Pengantin Kecilku

Pengantin Kecilku
Harus Bagaimana?


__ADS_3

"Hamil?" Brian dan Nafiza saling memandang.


"Sepertinya bukan deh Brian, aku baru saja datang bulan beberapa hari yang lalu. Mana mungkin sekarang langsung hamil" ucap Nafiza sambil mencuci mulutnya.


"Kenapa tidak kita periksa saja untuk memastikannya"


"Apa kamu sangat menginginkan aku hamil sekarang?"


"Sebenarnya iya, tapi jika kamu belum hamil juga tidak apa-apa"


"Lebih baik kita membeli test pack dulu kalau begitu"


"Periksa ke dokter lebih jelas Nafiza"


"Tapi jika aku belum hamil apa nanti kamu akan kecewa?"


"Aku tidak akan kecewa, kita akan mencobanya lagi program kehamilan" Nafiza tak menjawabnya, ia termenung memikirkan apakah nanti ia benar-benar siap untuk memgandung. Jujur saja sebenarnya ia belum memikirkannya, ia masih ingin menikmati masa mudanya, ingin berkuliah dan pergi bebas dengan teman-temannya.


Brian memegang pipi Nafiza dengan kedua tangannya dan mengangkatnya sedikit ke atas.


"Kamu kenapa? apa yang sedang kamu fikirkan?" tanya Brian sambil mendekatkan wajahnya.


"Aku tidak apa-apa, hanya sedikit lemas karena mual-mual tadi" jawab Nafiza berbohong.


"Ayo kita ke bawah, kamu harus minum air hangat. Jika sudah merasa lebih baik nanti kita ke dokter" ajak Brian sambil memegang tangan Nafiza menggiringnya keluar dari kamar mandi.


Nafiza menurutinya, fikirannya sedang berkecamuk.


"Pelan-pelan jalannya" Brian memapah Nafiza, merangkul bahunya sambil menuruni tangga.


"Aku baik-baik saja Brian, aku masih bisa berjalan sendiri"


"Aku hanya ingin menjagamu sebagai suami siaga"


"Tapi aku belum hamil, sepertinya dia sangat mengharapkannya sekarang" gumam Nafiza dalam hati.


Sesampainya di ruang makan Brian segera menarik kursi dan mendudukkan Nafiza pelan. Ia juga mengambilkan air hangat untuk istrinya tersebut.


"Perlahan saja minumnya" Brian sangat memperhatikan cara Nafiza minum.


Uhuk uhuk uhuk


Nafiza tersedak, Brian menepuk-nepuk leher Nafiza dan mengambil tisu untuknya.


"Aku jadi gugup di perhatikan olehmu, tidak bisakah sikapmu biasa saja Brian? aku rasa aku hanya masuk angin bukan hamil jadi kamu tidak perlu memperlakukanku secara berlebihan"

__ADS_1


"Kan belum di periksa sayang, kalau ternyata kamu hamil sungguhan dan terjadi apa-apa. Aku tidak mau menyesal"


"Aku rasa sebaiknya kita cepat pergi ke dokter, aku bisa repot jika melihat sikapmu menjadi aneh seperti ini"


"Benarkah? kalau begitu ayo kita bersiap" Brian mengangkat kedua tangannya dan menganggukan kepalanya.


"Ini maksudnya apa?" tanya Nafiza heran.


"Sini aku gendong, biasanya kan kamu selalu minta di gendong. Kali ini aku secara sukarela menawarkan diri. Ini demi calon dede bayi" Nafiza memegang dahinya sendiri.


"Brian jika ternyata aku belum hamil berjanjilah kamu tidak akan sedih dan kecewa"


"Hem bagaimana ya, lebih baik kita positif thinking jika sudah ada janin dalam rahimmu yang harus kita jaga" Brian mengusap-ngusap perut Nafiza.


"Sudahlah berbicara denganmu sepertinya tidak ada gunanya, cepat kita pergi ke kamar untuk mandi dan ganti pakaian" Nafiza menepis tangan Brian, ia berjalan sambil menghentak-hentakan kakinya cukup kencang.


"Tunggu Nafiza jalannya perlahan saja" Brian memegang kedua pundak Nafiza mencegahnya berjalan sembrautan.


"Awas! aku mau cepat-cepat" Nafiza tak memperdulikan himbauan Brian. Suaminya itu masih mengikutinya.


