Pengantin Kecilku

Pengantin Kecilku
Gaya Tidur


__ADS_3

Brian dan Nafiza telah sampai di depan rumah mereka, Nafiza masih tidur menyandarkan kepalanya pada bahu Brian, posisinya sama sekali tidak berubah selama perjalanan. Bahu Brian terasa nyaman dan aman baginya.


"Nafizaku sayang bangun, kita sudah sampai." Brian mengelus tangan Nafiza pelan.


"Aaaahh hooooaaammm" Nafiza membuka matanya perlahan dan memandang sekitarnya, "Kita turun yuk aku mau tidur lagi di kamar." Nafiza membuka pintu mobil di sampingnya dan keluar dari mobil langsung berjalan masuk ke dalam halaman rumahnya sendirian meninggalkan Brian.


"Tumben sekali dia jalan sendiri biasanya minta gendong"


Bagi Brian ini salah satu kebiasaan lucu Nafiza, ia mengerti terkadang Nafiza bisa bersikap seperti anak-anak, orang dewasa bahkan manjanya bisa seperti bayi. Hehe


Setelah Brian membayar ongkos taksi ia segera menyusul Nafiza, istrinya itu berjalan sedikit sempoyongan. Brian sedikit berlari mengejarnya.


"Kasur mana kasur, aku mengantuk sekali" ucap Nafiza berbicara sendiri, ia telah sampai di depan pintu rumahnya. Ia menaiki tiga anak tangga kecil dan merebahkan dirinya di depan pintu.


"Hei aduh Nafiza jangan tidur di luar." Brian menghampiri Nafiza dan mengangkat kedua bahunya. Tak lama kemudian pintu pun terbuka, Bi Inah juga segera menghampiri Nafiza dan Brian.


"Nona kenapa tuan? apa nona pingsan?" Bi Inah terkejut melihat Brian membopong Nafiza.


"Bukan pingsan Bi, dia tidur"


"Ooohh ya ampun Bibi kira pingsan tuan, mari saya bantu tuan." Bi inah merangkul tangan Nafiza.


"Dia tetap tidak akan bisa berjalan Bi, aku harus menggendongnya lagi" Brian mengubah posisinya, ia menggendong Nafiza ala bridal style dan berjalan masuk ke dalam rumah kemudian menaiki tangga menuju kamarnya.


Bi Inah mengikutinya dari belakang dan segera membukakan pintu kamar Brian begitu mereka sudah sampai dan menutupnya kembali.


"Tuan itu sangat baik dan sabar sekali, setiap habis pergi dengan nona kalau pulang malam pasti nona tidur dan di gendongnya. Beruntungnya nona punya suami yang sangat menyayanginya." decak kagum Bi Inah berbicara sambil menuruni tangga akan kembali ke kamarnya.


Brian meletakkan pelan tubuh Nafiza di ranjang, detak jantungnya menjadi cepat. Keringat juga mengalir di pelipis matanya.


"Kalau pergi jalan-jalan sekarang jam 8 kita sudah harus pulang, lama-lama aku bisa encok jika menggendongmu terus." ucap Brian sambil berjalan ke kamar mandi, ia ingin membersihkan dirinya dan mengganti pakaiannya.


Setelah mengenakan piyama, ia menghampiri Nafiza. Entah sejak kapan Nafiza mengganti posisinya. Kini posisinya berantakan, kakinya menyentuh lantai dan dia tidak tidur di posisi bantal dimana semestinya. Brian tersenyum tipis dan membenarkan posisi Nafiza.

__ADS_1


"Sekarang harusnya kamu di panggil bayi Nafiza, sudah ***** (nempel molor), tidurnya juga berputar-putar berantakan" Brian menaruh bantal guling di samping Nafiza. "Sekarang benar-benar harus di jaga agar tidak terjatuh" Brian terkekeh dengan tindakannya sendiri, ia menarik selimut menutupi tubuh Nafiza sampai ke leher dan mengecup keningnya, sedangkan istrinya itu tak bergeming sedikitpun dari tidur pulasnya.


