
Brian masih berada di rumah sakit, ia di haruskan beristirahat beberapa hari dan melakukan perawatan intensif agar kondisi tubuhnya semakin membaik. Ia hanya bisa merabahkan dirinya di ranjang tanpa melakukan apa pun. Troy sudah pulang ke rumahnya, Brian hanya di temani oleh istrinya Nafiza.
Nafiza menyadarkan kepalanya di sisi ranjang, ia mengantuk.
"Nafiza kemarilah" pinta Brian sambil menepuk-nepuk kasur di sebelahnya. Nafiza mengangkat kepalanya.
"Nanti kamu merasa sempit jika aku tidur di situ"
"Tidak, ranjang ini cukup besar untuk kita berdua" Brian mendorong tubuhnya ke ujung ranjang pelan-pelan. Ia tidak tega melihat Nafiza tidur di sofa atau pun tidur di kursi seperti itu.
"Baiklah" Nafiza menurunkan besi pada tepi ranjang, ia merebahkan dirinya di samping Brian, sebenarnya ia tidak bisa menahan lagi matanya yang sudah sangat berat. Menunggui di rumah sakit rasanya sedikit membosankan.
Dalam sekejap Nafiza sudah tertidur pulas, begitu pun dengan Brian. Ia merasa tenang di temani istrinya.
Cukup lama mereka tertidur tiba-tiba ponsel Nafiza bergetar mengejutkan dirinya. Ia mengambil ponsel dari sakunya ternyata ada pesan dari mamanya menanyakan keadaan Brian, setelah ia mengetik beberapa pesan dan mengirimkannya ia kemudian melirik pada Brian yang sudah duduk di sampingnya.
"Kamu sudah bangun? aku tadi tidur terlalu lama ya"
"Iya, Nafiza bisakah kamu bangun sebentar aku ingin ke kamar mandi untuk buang air kecil rasanya sudah tidak tahan"
"Kenapa tidak membangunkanku dari tadi?" Nafiza segera bangun dari posisinya.
"Aku tidak tega membangunkanmu, kamu sangat pulas" Brian turun dari ranjang secara perlahan di bantu Nafiza memegang infus.
"Perlakuanmu walaupun sedang sakit masih so sweet"
"Suaminya siapa dulu dong" bangganya sambil berjalan ke kamar mandi.
"Suamikuuuuuu" jawab Nafiza sambil tersenyum. Ia ikut masuk ke dalam kamar mandi, setelah menggantungkan infus di samping Brian Nafiza segera keluar.
"Kamu mau pergi ke mana?"
"Aku harus keluarlah"
"Tidak keluar pun tidak apa-apa" senyum nakal Brian muncul.
"Isshhh selain sweet kamu juga masih bisa mesum!" Nafiza menutup pintu kamar mandinya. "Panggil aku jika sudah selesai"
"Iya" Brian hanya terkekeh melihat Nafiza pergi.
Setelah selesai dengan urusan kamar mandinya Brian di bantu Nafiza berjalan kembali ke tempat tidur. Nafiza kembali menggantungkan infus di samping Brian kemudian ia memilih duduk di kursi di sisi ranjang, tiba-tiba terdengar suara seseorang mengetuk pintu dan masuk ke dalam.
"Selamat siang Hai Brian aku dengar kamu sakit" dua orang berjalan menghampiri Nafiza dan Brian. Sepertinya sepasang suami istri, ini pertama kalinya Nafiza melihat kedua orang itu.
Wajah Brian berubah menjadi dingin, seorang lelaki yang terlihat seumuran dengan Brian dan seorang perempuan yang terlihat cukup muda membawa sebuah parcel berisi buah-buahan.
"Iya aku sedang sakit, dari mana kamu tahu aku di rawat di sini" tanya Brian datar.
"Aku berkunjung ke rumahmu, kata asisten rumah tanggamu kamu di rawat jadi aku langsung menuju kemari. Kamu pasti merindukan sepupumu ini kan" Mereka sudah berada di depan Nafiza dan Brian.