Setelah sampai di kamar, Nafiza dan Brian mandi secara bergantian. Kini mereka telah berpakaian rapi dan sudah berada di dalam mobil menuju ke sebuah rumah sakit.


Tut tut tut


"Halo tuan" jawab seseorang dari ponsel Brian.


"Baik tuan"


"Doakan juga ya semoga Nafiza hamil, aku akan melakukan pemeriksaan hari ini ke rumah sakit"


"Wah semoga hasilnya positif tuan"


"Iya, terima kasih Troy"


"Sama-sama tuan" Brian menutup teleponnya.


Nafiza memandang Brian lekat saat ia menelpon Troy tadi.


"Kenapa kamu terus memandangiku? nanti anak kita akan mirip aku loh jika kamu memperhatikanku terus menerus"


"Brian sebenarnya aku bukan bermaksud menundanya hanya saja aku belum siap untuk mengandung, aku masih ingin belajar" Nafiza ingin Brian mengetahui isi hatinya. Ia meremas jari jemarinya sendiri.


"Tapi jika sudah hamil ya mau bagaimana lagi, kamu tidak minum pil kontrasepsi kan?"


"Tidak sih"

__ADS_1


"Kalau begitu kemungkinan kamu hamil lebih cepat, kita juga tidak pernah memakai pengaman. Masalah kuliahmu, kamu tetap bisa meneruskannya setelah melahirkan"


"Tapi aku benar-benar belum siap menjadi seorang ibu, aku masih ingin menghabiskan masa mudaku seperti wanita lain seumuranku. Jika kali ini aku belum hamil bisakah kita menunda mengikuti program kehamilan?" ucap Nafiza ragu-ragu, ia sangat menantikan jawaban dari Brian.


Brian tak menjawabnya, raut wajahnya juga berubah menjadi datar.


"Sepertinya dia marah, aku harus bagaimana. Aku sudah mengatakannya tadi mana mungkin aku menarik ucapanku lagi, aku tidak ingin menimang bayi untuk waktu sekarang"


Brian melajukan mobilnya lebih cepat, tiba-tiba saja semangatnya hilang dan perasaan sakit membelenggu di hatinya.


Nafiza dan Brian telah tiba di rumah sakit, mereka kini sedang menunggu panggilan untuk masuk ke dalam ruang pemeriksaan dokter kandungan.


Di samping, depan dan belakang mereka banyak ibu hamil yang akan melakukan pemeriksaan di temani oleh suaminya. Nafiza memandang mereka satu persatu sambil memegang perutnya sendiri.


Ada juga ibu hamil yang membawa kedua anaknya yang masih kecil-kecil, dengan perut yang besar menjaga kedua anaknya yang berjingkrak-jingkrak di atas kursi. Nafiza mengeryitkan dahinya.


"Mungkin suatu hari nanti perutku akan seperti itu tetapi cukup merepotkan juga jika punya anak terlalu banyak dan jaraknya terlalu dekat" Ia membayangkan kelelahan yang akan di alaminya meski belum terjadi.


Semenjak percakapan di mobil tadi Brian menjadi pendiam, ia memang menemani dan memegang tangan Nafiza saat berjalan tetapi tak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Seperti sekarang, ia duduk di samping Nafiza tetapi terus menerus memainkan ponselnya, Nafiza ragu ingin mengajaknya berbicara jadi ia juga memilih diam.


"Nona Nafiza sakura" panggil suster.


Nafiza dan Brian memasuki ruang pemeriksaan dan duduk berhadapan dengan dokter kandungan.


"Ada keluhan apa nona?" tanya dokter.


"Tadi pagi saya sempat mual-mual dok dan kepala saya sedikit pusing"


"Kapan hari terakhir menstruasi?"


"Sekitar 5 hari yang lalu"


"Kita cek melalui tes pack dulu ya, suster tolong di bantu" pinta dokter.


Suster memberikan tes pack dan menjelaskan cara memakainya, ia juga mengantar Nafiza masuk ke dalam kamar mandi.


Nafiza mengikuti anjuran suster tentang cara memakai tes pack, ia telah menggunakannya dan berjalan keluar dari kamar mandi. Nafiza menyerahkan test pack tersebut, untuk hasilnya ia tidak mengerti biarkan dokter yang memeriksanya.


Suster memperlihatkan hasil test pack tersebut pada dokter dan dokter mencatat sesuatu pada bukunya.


***


Maaf ya lanjut besok lagi hehe


Biar penasaran 😁

__ADS_1


Have nice day semuanya 😍😍


__ADS_2