Brian merebahkan dirinya dan memejamkan matanya.


***


Hari sudah pagi, cahaya matahari mulai nampak menembus jendela kamar Brian dan Nafiza.


Nafiza menggeliatkan tubuhnya, Brian masih tertidur. Ia mengucek kedua matanya kemudian memandang wajah Brian yang begitu dekat dengan wajahnya, tangan Brian masih memeluk pinggang kecil Nafiza.


Nafiza memandang wajah Brian sambil tersenyum, ia merasa gemas. Semakin di pandang wajah suaminya itu semakin tampan.


Cup


Nafiza mengecup bibir Brian pelan, ia tak bisa menahannya, hanya memandangnya saja tak akan puas. Ia kini sadar dirinya sangat menyukai dan mencintai Brian.


Nafiza mengangkat tubuhnya pelan hendak bangun, tetapi tangan Brian menariknya kembali dan memeluknya erat, membenamkan wajahnya di dada Brian.


"Mau kemana? sudah menciumku kamu akan pergi begitu saja. Hem?" Brian berbicara dengan mata tertutup.


"Mmmm sedikit susah sih, kalau begitu lain kali apa tidak apa-apa kamu aku biarkan tidur di luar seperti semalam?"


"Memangnya aku semalam tidur di luar?" Nafiza mendongakkan kepalanya memandang Brian.


"Iya, kamu tidur di depan pintu rumah kita, jadi lain kali boleh ya aku meninggalkanmu begitu saja jika mengantuk berat?" Brian melihat ke bawah melihat Nafiza yang berada di bawah kepalanya.


"Isshhh kamu tega!"


"Kalau begitu lain kali berusahalah lebih sadar dan tahan kantukmu sampai benar-benar berada di kamar"


"Kamu tidak iklas menggendongku setiap pulang dari luar?" mata Nafiza mulai tajam.


"Bukan, aku hanya menasihatimu."

__ADS_1


"Bilang saja kalau tidak mau menggedongku, baik mulai sekarang biarkan saja aku tidur dimanapun kamu tidak usah pedulikan aku, $#÷&€&@%#*¥₩ (Nafiza mengomel panjang lebar)" Brian menggelengkan kepalanya.


Cup


Brian mengecup bibir Nafiza cara itu ampuh menghentikannya berbicara.


"Iya sudah aku salah, wanita selalu benar. Aku tidak akan menasihatimu lagi, setiap kamu mengantuk berat sebelum sampai di kamar aku akan setia menggendongmu dan mengantarmu sampai ke ranjang tapi. ."


"Tapi apa?"


"Tapi upahnya jangan lupa" Brian mencium bibir Nafiza pelan dan dalam. Hingga nafas Nafiza tersenggal-senggal ia mendorong bahu Brian.


"Aku mau mandi di teruskannya nanti malam saja, hari ini aku ada gladi resik untuk acara perpisahan lusa. Kamu akan hadir kan?"


"Iya aku akan datang tapi teruskan dulu yang tadi" Brian berusaha menarik tengkuk leher Nafiza namun Nafiza menepisnya.


"Nanti malam aku janji"


"Lama sekali"


"Tidak lama ko hanya 13 jam lagi" Nafiza bangun dari posisinya dan berjalan menuju kamar mandi.


"Baiklah tapi double ya"


"Iya"


"Yeesssss!! Hahaha" (Mesum sekali author) 😂😂


***


Maaf ya episode kali ini lebih pendek tadinya author mau up nanti malam tapi waktu author siang ini agak senggang jadi author manfaatkan untuk menulis. Hehe


semoga sehat selalu readers

__ADS_1


Terimakasih dukungannya selama ini untuk Brian dan Nafiza


Love Love Love


__ADS_2