
Setelah perjalanan yang cukup panjang yang mereka tempuh, akhirnya mereka telah sampai di air terjun cibeureum. Mereka cukup kelelahan apalagi Tita yang sebenarnya kurang suka melakukan trekking, tetapi karena ada Troy ia menjadi cukup semangat. Beberapa kali Tita hampir menyerah dan mengeluh tetapi teman-temannyalah yang memberinya dorongan agar tetap berjalan sampai tujuan.
"Waahhhh air terjunnya indah sekali" Tita yang tadinya berjalan paling belakang tiba-tiba berjalan cepat menjadi yang paling depan.
"Uuuwaaaaa" Nafiza hanya bisa berteriak, ia tidak tahu harus berkata apa lagi tentang keindahan alam ciptaan Tuhan ini.
"Padahal dua gadis ini tadi kelihatan sangat lemah, lihat Troy begitu sudah sampai mereka yang paling semangat" ucap Brian pada Troy di sampingnya.
"Iya benar tuan"
Tita dan Nafiza saling bergandengan tangan mereka menyusuri bebatuan menuju ke pusat air terjun tersebut.
"Kita harus melepas sepatu dulu Ta" ajak Nafiza ia mencari tempat duduk agar bisa melepas sepatu dan menyimpannya aman jangan sampai terkena air.
Tita mengekor pada Nafiza, mereka berdua duduk di atas sebuah batu besar membuka sepatu yang dikenakannya.
Setelah menaruh sepatunya, mereka berdua berjalan kembali mendekat pada aliran air terjun yang besar.
"Rasanya segar" Nafiza berjongkok menyentuh air di depannya.
Tita mulai menurunkan kakinya perlahan.
"Luka kakimu sudah tidak apa-apa Ta?"
"Sudah sembuh ko, ayo kita mandi Fiz" ajaknya, ia memegangi kedua tangan Nafiza membantunya masuk ke dalam air.
"Dinginnnnnn" seru Nafiza, mereka berdua bermain air saling menyiram satu sama lain.
Troy tak melewatkan moment ini, ia membawa kamera lalu memotret Nafiza dan Tita. Menurutnya foto candid selalu bagus.
Brian pun bersiap ia menaruh tas dan sepatunya akan menghampiri Nafiza, namun ia menghentikan langkahnya sejenak.
"Troy tolong potret aku" pinta Brian sambil membuka kaos yang di pakainya dan bergaya di depan air terjun. Ia menjadi model dadakan.
(Jangan salfok sama hitam-hitam di ketiak Brian ya ππ)
Nafiza dan Tita memperhatikan dari jauh.
"Narsis sekali suamimu Fiz"
"Memang, dia ini malah membuka-buka pakaiannya segala. Padaku saja tidak boleh ini tidak boleh itu, pakai pakaian berenang saja tidak boleh. Dia malah memamerkan tubuhnya pada orang lain!" Nafiza melihat beberapa pengujung wanita di sana tidak dapat mengalihkan pandangannya pada Brian.
"Haha kamu cemburu dan marah ya banyak gadis menatap indah tubuh suamimu" ledek Tita.
"Iya, aku akan memberinya pelajaran" Nafiza berjalan menghampiri Brian yang masih bergaya-gaya untuk foto.
"Aw aduh" Brian memekik, telinganya di tarik Nafiza.
"Bagus ya buka-buka pakaian, pamer roti sobeknya di depan para perempuan" Ucapnya kesal.
__ADS_1
"Aduh lepas Fiz, ampun deh ampun" Brian mencoba menyingkirkan tangan Nafiza dari telinganya.
"Biarkan saja, kamu bilang tubuhku tidak boleh di lihat orang lain tapi lihat kamu sendiri yang pamer. Mau membuat para gadis di sini tergila-gila padamu ya!"
"Sakit Fiz, iya iya aku akan memakai pakaianku lagi. Lepaskan dulu ya istriku sayang" Brian merayu.
"Pakai sekarang!"
"Iya dong sayang aku pakai sekarang ya. Lepas ya lepas nanti telinga suamimu panjang sebelah memangnya mau"
"Kalo cuma begini mana bisa panjang sebelah!" Nafiza semakin menarik telinga Brian ke atas dan memutarnya.
"Aduh aduh aduh" Brian meringis lebih keras.
Troy yang berada di depannya menahan tawa sambil menutup mulutnya.
"Troy jangan tertawa, bantu aku agar Nafiza melepaskan telingaku" pinta Brian.
"Iya tuan" Troy menganggukan kepalanya sambil mengambilkan pakaian Brian yang di letakkannya di bawah.
