
Malam ini Brian sudah rapi memakai setelan jas berwarna hitam dengan dasi berwarna merah, sedangkan Nafiza memakai gaun berwarna merah maroon dengan beberapa manik di depannya, bagian dadanya berbentuk V dan bagian punggungnya sedikit terbuka, riasannya sangat natural dengan gaya rambut di kepang bagian atas kemudian diuraikan ke samping dan ada sebuah jepit bunga berwarna putih semakin mempercantik penampilannya. Nafiza memakai sepatu high heels yang berwarna gold tidak terlalu tinggi tetapi kaki rampingnya terlihat sempurna hingga ia pun turun ke lantai bawah rumahnya setelah hampir 2 jam berhias. Maklum ini kali pertama ia akan menemani suaminya ke pertemuan rekan bisnisnya setidaknya ia harus terlihat mempesona dan sedikit dewasa.
Tap tap tap tap
Bunyi kaki Nafiza berjalan ke bawah, Brian sudah dengan sabar menunggunya.
"Kamu lama seka. . . .li" Brian terpana melihat anggun dan cantiknya Nafiza selama ini dia hanya melihatnya dengan seragam sekolah atau kaos dan celana hot plane di rumah.
"Sabar dong, perempuan kan tidak bisa buru-buru" Nafiza melihat Brian heran, ia melihat dirinya kembali dari atas sampai bawah.
"Tidak cocok ya? apa aku salah kostum?"
"Ehm cocok kok. Cantik" Brian tidak bisa melanjutkan perkataannya dia terlalu terpana, sampai tidak menyadari Nafiza sudah berada di depannya kemudian ia memutar tubuh Brian dan mendorongnya untuk berjalan keluar.
"Kalau begitu jangan bengong terus kakiku pegal pakai heels"
Brian menurut saja di dorong keluar dan mereka menaiki mobil yang sudah terparkir depan pintu keluar.
Sesampainya di sana Brian membukakan pintu mobil untuk Nafiza dan memegang tangannya sambil berjalan. Nafiza gugup takut di sana ia akan melakukan kesalahan, saat Nafiza dan Brian masuk semua mata memandangnya biasanya Brian datang dengan sekretarisnya tapi kali ini ia membawa seorang gadis.
"Halo pak Brian terima kasih sudah datang ke sini" sambut pak Satrio yang mengundang brian ke acara pembukaan cabang perusahaan barunya.
"Sama-sama pak" jawab Brian singkat sambil berjabat tangan.
"Wah pak Brian mengajak siapa gadis cantik ini?"
"Perkenalkan dia Nafiza istri saya"
Nafiza terkejut dia sebenarnya malu dan masih kaku jika mengenai status mereka,
kemudian pak Satrio bersalaman dengan Nafiza. Brian bertemu dengan banyak rekan bisnisnya dan mengobrol dengan mereka. Nafiza menjauhkan diri, dia tidak mengerti apa yang dibicarakan di sana dan sudah mulai merasa bosan.
"Hem bosan" Nafiza menghela nafasnya.
Ia berjalan hendak mengambil minuman di meja pojok tetapi kakinya menginjak gaunnya dan dia akan jatuh tapi seseorang menangkap tubuhnya dan membantunya berdiri.
"Terima kasih" ucap Nafiza.
__ADS_1
"Sama-sama, lain kali hati-hati ya" balas seorang lelaki masih muda.
"Kamu sepertinya baru ke sini? aku baru melihatmu." Tanyanya.
"Oh iya"
"Boleh tahu nama kamu siapa? aku Septa" sambil memberi tangannya.
"Aku Nafiza" mereka berjabat tangan.
"Kamu sepertinya masih muda, masih sekolah?"
"Iya aku masih kelas 3 SMA"
"SMA mana?"
"SMA Nusantara"
"Oh. . ."
"Cantik sekali dan masih polos, aku harus mendekatinya" ucap Septa dalam hati.
"Kamu tadi mengobrol dengan siapa?" tanya Brian sambil mengemudikan mobilnya.
