My Posesif Uncle

My Posesif Uncle
Rencana Bulan Madu


__ADS_3

Keesokannya pagi-pagi sekali Maura sudah bersiap akan pergi.Hari ini ia akan melanjutkan pemotretan yang kemarin belum selesai di Bogor.


"Om akan antar kakak ke Bogor " Marvin mengambil tas Maura dan kunci mobil dari tangan Maura.


"Tidak usah Om..aku bisa pergi sendiri..nanti Mommy dan Daddy marah " Maura menolak.


"Mommy dan Daddy tidak akan marah.. kakak kan sekarang calon istri Om " jawab Marvin santai sambil membukakan pintu mobil untuk Maura.


Setelah Maura masuk kedalam mobil Marvin pun masuk kedalam mobil dan mulai melajukan mobil Maura meninggalkan keluarganya yang masih berkumpul di rumah Wisnu.


"Kak..bisa tidak mulai sekarang jangan panggil Om lagi..sekarang kan Om sudah jadi calon suami kakak dan sebentar lagi kita akan menikah " pinta Marvin sambil menggenggam tangan Maura dan meletakkannya diatas paha kirinya.


"Tidak mau ah..sudah enak panggil Om..Om Marvin " jawab Maura sambil mencolek dagu Marvin menggoda


"Tapi Om maunya panggilannya diganti yang mesra gitu " pinta Marvin.


"Memang maunya dipanggil apa ?" Maura menyandarkan kepalanya dilengan kiri Marvin dengan manja.


"Panggil Sayang..beb..atau apalah asal jangan Om " jawab Marvin.


"Ga mau ah..rasanya aneh " Maura kekeh menolak.


"Ya sudahlah..suka-suka kakak saja " akhirnya Marvin menyerah.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan karena sempat terjebak macet akhirnya mereka pun sampai di lokasi pemotretan.


Maura pamit meninggalkan Marvin untuk berganti kostum. Setelah hampir satu jam Maura ditangani oleh tim Mua tidak lama kemudian Maura pun keluar.


Marvin terpaku menatap Maura yang tampak cantik menggunakan baju berwarna ungu muda dengan bahu terbuka. Riasan yang natural pada wajahnya membuat gadis itu terlihat sangat cantik dan menggemaskan.


Maura beberapa kali menatap Marvin dan tersenyum manis ketika melihat pria tampan itu tampak setia menungguinya melakukan sesi pemotretan.


Setelah dua jam berlalu akhirnya sesi pemotretan itu pun berakhir.Maura kembali mengganti bajunya dan Marvin setia menunggui Maura sampai gadis itu keluar dari ruang ganti.


"Menunggui kakak pemotretan kenapa rasanya Om tidak iklas ya " ujar Marvin ketika mereka bersiap akan pulang.


"Tidak iklas kenapa..kesel ya nunggu kakak nya lama ?" tanya Maura dengan wajah sedikit cemberut.


"Bukan kak..Om merasa tidak iklas saja wajah cantik kakak dilihat banyak orang " jawab Marvin sambil mencubit ujung hidung Maura yang mancung.


"Ini kan pekerjaan kakak Om " Maura membalas dengan mencubit perut Marvin.

__ADS_1


"Tapi nanti kalau sudah nikah dikurangi modeling nya ya Kak.. kakak harus bisa membagi waktu antara mengurus suami, kuliah dan modeling..dan Om minta mengurus suami harus diprioritaskan " pesan Marvin.


"Iya..akan kakak usahain " jawab Maura.


"Kita langsung pulang atau mau jalan dulu ?" tanya Marvin sambil mulai melajukan mobil Maura meninggalkan lokasi pemotretan.


"Pulang saja akunya cape Om " jawab Maura.


"Baiklah..kakak tidur saja nanti kalau sudah sampai Om bangunkan " jawab Marvin sambil mengelus kepala Maura dengan tangan kirinya, Maura mengangguk.


Sepanjang perjalanan pulang dari Bogor Maura tertidur pulas. Sambil menyetir sesekali tangan kiri Marvin mengelus puncak kepala Maura yang terkulai di sandaran kursi.


Maura terbangun ketika Marvin menepikan mobilnya di sebuah minimarket untuk membeli minuman.


Maura melepas seatbelt nya dan ikut turun, Marvin menggenggam tangan Maura dan menuntunnya masuk ke minimarket.


Di dalam minimarket Maura mengambil keranjang dan mengisinya dengan beberapa botol air mineral dan minuman kaleng juga aneka Snack untuk cemilan di jalan.