"Dasar ISTI, suami takut istri" Troy masih tertawa dalam hatinya. Bagaimana seorang Brian yang gagah selalu mengalah pada istri kecilnya itu.
Troy memberikan pakaian itu pada Brian.
"Ini aku akan memakaianya, sudah ya lepas sayang akan susah memakainya jika tanganmu masih menempel di telingaku. Tuh kan tuh" Brian memasukkan kaos itu ke dalam kepalanya tetapi terhalang tangan Nafiza.
"Awas ya tidak boleh di buka lagi!" Nafiza membuang tangannya melepaskan genggaman nya di telinga Brian.
"Iya sayangku, kalau sudah tidak marah lagi ayo foto" Brian memandang Nafiza yang masih cemberut, Troy memotretnya, ini menjadi foto yang manis.
"Senyum dong sayang, mana giginya aku mau lihat. Gigi mana gigi, iiiiiiiiiiiiiiii" goda Brian agar Nafiza tertawa.
Sontak saja Nafiza benar-benar tertawa ia memukul bahu Brian.
"Memangnya aku bayi"
"Kamu bukan bayi tapi kamu calon ibu dari bayi-bayiku" mendengar itu wajah Nafiza menjadi semu
kemerahan.
Kini mereka berdua berganti-ganti gaya, Troy setia memotretnya.
Tita yang sedari tadi memperhatikan dari jauh cukup merasa iri.
"Mulai deh keuwuan mereka berdua"
***
"Troy sini gantian aku akan memotretmu" Brian memberi tawaran, ia sudah merasa cukup dengan foto-fotonya, mulutnya terasa kering karena harus selalu tersenyum.
"Baik tuan" Brian, Nafiza dan Troy berganti posisi, Brian bersiap untuk memotret Troy, sedangkan Nafiza hanya memperhatikannya saja.
Troy bergaya sangat kaku.
__ADS_1
"Troy relakslah jangan tegang seperti itu"
"Ba-baik tuan" ia tersenyum kecut.
"Senyummu tidak bagus kak Troy" komentar Nafiza. "Lebih baik kita ganti tempat, sepertinya spot sebelah sini bagus" tunjuk Nafiza pada sebuah semak yang rimbun dengan tumbuhan.
"Kemarilah Troy" perintah Brian, Troy mengikutinya.
"Kak Troy sepertinya kamu lebih baik tidak usah tersenyum" saran dari Nafiza.
"Iya nona" Troy menurutinya dan sedikit bergaya memasang wajah seriusnya.
"Bagus Troy" Brian memotretnya beberapa kali. "Wah kamu seperti seorang model Troy" pujinya melihat Troy yang sudah mulai ahli bergaya.
"Ih curang, aku belum di foto" Suara Tita berada di belakang Nafiza.
"Sini Ta aku akan memotret kalian berdua"
Tita mendekat dan merangkul tangan Troy, lelaki yang di rangkulnya itu berubah menjadi kaku kembali.
"Senyum saja Troy jangan seperti orang tertekan" ucap Brian.
"Ucapkan Ciiiisss kak Troy" intruksi Tita di sampingnya.
"Ciiiisss" masih tersenyum kaku.
"Hemmmmm sudahlah Brian potret saja" Nafiza menyerah melihat Troy yang sulit tersenyum bagus.
Setelah puas melakukan sesi pemotretan dadakan tema alam semesta, mereka berempatpun masuk kembali ke dalam air.
Airnya memang tidak terlalu dalam, mereka mendekati pusat air terjun dan bermain-main.
Hari mulai sore, suasana menjadi semakin dingin. Nafiza, Brian, Troy dan Tita sudah membersihkan diri dan berpakaian rapi.
"Sudah terlalu dingin lebih baik sekarang kita pulang" Brian berdiri dan menggendong ranselnya.
Mereka bertiga mengikuti langkah Brian.
"Hari ini sangat menyenangkan, aku tidak akan melupakannya" Nafiza mengejar Brian dan menggenggam tangannya. "Berjalan bersamamu selalu membuatku bahagia meski itu pergi ke tempat yang sangat sederhana sekalipun"
"Itu karena kita selalu bersama, aku mencintaimu Nafizaku" Brian mengecup kepala Nafiza dan membelai rambutnya sambil tetap berjalan.
"Ehem" Tita berdehem, ia berjalan di samping Troy namun tak ada respon darinya.
"Dikacangin" Tita menghela nafasnya.
***
Maaf ya cerita liburannya singkat
Jangan lupa tersenyum sayangku semuanya ππ
__ADS_1