
Setelah mengganti bajunya Marvin pun mengambil bantal yang diberikan Maura kemudian tidur di atas sofa.
Setelah Maura tertidur dengan lelap Marvin pun pindah ke ranjang mereka bersama Maura.
Maura yang sudah tertidur lelap tidak menyadari jika Marvin pindah ke ranjang mereka. Bahkan saking pulasnya Maura sama sekali tidak merasakan jika tangan Marvin diam-diam menyusup kedalam balik bajunya.
Maura baru menyadari ketika menjelang dinihari ia terbangun karena ingin buang air kecil.
"Dasar curang " Maura memukul tangan Marvin agar keluar dari balik bajunya.
"Siapa suruh pindah kesini " omel Maura sambil beranjak ke kamar mandi.
Setelah keluar dari kamar mandi Maura kembali naik keatas ranjang dan berbaring di samping Marvin.
Meskipun kesal namun Maura tidak tega mengusir Marvin yang sedang tertidur dengan pulasnya.
Maura mengelus kepala Marvin dan mencium bibirnya sekilas sebelum ia kembali melanjutkan tidurnya.
Merasa ada yang menyentuh bibirnya Marvin pun membuka matanya. Marvin menarik sudut bibirnya ketika mendapati wajah cantik Maura begitu dekat dengan wajahnya.
"Sudah tidak marah lagi ?" tanya Marvin. Maura menggeleng.
Marvin pun tersenyum kemudian merangkum wajah Maura untuk menyatukan kembali bibir mereka.
Suara decapan bibir mereka terdengar jelas ditengah malam yang sepi itu.
"Kaaak..apakah masa nifas nya sudah selesai ?" tanya Marvin dengan suara yang parau.
"Kakak tidak tau Sayang..kakak tidak menghitung " jawab Maura sambil menenggelamkan wajahnya di dada Marvin.
"Si kembar lahir awal bulan kemarin, sekarang sudah hampir pertengahan bulan..berarti sudah lewat empat puluh hari Sayang " Marvin tampak berhitung dengan jarinya.
"Kakak sengaja ya tidak ngasih tau !" tuduh Marvin.
"Kakak memang tidak ngitung..jadi tidak tau kalau si kembar sudah empat puluh hari " jawab Maura sambil menguap.
"Memangnya kenapa harus kalau sudah empat puluh hari..kan syukuran bayi nya sudah Sayang ?" tanya Maura.
"Iya syukuran bayi nya sudah..yang belum syukuran Ayahnya " jawab Marvin.
"Memang harus ya ?" tanya Maura diantara kantuknya.
"Ya harus dong " jawab Marvin
__ADS_1
"Ngundang pengajian lagi ?" tanya Maura.
"Tidak perlu..syukuran Ayahnya cukup dirayakan berdua saja " jawab Marvin sambil menyusupkan tangannya kedalam balik baju Maura.
Mendengar jawaban Marvin barulah Maura mengerti apa yang dimaksud oleh suaminya itu.
Rasa kantuk Maura seketika sirna ketika tangan Marvin menyelusup dan menangkup dadanya yang hangat.
"Semakin besar ya Sayang " bisik Marvin sambil sedikit mere mas benda empuk itu.
"Jangan di re mas Sayang nanti ASI nya keluar "
"Sudah keluar " bisik Marvin ketika merasakan telapak tangannya yang basah.
"Tuh kaaan " Maura mengeluarkan tangan Marvin yang basah dari balik bajunya.
"Banyak juga ya ASI nya pantas si kembar cepat besarnya " ujar Marvin.
"Iya..Mamih dan Mommy selalu kasih aku makanan yang katanya biar banyak ASI biar cukup untuk menyusui dua bayi " jawab Maura.
"Seharusnya bukan cukup untuk dua bayi..tapi untuk Ayahnya juga " ujar Marvin.
"Kamu mau jadi bayi juga ?" Maura memijit ujung hidung Marvin sambil tertawa.
"Kaaak..mau buka puasa !" pinta Marvin menatap penuh damba kearah Maura. Maura pun mengangguk.
Marvin yang baru akan mengambil ancang-ancang terpaksa turun dari atas tubuh Maura ketika terdengar suara tangis bayi dari kamar sebelah.