"Tadi Septa kamu kenal tidak?"
"Septa dia anak pak Ardi rekan bisnisku"
"Ohhhhhh"
Sesampainya di rumah mereka masuk ke kamar masing-masing, Nafiza menghapus make up yang dipakainya rasanya gatal karena dia tidak terbiasa memakai riasan setelah itu dia akan mengganti pakaiannya, tetapi resletingnya tidak bisa di buka sepertinya tersangkut.
"Haaahh lelah rasanya tapi tidak mungkin tidur pakai gaun" rengeknya di depan cermin, ini sudah tengah malam, Bi Inah pasti sudah tidur tidak enak membangunkannya. Akhirnya ia mau tidak mau harus meminta Brian membukakan resleting gaunnya.
Tok tok tok
"Brian .. ." panggil Nafiza.
__ADS_1
"Masuk Fiz" Brian sedang membuka dasinya.
"Brian bantu aku tolong buka resletingnya sepertinya tersangkut" pinta Nafiza.
"Sini mendekatlah"
Nafiza membelakangi Brian, kemudian Brian mencoba membuka resleting gaun Nafiza. Sedikit agak keras tetapi Brian juga jadi tidak fokus karena melihat punggung mulus Nafiza.
"Hati-hati nanti gaunnya rusak"
"Ini tersangkut, sebaiknya rusak hanya sletingnya tidak apa-apa bisa di ganti" kemudian Brian menarik resletingnya sedikit keras dan akhirnya terlepas. Sekarang yang ada di depannya hanya kulit putih mulus Nafiza.
Brian menelan ludahnya, junior di bawahnya meronta ingin beraksi.
Nafiza tahu resletingnya sudah terbuka dia memutar tubuhnya menghadap brian.
"Terima kass. . . "
Brian mendorong tubuh Nafiza ke ranjang di depannya tanpa aba-aba lagi Brian langsung mencium bibir Nafiza, ia terkejut ini adalah ciuman pertamanya tetapi ia juga tidak melawan saat Brian menarik bibir Nafiza dengan bibirnya. Brian dengan lembut menciumi Nafiza, ia masih menutup bibirnya. tubuhnya terasa panas dan hampir kehabisan nafas.
Brian tahu ini ciuman pertama Nafiza karena Nafiza sangat kaku, Brian berusaha terus melembutkan ciumannya, tangannya menarik pelan gaun di bahu Nafiza tetapi tangannya dihentikan oleh Nafiza, Brian melepas ciumannya dan memandang wajah Nafiza.
"Aku takut" ucap Nafiza matanya berbinar melihat Brian.
"Tidak apa-apa, aku akan pelan-pelan" Brian kembali menurunkan gaun Nafiza sampai sedikit lagi dadanya terbuka tetapi tangannya dihentikan lagi oleh Nafiza.
"Aku belum siap, nanti saja ya" rengek Nafiza.
"Kalau menunggu kamu siap itu lama, kita kan sudah menikah Fiz"
"Tapi kesepakatan kita?"
"Masa bodo dengan kesepakatan itu!!" Brian mencium Nafiza mengulum bibirnya hingga Nafiza tidak bisa lagi berbicara dan kali ini gaunnya sudah tidak menutupi dadanya lagi. Tangan Brian beralih memegang dada Nafiza tetapi rasanya pipi Nafiza basah. Iya Nafiza menangis.
"Kamu kenapa menangis?" tanya Brian heran.
"Aku belum siap, kamu terlalu memaksa" jawabnya sambil memalingkan wajahnya dari Brian.
__ADS_1
Brian menjadi canggung dan sedikit merasa bersalah melihat Nafiza menangis, kemudian Brian menutup tubuh Nafiza dengan selimutnya dan pergi keluar kamar menuju dapur di bawah dia merasa harus minum air supaya lebih tenang dan yang pasti supaya juniornya tidak meronta-ronta kalau terus di kamar bersama nafiza.
"Yang sabar ya jun belum saatnya kamu beraksi" ucap Brian sambil melihat ke bawah celananya.