Setelah melakukan pembayaran mereka pun masuk kembali kedalam mobil.


"Kalau Om ngantuk gantian saja kakak yang nyetir " ucap Maura ketika Marvin sedang memasangkan seatbelt miliknya.


"Tenang saja Om tidak ngantuk cuma haus saja " jawab Marvin sambil mendekatkan wajahnya dan.. hap..dalam sekejap bibir Maura pun ia lahap dengan rakus.


"Sakit kak " keluh Marvin sambil menangkap tangan Maura.


"Malu diliatin tukang parkir " bisik Maura.


"Ya ampun Om lupa..mobil kakak kacanya tidak gelap " Marvin buru-buru menjauh dari tubuh Maura.


"Makanya jangan main nyosor saja " omel Maura sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.


"Kakak juga tadi tidak nolak " jawab Marvin sambil mulai melajukan mobilnya meninggalkan parkiran minimarket dan melanjutkan perjalanan pulang ke Jakarta.


"Kalau sudah nikah kakak mau kita pergi bulan madu kemana ?" tanya Marvin.


"Haaahh ..bulan madu ?" Maura melongo menatap kearah Marvin yang sedang fokus menyetir.


"Kenapa bengong ?" Marvin mengusap wajah Maura yang tampak lucu.


"Emang harus ya bulan madu ?" tanya Maura.

__ADS_1


"Kalau menurut Om sih harus dan penting " jawab Marvin.


"Maksudnya ?" tanya Maura.


"Bulan madu penting karena memiliki efek positif terhadap pernikahan, terutama di masa mendatang. Harus diakui bahwa memulai kehidupan rumah tangga bukanlah sesuatu yang mudah.


Ibaratnya, kita perlu bersenang-senang terlebih dulu sebelum memasuki babak baru dengan episode-episode yang mungkin sulit ditebak " jawab Marvin.


"Saat bulan madu adalah kali pertama kita menjalani petualangan sebagai pasangan suami-istri yang sesungguhnya. Momen bulan madu akan menjadi hal yang paling diingat pada tahun-tahun mendatang setelah menikah " sambung Marvin.


"Ooh begitu ! " Maura manggut-manggut tanda mengerti.


"Selain itu persiapan pernikahan itu menyita waktu, tenaga, dan pikiran. Karena itu, banyak pasangan yang tentu sudah menunggu-nunggu waktu untuk liburan atau hal apapun agar dapat mengosongkan pikiran. Inilah salah satu manfaat bulan madu "


"Iya juga..kakak juga sempat stres waktu Mommy dan Daddy tidak merestui hubungan kita..kita mau ketemuan saja harus bohong dulu dan sembunyi-sembunyi " jawab Maura.


"Makanya menurut Om bulan madu itu penting..jadi kakak mau kita pergi bulan madu kemana ?" tanya Marvin lagi.


"Terserah Om saja..kemana pun kakak tidak keberatan " jawab Maura sambil menyandarkan kepalanya di bahu kiri Marvin.


"Kalau begitu nanti kita pikirkan dulu " ucap Marvin.


"Iya " jawab Maura sambil mengusap-usap paha Marvin.


"Kaaak..tangannya jangan nyerempet kesitu kalau punya Om bangun bagaimana ?" Marvin menangkap tangan Maura.


"Ups maaf " Maura menjauhkan tangannya dari paha Marvin.


"Nanti kalau sudah nikah jangankan nyerempet..mau pegang pun boleh " ucap Marvin sambil mengerling nakal.


"Apaan sih Om " Maura tersipu malu.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan akhirnya mereka pun sampai ke rumah Wisnu.


Setibanya disana Arin dan Seno sudah pulang ke Bandung, tinggal Adam dan Mikha yang belum pulang karena dilarang oleh tiga tuyul Mile, Malik dan Meysha.


"Lancar kak pemotretan nya ?" tanya Millie.


"Lancar Mom..begitu selesai kita langsung pulang " jawab Maura sambil menyandarkan kepalanya di bahu Millie.


"Kasian putri Mommy " Millie mengelus kepala Maura penuh kasih sayang.

__ADS_1


Setelah Marvin beristirahat sorenya mereka pun pulang. Mile dan Malik bersikeras ingin ikut. Mereka membawa perlengkapan sekolah di dalam tas mereka karena besok mereka akan pergi ke sekolah dari rumah Adam.


__ADS_2