Pengantin Kecilku

Pengantin Kecilku
Manja


__ADS_3

Waktu berlalu hari mulai siang, Nafiza mengenakan kaos Brian sedang menggosok gigi bersama pria di sampingnya yang juga sedang menyikat giginya dengan bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana hitam selututnya. Nafiza tidak ingin berdiri di toilet dengan keadaan tanpa busana, pakaiannya di lempar Brian entah kemana akhirnya kaos Brian yang di rampas dan di pakai oleh Nafiza. Brian membiarkannya, Nafiza terlihat lucu mengenakan kaos yang ukurannya lebih besar dari tubuhnya, panjang kaosnya hampir menyentuh lutut Nafiza, padahal jika di pakai Brian kaos itu sangat pas di pakainya, meski begitu Nafiza menjadi lebih cantik di mata Brian.


Sesekali cekikikan keluar dari mulut Nafiza, merasa lucu dengan bekas luka pada wajah Brian, ia masih tidak percaya dirinya bisa menjambak dan mencakar Brian karena mabuk. Karena itu pula tubuhnya merasa sedikit sakit dan kepalanya masih terasa pengar efek dari alkohol yang tidak sengaja ia minum. Lain kali ia tidak ingin meminumnya lagi.


"Brianku sayang" panggil Nafiza menghentikan kegiatan menyikat giginya.


"Hemmmm"


"Apa kamu pernah minum alkohol?"tanya Nafiza sambil menatap Brian.



"Pernah" jawab Brian mengeluarkan sikat giginya, ia telah selesai menggosok gigi dan mengambil air pada kran di depannya untuk membersihkan pasta gigi yang ada di dalam mulutnya.


"Kamu suka mabuk-mabukan?" Brian terkekeh mendengarnya.


"Aku tidak menyukai alkohol, meminumnya sedikit saja bisa membuatku mabuk. Dulu aku meminumnya karena di paksa saat ada acara pertemuan dengan rekan bisnisku setelah itu aku tidak mau meminumnya lagi."


"Oh jadi kamu sama sepertiku ya tidak bisa minum alkohol" Nafiza menyimpulkannya sendiri.


"Hahaha kamu berkata seolah-olah sudah dewasa dan terbiasa dengan hal itu. Sebaiknya kamu menghindari minuman beralkohol selain memabukkan juga tidak baik untuk kesehatan"


"Baik tuan" canda Nafiza, ia juga selesai menyikat giginya dan sedang berkumur-kumur. Nafiza mengelap air di dagunya dengan tangan, ia menjadi gugup sedari tadi Brian terus memandangnya. "Ada apa? jangan memandangku terus."


"Tak apa, baru kali ini aku bersama seorang perempuan di dalam toilet"


"Tentu saja! memangnya kamu mau bersama perempuan lain di toilet." Brian menghampiri Nafiza dan mengusap sudut bibirnya ada sisa pasta gigi berwarna putih tertinggal di sana. Nafiza tidak bisa membalas pandangan Brian, ia menjadi sangat gugup padahal setiap hari ia bersama suaminya itu tetapi detak jantungnya masih tidak bisa di kendalikannya. Brian masih memandangnya lekat ia kemudian memegang pinggang Nafiza dan mengangkatnya duduk di samping wastafel.


"Kamu mau apa?" wajah Nafiza tertunduk.


"Entahlah aku selalu tidak bisa menahan diri jika melihatmu" Brian mencium bibir Nafiza dan istrinya itu terkejut, Brian melepas ciumannya.


"Lagi? di sini?" tanya Nafiza seolah mengerti apa yang di inginkan Brian, suaminya itu menganggukan kepalanya pelan, ia mendekatkan dirinya dan memeluk pinggang Nafiza.


"Sekalian kita mandi bersama" bisik Brian kemudian kembali melanjutkan ciumannya, Nafiza mengalungkan tangannya di leher Brian sebagai tanda ia juga setuju untuk melakukannya 'lagi'.

__ADS_1


***


Setelah aktifitas panas dan dingin di kamar mandi kini Brian dan Nafiza sedang bersiap, mereka memutuskan untuk kembali pulang ke Indonesia dan mengakhiri liburannya, memang pekerjaan Brian di Italia sudah selesai tetapi pekerjaannya justru semakin banyak di negeri asalnya. Nafiza sedang mengemasi pakaian dan barang-barangnya, sedangkan Brian sedang memegang tabletnya ia memeriksa kembali pekerjaannya di sini agar tidak ada yang tertinggal dan membuat masalah.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu, Brian membukanya dan Troy masuk ke dalam sambil membungkukan tubuhnya.


"Mobil sudah siap menunggu di bawah tuan" lapor Troy.