__ADS_1
"Tidak juga"
"Kamu masih saja ketus terhadapku, oh ini pasti adalah istrimu kan? perkenalkan aku sepupunya Brian, namaku Acsa. Kita belum pernah bertemu karena saat kalian menikah aku tidak bisa datang" sapanya pada Nafiza.
Acsa mengulurkan tangannya ingin berjabat tangan.
"Namaku Nafiza" sambil tersenyum Nafiza menerima jabatan tangan dari Acsa.
"Nafiza nama yang cantik seperti orangnya, ini adalah istriku namanya Reyna. Kami bertiga dulu sama-sama belajar di Amerika, aku Brian dan Reyna. Iya kan Brian?" Wajah Brian berubah menjadi sinis. Ia tidak suka dengan kehadiran Acsa, ia bahkan tak menjawab perkataannya.
Reyna tersenyum dan menjabat tangan Nafiza saling memperkenalkan diri.
"Terima kasih kak Acsa dan kak Reyna sudah menjenguk Brian kemari"
"Sama-sama" ucap Acsa, "Kemarin saat di Italia juga maaf aku tidak bisa menyapamu, aku sibuk dengan urusan bisnis di sana. Bagaimana Brian proyek yang kamu jalankan di Italia apakah berjalan dengan baik?"
"Iya" jawab Brian singkat, Nafiza menyadari perubahan sikap Brian yang dingin terhadap Acsa.
"Oh iya tidak apa-apa saat di Italia kita tidak bisa saling bertemu, aku bahkan tidak tahu kak Acsa ada di sana"
"Wah Brian tidak menceritakannya kepadamu? dia memang selalu tidak menganggapku, mungkin karena dia belum melupakan sesuatu yang terjadi pada kami."
Nafiza sedikit bingung dengan perkataan Acsa.
"Maksudnya sesuatu apa?" Nafiza penasaran. Reyna memang tidak banyak berbicara ia bahkan hanya bisa menundukkan kepalanya seperti malu.
Brian meremas selimut yang menyelimuti tubuhnya.
"Permisi aku harus mengangkat telepon ini sebentar" pamit Nafiza seraya pergi keluar dari ruangan Brian.
"Aku bilang jangan membahasnya lagi! kamu berkata seperti itu ingin mengusik pernikahanku dengan Nafiza! itu maumu Acsa?" Brian berbicara dengan nada meninggi.
"Kamu jelas-jelas dulu sangat menyukai Reyna, kalian bahkan dekat. Apa kamu benar-benar mencintai istrimu yang masih kecil itu?"
"Sudah hentikan" Ucap Reyna pelan sambil merangkul tangan Acsa.
"Kamu hanya menyiksa Reyna dengan mengatakan hal itu"
"Kenapa kamu masih memperhatikan istriku Brian?" Acsa mulai tersulut emosi.
Nafiza sudah menyelesaikan pembicaraannya dengan mamanya pada panggilan telepon, ia akan masuk kembali ke ruangan Brian tetapi ia dapat mendengar pertengkaran Brian dan Acsa dari dalam, ia meremas gagang pintu yang di pegangnya mencoba mencerna perkataan Brian dan sepupunya.
"Aku tidak peduli lagi pada Reyna bahkan kalian berdua, di lihat dari gelagat Reyna sekarang pun ia terlihat takut kepadamu. Bukankah kamu berjanji akan membuatnya bahagia? aku tidak mempunyai rasa sedikitpun pada Reyna. Aku sangat mencintai Nafiza jadi sebaiknya kamu jangan membuat masalah"
"Apa yang di katakan Brian itu benar? kamu takut padaku?" Acsa memandang Reyna tajam. "Katakan kamu takut atau bahagia hidup denganku?" Reyna semakin menyembunyikan wajahnya di balik bahu Acsa. Melihat pertengkaran yang melebar karena pasangan suami istri itu di ruangan Brian membuat Nafiza geram. Ia tidak terlalu mengerti akar permasalahannya tetapi ia tahu jika Acsa masih mencemburui Brian yang masa lalunya pernah dekat dengan Reyna.
