
Nafiza berada di gerbang depan sekolah bersama Tita, mereka menunggu supirnya masing-masing.
"Tadi kamu sadar tidak saat Septa bilang dia mencari kamu sampai kesini, sepertinya dia memperhatikan kamu Fiz" ucap Tita.
"Hmmm, dengar sih. Mungkin karena dia baru pindah dia mau mencari teman"
"Mungkin juga sih, tapi dia tidak tahu kamu sudah menikah ya"
"Iya, biarlah nanti dia akan tahu sendiri, lagi pula tidak penting juga kalau dia tahu ataupun tidak statusku"
Supir Tita datang terlebih dahulu, Tita pun menaiki mobilnya.
"Aku duluan ya Fiz" sahut Tita.
"Iya Ta hati-hati yah" Nafiza melambaikan tangannya ke Tita, Nafiza masih menunggu yang menjemputnya.
"Kamu menunggu siapa?" tanya Septa menghampiri Nafiza, dia mengendarai motor sport berwarna merah.
"Aku di jemput supir pribadiku"
"Aku antar saja ya" ajak Septa.
"Tidak usah, sebentar lagi pasti datang kok pak Ramli supirku"
"Kita satu arah kok Fiz, sekolahnya sudah sepi cuma kamu yang belum pulang, kalau ada yang culik bagaimana" goda Septa.
"Memangnya aku anak TK ada yang mau nyulik" jawab Nafiza sambil tertawa.
"Sudah ayo aku antar"
__ADS_1
"Hmmm gimana ya. . ." setelah beberapa menit berfikir akhirnya Nafiza mau diantar pulang oleh Septa.
Septa memberikan helm kepada Nafiza dan mulai mengendarai motornya.
"Kamu kok tahu jalan rumahku?" tanya Nafiza.
"Aku kan sudah bilang aku cari kamu, pegangan yang erat Fiz." sambil menarik gas motornya.
"Jangan ngebut-ngebut Septa!!" Nafiza tanpa sadar memeluk Septa dan mereka sampai pintu pagar rumah Nafiza dengan cepat, Nafiza melepas pelukannya.
"Eh maaf ya" ucap Nafiza sambil turun dari motor Septa dan memberikan helmnya.
"Tidak apa-apa, aku memang sengaja biar di peluk kamu"
"Ih gombal terus, terima kasih ya sudah mengantarku pulang" ucap Nafiza sambil berjalan masuk ke dalam.
"Ini rumah suamimu kan Fiz?"
"Tahu" Septa mengendarai motornya dan pergi.
"Dia kok tahu semuanya" Nafiza agak sedikit bingung dengan Septa.
***
Brian sedang berada di kantor.
Tok tok tok
"Masuk" perintah Brian.
__ADS_1
"Ini pak berkas yang harus ditandatangani" ucap Sabrina memberikan beberapa dokumen kepada Brian.
Brian membaca beberapa lembar dan menandatanganinya.
"Maaf apa bapak baik-baik saja? wajah bapak sepertinya sedikit pucat"
"Saya baik-baik saja kok Sabrina"
"Mau saya buatkan teh pak?"
"Boleh tapi jangan terlalu manis"
"Baik pak" Sabrina berjalan keluar dari ruangan Brian.
"Sepertinya pak Brian kurang tidur pasti semalam terjadi sesuatu dengan istrinya, hemmm istrinya masih kecil seperti itu, padahal daripada istrinya tubuhku lebih bagus dan wajahku lebih cantik, mau-maunya pak Brian sama dia" umpat Sabrina dalam hati.
Tok tok
"Pak ini teh nya" Sabrina menghampiri Brian yang duduk di kursinya tetapi dia menumpahkan teh ke kemeja Brian.
Sabrina cepat-cepat mengambil tisu di meja tamu Brian dan mengelap teh yang tumpah di kemeja Brian.
"Maaf pak saya tidak sengaja"
"Sudah tidak apa-apa biar saya yang bersihkan sendiri"
Sabrina masih membersihkan teh di kemeja Brian berharap sesuatu terjadi dia semakin mendekatkan wajahnya tetapi Brian malah berdiri dan menjauh.
"Kamu selesaikan saja pekerjaan kamu Sabrina saya tidak apa-apa kebetulan saya menyimpan kemeja di sini untuk ganti"
__ADS_1
"Baik pak" Sabrina sedikit kecewa, dia kemudian keluar menutup pintu ruangan brian. Sebenarnya dia berharap bisa menggoda Brian, selama ini sebelum menikah Brian selalu pergi kemanapun mengajak Sabrina tetapi semenjak dia menikah Sabrina tidak di bawa bersamanya lagi, dia sudah lama menyukai Brian saat mendengar Brian akan menikah dia dengan sengaja membuat alasan agar tidak menghadiri akad nikah Brian. Entah kenapa sekarang dia merasa tertantang mendekati Brian menjadi istri kedua pun baginya tidak masalah.
"Sabrina agak sedikit aneh hari ini" gumam Brian menghela nafas.