"Kamu sudah selesai mengemasi barangnya?" tanya Brian pada Nafiza.


"Iya semua sudah beres" Nafiza menurunkan kopernya dan memeriksa kembali isi lemari memastikan benar-benar kosong.


"Ayo kita berangkat" Brian mengambil koper tersebut dan menyeretnya. Mereka bertiga keluar dari kamar hotel menaiki lift dan berjalan menuju lobi, di depan pintu keluar sudah ada mobil yang terparkir menunggu mereka.


Brian, Nafiza dan Troy sudah berada di jalan menuju bandara, Nafiza mengedarkan pandangannya keluar jendela mobil. Roma Venesia Italia sudah menjadi tempat bersejarah dalam hubungannya bersama Brian, ia memantapkan hatinya suatu hari nanti ingin kembali lagi ke sini bersama Brian. Mereka telah sampai di bandara dan kini berada di dalam pesawat. Perjalanan yang harus mereka tempuh untuk pulang kurang lebih hampir 17 jam, perjalanan yang cukup panjang.


***


Nafiza, Brian dan Troy tiba dengan selamat, Troy sudah pulang ke rumahnya. Brian dan Nafiza baru saja sampai di rumah, mereka di sambut oleh Bi Inah dan asisten rumah tangga yang lain yang segera merapikan beberapa barang bebawaan dan menyiapkan makanan. Setelah selesai makan Brian dan Nafiza memutuskan untuk beristirahat.


***



Sebuah senyum terukir di wajah Nafiza, ia kembali menyamakan posisi tidurnya, menempatkan kepalanya di dada Brian dan menutup kembali matanya.


Merasakan ada seseorang sedang berbaring di dadanya, Brian membuka matanya perlahan dan melirik ke arah kepala yang tepat berada di bawah wajahnya. Nafiza sedang bermanja-manja kepadanya.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Brian.


"Iya" Nafiza memeluk Brian dengan manja, ia tidak ingin mengubah posisinya sampai ia benar-benar siap untuk bangun.


"Kapan kamu akan pergi ke sekolah?" Brian mengelus rambut Nafiza pelan.

__ADS_1


"Besok, aku akan melakukan cap tiga jari untuk ijasah. kamu akan bekerja sekarang?"


"Iya, banyak yang harus aku kerjakan di perusahaan untuk proyek yang akan di bangun di Italia nanti."


"Hem kalau begitu bersiaplah" Nafiza dengan terpaksa melepas pelukannya, bibirnya cemberut tetapi kemudian tubuhnya di tarik kembali oleh Brian.


"Tidak usah terburu-buru, kamu masih ingin memelukku kan? peluklah sampai puas." Brian memberikan tubuhnya secara sukarela untuk di peluk Nafiza.


"Baiklah kalau begitu 5 menit lagi saja" Nafiza tersenyum sumringah membenamkan kembali kepalanya di dada Brian.


"Aku mencintaimu istriku" Brian mengecup pucuk kepala Nafiza.


"Aku juga mencintaimu suamiku" rasanya tak ingin berpisah dan menginginkan keadaan ini terus tetapi pekerjaan Brian tidak dapat di tunda.


***


Kini Brian sudah siap untuk pergi bekerja, ia telah selesai sarapan dan sudah menenteng tas kerjanya. Nafiza mengantar Brian sampai pintu depan rumahnya.


"Aku berangkat ya" Brian mengecup kening Nafiza. Walaupun Nafiza belum mandi, Brian mau menciuminya terus. Hihi


"Hati-hati ya"


Brian berjalan dan memasuki mobilnya, ia membuka jendela dan melambaikan tangannya sambil melajukan mobilnya. Nafiza membalasnya melambaikan tangannya, setelah mobil Brian keluar gerbang rumahnya Nafiza kembali masuk ke dalam tetapi tiba-tiba Bi Inah menghampiri Nafiza.


"Maaf non sepertinya tuan melupakan ponselnya" Bi Inah memberikan ponsel Brian pada Nafiza.


"Oh iya Bi terima kasih ya" Nafiza memikirkannya mungkin Brian akan membutuhkan ponselnya selama bekerja. akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke perusahaan Brian mengantar ponsel suaminya, ia belum pernah datang ke perusahaan suaminya, sedikit penasaran dengan keadaan di sana.


"Bi tolong katakan pada Pak Ramli nanti antar saya ke kantornya Brian"


"Baik nona" Nafiza pergi ke kamarnya untuk bersiap.


***


Halo semuanya semoga masih setia membaca cerita tentang Brian dan Nafiza

__ADS_1


Dukung author terus ya supaya lebih semangat lagi


Sehat selalu Readers kesayangan đź’‹


__ADS_2