
Nafiza bangun awal hari ini, mendengar ucapan Brian semalam tentang pergi ke Italy membuatnya sangat bersemangat, wajahnya berseri-seri membayangkan hal romantis yang akan di lakukannya nanti.
"Kamu senyum-senyum sendiri, ada apa?" suara Brian membuyarkan lamunan Nafiza.
"Tidak ada apa-apa kok, hanya senang saja hari ini terakhir aku harus belajar dengan keras. Mulai besok aku bisa bersantai" alasannya lagi.
"Kalau begitu cepat habiskan makananmu agar kamu bisa belajar lagi sebelum ujiannya di mulai"
"Siap bos"
***
Nafiza berhasil menyelesaikan ujian terakhirnya, ia sudah berusaha dengan kemampuan maksimalnya. Kini ia dan Tita berada di kantin sekolah.
"Aaaaahh rasanya lega sekali" Nafiza meminum soda.
"Kita hanya tinggal menunggu pengumuman kelulusannya saja minggu depan"
"Iya, kamu akan kuliah di mana Ta?"
"Aku ingin satu kampus denganmu Fiz, aku juga akan ikut jurusan pilihanmu"
"Hem? memangnya kamu tidak punya cita-cita Ta? kenapa malah mengikutiku?"
"Aku belum tahu akan bagaimana Fiz, kalau bisa sih aku ingin menikah muda saja seperti kamu".
"Haha kenapa mau menikah muda?"
"Memangnya aku bisa apa Fiz, kamu tahu sendiri kan otakku ini isinya cuma sedikit. Aku juga tidak mau bekerja, aku hanya ingin bermimpi bisa jadi istri dan ibu yang baik"
"Lagi pula keluargamu juga kaya Ta, kamu tidak bekerja pun mungkin tidak apa-apa. Oia jika aku lulus Brian akan mengajakku ke Italy minggu depan, kebetulan dia ada pekerjaan di sana"
"Wah seru sekali kamu bisa jalan-jalan dengan suamimu tapi apa kamu tidak berpikir ini hanya akal-akalannya saja agar bisa menghabiskan malam pertama kalian di sana dengan romantis" Tita menyenggol bahu Nafiza pelan.
"Malam pertama sungguhan? apa aku bisa ya Ta?"
"Tentu saja bisa Fiz, kamu bisa mempersiapkannya dari sekarang. Sebelum ke sana kamu harus SPA, belilah lingerie yang seksi dan baca ini. Taraaaaaa" Tita mengeluarkan sebuah buku dari tasnya.
"Panduan untuk pengantin baru" judul buku yang di berikan Tita.
"Kamu harus membacanya, buku ini akan sangat membantumu"
"Hah? untuk 18+ Ta"
"Tidak apa-apa baca saja kamu kan sudah menikah, aku juga sudah membaca isinya sedikit. Hahaha" Mereka berdua tertawa.
"Ya sudah terima kasih ya Ta tapi bagaimana bisa kamu menyiapkannya?"
"Aku sudah menduganya, kalian pasti akan melakukannya setelah pengumuman kelulusan tapi ada satu lagi yang harus di siapkan, masalah ini" Tita menunjuk dada Nafiza. "Apa cuma segini ukurannya? lelaki itu menyukai yang sedikit besar Fiz"
"Benarkah? tapi memang hanya sebesar ini Ta ukuran dadaku"
__ADS_1
"Carilah cara untuk membuatnya lebih besar"
"Lihatnya dari mana?"
"Internet"
***
Nafiza benar-benar memikirkan ucapan Tita, ia memang pasti akan melakukannya dengan Brian. Membayangkannya saja sudah membuat Nafiza berdebar, ia merebahkan dirinya di ranjang tak lama kemudian ia mengantuk dan tertidur.
Seseorang membangunkan Nafiza dari tidur nyenyaknya, Nafiza membuka matanya dan menguap perlahan, bangun dari tempat tidurnya dan mengucek-ngucek matanya.
"Kenapa kamu tidur memakai seragam sekolah?" suara Brian di sampingnya.
"Aku ketiduran"
Antara ngantuk dan tidak sadar Nafiza mulai melepas dasinya dan membuka satu persatu kancing kemeja yang di pakainya, hingga kancing ketiga terhenti karena Brian menahan tangannya.
"Kamu lupa, aku masih di sini nona" ucap Brian.
"Maaf" gumam Nafiza dengan matanya yang kembali tertutup.
Menurut Brian Nafiza sangat lucu, dia seperti anak-anak yang di paksa bangun dan masih dalam keadaan ngantuk berat.
"Nafiza" panggil Brian lembut. Yang di panggilnya hanya menguap.
