Pengantin Kecilku

Pengantin Kecilku
Season 2-Chapter 33


__ADS_3

Dalam sekejap dunia Rian langsung runtuh seketika, ucapan Alwi seperti sebuah pisau tajam yang menusuk jantungnya.


“*Om bukan Papaku”


“Om bukan Papaku*"


Kata itu terus melintas di pikirannya, membuat dunia Rian gelap gulita, inikah rasa tidak di anggap oleh anak sendiri.


Air mata yang sudah terbendung lolos seketika, seiring langkahnya menuju mobil dengan pelan. Sembari membawa kardus yang Alwi berikan.


Bahkan Alwi saja tak mau menerima pemberian darinya, apalagi menerima kehadiran Rian sebagai sosok Papa. Rian meringis menahan rasa sesak dan sakit di dadanya.


Rian langsung melajukan mobilnya dengan kencang, melampiaskan seluruh amarahnya di jalan raya, membanting stir dengan kuat.


Air matanya semakin deras, membasahi pipi mulusnya.


“Ya Allah sakit sekali rasanya” batin Rian.


Setelah sampai di rumah Rian langsung di sambut oleh Maudy, dengan cepat ia memeluk tubuh istrinya dengan erat, menumpahkan rasa sesak didadanya.


“Mas Kenapa ?” tanya Maudy heran.


Namun Rian tak menjawab, ia masih saja terisak.


Maudy menyusut air mata di pipi suaminya, walau ia tidak tahu masalahnya namun Maudy merasa ada masalah yang sedang di hadapi oleh Rian.


“Minum dulu Mas biar tenang !" titah Maudy, tangannya terulur untuk mengambil segelas air putih di atas meja nakas samping tempat tidurnya.


“Makasih Sayang” balas Rian, lalu meneguk air putih itu hingga tandas tak tersisah.


Maudy ikut duduk di samping suaminya di atas sofa kamar mereka.


“Lagi ada masalah ya Mas ?” tanya Maudy.


Rian mengangukan kepalanya “Alwi mengembalikan seluruh barang pemberian Mas, dan mengatakan kalau Mas bukan Papa nya” air mata Rian kembali menetes dengan deras saat menceritakan apa yang di alaminya tadi.


Maudy tersentak kaget, ia menatap iba pada sang suami, mengingat bagaimana perjuangan Rian selama ini untuk mengambil hati Alwi, namun perjuangan nya sia-sia saja.


“Sabar ya Sayang” hanya itu yang dapat Maudy lakukan.


“Hanya itu yang dapat Mas lakukan, karena selain bersabar tak ada lagi” jawab Rian lirih.


-


-


Hingga beberapa hari kemudian Rian tak lagi datang menemui Alwi, bukan karena dirinya menyerah hanya saja ia ingin memberikan waktu kepada Alwi untuk menerima semua ini.


Tapi setiap hari ia akan selalu meminta Afnan untuk mengirimkan video keseharian Alwi.


-


-


Saat itu Afnan sedang duduk bersama Alwi, karena dari tadi pagi Dewi terus munta-munta tak karuan, membuat Afnan bingung campur khawatir.


“Bunda kenapa sih Bi, dari tadi munta terus” ucap Alwi heran.


“Entahlah Nak, nanti kita periksa Bunda kedokter” balas Afnan.

__ADS_1


“Apa mungkin Dewi hamil ya ? tapi bukankah saat di tes waktu itu hasilnya negatif” batin Afnan.


Dengan wajah yang amat pucat Dewi keluar dari kamar mandi, Afnan langsung menghampiri istrinya, membimbing Dewi keatas tempat tidur.


“Kedokter ya Dek !” titah Afnan.


Namun Dewi langsung menggeleng “Gak perlu Mas sepertinya aku masuk angin”


“Ya sudah kalau gitu, kamu istirahat aja biar Alwi sama Mas”


“Makasih Mas”


Afnan menyelimuti kaki istrinya, membiarkan istrinya tidur dengan nyenyak, Setelah itu Afnan mengajak Alwi main di luar supaya Dewi bisa tidur dengan tenang.


“Main di samping aja ya Bi” ucap Alwi.


“Baiklah” balas Afnan karena memang ia ingin mengatakan sesuatu kepada Alwi.


“Alwi, Abi mau bicara” ucap Afnan.


Alwi mengangguk “Silahkan Bi” ujar Alwi.


“Sebelumnya Abi mau tanya, apa Alwi belum bisa menerima Papa Rian sebagai Papa nya Alwi ?” tanya Afnan hati-hati.