"Anak-anak bangun " Maura buru-buru beranjak menuju kamar bayi disusul oleh Marvin dibelakangnya.
Setelah sampai di kamar bayi ternyata yang menangis adalah Maharani. Bayi mungil itu menolak Asi dalam botol yang diberikan baby sitter nya.
Bayi mungil itu baru berhenti menangis setelah mendapatkan asi langsung dari Maura.
Mulut mungilnya bergerak lincah menghisap pu ting Maura dengan rakusnya.
"Sepertinya si cantik tidak rela Ayah menghabisi Bunda malam ini ya ?" keluh Marvin sambil mencolek-colek pipi bayi mungil itu.
Maura hanya tertawa mendengar keluhan Marvin. "Sabar dong Sayang " ucapnya seraya mengelus rahang Marvin yang sedang memperhatikan Maharani menyusu.
Bayi mungil itu akhirnya tertidur setelah kenyang menyusu. Maura menurunkan bayi mungil itu disamping saudara kembarnya yang sedang tertidur dengan pulas.
"Sayang ke kamar lagi yuk !" bisik Marvin ditelinga Maura.
__ADS_1
"Iya " jawab Maura.
Marvin dan Maura yang hendak kembali ke kamarnya tiba-tiba berhenti ketika terdengar suara salah satu bayinya menangis. Ternyata Mahardika yang menangis.
Maura mengambil bayi tampan itu kemudian memberinya ASI. Mahardika tampak menyusu dengan rakus sama seperti saudara kembarnya.
"Kalian itu kompak banget ngerjain Ayah " Marvin kini mencolek-colek pipi bayi tampannya.
"Dek..disisain dong buat ayah " Marvin terus mengganggu Mahardika sehingga membuat bayi tampan itu menangis kencang.
"Sayang..kamu itu iseng banget sih jadi nangis kan Dika nya " Maura memarahi Marvin.
"Maafin Ayah Sayang " Marvin buru-buru meminta maaf sambil mengusap rambut putranya yang hitam dan tebal.
Setelah kenyang menyusu bayi mungil itu pun tertidur dan melepaskan pu ting Maura dari bibirnya.
Maura menidurkan Mahardika di tempat semula bersama pengasuhnya sebelum kembali ke kamarnya.
Setelah berada di kamarnya Marvin merangkul Maura kemudian menjatuhkan nya diatas ranjangnya dengan hati-hati.
"Kita lanjutkan yang tadi " bisik Marvin sambil menciumi wajah dan leher Maura.
Marvin yang sudah berhasil menanggalkan seluruh pakaian Maura tampak terkesima menatap dada Maura yang tampak besar dan montok, padahal dulunya hanya sebesar kepalan tangannya.
"Melihatnya jangan begitu dong..aku kan jadi malu " Maura menutup dada dan lembah miliknya dengan kedua tangannya.
"Kamu tidak pakai silikon kan ?" gurau Marvin.
"Enak saja " Maura mencubit perut Marvin.
Marvin tertawa sambil menyingkirkan tangan Maura yang menutupi kedua aset pribadinya.
"Jangan ditutup..semua ini milik aku " ucap Marvin sebelum melahap dua benda bulat yang tampak begitu menantang itu.
Suara lenguhan terdengar dari bibir Maura kala bibir Marvin mulai merambat turun dan berhenti diantara pangkal paha Maura.
Karena waktu hampir mendekati subuh Marvin pun memilih langsung pada permainan inti.
Maura tampak meringis ketika benda pusaka milik Marvin mulai melesak masuk dengan gagahnya kedalam goa sempit milik Maura.
Pergumulan panas sepasang suami istri itu berakhir ketika suara adzan subuh berkumandang.
Marvin dan Maura mengakhiri aktifitas panas mereka untuk beribadah. Setelah selesai melaksanakan solat subuh mereka pun melanjutkan pergumulan panas mereka hingga matahari mulai terbit.Keduanya akhirnya tertidur sampai matahari mulai tinggi.
__ADS_1
Adam dan Mikha yang sangat hapal jika si kembar kini sudah berusia 40 hari lebih dapat menebak kenapa Marvin dan Maura sampai belum keluar dari kamar padahal hari mulai tinggi.