Pengantin Kecilku

Pengantin Kecilku
Season 2-Chapter 57


__ADS_3

Dokter Adinda nampak menahan senyum melihat Rian yang begitu ketakutan. Apalagi dengan wajah pucat Rian.


"Ayo dok periksa ! kok malah bengong" pekik Maudy karena rasa sakit yang dia rasakan semakin menjadi.


"Tapi itumu di obok-obok dek, mas gak relah ah" sahut Rian.


"Lah kalau gak di gituan terus gimana doktenya tau aku mau lahiran sih Mas. Udah deh mending kamu diem aja aku udah gak tahan nih" balas Maudy.


"Tenang dokter Rian, istrinya tidak akan kenapa-napa kok" dokter Adinda menenangkan.


Rian akhirnya pasrah saat dokter Adinda memeriksa jalan lahir milik sang istri. Ia sampai memejamkan matanya saking takut dan juga khawatir.


Namun tiba-tiba pandangan Rian menjadi kabur, tak ada cahaya terang yang ia lihat semuanya tampak gelap..


Hingga.


Bruuukkk.


Rian jatuh pingsan membuat sang istri dan dokter Adinda menjadi melongoh, sementara dua orang suster menjadi cekikikan.


"Lah kok pingsan sih Mas, gimana sih" gerutu Maudy heran.


"Panggil tuan Kenna di luar supaya membantu mengangkat dokter Rian" perintah dokter Adinda.


"Baik dok"


Sebelum Kenan masuk Maudy menurunkan kakinya dan dokter Adinda menyelimuti kaki Maudy.


Kenan menepuk jidatnya melihat sang adik sudah tak berdaya di atas lantai.


"Dasar cemen ! nemenin istri lahiran saja malah pingsan" omel Kenan. Namun langsung mengangkat tubuh Rian di bantu oleh kedua suster dan dokter Adinda.


Rian di bawa keruang rawat sebelah. Ia di temani oleh Kenan sementara Alya menggantikan posisi Rian untuk menemani Maudy.


Terlihat sekali kalau Maudy marah karena Rian tak bisa menemani proses melahirkan nya. Namun ia juga tak bisa berbuat apa-apa. Ketika rasa sakit itu kembali datang.


"Ya Allah sakit sekali" pekik Maudy


"Sabar ya Dy, istighfar" balas Alya.


"Mama ku udah sampai belum Kak ?"


"Belum Dy, mungkin masih dijalan"


Maudy tampak menarik nafas panjang, menghembuskan nya secara perlahan. Selang infus yang tergantung sedikit mengeluarkan darah karena Maudy tak bisa diam.


Segera Alya membenari selang infus Maudy, membuat dokter Adinda heran.


"Apa anda dokter juga ?" tanya dokter Adinda.


Alya tersenyum.


"Dia dokter spesialis bedah, tapi karena baktinya sama suami makanya ia tak pernah bekerja" Sahut Maudy cepat.


"Wah hebat" puji dokter Adinda.


"Biasa aja dok" balas Alya.

__ADS_1


Beberapa jam kemudian.


Pembukaan Maudy sudah lengkap, ia di tuntun untuk mengenden, Tangan nya berpegangan pada lengan Alya. Bahkan kuku Maudy yang panjang berhasil membuat lengan Alya bedarah.


Sesekali Alya meringis namun tetap memberikan semangat kepada sang adik iparnya.


"Ayo Dy kamu pasti bisa ! semangat ada Kakak disini" bisik Alya.


"Aaaaahhhh" Maudy berteriak.


"Jangan teriak terus Bu, nanti ibu kehilangan banyak tenaga" ucap dokter Adinda.


"Tenang Maudy jangan panik, kalau kamu panik bahaya" Alya kembali berbisik.


Akhirnya Maudy sudah menjadi tenang, ia mulai mengikuti instruksi dokter Adinda. Dan 3 kali mengeden suara nyaring seorang bayi terdengar.


"Alhamdulillah" gumam Alya.


Alya mengelap keringat di kening Maudy sementara seorang suster membukakan kancing baju Maudy. Sehingga bayi berjenis kelamin perempuan itu di tidurkan di atas dada Maudy.


"Anak nya cewek, cantik persisi Mama nya. Sehat dan tanpa kekurangan apapun" jelas dokter Adinda.