“Dia bukan Papa Alwi, dia Om dokter” balas Alwi.


Afnan menghela nafas kasar “Selama ini Abi selalu mengajarkan Alwi tentang kebaikan, Abi selalu bilang sama Alwi untuk menghormati kedua orang tua, tapi kenapa Alwi bersikap seperti itu sama Papa Rian” Kata Afnan dengan lembut.


Alwi memandang wajah Afnan.


“Papa Rian adalah ayah kandung Alwi, apa Alwi tau saat Alwi kecelakaan siapa yang menolong Alwi, itu Papa Rian sehingga Alwi bisa kembali bisa bermain, itu menandakan kalau Papa Rian sangat menyayangi Alwi”


“Sekarang Apa Alwi mau menerima Papa Rian, setidaknya menerima ajakan Papa Rian untuk bermain bersama”


“Alwi takut dia orang jagat Bi” ucap Alwi.


“Tidak Nak, Papa Rian adalah orang yang sangat baik”


“Akan Alwi coba Bi”


Afnan tersenyum mendengar ucapan Alwi, ia memeluk tubuh Alwi.


“Kalau hari ini mau gak Alwi jalan sama Papa Rian”tanya Afnan lagi.


“Kemana Bi ?”


“Ya kemana saja Alwi mau, Papa Rian akan menuruti semuanya”


“Benarkah ?” tanya Alwi antusias.


“He em” Afnan mengangguk kepala dengan semangat.


“Alwi mau Bi, tapi bilang sama Om nya jangan memaksa Alwi untuk memanggil Papa” titah Alwi mungkin ia masih risih untuk memanggil Rian dengan sebutan Papa.


“Baik, Akan Abi sampaikan, sekarang Alwi siap-siap dulu”


Alwi berlalu dari hadapan Afnan, sementara Afnan langsung menghubungi Rian.


_

__ADS_1


_


Saat itu Rian sedang bekerja, memeriksa data pasien, hingga bunyi ponselnya membuat Rian menghentikan aktivitasnya.


“Mas Afnan” gumam Rian, lalu segera menggeser menu hijau untuk menjawab panggilan.


“Assalamualaikum Mas, ada apa ?” tanya Rian


“Waalaikumsalam, sedang sibuk ya Mas Rian” /Afnan.


“Tidak juga Mas, ada apa ?”


“Begini saya hanya mau menyampaikan kalau Alwi mau jalan sama Mas dan Maudy, bagaimana apa hari ini bisa ?”


Rian terdiam, jujur ia masih bekerja, tapi kesempatan untuk jalan berdua dengan Alwi sangat jarang terjadi.


“Baiklah saya akan kesana” ucap Rian.


“Di tunggu di rumah !”


Setelah panggilan terputus Rian langsung bersiap untuk pulang, tidak lupa menghubungi sang istri dulu supaya bersiap untuk jalan-jalan bareng.


Rasa bahagia tiba-tiba menyeruak, harapan nya semoga ini menjadi awal kedekatan nya dengan Alwi.


Didalam perjalanan pulang, senyum Rian tak pernah pupus, sambil menikmati lagu semakin membuat dirinya bahagia.


-


Alwi sudah siap berangkat, ia memakai setelan Levis hingga membuat Alwi begitu tampan.


“Pamit sama Bunda dulu Yok, sambil nunggu Papa datang” seloroh Afnan.


“Baik Bi” ujar Alwi.


Afnan dan Alwi memasuki kamar, dimana Dewi sedang istirahat karena lelah habis munta terus.


“Loh Alwi mau kemana ?” tanya Dewi heran


“Dia mau jalan sama Papa, Bunda” sahut Afnan.


“Wah, anak Bunda pintar, semoga senang ya jalan-jalan nya" ucap Dewi sembari membelai pipi Alwi.


“Bunda mau nitip apa ?”


Dewi tersenyum “Tidak ada Nak, Bunda hanya ingin Alwi bahagia”


Alwi menganggukkan kepalanya, setelah itu dia mencium punggung tangan sang Bunda kemudian keluar kamar untuk menyambut kedatangan Rian dan Maudy.


“Kita tunggu disini ya Nak” titah Afnan


Mereka berdua menunggu di teras depan, menunggu kedatangan Rian dan Maudy. ini akan menjadi yang pertama kali Alwi jalan bareng bersama Papa kandunnya.


-


-.


BERSAMBUNG..


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN NYA YA !!

__ADS_1


__ADS_2