Akhirnya Brian mendorong tubuh Nafiza ke ranjangnya, Brian ikut merebahkan dirinya di samping Nafiza. Ia menatap istrinya dengan lekat sedangkan yang di baringkannya benar-benar tidur pulas. Brian tidak bisa menahannya lagi ia mencium bibir manis Nafiza dan sedikit menggigitnya.
"Aww Brian!!" Nafiza membuka matanya lebar-lebar.
"Hhhmm" Nafiza menghela nafasnya.
"Bangunlah kita makan di luar malam ini merayakan selesainya ujianmu" Brian bangun dan berdiri.
"Asyik, kalau begitu kamu keluarlah aku akan berganti pakaian" Nafiza langsung bangun menyusul Brian.
"Aku mau di sini saja melihatmu menggantinya"
"Jangan konyol Brian!" Nafiza melihat kemejanya dua kancingnya sudah terbuka. "Bagaimana bisa, kamu membuka pakaianku?" ia menarik kemejanya berusaha menutupi dadanya.
"Kamu sendiri yang membukanya, kamu tidak ingat?"
"Tidak mungkin, kamu cepatlah keluar!!" Nafiza mendorong tubuh Brian dan menutup pintu kamarnya tidak membiarkan Brian menjawab perkataannya.
"Aku sepertinya sudah gila. Kenapa membuka pakaianku sendiri di depan Brian." gerutu Nafiza.
***
Nafiza dan Brian sudah berada di sebuah restoran mewah yang hampir seluruh sisi kanan kiri dan depannya hanya terbuat dari kaca sehingga bisa melihat pemandangan kota yang indah di malam hari.
__ADS_1
"Waaawww pemandangannya sangat menakjubkan" Brian menarik kursi untuk Nafiza duduk setelah itu ia duduk di kursi depan Nafiza.
"Apa kamu menyukainya?"
"Aku sangat suka, kamu pandai memilih tempatnya, tetapi restoran bagus seperti ini kenapa hanya kita pengunjungnya? jangan bilang kalau kamu memesan seluruh tempat di lantai ini!" Nafiza melihat sekelilingnya.
"Haha aku tidak separah itu Nafiza"
"Tuan, perintah anda sudah saya laksanakan seluruh tempat di restoran ini sudah di reservasi hanya untuk anda malam ini" suara Troy tiba-tiba datang dan berdiri di samping Brian.
"Tidak separah itu ya tuan sampai benar-benar mereservasi seluruh restoran ini" Nafiza menatap tajam ke arah Brian.
"Ya ampun Troy!!" Brian memegang dahinya.
"Apa saya salah bicara tuan?" tanya Troy polos. "Atau tuan mau meresvasi satu gedung ini?" pertanyaan Troy semakin mengada-ngada.
"Troy kamu duduk saja jauh-jauh di sana" Brian menggelengkan kepalanya.
"Baik tuan, permisi nona" Troy menundukkan tubuhnya dan pergi menjauh dari sana. Dia begitu cepat datang dan juga begitu cepat pergi.
"Apa tadi kamu mau memesan satu gedung ini untuk kita?"
"Troy itu bicara terlalu polos Nafiza"
"Sebaiknya kamu tidak berlebihan Brian, tetapi karena sudah terlanjur di pesan aku akan memaafkanmu kali ini, lain kali tidak usah memesan satu restoran seperti ini. Asal bersamamu aku mau makan di tempat seperti apa pun"
"Aku merasa tersanjung, aku membawamu ke sini Nafiza benar-benar ingin merayakan berakhirnya ujianmu dan untuk malam ini saja tidak ada yang mengganggu" Brian memegang tangan Nafiza.
"Baiklah kalau begitu karena malam ini spesial untukku, aku akan makan sepuasnya dan memesan semua yang aku mau. Boleh kan?"
"Silahkan istriku"
Tak lama kemudian seorang pelayan mengantar makanan dan minuman ke meja Brian dan Nafiza.
"Ayo kita bersulang" Nafiza mengangkat jus minumannya. Brian terkekeh melihatnya karena bergaya seperti orang dewasa.
"Bersulang" Brian dan Nafiza membenturkan gelas minumannya.
"Selamat tinggal ujian" teriak Nafiza.
"Selamat datang masa depan" teriak Brian.
"Aku sangat mencintaimu Brian" teriak Nafiza langsung meminum jusnya.
"Aku juga sangat mencintaimu Nafiza" Brian juga meminum minumannya. Mereka saling memandang dan tertawa bahagia.
***
Maaf ya typo dan masih banyak kekurangan
Terus dukung Nafiza dan Brian ya
__ADS_1
Silahkan like dan komennya
Aku padamu Readers πππ