis yang sudah menemukan squisy kesukaannya.
"Cuma megang Yang..hangat banget dan empuk " jawab Yudhis sambil tersenyum nakal.
Kesenangan Yudhis tiba-tiba terganggu oleh suara berisik anak-anak di rumahnya.
"Om Yudhiis..Aunty Nisaaa..!" suara Dikha dan Disya dua keponakannya terdengar memanggil Nisa dan Yudhis.
"Aargh..ngapain sih dua bocah itu kesini pagi-pagi sekali..ganggu saja " keluh Yudhis.
"Sama keponakan sendiri tidak boleh begitu " omel Nisa sambil beringsut turun dari ranjang kemudian keluar dari kamar meninggalkan Yudhis yang tampak kesal karena keasikannya terganggu.
"Nis..kakak titip anak-anak ya sebentar mau jemput Papa dan Mama ke bandara.. anak-anak katanya tidak mau ikut mau main disini " ucap Mega kakak iparnya Yudhis.
"Iya kak " jawab Nisa.
"Yudhis mana ?" tanya Raka
"Masih di kamar " jawab Nisa.
"Di tas sudah ada makanan untuk anak-anak..sekalian tolong suapin ya " pinta Mega sebelum pergi.
__ADS_1
"Iya kak " jawab Nisa.
Setelah Raka dan Mega pergi, Dikha dan Disya langsung berlari masuk ke kamar Yudhis.
Kedua bocah berpipi bulat itu langsung naik keatas ranjang dan mengganggu Om nya yang sedang kesal.
Melihat kedua keponakannya yang menggemaskan itu kekesalan Yudhis pun berangsur sirna.
"Kenapa kalian tidak mau ikut sama Mama dan Papa ke bandara ?" tanya Yudhis.
"Aku mau main disini saja " jawab Dikha.
"Aku juga " jawab Disya centil.
"Tapi kalian ganggu Om lagi tidur " Yudhis menjitak kepala kedua keponakannya.
"Biarin " jawab keduanya kompak sambil ikut berbaring memeluk Om nya.
"Tadinya aku mau main ke rumah kakak Yesha sama dedek Arsen tapi mereka sedang pergi ke Bali " Dikha mengerucutkan bibirnya.
"Kenapa kalian tidak ikut berlibur ke Bali sama mereka ?" tanya Yudhis.
"Kan Opa sama Oma mau datang dari Kalimantan " jawab Disya.
"Oh iya " jawab Yudhis.
"Dikha..Disya..makan dulu yuk ! " ajak Nisa sambil membawa kotak bekal makan kedua bocah itu.
"Iya Aunty " jawab kedua bocah itu patuh.
"Kamu mandi dulu Sayang..kamu bau " Nisa mendorong Yudhis ke kamar mandi.
Dipintu kamar mandi Yudhis masih sempat mencuri satu ciuman di bibir Nisa.
"Sayaaang nanti anak-anak lihat " Nisa mendorong tubuh Yudhis masuk ke kamar mandi dan buru-buru menutup pintunya.
Kakak Yudhis yang bernama Raka dan Mega istrinya memang sering menitipkan kedua anak mereka jika mereka sedang ada kepentingan.
Yudhis yang baru selesai mandi dan sudah berpakaian menghampiri Nisa yang sedang menyuapi Dikha dan Disya makan.
"Kamu sudah pantas menjadi seorang ibu Sayang " bisik Yudhis sambil mengelus perut Nisa yang rata.
Nisa yang anak tunggal di keluarganya memang sangat penyanyang anak-anak.
Dulu pun ketika ia masih pacaran dengan Marvin ia sangat dekat dengan Maura.
Sepertinya kita harus pergi bulan madu biar kamu cepat hamil " bisik Yudhis lagi sambil mengendus leher Nisa.
"Sayaang kamu tuh nyosor terus..ada anak-anak juga " Nisa mengingatkan Yudhis jika diruangan itu ada dua bocah yang sedang anteng nonton tv.
"Biarin orang mereka sedang anteng nonton tv " jawab Yudhis cuek.
"Daripada gangguin aku yang sedang nyuapin anak-anak lebih baik kamu sarapan gih Sayang..tadi aku sudah bikin nasi goreng " Nisa menyuruh Yudhis sarapan.
"Kamu sudah sarapan ?" tanya Yudhis.
"Belum..aku sarapannya nanti setelah anak-anak selesai makan " jawab Nisa.
Yudhis beranjak menuju meja makan, namun pria tampan itu tidak sarapan di meja makan.
Yudhis mengisi piringnya dengan nasi goreng yang cukup banyak kemudian menghampiri Nisa yang sedang menyuapi kedua keponakannya makan.
"Kamu juga harus makan dong Sayang !" Yudhis menyuapi Nisa.
"Terimakasih Sayang " jawab Nisa sambil mengunyah makanannya.
