
Nafiza telah sampai di rumah, seharian ini ia hanya rebahan di kamar, turun kemudian makan dan kembali lagi ke kamar, menonton drama korea kesukaannya, mandi dan kembali lagi rebahan. Tubuhnya mulai terasa sakit dan pegal.
"Aku harus meregangkan ototku" Nafiza bangun dan berdiri ia melakukan beberapa gerakan pemanasan seperti hendak berolahraga padahal ia hanya akan kembali meluruskan tubuhnya di ranjang. "Aahhh hidup begini juga ternyata membosankan" keluhnya.
Ceklek
Suara pintu terbuka, Nafiza menoleh kepadanya. Ternyata sang suami telah pulang sehabis bekerja.
"Aku pulang istriku sayang" Brian merentangkan tangannya mencoba memeluk dan mencium istrinya tetapi wajahnya di tahan oleh tangan Nafiza.
"Mandi dulu sana, kamu habis dari luar. Sedang banyak virus berbahaya sekarang"
"Teganya, padahal tinggal beberapa centi lagi" Brian memanyunkan bibirnya manja.
"Nanti saja sehabis mandi" Nafiza menyeringai memberi kode.
"Baik, aku akan cepat-cepat mandi kalau begitu" Brian menjadi bersemangat berlari ke arah kamar mandi.
Setelah beberapa menit berlalu, Brian keluar hanya mengenakan handuk yang melingkar di pinggangnya. Bukannya menuju ke ruang ganti untuk memakai pakaian ia malah menghampiri Nafiza yang sedang tiduran.
"Kamu mau apa?"
"Langsung saja ah sebelum aku memakai pakaian" Brian memajukan wajahnya mencoba mencium Nafiza.
"Pakai baju yang rapi" Nafiza bangun dari posisinya.
"Memangnya mau kemana? bukannya kamu tadi mau bertemu Jun?" Brian mendongakkan kepalanya karena ia sudah terlanjur merebahkan dirinya.
"Siapa yang bilang kita akan melakukan itu" Brian mengangkat satu alisnya.
"Lalu?"
"Antar aku pergi ke suatu tempat"
"Kamu mau pergi kemana?"
"Sudah berpakaianlah saja dulu"
"Iya" Brian berdiri dan turun dari ranjang.
"Awwww Briaaaannnn" teriak Nafiza menutup matanya.
"Kenapa kamu berteriak? ada kecoa atau laba-laba?"
"Bukan! itu itu Junnnnnn" tunjuk Nafiza pada bagian tubuh bawah Brian.
"Ya ampun aku kira apa"
"Cepat tutup!"
"Tidak mau. Uweeee" Brian malah berjoged ala penari telanjang. Meliukkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri.
"Kamu tidak waras Brian!" Nafiza mengambil bantal dan melemparnya pada Brian.
"Hahaha, aku memberikan hiburan gratis kamu tidak mau" Brian malah semakin menjadi.
"Aku tidak mau hiburan seperti itu!"
"Maunya seperti apa? yang seperti ini?" Brian mengejar Nafiza seketika drama kejar-kejaran orang mesum pun terjadi.
Nafiza terus menghindar sambil tertawa, beberapa kali ia hampir tertangkap tetapi ia selalu berhasil menghindar.
Nafiza berlari keluar kamar dan menutup pintunya.
"Silahkan jika kamu berani mengejarku sampai ke sini" ledeknya membalas Brian.
__ADS_1
"Awas saja aku sedang memakai baju, jika berhasil ku tangkap maka kamu tidak akan kulepaskan"
"Silahkan weeee" Nafiza memutar kunci yang tergantung di gagang pintu.
"Nafiza curang ya masa aku di kunci di dalam" Brian menggedor-gedor pintu kamar.
"Soalnya aku takut di tangkap olehmu"
"Katamu kita mau pergi, cepat buka pintunya. ini sudah malam"
"Jika ku buka kamu jangan mengejarku ya, aku merinding membayangkannya"
"Iya aku tidak akan mengejarmu lagi"
"Janji?"
"aku berjanji" Nafiza memutar kembali kuncinya dan membuka pintunya.
Brian langsung menarik tangan Nafiza dan menggendongnya menuju ranjang, mengelikitinya sampai Nafiza tertawa terbahak-bahak.
"Ampun Brian aku minta ampun, aku menyerah" ucapnya masih tertawa dengan napas tersenggal-senggal.
