Pengantin Kecilku

Pengantin Kecilku
Season 2-Chapter 74


__ADS_3

Maudy terdiam, ingatan nya langsung pada saat dirinya sering minta bantuan pada Alya. Menyuruh Alya mengambil sesuatu, menyuruh Alya membeli kebutuhan nya, dan ada banyak lagi ia sendiri tak sanggup untuk menghitung.


Bagi Maudy itu biasa saja, karena Alya juga tak pernah menolak jika ia meminta bantuan. Alya juga terlihat bahagia memandikan Nura atau memasak sayur bening supaya Asinya keluar banyak.


"Kenapa takut sama kak Kenan ?" tanya Maudy kembali.


Rian menatap wajah sang istri "Kamu tidak akan pernah tau Kak Kenan seperti apa jika ia sudah marah" jawab Rian.


Maudy melengos, ia geram karena selama ini Rian selalu takut dengan Kenan. Bahkan Rian selalu tunduk terhadap pria itu. .


"Kamu juga keturunan Abraham Mas, kamu juga berhak atas kekuasaan keluarga kamu. Selama ini yang aku lihat kamu gak pernah datang ke perusahaan" Ucap Maudy.


"Kenapa sudah merambat kesana-sini sih pembicaraan kita ?"


Maudy mengangkat kedua pundak nya. "Aku juga ingin kamu datang keperusahaan seperti Kak Kenan, supaya kamu juga di takuti banyak orang"


Rian menghela nafas panjang, lalu beralih duduk menghampiri sang istri.


"Aku tidak pernah datang keperusahaan karena aku tidak punya hak untuk itu" jelas Rian


"Kenapa tidak punya hak ? bukankah kamu sama dengan Kak Kenan. Sama-sama anak Papa"


"Dulu perusahaan asli keluarga Abraham sudah bangkrut saat Kak Kenan mengalami masalah, tapi setelah Kak Kenan mencoba bangkit dari masalahnya ia kembali mendirikan perusahaan dengan nama yang sama yaitu Abraham grup. Jadi perusahaan itu punya Kakak dan Mas tidak punya hak untuk itu." Jelas Rian.


Maudy terdiam, ia mencerna setiap kata yang di ucapkan sang suami.


"Jadi perusahaan itu milik Kak Kenan" tanya Maudy.


"Iya, dan akan di wariskan kepada anak pertamanya yaitu Keyla, sementara Zio dia yang akan menjalankan perusahaan Kakak di jepang. Bukan cuman Kak Kenan yang punya perusahaan, Kak Alya juga punya tapi di kota S dan sekarang akan di jalankan sama Rayhan"


Akhirnya Maudy sadar jika kedudukan Alya lebih besar darinya di rumah ini, ia menjadi merasa bersalah karena selalu menyuruh Alya selama ini.


Rian menggenggam tangan Maudy dengan lembut "Kita sama-sama belajar ya ! menjadi orang tua tidak muda, tapi kalau kita mau belajar semuanya akan terlewati" ucap Rian dengan lembut.

__ADS_1


"Maafin aku Mas, maaf aku belum bisa jadi istri yang baik buat kamu, aku janji mulai sekarang aku akan belajar memandikan Nura, memasak untuk kamu dan keluarga kecil kita"


Rian tersenyum "Mas mau ngajak kamu pindah, Mas punya rumah tapi maaf rumah itu bekas tempat tinggalku bersama Dewi dulu"


Maudy sedikit terkejut selama ini ia tak pernah tau kalau sang suami mempunyai rumah bersama dengan Dewi.


"Kenapa gak di jual Mas ?" tanya Maudy.


"Enggak di kasih izin sama Kak Kenan, katanya rumah itu banyak kenangan nya. Rumah itu menjadi saksi bisu perjalanan awal rumah tangga Kak Kenan sama Kak Alya. Makanya gak di jual. Setelah aku menikah dengan Dewi dulu Kak Kenan memberikan rumah itu padaku, dan sekarang malah kosong lagi hehe" jawab Rian


"Kalau kamu gak mau nanti Mas cari lagi rumah lain, asal kita misah rumah sama Papa dan Kakak" bukan Karena Rian tersinggung dengan ucapan Kenan, tapi Rian ingin istrinya mandiri dan mau belajar seperti yang lain.