__ADS_1
Setelah selesai menyuapi kedua keponakannya kini Nisa pun makan dengan disuapi Yudhis sambil menemani Dikha dan Disya nonton TV.
Beberapa jam kemudian Raka datang untuk menjemput Dikha dan Disya, awalnya kedua bocah itu tidak mau diajak pulang.
Namun setelah dibujuk dan diberitahu jika ada kakek dan neneknya dari Kalimantan akhirnya mereka pun mau diajak pulang.
"Kakak sengaja nitipin anak-anak sama kalian supaya kalian bisa sambil belajar mengurus anak " ujar Raka sebelum pergi.
"Hmm..alasan " cibir Yudhis. Raka hanya terkekeh sambil menuntun Dikha dan Disya masuk kedalam mobilnya.
"Dadaaah Om Yudhiiis ...Aunty Nisa " kedua bocah itu melambaikan tangannya kepada Yudhis dan Nisa.
Setelah mobil Raka tidak terlihat Nisa terpekik ketika Yudhis tiba-tiba mengangkat tubuhnya dibahunya seperti mengangkat karung beras dan membawanya ke kamar mereka.
"Sayaaang..aku takut jatuh " Nisa mencengkram punggung Yudhis erat.
"Kamu tuh..kalau aku jatuh bagaimana " Nisa memukul kepala Yudhis dengan bantal setelah tubuhnya mendarat diatas kasur empuknya.
"Ya kalau jatuh kebawah " jawab Yudhis santai.
"Kamu itu..kalau aku sampai cidera bagaimana ?" Nisa terus memukuli kepala Yudhis dengan bantal.
"Ya aku bawa ke rumah sakit " jawab Yudhis sambil nyengir.
"Kamu kok santai banget begitu sih ?" Nisa langsung cemberut.
"Ya tidak akan jatuh dong Sayang..ini buktinya kamu baik-baik saja " jawab Yudhis sambil mengambil bantal dari tangan Nisa kemudian mengurungnya dibawah tubuhnya.
"Aku tidak akan buat kamu jatuh Sayang..tapi aku akan buat kamu jatuh cinta..terus dan terus jatuh cinta sama aku " bisik Yudhis sambil menyatukan bibir mereka.
"Dasar raja gombal " jawab Nisa sambil membalas ciuman bibir Yudhis.
Ciuman mereka yang awalnya lembut lama-lama berubah menjadi ciuman yang panas dan menuntut.
Nisa tampak pasrah ketika Yudhis mulai melucuti baju mereka hingga tidak menyisakan sehelai benangpun di tubuh mereka.
"Hari ini aku tidak ijinkan kamu keluar dari kamar " bisik Yudhis dengan suara berat. Nisa hanya mengangguk patuh.
"Aku ingin punya banyak anak dari kamu " bisik Yudhis sambil melahap dua bukit kembar Nisa yang bulat dan padat.
"Dua saja jangan banyak-banyak " jawab Nisa.
"Tidak..pokoknya harus banyak seperti Papi Adit dan Mami Nana yang punya banyak anak " jawab Yudhis dengan suara yang tidak terdengar jelas karena mulutnya sedang mengemut pu ting dada Nisa.
"Terserah kamu lah Sayang " jawab Nisa sambil menggelinjang kegelian.
Dengan mulut masih mengemut pu ting Nisa, Yudhis menuntun benda pusakanya untuk segera memasuki bagian intim Nisa yang sudah mulai basah.
Nisa melenguh ketika benda pusaka milik Yudhis mulai melesak masuk dan bergerak maju mundur dengan perlahan dibawah sana.
Siang itu Yudhis tidak mengijinkan Nisa keluar dari kamar barang sebentar pun.
Bahkan untuk makan dan minum saja Yudhis menyuruh pelayan di rumahnya mengantarkan ke kamar mereka.
Dalam hati yang paling dalam Yudhis ingin agar Nisa lebih dulu hamil dari Maura.
Yudhis merasa menang satu langkah dari Marvin karena telah menikah lebih dulu, dan ia ingin kembali menang satu langkah dengan membuat Nisa hamil lebih dulu dari Maura.
"Sayaang sudah dong aku lelah " Nisa menggetok kepala Yudhis karena pria itu seperti yang tidak merasa lelah sama sekali.
"Kamu pake obat kuat ya " tuduh Nisa dengan tubuh terguncang karena Yudhis terus menggenjotnya dengan tempo yang cepat.
"Enak saja " jawab Yudhis semakin mempercepat gerakannya ketika akan mencapai puncaknya.
Tidak lama kemudian mereka berdua pun menge rang bersamaan sebelum akhirnya tubuh Yudhis ambruk diatas tubuh Nisa yang tampak tergolek lemah.
__ADS_1
"Semoga segera tumbuh ya diperut mama " Yudhis mencium perut Nisa sambil turun dari atas tubuh Nisa.