Maudy tersenyum sambil memandangi wajah mungil anaknya yang masih ada bercak darah. Rambut hitamnya yang lebat berhasil menghilangkan rasa sakit yang tadi menyerang.


Bahkan saat dokter Adinda memberikan suntikan pada Maudy ia tak merasakan apapun.


"Cantik sekali anak mu Dy" puji Alya.


"Makasih Kak"


Di ruangan lain, Rian baru sadarkan diri. Ia kaget saat melihat Kenan dan kedua mertuanya sedang memandanginya seperti ini.


"Aku kenapa kak ?" tanya Rian.


Plaakk.


Kenan memukul Lengan Rian sedikit keras "ada-ada saja kamu ini, istri lahiran kamu malah pingsan"


"Aku pingsan" tanya Rian tak percaya.


"Lah kalau kamu tak pingsan ngapain kamu ada disini" balas Kenan dengan geram.


Rian berusaha mengingat dan setelah sadar ia menjadi cengengesa sendiri, malu sudah pasti.


"Istri kamu sudah lahiran" ucap Mama Melda


"Alhamdulillah" balas Rian.


-


-


Di sebuah mall ternama di kota Jakarta, Papa Bayu sedang mengajak kedua cucunya berkeliling. Papa Bayu membawa dua pengawal supaya bisa menjaga kedua cucunya itu.


"Astaga Zio jangan kencang-kencang larinya, Kakek capek" teriak Papa Bayu.


"Kejar dia, jangan sampai hilang" perinta Papa Bayu kepada sala satu pengawalnya.

__ADS_1


"Baik Tuan"


Nafas Papa Bayu ngos-ngosan mungkin karena sudah sangat tua makanya ia cepat sekali lelah.


Namun saat Papa Bayu hendak berbalik untuk mencari tempat duduk ia tak sengaja menabrak seorang wanita paruh Baya, hingga mengakibatkan belanjaan wanita itu berantakkan.


"Maaf saya tidak sengaja" ucap Papa Bayu.


"Tidak apa-apa, saya juga tidak melihat tadi" balas wanita itu.


"Woow. Cantik sekali" batin Papa Bayu yang langsung terpana saat melihat wajah wanita itu.


"Sini saya bantu" Papa Bayu berjongkok hendak mengambil sisa paper bag yang tinggal satu.


Alih-alih mengambil paper bag yang jatuh tangan Papa Bayu malah tak sengaja menggenggam tangan wanita paruh baya itu.


"Astaga mulus" Papa Bayu kembali membatin.


"Maaf nama kamu siapa ?" tanya Papa Bayu.


"Nama saya Juminten" balas wanita itu.


"Boleh saya minta nomor HP"


Juminten menatap Papa Bayu dengan kening mengkerut "Buat apa ya ?" tanya Juminten.


Papa Bayu menggaruk kepala nya yang tidak gatal "buat apa aja lah" jawab Papa Bayu layaknya seorang anak muda yang baru saja jatuh cinta.


"Maaf saya tidak punya HP" tolak Juminten sopan.


"Mau saya belikan ?"


Lagi-lagi Juminten menatap aneh pada pria paruh baya yang berdiri di depan nya itu.


"Tidak usah, kalau begitu saya permisi" Juminten langsung berlalu dari hadapan Papa Bayu


Saat Papa Bayu hendak mengejar Keyla dan pengawalnya sudah kembali.. Membuat Papa Bayu kehilangan jejak Juminten


"Oh astaga Key, kenapa cepat sekali sih baliknya ?" tanya Papa Bayu.


"Adik Zio saja masih keliling kok, ayo keliling lagi ini kakek tambahin uang jajan nya" ujar Papa Bayu lagi namun matanya terus berkeliling untuk mencari sosok Juminten.


"Gak mau Kek, Keyla capek" balas Keyla.


"Iya Tuan saya juga capek keliling" sahut Tono pengawal Keyla.


"Ah dasar lemah" balas Papa Bayu pada Tono.


Papa Bayu menyuruh Tono dan Keyla pergi kekasir untuk membayar barang yang di ambil Keyla. Sementara dirinya kembali berkelana mencari sosok Juminten.


"Aduh Juminten kamu dimana ?"


"Kenapa cepat sekali jalan mu".


Papa Bayu menggerutu kesal karena tak menemukan Juminten lagi.


"Kenan Papa Mau kawin. Hihi" batin Papa Bayu

__ADS_1


__ADS_2