Rian juga ingin merasakan bangun pagi dan menghirup aroma sedap masakan Maudy, pulang kerumah di sambut dengan baik oleh anak dan istrinya. Karena selama ini Rian selalu makan masakan Alya walaupun Maudy sering membantu tapi Rian tau semua bumbu Alya yang bikin.


"Engga usah Mas, kita tempati rumah Mas Rian dan Mbak Dewi dulu, aku yakin kok kalau cinta kamu sudah untukku semua, tidak ada lagi nama mbak Dewi di hati kamu"


Rian menatap wajah istrinya, mungkin iya cintanya sudah penuh untuk Maudy, namun nama Dewi sampai kapanpun akan terus dalam cerita hidupnya. Karena walau bagaimana pun ia dan Dewi pernah menjalin kasih dan juga pernah merasakan kebahagiaan dan membina rumah tangga.


"Nanti kita lihat dulu rumahnya" ucap Rian.


"Iya Mas"


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


Sekitar jam 02 Rian mengajak sang istri ke rumah yang akan ia tinggali nantinya.


Rumah minimalis dua lantai itu terkesan sangat mewah, Maudy tersenyum sesaat karena tak lama senyuman itu memudar saat ia merasakan dulu sang suami sering tersenyum dengan Dewi.


"Ayo masuk !" Rian merangkul bahu Maudy.


Maudy mengikuti langka sang suami tanpa berniat mengucapkan satu katapun.


Saat pintu terbuka Maudy kembali di buat takjub dengan kemewahan di dalam nya, ruang tamu yang minimalis dengan sofa mewah, di sebelahnya ada ruang keluarga dan sebuah televisi yang sangat besar, kemudian ada ruang makan yang langsung terhubung ke dapur. Di lantai bawah ada 2 kamar, dan di lantai atas ada 3 ruangan.

__ADS_1


"Kamar bawah untuk kamar tamu atau kalau ada Art nanti bisa menempati salah-satunya. Di atas ada 3 ruangan, 2 kamar dan 1 ruang kerja. Tapi satu kamar akan Mas buat kamar bermain untuk Nura dan Alwi saat ia menginap disini" jelas Rian.


Tak perlu berpikir lagi, Maudy langsung mau menempati rumah ini, lagian tidak satupun foto pernikahan Rian dan Dewi dulu yang terpajang.


"Tidak ada kenangan yang tersisah di sini sayang" ucap Rian seperti tau apa yang di pikirkan istrinya


Maudy tersenyum, "Aku mau Mas tinggal disini"


"Makasih sayang, nanti kita bisa ajak Mama dan Papa menginap disini sekali-kali karenakan kalau di rumah utama mereka agak sungkan"


"Iya Mas"


Maudy memeluk tubuh suaminya, bersyukur karena Rian mau mengerti dirinya, sabar menghadapi sikap kekanak-kanakan nya.


"Kita akan membina rumah tangga kita di rumah ini sayang, sampai tua sampai kita punya anak dan cucu" bisik Rian.


"Iya Mas, aku akan menemani kamu sampai maut memisahkan"


Keduanya masih berpelukan, merasakan kenyamanan di diri masing-masing.


"Terima kasih karena sudah mau menerima kekurangan Mas, terima kasih karena sudah mau menjadi istri dan ibu dari anak-anak ku" Rian kembali berbisik dan mendapat anggukan dari istrinya


Rian mengangkat tubuh Maudy, membawanya masuk kedalam salah-satu kamar.


"Kita cobain kamar nya yuk, Mas udah lama puasa sayang"


"Aku belum KB Mas"


"Nanti Mas yang atur"


πŸ€πŸ€πŸ€


Satu episode lagi guys ..

__ADS_1


__ADS_2