"Jangan pernah melempar bantal lagi padaku atau mengunciku dari luar"
"Iya aku tidak akan melakukannya lagi"
Brian menghentikan aktifitasnya.
"Kamu mau pergi kemana?"
"Rahasia, pokoknya tugasmu hanya mengantarku"
"Baiklah, cepat ganti pakaianmu"
"Siap bos" Nafiza bangun dan membuka lemarinya, Brian menompa kepalanya dengan tangan memperhatikan Nafiza membuka satu persatu pakaiannya sambil tersenyum. Nafiza meliriknya.
"Mana ada orang mesum setampan diriku"
Brian mendudukan dirinya bersandar di tepi ranjang dan sedikit bergaya.
"Waaaww suamiku memang benar-benar tampan" Nafiza yang setiap hari bertemu dengannya pun tersihir oleh wajah menawan suaminya.
"Sudah cepat ayo kita berangkat"
"Iya sebentar" Nafiza melanjutkan memakai pakaiannya kembali.
***
Nafiza dan Brian berada di dalam mobil, sedari tadi Nafizalah yang menjadi penunjuk jalannya.
"Masih jauh?" tanya Brian, Nafiza menuntun Brian memasuki gang-gang sempit dengan mobilnya.
"Sebentar lagi"
Brian menepikan mobilnya di tempat yang di tunjuk Nafiza.
"Wah ini pasar malam" Brian menganga tak menyangka Nafiza akan mengajaknya kemari.
"Kita belum pernah main ke taman hiburan berdua jadi aku ingin setidaknya kita bisa ke sini"
"Maaf ya aku tidak pernah mengajakmu ke taman hiburan"
__ADS_1
"Tak apa, sekarang ayo kita turun" Nafiza membuka pintu mobil di susul Brian, mereka memasuki wahana di pasar malam.
"Aku mau itu Brian" Nafiza mengacungkan jari telunjuknya pada pedagang gulali.
"Siap aku akan membelikannya untukmu nyonya" Brian menghampiri pedagang gulali dan kembali dengan gulali berwarna pink yang besar.
"Terima kasih suamiku" Nafiza tertawa bahagia sambil memakan gulalinya.
Mereka menaiki wahana kincir angin, kora-kora dan yang terakhir naik kuda tunggangan.
"Aduh kepalaku mulai pusing" ucap Brian. Hampir semua wahana di pasar malam berputar-putar.
"Haha kasihan, ya sudah setelah ini kita pulang saja"
"Aku tidak mau pulang, aku lapar" Brian memasang wajah imutnya.
"Iya kita makan dulu"
"Bakso ya supaya kepalaku tidak pusing"
"Iya"
Wahana kuda yang mereka naiki pun berhenti, Brian dan Nafiza mencari pedagang bakso dan menemukamnya. Entah kenapa Brian sangat ingin memakannya hari ini.
"Rasanya enak, Huuuaaahhh" Brian merasakan pedas pada lidahnya tetapi rasanya menyegarkan.
"Pelan-pelan makannya" Nafiza memberikan minuman teh dalam wadah botol pada Brian.
Mereka menghabiskan makanannya.
"Sekarang kita pulang" Brian memegang tangan Nafiza mengajaknya masuk ke dalam mobil.
"Terima kasih ya sudah mau menemaniku bermain di sini sayang" ucap Nafiza.
"Sama-sama tapi jangan lupa upahnya" Brian menepuk-nepuk bibirnya dengan jari telunjuknya.
Cup
Nafiza mengecup bibir Brian pelan. Brian tersenyum tetapi ada rasa tak puas di dalam hatinya, ia menarik tengkuk leher Nafiza dan ******* bibirnya, membuat Nafiza hampir kehabisan napas.
"Sayang kita pindah ke belakang" bisiknya di telinga Nafiza.
"Hem?" Brian tak memberi aba-aba lagi langsung menggiring Nafiza untuk duduk di kursi belakang dan melancarkan aksinya.
Tak jauh dari sana, beberapa orang berbisik-bisik pada temannya.
"Lihat kenapa mobil di sana bergoyang?"
Mereka melakukan peraduan cintanya.
Author : "Brian ga ngenal tempat ih ππ"
Brian : "Jangan berisik thor!"
Author : "Ya udah author minggir dulu" pergi naik wahana ombak banyu.
***
Selamat sore maaf ya author telat update
Author sibuk nulis lagi di novel baru
Yang belum mampir boleh mencoba di baca tinggal klik profil author
Judul novel baru author My Slave Beauty
__ADS_1
Terima kasih sehat selalu ya sayang π