Braaaakkk
Nafiza mendorong pintu cukup kencang.
__ADS_1
"Maaf jika kalian ingin bertengkar jangan di sini, kalian mengganggu suamiku yang sedang sakit. Brian harus beristirahat, sekarang kalian harus pulang!!" tegas Nafiza, raut wajahnya menyeramkan. Terlihat sangat marah.
"Betul, Acsa pergilah. Sudah ku katakan berapa kali aku sudah tidak peduli pada Reyna dan kehidupan kalian. Jangan melibatkanku pada pembahasan tidak penting seperti ini"
"Wah benarkah? begini Nafiza aku akan menceritakan hal yang mungkin kamu tidak ketahui tentang masa lalu percintaan Brian"
"Tidak perlu!! Aku tidak peduli dengan masa lalunya, cinta pertamanya, mantan pacarnya. Aku benar-benar tidak mau tahu. Aku bilang kalian bisa pulang. Jam besuknya sudah habis" Nafiza dengan berani mendorong punggung Acsa dan Reyna menggiringnya keluar dari ruang perawatan Brian.
"Aku dan Reyna bisa keluar sendiri, untuk anak seumur dirimu kamu sangat berani pada orang dewasa" Acsa menepis tangan Nafiza.
"Aku bukan anak-anak. Aku adalah istri Brian, lain kali kalian tidak usah berkunjung kembali" Nafiza menutup pintu dan menguncinya.
"Hei!! lihat saja kalian kira kalian hebat. Suatu hari nanti pernikahan kalian pasti akan tertimpa masalah" teriak Acsa dari luar.
Reyna menarik Acsa pergi, Nafiza menggerak-gerakkan bibirnya seolah mencibir mereka. Ia berjalan menghampiri Brian.
"Istriku berani sekali, jadi seperti preman" ucap Brian.
"Sepupumu itu sangat menyebalkan!"
"Awalnya dia tidak seperti itu tetapi semenjak kami salah paham dia jadi suka membuat onar, apa kamu tidak penasaran tentang apa yang akan di ceritakannya?"
"Kamu saja yang menceritakannya, aku tidak percaya pada dia"
"Baiklah, dulu saat kami kuliah di Amerika aku dan Reyna bertemu, kami sangat dekat. Aku tahu Acsa menyukai Reyna, aku menyerah dan merelakannya pada Acsa. Mereka bahkan menikah tapi entah kenapa Acsa sampai sekarang masih mencemburuiku. Setiap bertemu denganku dia pasti menyindir masalah ini"
"Kamu tidak menceritakannya secara keseluruhan. Apa kamu dulu menyukainya?" Nafiza berdiri di samping tempat tidur Brian sambil melipat kedua tangannya di atas perutnya.
"Hemmm iya" jawabnya pelan.
"Ooohhh" Brian tahu Nafiza sekarang cemburu. Ia menarik tangan Nafiza dan menariknya tidur di sampingnya tetapi posisi Nafiza membelakangi Brian.
"Itu dulu sekarang aku hanya mencintaimu" Brian memeluk Nafiza perlahan menjaga tangannya yang di infus.
"Aku tahu" Nafiza menepis tangan Brian dan mengenai selang infus yang menancap di tangannya.
"Aduh!"
"Ya ampun maaf" Nafiza memutar tubuhnya menghadap Brian, ia meniup dan memeriksa tangan suaminya.
"Kalau sampai lepas infusnya aku lebih baik pulang, aku tidak mau kena jarum infus lagi" Brian mengalihkan pembicaraan.
"Dasar sudah tua tapi takut jarum suntikan" ucap Nafiza sambil tertawa. Brian memandangnya lekat.
"Walaupun kamu bukan cinta pertamaku tapi kamu adalah cinta terakhirku" Brian mengecup kening Nafiza.
"Iya aku sangat tahu" mereka saling melempar senyuman dan saling memeluk.
***
__ADS_1
Maaf ya Author tidak jago membuat konflik 😁